<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650</id><updated>2011-12-23T08:21:28.939+07:00</updated><category term='Muhasabah'/><category term='Waspada'/><category term='Aqidah'/><category term='Thibbun Nabawi'/><category term='Fiqih'/><category term='Fatawa'/><category term='Hadist'/><category term='Kebangkitan'/><category term='Nikah'/><category term='Ibroh'/><category term='akhlak'/><category term='Dunia Akhwat'/><category term='Syariat'/><title type='text'>AL-IKHWAH MEDIA</title><subtitle type='html'>Media Pencerdas Ummat, menuju Masyarakat Islami</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>55</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-3338620737953649934</id><published>2011-04-05T12:01:00.002+07:00</published><updated>2011-04-05T12:28:55.173+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nikah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Akhwat'/><title type='text'>Titian Surga Dunia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-NVim5abKMqg/TZqoZe2ALLI/AAAAAAAAAJw/IGdQOAlsrRY/s1600/12462_1202026889315_1187853491_30502077_8186879_n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-NVim5abKMqg/TZqoZe2ALLI/AAAAAAAAAJw/IGdQOAlsrRY/s400/12462_1202026889315_1187853491_30502077_8186879_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5591967043063655602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;Mencari tambatan hati bukanlah perkara mudah. &lt;br /&gt;Perlu pertimbangan, trik dan jurus ampuh untuk memperolehnya. &lt;br /&gt;Bila salah memilih, jangan harap surga dunia yang kita dapat. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Islam membimbing umatnya dalam membentuk keluarga yang sakinah dengan cara rinci dan pasti, agar setiap keluarga muslim yang terbentuk secara islami itu, dapat dengan mudah melaksanakan agamanya pada seluruh aspek kehidupan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sakinah sendiri berasal dari bahasa Arab yang bermakna ketenangan/kebahagian. Maka keluarga sakinah dapat berarti keluarga yang berbahagia. Untuk membentuk &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;"keluarga yang sakinah"&lt;/span&gt; dibutuhkan adanya mawaddah (cinta) dan rahmah (kasih sayang) dari Allah Ta’ala. Mawaddah adalah suatu rasa ketertarikan kepada seseorang yang dapat memuaskan harapan dan keinginannya, sedangkan rahmah (kasih sa-yang) adalah rasa yang timbul karena adanya hubungan dan pengertian untuk melindungi seseorang dari hal-hal yang tidak menyenangkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Maka untuk menumbuhkan rasa mawaddah dan rahmah ketika membentuk keluarga sakinah, Allah Ta’ala dan Rasul-Nya memberikan bimbingan untuk itu. Seorang muslim dan musli-mah dalam upaya membentuk keluarga yang sakinah haruslah memperhatikan dan mengikuti bimbingan Islam, agar tujuan dari perkawinan tersebut tercapai.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Allah Ta’ala telah mengisyaratkan cara memilih pasangan hidup dalam firman-Nya : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Kawinilah (nikahilah) oleh kalian wanita-wanita yang baik bagi kalian"&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(QS. An Nisaa: 3).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Abu Hurairah radiyallahu 'anhu meriwayatkan hadist dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang memerintahkan untuk mengawini wanita yang mempunyai dasar agama (yang islami);  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Wanita itu dinikahi karena empat sebab; karena hartanya, karena ke-turunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah oleh-mu karena dasar agamanya niscaya usahamu akan beruntung!&lt;/span&gt; (HR. Bukhary, Muslim dan Abu Daud). Hadits ini menunjukkan bahwa wanita yang baik adalah wanita yang mempunyai dasar agama (Islam) yang kuat. Ketinggian nilai seorang wanita yang baik diukur sejauh mana pemahaman agama yang dimiliki dan dihayatinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Adapun keterangan sifat wanita yang baik, yaitu sebagaimana hadist yang diriwayatkan dalam sebuah kitab Kanzul Ummal dari Baihaqy; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Siapakah wanita yang terbaik?&lt;/span&gt; Lalu beliau menjawab; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Wanita yang menyenangkan bila dipandang suaminya, patuh bila diperintah suami dan tidak pernah mengerjakan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak suami-nya "&lt;/span&gt;. Itulah wanita yang shalihah, yang menjadi harapan kaum mukminin untuk memilihnya menjadi pasangan hidup dalam membangun keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya  dunia itu kesenangan dan kesenangan yang terbaik adalah wanita (isteri) yang shalihah"&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Agama Allah yang mulia ini menuntun kaum pria untuk memilih calon isteri yang shalihah dan menjadikan isteri yang Allah Ta’ala amanahkan kepadanya menjadi wanita yang shalihah. Ini adalah suatu amanah Allah yang harus dapat diwujudkan.  Dan wanita juga dituntun agar membentuk diri menjadi wanita yang shalihah, menjadi permata dunia, mutiara manikam ditengah lumpur kelam dunia fana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Malam Pertama Syuraih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syuraih bercerita kepada Sya'bi tentang awal pernikahannya dengan seorang wanita Bani Tamim; "Kalau sekiranya engkau menyaksikan aku, wahai Sya'bi. Bagaimana dia menghadapku dan masuk ke ruanganku, pada waktu itu aku mengatakan kepadanya;  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Sesungguhnya bagian dari yang disunnahkan apabila seorang wanita masuk untuk pertama kali kepada suaminya adalah seorang suami disunnahkan untuk mengerjakan shalat dua raka'at, berdo'a memohon kepada Allah Ta’ala untuk kebaikan isterinya dan memohon perlindungan dari keburukan perilakunya”. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Ketika aku mengambil air wudhu, diapun turut serta. Aku melakukan shalat dua raka'at dan dia pun melakukan hal yang sama. Ketika aku telah selesai melakukan shalat dia menghampiriku dan mengambil bajuku. Lalu dia memakaikanku selimut yang diharumi dengan minyak za'faran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikala rumah sudah lengang, aku menghampirinya lalu aku ulurkan kedua lenganku untuk meraihnya, diapun berkata; “Ya Aba Umayyah, bersabarlah secara tertib. Segala puji  bagi Allah, aku memohon pertolongan-Nya. Shalawat serta salam bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan keluarga-nya. Aku ini adalah wanita yang masih asing, yang tidak mempunyai pengetahuan tentang perilaku yang harus aku lakukan padamu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Maka untuk itu, aku mohon engkau menjelaskan kepadaku tentang apa saja yang engkau sukai, agar aku dapat me-lakukannya untukmu. Dan apa saja yang engkau tidak sukai, agar aku dapat menghindarinya. Karena engkau adalah orang yang punya keluarga bersama kaummu, sedangkan aku pun seperti itu pula bersama kaumku. Akan tetapi takdir ketentuan Ilahi telah berlaku dan aku telah menjadi milikmu maka aku mohon kepadamu berbuatlah kepadaku sesuai yang Allah perintahkan kepada-mu.  Menggauliku dengan ma'ruf (baik) atau memisahkanku dengan ihsan (kebaikan). Demikian kalimat yang kuucapkan dan aku mohon ampun kepada Allah untuk diriku, juga untuk kamu dan semua kaum muslimin”&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Wahai Sya'bi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu telah memaksaku untuk memberikan khutbah jawaban, lalu aku pun mengatakan; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Segala puji bagi Allah Ta'ala. Aku memohon pertolongan kepada-Nya. Shalawat serta salam untuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan keluarganya. Sebagaimana yang telah engkau katakan dengan beberapa kalimat tadi, bila engkau tetap berada dalam kalimat tersebut maka engkau telah menjadi bagian diriku. Sedangkan bila engkau menyalahinya, maka kata-kata tersebut akan menjadi tuntutan bagimu. Aku jelaskan bahwa yang aku senangi adalah…(ini-ini), dan yang tidak aku senangi adalah…(ini-ini). Dan apa saja yang engkau lihat kebaikan yang ada padaku, maka engkau kembangkanlah. Dan apa saja yang engkau lihat keburukan yang ada pada diriku, engkau tutupi-lah!!"&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka aku pun bermalam pengantin dengannya, Wahai Sya'bi, Itu adalah suatu malam yang sangat menyenang-kan. Aku hidup dengannya sepanjang masa tak pernah aku menyaksikan sesuatu yang tidak aku senangi". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-3338620737953649934?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/3338620737953649934/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2011/04/titian-surga-dunia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/3338620737953649934'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/3338620737953649934'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2011/04/titian-surga-dunia.html' title='Titian Surga Dunia'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-NVim5abKMqg/TZqoZe2ALLI/AAAAAAAAAJw/IGdQOAlsrRY/s72-c/12462_1202026889315_1187853491_30502077_8186879_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-2327140660311496231</id><published>2011-04-04T13:14:00.002+07:00</published><updated>2011-04-04T13:18:36.906+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Akhwat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kebangkitan'/><title type='text'>Putri Islami Pengikut Sunnah Nabi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-rlPaAmCwd4Y/TZlio6r2GfI/AAAAAAAAAJY/E2fVDKkVheQ/s1600/images.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 261px; height: 193px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-rlPaAmCwd4Y/TZlio6r2GfI/AAAAAAAAAJY/E2fVDKkVheQ/s400/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5591608867444627954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ternyata Engkau sesosok wanita, wanita yang di muliakan di saat jutaan wanita dihinakan didalam kubangan hawa nafsu  setan. Ketika para wanita berbangga mengumbar syahwatnya,engkau tampil mempesona dengan syariat jilbabNya. Engkaulah anugerah Ilahi bagi seluruh wanita di bumi ini. Dirimu adalah karunia yang tak terkira yang menjadi contoh di alam nyata dan realita.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Putri Islamiku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkaulah permata yang menyibakkan cahaya menghiasi indahnya fatamorgana dunia. Perangaimu adalah akhlaq wanita-wanita teladan yang menjaga kehormatan. Pribadimu adalah pancaran dari beningnya sabda junjungan. Dan jiwa-jiwamu adalah jiwa pendidik da'i teladan dan mujahid militan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkaulah yang tetap mekar bagai indahnya mawar disaat kehormatan wanita mulai tercemar. Dirimulah yang senantisasa mewangi disaat harga diri wanita dibusukkan nafsu birahi.Ya..Engkaulah yang tetap kokoh perkasa disaat para wanita tersungkur  hancur dikubang zina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkaulah yang tak berkutik disaat godaan setan mode mulai berbisik. Tetap teguh bertahan dengan jilbab pilihan diantara ratusan mode pakaian yang melucuti kehormatan. Semua ocehan tak kau pedulikan demi menggapai ridha Ar-Rahman. Semoga Allah menjadikan Engkau penghuni surga yang indah nan bertaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri Islamiku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu–pintu zina  itu kini terbuka dengan lebar. Terbuka di belakang,depandan samping kanan kirimu. Jebakan–jebakannya dipasang disepanjang perjalanan. Dan perangkapnya dipoles penuh menggoda bagi jiwa untuk selalu mengikutinya. Para wanita penzina telah diangkat jadi idola. Dimuliakan bagai permaisuri para raja. Kehadirannya disambut meriah bagai tamu kehormatan yang dipuja dan ditunggu kedatangannya. Dan ulah bejatnya tontonan laris menjadi koleksi dikalangan kawula muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat-tempat zina pun kini telah dilegalkan terang-terangan. Hubungan gelap dikamerakan jadi tontonan. Sedangkan para pelacur menjadi penghibur jiwa yang futur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada lagi keharuman harga diri dimata para biduanita yang menggadaikan kehormatannya.Tak ada lagi kesucian diri ditangan para penzina yang menjual diri di ranjang nista. Telah hilanglah masa depan generasi harapan di tangan para penzina yang menyesatkan pemuda islam. Merekalah yang hidup demi setetes mani dengan menggadaikan  balasan di kubur dan akhirat nanti. Merekalah yang bergelut dengan syahwat dan tak peduli dengan akhlaq yang bejat merusak umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri Islamiku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih adakah kebanggan dengan wanita-wanita barat yang kafir dengan syariat? Masih adakah kecintaan dengan kaum yang menjadikan zina jalan hidupnya? Oh naif sekali,sungguh keji sekali para pemburu syahwat itu dengan bangga video serta gambar-gambar porno mereka tersebar di dunia maya. Tak merasa malu ditonton mata jalang berjuta-juta. Bukan sekedar orang dewasa,  anak –anak SMApun kecanduan tak peduli pria atau wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri Islamiku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan  remaja islam telah rusak hampir dimana-mana. Tidak di kota ataupun di desa zina merebak dikalangan mahasiswa bahkan anak SMA. Bagaimana zina tidak menyebar sedangkan kos-kosan mereka satu rumah bercampur baur layaknya seorang istri dan suami. Setiap malam minggu diapelin rutin oleh sang pacar yang bebas tanpa izin masuk keluar kamar. Budaya peluk cium bukan lagi tabu di muka umum. Bahkan sebagian mereka paginya menjadi mahasiswa dan malam harinya merangkap sebagai biduanita. Oh begitukah pergaulan bebas para mahasiswa dan anak SMA di nusantara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh mengenaskan wahai putriku, setiap hari hampir terdengar berita gadis-gadis diperkosa bahkan setelah itu dibunuh nista. Lokalisasi sengaja dibiarkan karena sebagai tempat yang seolah resmi untuk berzina. Ya, yang dihukum adalah mereka yang berzina dengan paksa sedangkan suka sama suka boleh–boleh saja. Dan itu bukanlah zina kata mereka. Toh itu hak asasi manusia menurut mereka. Oh itulah indahnya demokrasi di otak mereka. Seolah-olah kebusukan-kebusukan itu mendapat perlindungan resmi dari berhala yang bernama Hak Asasi Manusia(HAM), sehingga orang bisa berbuat seenak dengkulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya bukan sekedar itu wahai putriku. Ya, bukan sebatas itu. Dosa kaum Luth yang diadzab itu kini semakin menjadi-jadi. Komunitas lesbi dan banci yang semakin hari bertambah ngeri dinegri pertiwi. Situs-situsnya bermunculan di internet dengan bebas di akses tanpa bas-basi. Kontes demi kontes  sengaja di gelar untuk mengeksploitasi mereka di media masa. Bahkan mereka akan menuntuthak asasi manusia untuk dinikahkan antara sesama jenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh…bagaimana  nusantara kita tidak terus mendapat bencana jikalau memang penghuninya selalu menebar maksiat dimana-mana. Bukan sekedar rakyat biasa, para pejabat justru menjadi pelopornya. Bagaimana  nusantara tidak dilanda sengsara jika syirik menjadi kepercayaan dan zina serta liwath menjadi kebudayaan rakyatnya. Oh mau dibawa kemana bangsa ini bersama pengabdi demokrasi dan  pengumbar hawa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankahtelah menjadi rahasia umum penjualan alat kontrasepsi di malam tahun baru dan valentine meningkat pesat? Lebih mengerikan lagi para pembelinya adalah kalangan anak muda. Tidak lain mereka ingin melakukan puncak kebejatan yang mereka sebut dengan “pesta seks”. Sebuah penyimpangan fitrah yang binatang sebejat apapun tak pernah melakukannya. Na'udzubillahi min dzalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang mereka sebut hari kasih sayang. Ya,hari kasih sayang para penyembah nafsu setan untuk melampiaskan puncak syahwatnya. Sungguh benar apa yang dikatakan Allah dalam Al qur’an .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mereka itu seperti binatang bahkan lebih  sesat dari binatang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri Islamiku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumohon kepadamu. Ya..aku mohon dengan segenap hati kepada dirimu yang dikaruniai hiasan iman di dalam hati dariAr-Rahman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihlah sahabat yang solih dan beriman. Dan berusahalah untuk selalu bersama muhrim jika engkau hendak bersafar sehingga orang–orang bodoh tidak bermacam-macam padamu. Dan jagalah jilbab islami karena itu perintah ilahi. Jilbab islami yang dengannya engkau mudah dikenali. Ya, dikenali bahwa engkau adalah pemilik izzah penjaga harga diri. Tak mudah dirayu para lelaki penyembah birahi. Dan dengan jilbab itu engkau tidak diganggu oleh mata-mata jalang yang tak pernah melihat keindahan kecuali pada badan seksi dan aurat yang dipamerkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku Putri Islami..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya dirimu bukan yang lain. Ya,Engkaulah wahai putriku. Engkaulah mujahidah para pengawal syariat jilbab di bumi ini. Engkaulah benteng penegak bangunan kokoh yang kini ingin dihancurkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jagalah benteng itu wahai mujahidahku. Jangan sekali-kali engkau lengah sehingga musuh-musuh itu merobek dan menodai. Beribathlah dengannya karena itu lambang kemuliaanmu dalam dien ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri Islamiku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika benteng itu roboh maka apa jadinya generasi muslimah umat ini. Jangan sampai serigala-serigala zina itu menjadikan saudari-saudari kita santapan lezat bagi hawa nafsunya. Demi Allah aku tak rela walau hanya satu wanita dicengkram oleh mereka. Tak ada kata lain kecuali engkau harus berdiri tegar mengawal panji jilbab tetap berkibar. Tancapkan panji itu wahai putriku.Jangan gentar walau jasad mati terkapar. Hingga Robbmu bersaksi bahwa engkau adalah mujahidah sejati. Ya, Engkau wahai saudariku. Engkau bukan yang lain. Engkaulah mujahidah pengawal panji itu. Aku sangat yakin pada Allah kemudian  kepadamu. Percayalah Allah senantiasa bersamamu selalu wahai mujahidahku.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-2327140660311496231?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/2327140660311496231/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2011/04/putri-islami-pengikut-sunnah-nabi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/2327140660311496231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/2327140660311496231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2011/04/putri-islami-pengikut-sunnah-nabi.html' title='Putri Islami Pengikut Sunnah Nabi'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-rlPaAmCwd4Y/TZlio6r2GfI/AAAAAAAAAJY/E2fVDKkVheQ/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-3137732835393442815</id><published>2011-03-28T14:15:00.003+07:00</published><updated>2011-03-28T14:23:37.678+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nikah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Akhwat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kebangkitan'/><title type='text'>WANITA SHALIHAH IDAMAN MUJAHID</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-GMo4zmt5SlQ/TZA3SCRn7xI/AAAAAAAAAIw/e7-FvfAJk6g/s1600/Bidadari%2BSyurga.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 353px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-GMo4zmt5SlQ/TZA3SCRn7xI/AAAAAAAAAIw/e7-FvfAJk6g/s400/Bidadari%2BSyurga.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5589027920554749714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Indahnya kalammu wanita solehah yang berjuang disisi mujahid soleh....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seindah-indah perhiasan dunia adalah wanita yang solehah...”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ku awali tulisan  ini dengan bait indah yang ditinggalkan Rasulullah saw kepada seisi alam. Wanita solehah! Idaman semua muslimin di alam maya ini. Alhamdulillah, itulah anjuran Islam yang kita cintai, pilihlah wanita yang mampu menyejukkan pandanganmu dan juga baitul muslim yang bakal dibina tika sampai saat itu, insyaAllah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dinikahi seorang wanita itu kerana empat perkara hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah hal keagamaannya, maka beruntunglah kedua-dua tanganmu..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita solehah idaman mujahid soleh yang malunya menjadi perisai dirinya, yang zikirnya menjadi penawar dirinya; tak gentar di uji dg kemewahan duniawi kerana dia rindukan wangian syurgawi, dia berpegang pada janji yang terpatri di lubuk hati. Telah dinukilkan panduan sepanjang zaman, itulah lirikan utama buatmu memilih calon isteri. Tiap baris itu telah menjadi hafalanku sejak aku mengenali dunia dakwah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika harta yang kau idamkan, ketahuilah diriku tidak punya apa-apa harta di dunia ini melainkan ilmu agama yang telah dititipkan buatku oleh bapak dan ibu. Tiada harta untuk kupersembahkan, hanya ketenangan yang mampu aku sediakan buatmu kerana aku pernah terbaca kata-kata ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikannya di antaramu rasa kasih dan sayang.¨ (Rum: 21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika keturunan yang mulia itu yang kau dambakan, ketahuilah jua aku di bawah pengawasan Allah sebagai penjaga mutlak diriku. Aku adalah keturunan mulia, ayahanda Nabi Adam  dan  Hawa , sama seperti mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”... maka bertawakkallah kepada Allah, sesungguhnya Allah mengasihi orang yang bertawakal kepadaNya. Jika Allah menolong kamu maka, tiada seseorangpun yang boleh menghalang kamu, dan jika ia mengecewakan kamu, maka siapakah yang dapat menolong kamu sesudah Allah (menetapkan demikian) ? dan ingatlah kepada Allah jualah hendaknya orang yang beriman itu berserah diri...” (Ali Imran : 159-160)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecantikan, itulah pandangan pertama setiap insan. Malah aku meyakini bahawa kau juga tidak terlepas seperti insan yang lain. Ketahuilah, jika kecantikan itu yang kau inginkan daripada diriku, kau telah tersalah langkah. Tiada kecantikan yang tidak terbanding untuk kupertontonkan padamu. Telah aku hijabkan kecantikan diriku ini dengan amalan ketaatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kepada tuntutan agama yang kucintai. Kau hanya membuang masa jika kau menginginkan kecantikan lahiriah semata-mata. Aku memerlukan engkau untuk bersama-samaku menegakkan dakwah islamiyyah ini, dan aku merelakan diri ini menjadi penolongmu untuk membangunkan sebuah markas dakwah dan tarbiyyah ke arah jihad hambaNya kepada Penciptanya yang agung. Pendirianku...pernikahanku akan ku jadikan medan pencarian ilmu agama sebagai risalah demi meneruskan perjuangan Islam. Aku masih kekurangan ilmu agama, tetapi berbekalkan ilmu agama yang telah dibekalkan ini. Aku ingin menjadi isteri yang sentiasa mendapat keredhaan Allah dan suamiku untuk memudahkan aku membentuk usrah/keluarga muslim antara aku, suamiku dan anak-anak untuk dgadaikan dengan ketaatan kepada Allah Yang Maha Esa. Aku bercita-cita bergelar mjd pendamping solehah, seperti mana yang dijanjikan Rasulullah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Semoga Allah memberi rahmat kurnia kepada lelaki yang bangun di tengah malam lalu dia sholat dan membangunkan isterinya, maka sekiranya enggan juga bangun untuk sholat, dia memercikkan air ke mukanya. Semoga Allah memberi rahmat kurnia kepada wanita yang bangun di tengah malam lalu sholat dan membangunkan suaminya. Maka jika dia enggan, dia memercikkan  air kemukanya." (Riwayat Abu Daud dengan Isnad yang sahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu a'lam bish shawab.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-3137732835393442815?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/3137732835393442815/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2011/03/wanita-shalihah-idaman-mujahid.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/3137732835393442815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/3137732835393442815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2011/03/wanita-shalihah-idaman-mujahid.html' title='WANITA SHALIHAH IDAMAN MUJAHID'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-GMo4zmt5SlQ/TZA3SCRn7xI/AAAAAAAAAIw/e7-FvfAJk6g/s72-c/Bidadari%2BSyurga.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-3658790783020194079</id><published>2011-02-05T06:15:00.004+07:00</published><updated>2011-02-05T06:25:52.577+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ibroh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kebangkitan'/><title type='text'>KISAH BESAR...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TUyK6rAM65I/AAAAAAAAAIo/ZKCmuA7tZuc/s1600/11443_175197509916_172132064916_2681467_5661558_n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TUyK6rAM65I/AAAAAAAAAIo/ZKCmuA7tZuc/s400/11443_175197509916_172132064916_2681467_5661558_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5569979579731078034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ikhwah Fillah yang merindukan bangkitnya Islam di bumi Alloh, penting bagi kita merenungkan setiap kejadian yang berlaku, baik di masa yang lampau atau di saat sekarang ini.. perjuangan tidak bisa di pisahkan dengan realita kehidupan yang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman atas realita, menjadikan diri kita paham dengan apa yang sedang terjadi? Apa penyebab semua itu terjadi? dan ketika kita memahami realita dan dapat mendiagnosa penyebab keterpurukan ummat ini, kita dapat mencari solusi yang tepat dan jitu untuk menanganinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebaliknya kebutaan terhadap realita justru menjadikan nilai perjuangan ini tidak akan pernah bernilai dan berkualitas, langkah-langkah yang diambil untuk menanganinya hanyalah langkah-langkah yang terkesan tergesa-gesa, Ia tidak akan memahami hakikat dan makna perjuangan yang sebenarnya. sebagaimana seorang dokter yang minim akan pengetahuan dan tidak mau belajar dari pengalaman, dalam prakteknya ia akan sering salah mendiagnosa pasien sehingga sang pasien-pun justru bisa bertambah parah penyakitnya, tindakan itu adalah tindakan yang ceroboh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga dengan merenungi KISAH BESAR ini dapat sedikit memahamkan kita akan realita ummat yang senantiasa mengalami pasang dan surut sebagai suatu Sunnatulloh, yang pasti terjadi, dan menjadikan kita pejuang-pejuang yang tangguh dan dapat berdaya guna demi kebangkitan Dienulloh, Manhajulloh...&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kisah besar ini bermula sejak Allah SWT menciptakan manusia dengan tujuan termulia, yaitu mendirikan peribadatan yang murni hanya untuk Allah SWT. Tunduk, patuh dan menyerah diri kepada-Nya. Melawan dan mengalahkan semua rintangan, baik dari dalam jiwa maupun dari luarnya, demi utnuk mewujudkan peribadatan yang murni itu. Allah SWT pun telah menjanjikan manusia untuk memasukkan mereka ke syurga, jika mereka melaksanakan yang demikian. Di saat-saat pertama setelah penciptaan itu, telah terjadi kedurhakaan yang sangat besar, bahkan terbesar yaitu, pembangkangan iblis terhadap perintah Allah, sampai jadilah iblis mahluk yang terkufur di dunia ini dan terusirlah dia dari sisi Allah untuk menjadi suatu mahluk terkutuk yang akan abadi di Jahannam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murkalah iblis terhadap Adam, karena menganggap Adamlah sebab keterkutukannya. Murkalah iblis terhadap Adam dan keturunannya, karena rasa hasad yang dalam dan pekat dalam  dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka bersumpahlah dia untuk selalu berusaha mencelakakan Adam dan keturunannya di kehidupan dunia dan akhirat. Korban pertama dari usaha iblis adalah bapak dan ibu awal dari seluruh manusia yang berhasil dikeluarkannya dari syurga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulailah kehidupan manusia di bumi ini sebagai keturunan seorang Nabi Adam AS. Yang membawa ajaran tauhid. Jadi bukanlah seperti yang dipropagandakan kaum Yahudi, bahwa syiriklah agama pertama di muka bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tauhid! Tauhidlah yang mengiringi awal kehidupan manusia di dunia ini. Sedangkan syirik adalah hasil dari usaha iblis dalam menyesatkan manusia. Syirik pertama di bumi ini  terjadi setelah sepuluh keturunan, pada zaman Nuh AS. Nuh pun di utus untuk mengembalikan manusia ke jalan Tauhid, jalan Allah SWT. Setelah kaum Nuh yang tidak beriman dibinasakan, maka kembalilah manusia ke jalan tauhid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian sejarah pun terulang pada keturunan mereka yang berlayar di perahu Nuh AS. Kesyirikan pun kembali muncul. Allah pun kembali mengirim Rasul-Nya untuk mengembalikan manusia ke jalan tauhid, ke jalan kemurnian agama, satu-satunya jalan yang diridhai Allah SWT, jalan menuju al-Jannah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap seorang rasul datang, muncul pula syaithon-syaithon yang menandinginya. Demikianlah seterusnya pertempuran abadi itu berlangsung tanpa henti. Sepihak bertujuan menyeru manusia ke jalan Allah SWT dan menegakkan kedaulatan Allah, syariah dan pihak lain (iblis dan pengikutnya) bertujuan menggiring manusia ke Jahannam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iblis, syaithon yang menjadi pemimpin para syaithon, baik dari jenis jin maupun dari jenis manusia adalah mahluk terkutuk yang mempunyai akses kuat dan nyata dalam alam manusia. Mempunyai keturunan dan balatentara. Mempunyai pasukan-pasukan berkuda dan pasukan-pasukan pejalan kaki. Mengepung manusia dari segala penjuru kehidupan. Membentuk agama-agama syirik dan aliran-aliran sesat sebagai tandingan Islam dan sebagai pintu-pintu menuju Jahannam. Agama-agama dan aliran-aliran yang beraneka ragam, dirancang selaras dengan jalan-jalan hawa nafsu manusia. Selain itu, ada pula agama-agama yang langsung menyembah syaithon tanpa perantara patung-patung atau manusia yang diagungkan ataupun sekulerisme, yaitu penolakan atas seluruh agama termasuk Islam atau berupa ketundukan terhadap syariah thogut yaitu seluruh syariah selain syariah Allah. Jalur utama manhaj aliran penyembah syaithon ini adalah sihir, yang telah merasuk ke dalam sumsum hampir kesemua kesyirikan, dari syirik hukum sampai kepada manhaj agama-agama sesat dan sampai ke sel-sel terkecil dari kesesatan termasuk lagu-lagu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan menurut banyak sumber seperti termasuk buku-buku yang ditulis oleh para penulis barat, bahwa pada abad ke-18 miladi, para penyembah syaithon telah berhasil membentuk tanzim internasional menguasai negara-negara di dunia melalui sistem perbankan dan moneter internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sihir yang merupakan energi-energi jahat yang dipakai oleh syaithon dan para pengikutnya sebagai kekuatan yang sanggup mempengaruhi realita dan sekaligus menjadi ritual penyembahan syaithon, sudah merata penyebarannya dan mempunyai lembaga-lembaga dakwah ta’lim resmi baik dalam lingkup nasional maupun internasional. Yang lebih jahat lagi dalam hal ini adalah, diajarkannya sihir di bawah naungan lembaga-lembaga dakwah ta’lim Islam di banyak tempat, dengan memakai nama yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertempuran abadi antara kekuatan haq dan bathil, kekuatan iman dan kekuatan kufur, berlangsung terus sejak terciptanya manusia sampai hari kiamat. Baik pertempuran dalam diri seorang manusia antara iman yang didukuung oleh hembusan malaikat melawan hawa nafsu yang didukung oleh bisikan-bisikan syaithon, maupun antara kaum mukminin yang ditolong Allah dengan balatentara malaikat-Nya dan kaum kafirin yang didukung syaithon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang hidupnya, Rasulullah saw dan para shahabatnya tidak berhenti berjuang melawan kekuatan kuffar, demi membebaskan ummat dari cengkeraman syaithon, menegakkan kedaulatan Allah syar’iyyah di bumi ini. Adapun kedaulatan Allah kauniyyah, tetap tegak sejak azal, tanpa mula tanpa akhir. Tiada sesuatu kekuatan pun  yang sanggup menentangnya, apalagi merebutnya. Dalam pertempuran Rasulullah saw beserta shahabatnya dan kaum kafirin, syaithon pun telah muncul secara nyata lebih dari satu kali, seperti halnya malaikat pun ikut bertempur bersama kaum mukminin. Tetapi tetap saja pemain utama dari kedua belah pihak adalah manusia. Manusia yang terbagi menjadi dua golongan, hizbullah dan hizbusyaithon, ansharullah dan ansharusyaithon, prajurit Allah dan prajurit syaithon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kebangkitan Rasulullah saw, kerajaan Islam pun kiat menguat dan meluas, kerajaan iman kian berkuasa dan perkasa, sedangkan kerajaan syaithon yang diwakili oleh dua kerajaan utamanya yaitu kerajaan Persia majusi dan kerajaan Rum salibis kian terdesak, terpuruk dan tak berdaya. Kerajaan Persia majusi punah! Api-api syaithon yang tadinya disembah dan dipuja pun padam! Ummat manusia pun memasuki agama Allah berbondong-bondong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerajaan Rum salibis terdesak dan terus menerus dipaksa hengkang dari daerah-daerah kekuasaannya, hingga terpaksa pulang ke kandang semula eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratusan juta manusia dibebaskan oleh ekspansi Islam dari cengkeraman kesyirikan, iblispun menjerit dan terpental dari banyak kekuasaannya. Tetapi pertempuran masih terus berlangsung! Kemenangan demi kemenangan diraih kaum muslimin!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi pada babak terakhir terjadi pergeseran tragis dan  sangat tragis! Kemurnian Islam mulai suram…sunnah pun ,pasal demi pasal digantikan oleh bid’ah. Kaum kuffar mulai mendapat angin untuk merusak dari dalam tubuh ummat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga pada akhirnya lembaga politik dan militer ummat pun jatuh terkapar, berantakan menjadi puing-puing yang berserakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal abad ke 20, para kaum salibis yang dipimpin para penyembah syaithon dari bangsa yahudi, berhasil mengakhiri perang salib dengan kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan segala tipu daya muslihat dan dengan mengerahkan  seluruh kemampuan yang mereka miliki serta bantuan besar-besaran dari kaum munafikin yang berada di tubuh ummat ini, mereka berhasil meruntuhkan khilafah Islamiyyah terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri-negeri Islam pun terkapar di bawah kaki para durjana prajurit-parjurit kedaulatan syaithon! Terbagi-bagi dan terpecah-pecah dalam potongan-potongan geografis yang sangat terbatas. Setelah perang dunia kedua berakhir sistem penjajahan pun dirubah, dari penjajahan langsung ke sistem tidak langsung. Negara-negara baru, lemah, tertindas dan terkontrol pun didirikan oleh kaum salibis penjajah. Dibentuk menurut selera dan mashlat mereka! Syarat pertama dan utama adalah tidak boleh mendirikan sistem Islam. Sedangkan syarat kedua adalah tunduk mutlak kepada kebijakan-kebijakan salibis dan yahudi internasional yang berkendaraan organisasi “Freemason” di segala bidang ekonomi, budaya, politik, pendidikan dan lain-lain. Undang-undang dasar pun paling sedikit harus “direstui” kalau tidak memang disusun oleh mereka! Keunggulan keuangan, teknologi, militer dan sistem intelijen menjadi jaminan untuk terlaksananya kedua syarat utama itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang diberi peran sebagai pendiri setiap Negara-negara boneka tersebut pun adalah orang-orang pilihan mereka yang sudah terjamin loyalitasnya. Sistem regenerasi kekuasaan pun harus memberikan jaminan akan tidak adanya pergeseran ke arah kekuatan-kekuatan Islami yang mungkin muncul sewaktu-waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibawah cengkeraman salibis dan yahudi internasional itu, kaum muslimin pun terpuruk disemua lapangan kehidupan. Hukum Islam adalah hal utama dan pertama yang harus disingkirkan dari kehidupan ummat ini. Pendidikan dijauhkan dari norma-norma Islam yang murni. Sekulerisme dipupuk dan didukung habis-habisan, nasionalisme dijadikan dasar al wala’ dan al baro’. Wanita ditipu besar-besar untuk keluar dari peranannya yang sebenarnya, digiring dan diseret dengan segala bentuk rayuan ke dalam jurang penderitaan lahir dan batin. Anak-anak belia dipersiapkan untuk menjadi musuh-musuh agama mereka sendiri. Da’wah agama-agama buatan iblis, diperkuat tanpa batas. Semua itu dalam rangka memenangkan pergulatan merebut kedaulatan atas kehidupan manusia untuk dipersembahkan kepada iblis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya sandiwara perang dingin, memang telah memberi peluang untuk tidak terkontrolnya situasi persis seperti yang diinginkan oleh para iblis dan keturunan kera serta penyembah syaithon. Maka ketika Sohwah Islamiyyah mulai memasuki era jihad di Afghanistan maka sandiwara itu pun harus segera berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika dan dengan sangat tenang serta mudah, “diruntuhkanlah”  uni soviet, agar kekuatan mereka bisa dikonsentrasikan memukul usaha-usaha kebangkitan kaum Muslimin. Dengan dalih memerangi terorisme, genderang perang terhadap Islam pun dipukul bertalu-talu siang dan malam. Siapa yang ingin mendapat keridhoan hamba-hamba syaithon itu, mereka harus menari menurut irama genderang itu. Maka secara serentak menarilah mereka dengan tubuh bugil, tanpa tedeng aling-aling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi celakalah mereka!! Bagaikan yang mengejar fatamorgana, untuk mendapatkan seteguk air!! Celakalah mereka!! Mereka tidak akan memenangkan pertarungan ini!! Walaupun pada beberapa saat dari  umur dunia ini, mereka sanggup menguasai kaum yang beriman, tetapi pada akhirnya kemenangan akan diraih kaum Muslimin, ummat Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah akan menolong hamba-hambanya yang beriman!! Akan menjayakan agama-Nya!! Tak akan ada kekuasaan yang sanggup mencegahnya !! Abadan…Abadan!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian lemah tipu daya syaithon ! lari pontang-panting ketika melihat para malaikat mulai turun dari langit ! tak berdaya apa-apa ketika melawan ketakwaan ! bagaimana tidak!? Mendengar kumandang azan saja mereka lari  terbirit-birit!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prajurit-prajurit iblis dari golongan manusia pun tak pernah bertahan lama dalam menghadapi prajurit-prajurit Allah. Tetapi mengapa mereka sekarang mampu mencengkeram kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabnya !!? &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;karena kita bukanlah kita lagi!!&lt;/span&gt; Sebelum benteng terakhir ummat ini runtuh pun, mayoritas kita sudah berjalan di luar kemurnian Islam dan cinta dunia sudah merasuk ke dalam hati. Cinta dunia sudah menjauh kita dari cinta juang! Menjadikan kehidupan akhirat di hati hati kita hampir-hampir hanya dongeng sebelum tidur !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kita harus berjuang !&lt;/span&gt; Berjuang menegakkan kedaulatan Allah syar’iyyah, seperti perjuangan para nabi dan leluhur solihin pendahulu kita ! mengikis cengkeraman iblis atas ummat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perjuangan harus menjadi kehidupan kita dan kehidupan kita harus menjadi perjuangan ! perjuangan suci abadi.&lt;/span&gt; Ktia harus tidak terlena oleh kemanisan dunia, mengikuti semua aneka ragam kelezatan dengan mengorbankan perjuangan ! Perjuangan  yang hakikatnya adalah kobaran cahaya Ilahi yang suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita renungkan hal-hal  dibawah ini :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan berjuang kita mendapatkan hidayah petunjuk dari Allah dalam meniti jalan kehidupan menuju pintu-pintu syurga.&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Dengan berjuang kita mendapat kejayaan dunia dan akhirat, bukan sama sekali seperti yang selalu dibisik-bisikan syaithon untuk menakut-nakuti agar kita tidak berjuang.&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Dengan berjuang pula kita akan mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Kita membutuhkan perjuangan untuk menyempurnakan Iman kita. Kita butuh untuk membuktikan keimanan kita kepada Allah. Pembuktian ini adalah suatu tuntunan syar’i ! Karena iman bukanlah sekedar kepercayaan bersemayam di hati, tetapi sesuatu yang harus dibuktikan dengan perbuatan. Dengan perjuangan akan banyak sekali terbukti dan terwujud unsur-unsur keimanan pada dunia nyata seperti kesabaran, keyakinan, tawakal dan lain-lain kita sangat membutuhkan pembuktian iman pada alam nyata. Kalau tiada ada pembuktian, tanpa uzur, maka kita bukanlah orang-orang yang beriman.&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Kita butuh perjuangan untuk menafikan dan mengikis habis sifat-sifat nifak pada diri dan hati kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rugilah mereka yang Allah tidak memberi peluang untuk berjuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan syar'i dalam Islam, yaitu perjuangan fi sabilillah adalah semua jenis usaha halal demi untuk meningkatkan kalimatullah. Dengan ungkapan lain semua menegakkan kedaulatan Allah syar’iyyah di alam nyata ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di setiap kondisi, usaha-usaha mu’tabar bisa berbeda-beda bentuk isi, cara dan bobotnya. Setiap perjuang harus pandai menentukan usaha-usaha yang cocok untuk setiap kondisi, dengan panduan manhaj perjuangan para anbiya dan Nabi kita Muhammad SAW pada khususnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi pada dasarnya perjuangan itu berkisar pada tujuan-tujuan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menjaga kemurnian agama dan menyebarluaskannya. Hal ini menuntut kita mempelajari Islam dengan manhaj Rasulullah saw dan shahabatnya, yaitu manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mengamalkannya dan mendakwahkannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menegakkan syari’atullah sebagai satu-satunya undang-undang yang didaulat ummat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua poin inilah yang dimaksud dengan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;penegakkan kedaulatan Allah syar’iyyah&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kondisi seperti dimana kemurnian Islam menjadi kabur atas mayoritas putra-putri Islam, maka tugas utama kita adalah mempelajari, mengamalkan, dan mendakwahkan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Setiap personal yang sudah dimanhajkan harus dimobilisir sedapat mungkin untuk melaksanakan tugas yang sama dalam suatu keterikatan jaringan kerja yang akan menjadi pendukung bahkan pelaksana penegakkan syar’iah dikemudian hari. Kita harus tidak menoleh kepada program politik apalagi jalur parlemen pada marhalah ini. Jalur politik Islami yang menentang hegemony salibis tanpa mempunyai kekuatan pendukung yang cukup, adalah pekerjaan membuang waktu dan tenaga, bahkan bisa menyeret ke arah kehancuran manhaj dan fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan berpikir untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan hal-hal yang mengganggu keamanan! Walaupun sasarannya adalah orang-orang kafir. Hal-hal tersebut tidak akan berbuah kemajuan ke arah tujuan. Di samping ke syar’iyyahan amal seperti itu masih sangat dipertanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Berjuanglah saudaraku…berjuanglah !!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala sesuatu yang engkau kerjakan demi perjuangan ini, adalah sebuah perjuangan yang tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau hanya hidup di dunia satu kali dan akan kau lalui jatah waktu yang Allah berikan padamu. Laluilah dengan perjuangan!! Jadilah orang besar!! Jangan kecewa kalau kau seorang yang lemah fisik! Jangan kecewa kalau kau tak pandai bicara..jangan kecewa kalau kau tak berharta..kebesaran tidak dihitung dari semua itu! Kebesaranmu diukur dari kesediaanmu berkorban di jalan perjuangan ini dengan ikhlas demi Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau…kalau kau panjang umur, niscaya kau akan menjadi tua renta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah renta yang akan direntakan oleh beratnya perjuangan!! Bukan direntakan oleh kekosongan mengejar kelezatan dunia yang fana ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi Julaibib zaman ini, jauh lebih mulia dari mereka yang kaya raya, tampan wajah, gempal tubuh, indah istana dan ceria muka, tetapi kosong dari perjuangan Allah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekayaanmu yang sejati adalah timbunan perjuanganmu setiap hari, tercatat di sisi Allah dan Dia tak akan melupakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersabarlah beramal Jama’i dalam perjuangan ini! Tantangan ummat ini terlalu berat, tak mungkin bisa dibatasi tanpa amal jama’i…Bersabarlah menanggung tekanan masyarakat sekelilingmu, orang-orang rumahmu, istrimu bahkan tekanan dirimu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teguhkanlah tekadmu jangan sampai terkecoh ! Tetapkanlah langkahmu jangan sampai tergelencir!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titi jalan yang benar ini, sampai malakul maut menjemputmu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai bertemu di tepi Al-Kautsar…!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-3658790783020194079?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/3658790783020194079/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2011/02/kisah-besar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/3658790783020194079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/3658790783020194079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2011/02/kisah-besar.html' title='KISAH BESAR...'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TUyK6rAM65I/AAAAAAAAAIo/ZKCmuA7tZuc/s72-c/11443_175197509916_172132064916_2681467_5661558_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-5744350776877752318</id><published>2011-01-06T09:47:00.004+07:00</published><updated>2011-01-06T09:58:55.671+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syariat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Akhwat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Bagaimanakah hukum cadar (menutup wajah), wajib atau tidak?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TSUvhrZ-0EI/AAAAAAAAAIU/KjJrJ5xUrUs/s1600/cadar.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 180px; height: 217px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TSUvhrZ-0EI/AAAAAAAAAIU/KjJrJ5xUrUs/s400/cadar.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558901570692632642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Banyak pertanyaan yang ditujukan kepada kami, baik secara langsung maupun lewat surat, tentang masalah hukum cadar (menutup wajah) bagi wanita. Karena banyak kaum muslimin belum memahami masalah ini, dan banyak wanita muslimah yang mendapatkan problem karenanya, maka kami akan menjawab masalah ini dengan sedikit panjang. Dalam masalah ini, para ulama berbeda pendapat. Sebagian mengatakan wajib, yang lain menyatakan tidak wajib, namun merupakan keutamaan. Maka di sini -insya Alloh- akan kami sampaikan hujjah masing-masing pendapat itu, sehingga masing-masing pihak dapat mengetahui hujjah (argumen) pihak yang lain, agar saling memahami pendapat yang lain.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dalil yang Mewajibkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini akan kami paparkan secara ringkas dalil-dalil para ulama yang mewajibkan cadar bagi wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, firman Allah subhanahu wa ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُن&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka.” (QS. An Nur: 31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala memerintahkan wanita mukmin untuk memelihara kemaluan mereka, hal itu juga mencakup perintah melakukan sarana-sarana untuk memelihara kemaluan. Karena menutup wajah termasuk sarana untuk memelihara kemaluan, maka juga diperintahkan, karena sarana memiliki hukum tujuan. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Lihat Risalah Al-Hijab, hal 7, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, penerbit Darul Qasim)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, firman Allah subhanahu wa ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.” (QS. An Nur: 31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Mas’ud berkata tentang perhiasan yang (biasa) nampak dari wanita: “(yaitu) pakaian” &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Riwayat Ibnu Jarir, dishahihkan oleh Syaikh Mushthafa Al Adawi, Jami’ Ahkamin Nisa’ IV/486)&lt;/span&gt;. Dengan demikian yang boleh nampak dari wanita hanyalah pakaian, karena memang tidak mungkin disembunyikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, firman Allah subhanahu wa ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka.” (QS. An Nur: 31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan ayat ini wanita wajib menutupi dada dan lehernya, maka menutup wajah lebih wajib! Karena wajah adalah tempat kecantikan dan godaan. Bagaimana mungkin agama yang bijaksana ini memerintahkan wanita menutupi dada dan lehernya, tetapi membolehkan membuka wajah? &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Lihat Risalah Al-Hijab, hal 7-8, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, penerbit Darul Qasim)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;, firman Allah subhanahu wa ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلاَ يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَايُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS. An Nur: 31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah melarang wanita menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasannya yang dia sembunyikan, seperti gelang kaki dan sebagainya. Hal ini karena dikhawatirkan laki-laki akan tergoda gara-gara mendengar suara gelang kakinya atau semacamnya. Maka godaan yang ditimbulkan karena memandang wajah wanita cantik, apalagi yang dirias, lebih besar dari pada sekedar mendengar suara gelang kaki wanita. Sehingga wajah wanita lebih pantas untuk ditutup untuk menghindarkan kemaksiatan. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Lihat Risalah Al-Hijab, hal 9, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, penerbit Darul Qasim)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kelima&lt;/span&gt;, firman Allah subhanahu wa ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَآءِ الاَّتِي لاَيَرْجُونَ نِكَاحًافَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَن يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَن يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَّهُنَّ وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nur: 60)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita-wanita tua dan tidak ingin kawin lagi ini diperbolehkan menanggalkan pakaian mereka. Ini bukan berarti mereka kemudian telanjang. Tetapi yang dimaksud dengan pakaian di sini adalah pakaian yang menutupi seluruh badan, pakaian yang dipakai di atas baju (seperti mukena), yang baju wanita umumnya tidak menutupi wajah dan telapak tangan. Ini berarti wanita-wanita muda dan berkeinginan untuk kawin harus menutupi wajah mereka. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Lihat Risalah Al-Hijab, hal 10, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, penerbit Darul Qasim)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Mas’ud dan Ibnu Abbas berkata tentang firman Allah “Tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka.” (QS An Nur:60): “(Yaitu) jilbab”. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Kedua riwayat ini dishahihkan oleh Syaikh Mushthafa Al-Adawi di dalam Jami’ Ahkamin Nisa IV/523)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ‘Ashim Al-Ahwal, dia berkata: “Kami menemui Hafshah binti Sirin, dan dia telah mengenakan jilbab seperti ini, yaitu dia menutupi wajah dengannya. Maka kami mengatakan kepadanya: “Semoga Allah merahmati Anda, Allah telah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَآءِ الاَّتِي لاَيَرْجُونَ نِكَاحًافَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَن يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan.” (QS. An-Nur: 60)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud adalah jilbab. Dia berkata kepada kami: “Apa firman Allah setelah itu?” Kami menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأَن يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَّهُنَّ وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan jika mereka berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 60)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengatakan, “Ini menetapkan jilbab.” &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Riwayat Al-Baihaqi. Lihat Jami’ Ahkamin Nisa IV/524)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keenam&lt;/span&gt;, firman Allah subhanahu wa ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan.” (QS. An-Nur: 60)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini berarti wanita muda wajib menutup wajahnya, karena kebanyakan wanita muda yang membuka wajahnya, berkehendak menampakkan perhiasan dan kecantikan, agar dilihat dan dipuji oleh laki-laki. Wanita yang tidak berkehendak seperti itu jarang, sedang perkara yang jarang tidak dapat dijadikan sandaran hukum. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Lihat Risalah Al-Hijab, hal 11, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al- ‘Utsaimin, penerbit: Darul Qasim)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketujuh&lt;/span&gt;, firman Allah subhanahu wa ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِالْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata, “Allah memerintahkan kepada istri-istri kaum mukminin, jika mereka keluar rumah karena suatu keperluan, hendaklah mereka menutupi wajah mereka dengan jilbab (pakaian semacam mukena) dari kepala mereka. Mereka dapat menampakkan satu mata saja.” &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Syaikh Mushthafa Al-Adawi menyatakan bahwa perawi riwayat ini dari Ibnu Abbas adalah Ali bin Abi Thalhah yang tidak mendengar dari ibnu Abbas. Lihat Jami’ Ahkamin Nisa IV/513)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qatadah berkata tentang firman Allah ini (QS. Al Ahzab: 59), “Allah memerintahkan para wanita, jika mereka keluar (rumah) agar menutupi alis mereka, sehingga mereka mudah dikenali dan tidak diganggu.” &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Riwayat Ibnu Jarir, dihasankan oleh Syaikh Mushthafa Al-Adawi di dalam Jami’ Ahkamin Nisa IV/514)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata, “Wanita itu mengulurkan jilbabnya ke wajahnya, tetapi tidak menutupinya.” &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Riwayat Abu Dawud, Syaikh Mushthafa Al-Adawi menyatakan: Hasan Shahih. Lihat Jami’ Ahkamin Nisa IV/514)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu ‘Ubaidah As-Salmani dan lainnya mempraktekkan cara mengulurkan jilbab itu dengan selendangnya, yaitu menjadikannya sebagai kerudung, lalu dia menutupi hidung dan matanya sebelah kiri, dan menampakkan matanya sebelah kanan. Lalu dia mengulurkan selendangnya dari atas (kepala) sehingga dekat ke alisnya, atau di atas alis. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Riwayat Ibnu Jarir, dishahihkan oleh Syaikh Mushthafa Al-Adawi di dalamJami’ Ahkamin Nisa IV/513)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As-Suyuthi berkata, “Ayat hijab ini berlaku bagi seluruh wanita, di dalam ayat ini terdapat dalil kewajiban menutup kepala dan wajah bagi wanita.” &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Lihat Hirasah Al-Fadhilah, hal 51, karya Syaikh Bakar bin Abu Zaid, penerbit Darul ‘Ashimah&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perintah mengulurkan jilbab ini meliputi menutup wajah berdasarkan beberapa dalil:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Makna jilbab dalam bahasa Arab adalah: Pakaian yang luas yang menutupi seluruh badan. Sehingga seorang wanita wajib memakai jilbab itu pada pakaian luarnya dari ujung kepalanya turun sampai menutupi wajahnya, segala perhiasannya dan seluruh badannya sampai menutupi kedua ujung kakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Yang biasa nampak pada sebagian wanita jahiliah adalah wajah mereka, lalu Allah perintahkan istri-istri dan anak-anak perempuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta istri-istri orang mukmin untuk mengulurkan jilbabnya ke tubuh mereka. Kata idna’ (pada ayat tersebut يُدْنِينَ -ed) yang ditambahkan huruf (عَلَي) mengandung makna mengulurkan dari atas. Maka jilbab itu diulurkan dari atas kepala menutupi wajah dan badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menutupi wajah, baju, dan perhiasan dengan jilbab itulah yang dipahami oleh wanita-wanita sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Dalam firman Allah: “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu”, merupakan dalil kewajiban hijab dan menutup wajah bagi istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada perselisihan dalam hal ini di antara kaum muslimin. Sedangkan dalam ayat ini istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan bersama-sama dengan anak-anak perempuan beliau serta istri-istri orang mukmin. Ini berarti hukumnya mengenai seluruh wanita mukmin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Dalam firman Allah: “Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” Menutup wajah wanita merupakan tanda wanita baik-baik, dengan demikian tidak akan diganggu. Demikian juga jika wanita menutupi wajahnya, maka laki-laki yang rakus tidak akan berkeinginan untuk membuka anggota tubuhnya yang lain. Maka membuka wajah bagi wanita merupakan sasaran gangguan dari laki-laki nakal/jahat. Maka dengan menutupi wajahnya, seorang wanita tidak akan memikat dan menggoda laki-laki sehingga dia tidak akan diganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Lihat Hirasah Al-Fadhilah, hal 52-56, karya Syaikh Bakar bin Abu Zaid, penerbit Darul ‘Ashimah)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kedelapan&lt;/span&gt;, firman Allah subhanahu wa ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَّ جُنَاحَ عَلَيْهِنَّ فِي ءَابَآئِهِنَّ وَلآ أَبْنَآئِهِنَّ وَلآإِخْوَانِهِنَّ وَلآ أَبْنَآءِ إِخْوَانِهِنَّ وَلآ أَبْنَآءِ أَخَوَاتِهِنَّ وَلاَ نِسَآئِهِنَّ وَلاَ مَامَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ وَاتَّقِينَ اللهَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada dosa atas istri-istri Nabi (untuk berjumpa tanpa tabir) dengan bapak-bapak mereka, anak-anak laki-laki mereka, saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara mereka yang perempuan, perempuan-perempuan yang beriman dan hamba sahaya yang mereka miliki, dan bertakwalah kamu (hai istri-istri Nabi) kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al Ahzab: 55)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir berkata, “Ketika Allah memerintahkan wanita-wanita berhijab dari laki-laki asing (bukan mahram), Dia menjelaskan bahwa (para wanita) tidak wajib berhijab dari karib kerabat ini.” Kewajiban wanita berhijab dari laki-laki asing adalah termasuk menutupi wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kesembilan&lt;/span&gt;, firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَسْئَلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS. Al Ahzab: 53)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini jelas menunjukkan wanita wajib menutupi diri dari laki-laki, termasuk menutup wajah, yang hikmahnya adalah lebih menjaga kesucian hati wanita dan hati laki-laki. Sedangkan menjaga kesucian hati merupakan kebutuhan setiap manusia, yaitu tidak khusus bagi istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat saja, maka ayat ini umum, berlaku bagi para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan semua wanita mukmin. Setelah turunnya ayat ini maka Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam menutupi istri-istri beliau, demikian para sahabat menutupi istri-istri mereka, dengan menutupi wajah, badan, dan perhiasan. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Lihat Hirasah Al-Fadhilah, hal: 46-49, karya Syaikh Bakar bin Abu Zaid, penerbit Darul ‘Ashimah)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kesepuluh&lt;/span&gt;, firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَانِسَآءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ النِّسَآءِ إِنِاتَّقَيْتُنَّ فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَّعْرُوفًا {32} وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلاَتَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ اْلأُوْلَى وَأَقِمْنَ الصَّلاَةَ وَءَاتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik. dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya.Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al Ahzab: 32-33)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini ditujukan kepada para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi hukumnya mencakup wanita mukmin, karena sebab hikmah ini, yaitu untuk menghilangkan dosa dan membersihkan jiwa sebersih-bersihnya, juga mengenai wanita mukmin. Dari kedua ayat ini didapatkan kewajiban hijab (termasuk menutup wajah) bagi wanita dari beberapa sisi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Firman Allah: “Janganlah kamu tunduk dalam berbicara” adalah larangan Allah terhadap wanita untuk berbicara secara lembut dan merdu kepada laki-laki. Karena hal itu akan membangkitkan syahwat zina laki-laki yang diajak bicara. Tetapi seorang wanita haruslah berbicara sesuai kebutuhan dengan tanpa memerdukan suaranya. Larangan ini merupakan sebab-sebab untuk menjaga kemaluan, dan hal itu tidak akan sempurna kecuali dengan hijab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Firman Allah: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu” merupakan perintah bagi wanita untuk selalu berada di dalam rumah, menetap dan merasa tenang di dalamnya. Maka hal ini sebagai perintah untuk menutupi badan wanita di dalam rumah dari laki-laki asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Firman Allah: “Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu” adalah larangan terhadap wanita dari banyak keluar dengan berhias, memakai minyak wangi dan menampakkan perhiasan dan keindahan, termasuk menampakkan wajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Lihat Hirasah Al-Fadhilah, hal 39-44, karya Syaikh Bakar bin Abu Zaid, penerbit, Darul ‘Ashimah)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian penjelasan yang dapat kami berikan, semoga Alloh menuntun dan menunjukkan kita kepada jalan-Nya yang lurus..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallohua'lam&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-5744350776877752318?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/5744350776877752318/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2011/01/apakah-hukum-cadar-menutup-wajah-wajib.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/5744350776877752318'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/5744350776877752318'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2011/01/apakah-hukum-cadar-menutup-wajah-wajib.html' title='Bagaimanakah hukum cadar (menutup wajah), wajib atau tidak?'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TSUvhrZ-0EI/AAAAAAAAAIU/KjJrJ5xUrUs/s72-c/cadar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-2516755494744814007</id><published>2010-12-22T14:24:00.004+07:00</published><updated>2010-12-22T14:47:54.706+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kebangkitan'/><title type='text'>Saatnya Memahami Islam Dengan Benar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TRGs5wsyCDI/AAAAAAAAAII/MdOBLHscBRw/s1600/islamic-wallpaper-1023.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 380px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TRGs5wsyCDI/AAAAAAAAAII/MdOBLHscBRw/s400/islamic-wallpaper-1023.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5553409923849783346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sahabatku, ketahuilah sesungguhnya Alloh Tabaraka wa Ta’ala telah memilihkan Islam sebagai agamamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya agama (yang haq) di sisi Alloh adalah Islam.” (QS. Ali Imron 19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Alloh meridhoi Islam, menyempurnakan, dan melengkapinya untukmu agar engkau dapat meraih tujuan hidupmu yang utama yaitu beribadah kepada Alloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah kuridhoi Islam itu sebagai agamamu.” (QS. Al Maidah 3)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah nikmat terbesar dari berbagai nikmat yang Alloh berikan kepada umat ini. Yaitu Alloh telah menyempurnakan untuk mereka agama mereka, sehingga mereka tidak membutuhkan agama yang lain dan juga tidak membutuhkan nabi selain nabi mereka, Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itulah, Alloh menjadikan beliau sebagai penutup para nabi dan menjadikannya pula sebagai nabi yang diutus kepada seluruh manusia dan jin. Maka tidak ada yang halal melainkan apa yang dihalalkannya dan tidak ada yang haram selain apa yang diharamkannya serta tidak ada agama yang benar kecuali agama yang disyari’atkannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau Bisa Meraih Nikmat Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sahabatku, ketahuilah… engkau belum bisa mendapatkan nikmat Islam dalam hatimu sampai engkau memahaminya dengan benar. Pegangan utama seorang muslim dalam memahami Islam adalah mengikuti Al Quran dan hadits. Alloh telah menjamin akan menganugerahkan keistiqomahan kepada orang-orang yang mengikuti Al Quran, sebagaimana disebutkan tentang perkataan jin dalam Al Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan setelah Musa yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya lagi memimpin kepada jalan kebenaran dan kepada jalan yang lurus.” (QS. Ahqoof: 30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh juga menjamin akan memberikan keistiqomahan kepada para pengikut rasul sholAllohu ‘alaihi wassalam yang disebutkan dalam firmanNya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy Syu’ara: 52)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realita yang Engkau Hadapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada realitanya, banyak sekali orang yang mengaku ber-ittiba’ (mengikuti) dan memahami Al Quran dan hadits. Sebagaimana para filosof dan orang-orang sufi mengatakan, “Kami adalah orang yang ber-ittiba’ terhadap Al Quran dan hadits dan memahaminya.” Para pengikut filsafat memang mengikuti Al Quran dan hadits, akan tetapi mereka menjadikan nash-nash Al-Qur’an dan hadits tunduk pada tuntutan akal mereka. Dengan demikian mereka sebenarnya telah meninggalkan Al Quran dan hadits dan menjadikan akal mereka sebagai Tuhan. Para pengikut sufi juga mengambil Al Quran dan hadits, namun mereka menjadikan nash-nash keduanya tunduk kepada perasaan mereka. Dengan demikian mereka pun meninggalkan Al Quran dan hadits dan menjadikan perasaan mereka sebagai Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua pemahaman tersebut merupakan contoh bahwa perpecahan telah terjadi pada umat Islam menjadi bergolong-golong. Mengapa umat Islam bisa berpecah belah? Tidak lain hal ini disebabkan manusia bersandar pada dirinya dalam memahami Al Quran dan hadits. Namun mereka tidak menyadari pemikiran manusia berbeda-beda dan tidak seragam. Di samping itu, kemampuan manusia dalam memahami Al Quran dan hadits sangat terbatas. Tidak ada satu akal pun yang sempurna, demikian juga tidak ada seorang pun yang terlepas dari kesalahan. Sehingga jadilah manusia berpecah-belah sesuai dengan pemikiran mereka masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua pemahaman dari golongan-golongan tersebut salah adanya selama meraka masih berpegang pada hawa nafsu yang buruk dalam memahami Al Quran dan hadits, kecuali orang-orang yang Alloh berikan petunjuk. Alloh mengancam penyelewengan mereka terhadap Al Quran dan hadits dengan neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahlul kitab terpecah menjadi 72 golongan dan umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan. 72 golongan di dalam neraka dan 1 golongan berada di surga.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ad Darimi, Ath Thabroni, dll.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash Shan’ani rahimahullah berkata, “Penyebutan bilangan dalam hadits itu bukan untuk menjelaskan banyaknya orang yang celaka dan merugi, akan tetapi untuk menjelaskan betapa luas jalan-jalan menuju kesesatan serta betapa banyak cabang-cabangnya, sedangakan jalan menuju kebenaran hanya satu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan orang-orang yang berpecah-belah karena memahami Al Quran dan hadits dengan hawa nafsu mereka yang menyimpang adalah teman-teman setan yang mengikuti jalan kesesatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Mas’ud berkata, “Pada suatu hari Rasulullah sholallohu ‘alaihi wassalam membuat sebuah garis lurus dan bersabda: ‘Ini adalah jalan Alloh.’ Kemudian beliau membuat garis-garis lain di kanan kirinya, dan bersabda: ‘Ini jalan-jalan lain dan pada setiap jalan ini terdapat setan yang menyeru ke jalan-jalan tersebut.’ Beliau lalu membaca (firman Alloh ta’ala): ‘Dan sesungguhnya inilah jalanKu yang lurus. Oleh karena itu, ikutilah. Janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain yang akan memecah belah kamu dari jalanNya.’” (QS. Al An’am 153)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lalu, Bagaimana Memahami Islam yang Benar ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menilik realita yang ada, kita dapat mengetahui bahwa tidak semua orang yang belajar Al Quran dan hadits mendapatkan nikmat Islam dalam hatinya. Hal ini memang merupakan hal yang sangat disayangkan. Semua golongan-golongan dalam Islam tidak akan pernah mendapat nikmat Islam karena tidak memahami Al Quran dan hadits dengan benar. Lalu, bagaimana memahami Islam yang benar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Sahabatku, renungkanlah apa yang engkau baca dengan lisanmu setiap engkau sholat maka engkau akan mendapatan jawabannya. Sesungguhnya Alloh berfirman, “Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat atas mereka.” (Qs. Al Fatihah: 6-7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini, engkau mendapatkan jawabannya, Sahabatku! Bahwa untuk mendapatkan nikmat Islam adalah memahami Al Quran dan hadits dengan mengikuti orang-orang yang telah terlebih dahulu mendapatkan nikmat Islam. Siapakah mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qoyyyim berkata, “Siapa saja yang lebih mengetahui kebenaran serta istiqomah mengikutinya maka ia lebih pantas untuk mendapatkan ash shiraathal mustaqiim (jalan yang lurus).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Malik Ramadhani menjelaskan bahwa manusia yang paling utama yang telah Alloh beri nikmat ilmu dan amal adalah para shahabat Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam, karena mereka mendapatkan petunjuk langsung dari Rasul shollAllohu ‘alaihi wasallam yang mulia. Dengan demikian penafsiran dan pemahaman merekalah yang paling selamat. Selain itu, mereka adalah generasi terbaik dari umat ini dalam memahami Al Quran dan hadits serta mengamalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaik-baik umat ini adalah generasiku, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka, kemudian orang yang mengikuti mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi/ HR. Bukhori Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan generasiku adalah para shahabat beliau. Generasi orang yang mengikuti para shahabat dalam memahami Al Quran dan hadits adalah tabi’in dan yang mengikuti tabi’in adalah tabi’ut tabi’in.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para shahabat merupakan kaum yang dipilihkan oleh Alloh untuk menemani nabiNya, dan menegakkan agamaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Mas’ud berkata, “Sesungguhnya Alloh memandang kepada hati para hambaNya. Dia mendapati Muhammad adalah yang paling baik hatinya. Lalu Alloh memilihnya untuk diriNya dan mengutusnya dengan risalahNya. Kemudian Alloh kembali memandang hati hamba-hambaNya yang lain. Dia mendapati para shahabat adalah orang-orang yang paling baik hatinya setelah beliau shollAllohu ‘alaihi wasallam. Alloh lalu jadikan mereka sebagai pembantu NabiNya dan mereka berperang membela agamaNya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pemahaman para shahabat sering juga disebut manhaj salafus sholih (pemahaman pendahulu yang sholih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Wajibnya Berpegang Teguh pada Manhaj Salafus Sholih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah Sahabatku bahwa perpecahan umat menjadi bergolong-golong adalah tercela dan dibenci. Alloh ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Alloh, (yaitu) orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Masing-masing golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar Ruum: 31-32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan meskipun perpecahan tidak diridhoi oleh Alloh, namun hanya sedikit orang yang bisa selamat darinya. Dan tidaklah seseorang selamat dari bencana ini kecuali orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah sholAllohu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda yang artinya: “Orang-orang Yahudi terpecah menjadi 71 atau 72 golongan dan orang-orang Nashrani seperti itu juga. Adapun umat ini terpecah menjadi 73 golongan.” didalam riwayat lain disebutkan: “Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 72 golongan dan umatku terpecah menjadi 73 golongan semuanya di neraka kecuali satu.” Para sahabat bertanya: “Siapa yang (selamat) itu wahai Rasulullah?” beliau menjawab: “(Yang mengikuti aku dan para sahabatku).” (HR.Tirmidzi dengan sanad yang hasan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh hanya menginginkan kebaikan dari para hambaNya agar hambaNya kembali kepada kampung halamannya, yaitu surga. Oleh karena itu, diwajibkan atas seorang hamba untuk menyelamatkan diri dari perpecahan dan berpegang teguh pada jalan Rasulullah dan para sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw bersabda dalam hadits Irbadh bin Sariyah radhiyAllohu ‘anhu yang artinya, “Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah para khulafaur rosyidin, pegang eratlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan lain-lain)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh memuji orang-orang yang mengikuti jejak salaf dari kalangan Muhajirin dan Anshor dan di dalamnya terdapat perintah akan wajibnya mengikuti mereka, karena keridhoan Alloh tidak mungkin bisa diraih melainkan hanya dengan mengikuti mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh ta’ala berfirman yang artinya: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Alloh dan Alloh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidayah untuk kembali kepada Alloh dan meraih surga hanya bisa diperoleh lewat jalannya para sahabat radhiyAllohu ‘anhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh ta’ala berfirman yang artinya: “Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Alloh akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 137)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh mengancam orang yang durhaka kepada Rasulullah dan menyelisihi kaum mukmin pada zamannya (yaitu shohabat) dengan neraka jahannam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang mendurhakai Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan kaum mukmin, Kami biarakan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya dan Kami masukkan ia ke dalam jahannam, jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 115)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Alloh… mudahkanlah kami menempuh jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat atas mereka, yaitu orang-orang yang memeperoleh hidayah dan istiqomah. Bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai, yang hati mereka telah rusak sehingga mereka menyimpang dari kebenaran meskipun telah mengetahuinya. Bukan pula jalan orang-orang yang sesat yang tidak memiliki dan tidak mau belajar ilmu agama, sehingga mereka terus-menerus dalam kesesatan dan tidak mendapatkan petunjuk kepada kebenaran. Amiin…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WashollAllohu ‘ala Nabiyyi Muhammad wa ‘ala alihi wa Shahbihi wa sallam&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-2516755494744814007?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/2516755494744814007/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2010/12/saatnya-memahami-islam-dengan-benar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/2516755494744814007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/2516755494744814007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2010/12/saatnya-memahami-islam-dengan-benar.html' title='Saatnya Memahami Islam Dengan Benar'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TRGs5wsyCDI/AAAAAAAAAII/MdOBLHscBRw/s72-c/islamic-wallpaper-1023.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-8950861107569195801</id><published>2010-09-06T10:39:00.003+07:00</published><updated>2010-09-06T11:00:42.750+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nikah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ibroh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akhlak'/><title type='text'>Berawal dari Sebuah Keimanan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TIRmrlfffTI/AAAAAAAAAIA/lDm0QB6UDWc/s1600/dalia-flower-wallpaper.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TIRmrlfffTI/AAAAAAAAAIA/lDm0QB6UDWc/s400/dalia-flower-wallpaper.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5513644742792936754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Di tengah keheningan malam Madinah, sang pemimpin umat Umar bin Khattab berjalan menyusuri lorong-lorong kota. Kegiatan ini adalah sebuah kebiasaan bagi beliau, dengan tujuan agar lebih dekat dengan kaum muslimin. Saat itu, hampir menjelang dini hari, tiba-tiba saja beliau mendengar dari bilik rumah seseorang, sebuah percakapan antara Ibu dan anak. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Nak, campurkanlah susu yang engkau perah tadi dengan air,” kata sang ibu.&lt;br /&gt;“Jangan ibu. Amirul mukminin sudah membuat peraturan untuk tidak menjual susu yang dicampur air,” jawab sang anak. &lt;br /&gt;“Tapi banyak orang melakukannya Nak, campurlah sedikit saja. Lagipula insyaallah Amirul Mukminin tidak mengetahuinya,” kata sang ibu mencoba meyakinkan anaknya. “Ibu, Amirul Mukminin mungkin tidak mengetahuinya. Tapi, Rab dari Amirul Mukminin pasti melihatnya,” tegas si anak menolak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar percakapan ini, berurailah air mata Umar bin Khattab. Karena subuh menjelang, bersegeralah beliau ke masjid untuk memimpin shalat Subuh. Sesampai di rumah, dipanggilah anaknya untuk menghadap dan berkata, “Wahai Ashim putra Umar bin Khattab. Sesungguhnya tadi malam saya mendengar percakapan istimewa. Pergilah kamu ke rumah si anu dan selidikilah keluarganya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ashim bin Umar bin Khattab melaksanakan perintah ayahnya ini Sekembalinya dari penyelidikan, dia menghadap ayahnya dan mendengar ayahnya berkata, “Pergi dan temuilah mereka. Lamarlah anak gadisnya itu untuk menjadi isterimu. Aku lihat ia akan memberi berkah kepadamu dan anak keturunanmu, insya Allah. Mudah-mudahan pula ia dapat memberi keturunan yang akan menjadi pemimpin bangsa.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Ashim bin Umar pun tidak banyak komentar mengenai permintaan ayahnya ini. Tak lama, menikahlah Ashim dengan anak gadis tersebut. Dari pernikahan ini, Umar bin Khattab dikaruniai cucu perempuan bernama Laila, yang dikemudian hari dikenal dengan nama Ummi Ashim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam setelah itu, Umar bermimpi. Dalam mimpinya dia melihat seorang pemuda dari keturunannya, dengan kening yang cacat karena luka. Pemuda ini memimpin umat Islam. Mimpi ini diceritakan hanya kepada keluarganya saja. Saat Umar meninggal, cerita ini tetap terpendam di antara keluarganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat kakeknya Amirul Mukminin Umar bin Khattab terbunuh pada tahun 644 Masehi, Ummi Ashim turut menghadiri pemakamannya. Kemudian Ummi Ashim menjalani 12 tahun kekhalifahan Ustman bin Affan sampai terbunuh pada tahun 656 Maserhi. Setelah itu, Ummi Ashim juga ikut menyaksikan 5 tahun kekhalifahan  Ali bin Abi Thalib r.a. Hingga akhirnya Muawiyah berkuasa dan mendirikan Dinasti Umayyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergantian kekuasaan dari Sahabat Ali kepada Sahabat Muawiyah, ternyata membawa perubahan juga dalam tubuh kaum muslimin. Penguasa mulai memerintah dalam kemewahan. Setelah penguasa yang mewah, penyakit-penyakit yang lain mulai tumbuh dan bersemi. Ambisi kekuasaan dan kekuatan, penumpukan kekayaan, dan korupsi mewarnai sejarah Islam dalam Dinasti Umayyah. Meski negara bertambah luas, penduduk bertambah banyak, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, tapi orang-orang semakin hampa dari ukhuwah persaudaraan, keadilan dan kesahajaan Sahabat Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Status kaya-miskin mulai terlihat jelas, posisi pejabat-rakyat mulai terasa. Kafir dhimni pun mengeluhkan resahnya, “Sesungguhnya kami merindukan Umar, dia datang ke sini menanyakan kabar dan bisnis kami. Dia tanyakan juga apakah ada hukum-hukumnya yang merugikan kami. Kami ikhlas membayar pajak berapapun yang dia minta. Sekarang, kami membayar pajak karena takut.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Muawiyah membaiat anaknya Yazid bin Muawiyah menjadi penggantinya. Akan tetapi, putra Yazid, Muawiyah bin Yazid, tidak seperti ayahnya. Dia memilih pergi sehingga singgasana dinasti Umayah kosong. Terjadilah rebutan kekuasaan dikalangan bani Umayah. Abdullah bin Zubeir, seorang sahabat utama Rasulullah dicalonkan untuk menjadi amirul mukminin. Namun karena ada konspirasi, maka Marwan bin Hakam yang berasal dari bani Umayah dari keluarga Hakam, mengisi posisi kosong itu dan meneruskan sistem dinasti. Marwan bin Hakam memimpin selama sepuluh tahun lebih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, Ummi Ashim menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan. Abdul Aziz bin Marwan sendiri adalah Gubernur Mesir di era khalifah Abdul Malik bin Marwan (685 – 705 M) yang merupakan kakaknya. Abdul Malik bin Marwan adalah seorang shaleh, ahli fiqh dan tafsir, serta raja yang baik, dan terlepas dari permasalahan ummat yang diwarisi oleh ayahnya (Marwan bin Hakam) saat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari perkawinan itu, lahirlah Umar bin Abdul Aziz. Beliau dilahirkan di Halawan, kampung yang terletak di Mesir, pada tahun 61 Hijrah. Umar kecil hidup dalam lingkungan istana dan mewah. Saat masih kecil Umar mendapat kecelakaan. Tanpa sengaja seekor kuda jantan menendangnya sehingga keningnya robek hingga tulang keningnya terlihat. Semua orang panik dan menangis, kecuali Abdul Aziz seketika tersentak dan tersenyum. Seraya mengobati luka Umar kecil, dia berujar, “Bergembiralah engkau wahai Ummi Ashim. Mimpi Umar bin Khattab insyaallah terwujud, dialah anak dari keturunan Umayyah yang akan memperbaiki bangsa ini.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, semua ini merupakan pelajaran berharga bahwa sebuah keimanan yang ikhlas kepada Allah, akan mengantarkan pada kebahagian yang sejati. Lihatlah, kepercayaan Umar bin Khattab untuk menikahkan anaknya pada seorang gadis yang berkata, “Tapi, Rab dari Amirul Mukminin pasti melihatnya,”telah menghadiahkan dirinya seseorang dari keturunannya sendiri yang shalih dan menjadi pemimpin umat, dialah Umar bin Abdul Aziz. Subhanallah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-8950861107569195801?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/8950861107569195801/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2010/09/berawal-dari-sebuah-keimanan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/8950861107569195801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/8950861107569195801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2010/09/berawal-dari-sebuah-keimanan.html' title='Berawal dari Sebuah Keimanan'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TIRmrlfffTI/AAAAAAAAAIA/lDm0QB6UDWc/s72-c/dalia-flower-wallpaper.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-4878538188530879250</id><published>2010-09-04T11:25:00.002+07:00</published><updated>2010-09-04T11:28:07.605+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syariat'/><title type='text'>Pernyataan Empat Imam tentang madzhab dan kewajiban mengikuti As-sunnah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TIHKv8mJpHI/AAAAAAAAAH4/BJchaYy_wdg/s1600/al-quran2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 266px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TIHKv8mJpHI/AAAAAAAAAH4/BJchaYy_wdg/s400/al-quran2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5512910343947002994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Masih seringkali ada orang yang rela mati demi sesorang atau golongannya, meskipun orang yang dianggap paling istimewa atau golongan itu sudah jelas kesalahannya. Atau juga sering dikatakan sebagai taqlid buta (Tidak ada yang berbuat taqlid melainkan seorang yang fanatik atau dungu), sikap yang terlalu berlebih-lebihan terhadap golongannya tanpa di dasari dengan ilmu. Lepas dari itu semua mari kita renungkan pendapat imam 4 seperti Al-Imam Ahmad, Al-Imam Asy-Syafi’i, Al-Imam Abu Hanifah, dan Al-Imam Malik berikut.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah adalah ulama yang paling banyak mengumpulkan hadits dan berpegang teguh dengan As-Sunnah. Sampai-sampai beliau tidak suka dengan kitab-kitab yang memuat permasalahan tafri’ (membagi-bagi agama menjadi ushul [pokok] dan furu’ [cabang] dan ra’yu [rasio]).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. “Janganlah engkau taqlid kepadaku, jangan pula kepada Malik, Syafi’i, Al-Auza’i, atau Ats-Tsauri. Akan tetapi ambilah (agama itu) dari sumber dimana mereka mengambil.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. “Pendapat AL-’Auza’i, begitu pula Malik, dan Abu Hanifah seluruhnya hanya pendapat dan sama nilainya di sisiku. Sedangkan hujjah itu terdapat pada atsar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. “Barangsiapa menolak hadits rasulullah shalallahi ‘alaihi wasalam maka dia berada ditepi jurang kehancuran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. “Tidak ada seorang pun melainkan pasti luput darinya satu sunnah rasulullah shalallah ‘alaihi wasalam. Maka seringkali saya katakan, suatu ucapan atau merumuskan suatu kaidah tetapi hal itu bertentangan dengan sunah rasulullah shalallahi ‘alaihi wasalam, maka ucapan yang disabdakan rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam adalah pendapatku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. “Kaum muslimin bersepakat bahwa siapa saja yang jelas baginya sunah rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam maka tidak halal meninggalkannya hanya karena ucapan seseorang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. “Bila kalian mendapati dalam kitabku suatu hal yang menyelisihi sunnah rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam, maka berkatalah dengan sunnah rasulullah dan tinggalkanlah ucapanku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. “Bila telah shahih suatu hadits maka itulah madzhabku”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. “Engkau lebih mengetahui hadits dan rawi-rawinya dibanding aku, maka bila ada hadits yang shahih beritahulah aku tentang keberadaannya, di Kufah atau Bashrah atau syam hingga aku berpendapat dengan hadits itu bilamana hadits tersebut shahih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. “Setiap permasalahan dimana telah shahih padanya hadits dari rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam menurut ulama pakar hdits namun bertentangan dengan ucapanku, maka aku rujuk darinya dimasa hidupku atau sepeninggalku nanti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. “Jikalau kalian melihatku mengungkapkan suatu pendapat sementara telah shahih hadits dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam yang bertentangan dengannya maka ketahuilah bahwa pendapatku tidak berguna.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. “Setiap apa yang aku ucapkan sementara ada hadits shahih dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam bertentangan dengan ucapanku maka hadits tersebut lebih layak diikuti dan janganlah kalian taqlid kepadaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. “Setiap hadits yang shahih dari Nabi shallahu ‘alaihi wasalam maka hal itu adalah pendapatku walaupun kalian belum mendengar darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. “Bila telah shahih suatu hadits maka itulah pendapatku”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. “Tidak halal bagi seorang pun untuk mengambil ucapan kami selama dia belum mengetahui darimana kami mengambil ucapan tersebut.” Dalam riwayat lain: “Haram bagi siapa saja yang tidak mengetahui dalilku untuk berfatwa menggunakan ucapanku.” Ditambahkan dalam riwayat lain: “Karena kami adalah manusia biasa, bisa jadi kami mengatakan demikian di hari ini kemudian kami rujuk darinya di keesokan harinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. “Jika aku mengatakan suatu ucapan yang bertentangan dengan Kitabullah Ta’ala dan kabar dari Ar-Rasul Shalallahu ‘alaihi wasalam maka tinggalkan ucapanku tersebut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AL-Imam Malik bin Anas rahimahullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. “Aku hanyalah seorang manusia biasa, terkadang salah dan terkadang benar, maka perhatikanlah pendaptku. Setiap yang sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah maka ambilah dan setiap yang tidak sesuai dengan keduanya maka tinggalkanlah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. “Tidak ada seorang pun setelah Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam yang bisa diambil atau ditinggalkan ucapannya kecuali hanya Nabi Shalallahu ‘alaihi wasalam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Berkata Ibnu Wahb: “Aku mendengar Imam Malik ditanya tentang hukum menyela-nyela jari kaki ketika wudhu, beliau menjawab, “Hal itu tidak wajib bagi manusia.” Ibnu Wahb melanjutkan ucapannya, “Maka akupun membiarkan beliau hingga manusia di sekeliling beliau mulai berkurang, kemudian aku berkata, “Kami memiliki hadits tentang hal itu.” Imam Malik bertanya, “Apa itu?” Aku pun menjawab, “Telah menceritakan kepada kami Al-Laits bin Sa’ad, Ibnu Lahi’ah, dan Amr bin Al-Harits dari Yazid bin Amr Al-Mu’afiri dari Abu Abdurrahman Al-Hubully dari AL-Mustaurid bin Syadad Al-Qurasy, bahwa ia berkata. “Aku pernah melihat Rasulullah shalallhu ‘alaihi wasalam menggosok antara jari jemari kakinya dengan kelingking beliau.” lalu beliau (Imam Malik) berkata, “Hadits semacam ini berderajat hasan dan aku belum pernah mendengarnya sama sekali selain saat ini.” Kemudian aku mendengar beliau setelah itu ditanya tentang hal itu, maka beliapun memerintahkan untuk menyela-nyela jari jemari tersebut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah ucapan-ucapan para imam, semoga Allah subhana wata’ala meridhai mereka. Amiin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Diambil dari Tuntunan Shalat Nabi, Karya Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Edisi bahasa indonesia terbitan Ash-Shaf Media] [Edisi asliya berjudul Shifatush Shalaati An-Nabiyi Shalallahu 'alaihi wasalam min Al-Tabkbiiri ilaa At-Tasliimi Ka-annaka Taraahaa, Terbitan Maktabah Al-Ma'aarif - Riyadh]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-4878538188530879250?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/4878538188530879250/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2010/09/masih-seringkali-ada-orang-yang-rela.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/4878538188530879250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/4878538188530879250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2010/09/masih-seringkali-ada-orang-yang-rela.html' title='Pernyataan Empat Imam tentang madzhab dan kewajiban mengikuti As-sunnah'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TIHKv8mJpHI/AAAAAAAAAH4/BJchaYy_wdg/s72-c/al-quran2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-1371675679524638160</id><published>2010-09-01T14:58:00.002+07:00</published><updated>2010-09-01T15:06:48.259+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muhasabah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ibroh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Akhwat'/><title type='text'>Keagungan Isteri Seorang Mujahid</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TH4IVwoK_1I/AAAAAAAAAHw/g_1FcpGVHsc/s1600/pinkroses7.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 275px; height: 275px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TH4IVwoK_1I/AAAAAAAAAHw/g_1FcpGVHsc/s400/pinkroses7.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511852163871735634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Lelaki berumur enam puluh tahun itu memasuki rumahnya di Madinah. Nyaris tak mengenali lagi rumah yang pernah ditinggalinya itu. Ia menemukan rumah itu, saat menyusuri jalan-jalan di kota Madinah, yang sudah ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumahnya yang sangat sederhana itu, pintunya agak terbuka, dan nampak lengang. Lelaki itu meninggalkan rumahnya, tiga puluh tahun lalu, dan waktu itu isterinya masih belia, dan menjelang melahirkan anak pertamanya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lelaki tua itu meninggalkan Medinah pergi berjihad ke negeri yang sangat jauh. Ia berangkat bersama pasukan muslimin. Membuka Bukhara dan Samarkand, dan sekitarnya, yang terletak di Asia Tengah. Begitu jauh perjalanan jihad bersama pasukan muslimin, mengarungi samudera padang pasir, menembus perjalanan beribu-ribu mil dari kota Madinah. Sungguh sangat luar biasa para mujahidin itu. Kepergiannya dengan tekad dan tawakal kepada Allah Azza wa Jalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang Isya’ dengan kuda yang dituganginya itu, prajurit tua itu, memasuki kota Madinah, yang masih ramai, dan melihat kehidupan yang tidak berubah, sesudah ditinggalkannya selama tiga puluh tahun. Namun, ingatannya yang tajam, akhirnya lelaki tua itu, menemukan rumahnya kembali, yang masih tampak sederhana, dan didapati pintunya sedikit terbuka. Kegembiraan menggelayut, dan merasa yakin bertemu dengan kembali dengan isterinya yang lama ditinggalkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si penghuni rumah melihat ada orang yang masuk rumahnya, maka lelaki yang ada di atas, langsung melompat, dan turun sambil membentak lelaki tua yang datang itu, “Engkau berani  memasuki rumah dan menodai kehormatanku malam-malam, wahai musuh Allah?”. Si penghuni rumah mencengkeram leher lelaki tua, seraya mengatakan, “Wahai musuh Allah, demi Allah aku takkan melepaskanmu kecuali di muka hakim”, sergahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki tua yang baru datang itu berkata, “Aku bukan musuh Allah dan bukan pernjahat. Ini rumah milikku, kudapati pintunya terbuka lalu aku masuk”. Lelaki tua itu melanjutkan, “Wahai saudara-saudara, dengarkanlah. Rumah ini milikku, kubeli dengan uangku. Wahai kaum, aku adalah Farrukh. Tiadakah seorang tetangga yang masih mengenali Farrukh yang tiga puluh tahun lalu pergi berjihad fi sabilillah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan itu, ibu si empunya rumah yang sedang tidur itu bangun oleh keributan, lalu menengok dari jendela atas dan melihat suaminya sedang bergulat dengan darah dagingnya sendiri. Lidahnya nyaris tak berucap. Dengan nada yang kuat berseru, “Lepaskan .. lepaskan dia, Rabiah … lepaskan dia, putraku, dia adalah ayahmu .. dia ayahmu … Saudara-saudara sekalian tinggalkan mereka, semoga Allah memberkahi kalian. Tenanglah, Abu Abdirrahman, dia putramu .. dua putramu .. jantung hatimu …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, Ar-Rabi’ah mencium tangan ayahnya. Orang-orang meninggalkan keduanya. Setelah itu, isterinya Ummu Rabi’ah  menyambut suaminya dan memberi salam. Ummu Rabi’ah tak mengira bahwa ia akan bertemu kembali dengan suaminya yang pergi berjihad selama tiga puluh tahun itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat-saat bahagia antara Farrukh dengan Ummu Rabi’ah, terkadang duduk berdua, sambil bercerita keduanya selama berpisah tiga puluh tahun. Mereka mendapatkan kebahagiaan kembali, keduanya dapat bertemu, meskipun sekarang suaminya telah berumur enam puluh tahun. Namun, saat itu muncul kekawatiran dari Ummu Rabi’ah tentang uang yang pernah dititipkan oleh suaminya dahulu, dan ia harus menjaganya. Karena uang yang dititipkan suaminya itu, habis untuk membiayai pedidikan putranya senilai 30.000 dinar. “Percayakah Farrukh bahwa pendidikan putranya itu menghabiskan 30.000 dinar”, gumam Ummu Rabi’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selagi pikirannya mengelayut itu, tiba-tiba Farrukh, yang duduk disampingnya itu berkata, “Aku membawa uang 4.000 dinar. Ambillah uang yang akut titipkan kepadamu dahulu. Kita kumpulkan lalu kita belikan kebun atau rumah, dan akan kita ambil sewanya”, ucap Farrukh kepada Ummu Rabi’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan terputus saat adzan datang. Farrukh bergegas menuju masjid, seraya menanyakan, “Mana Ar-Rabi’ah?’ Isterinya menjawab, “Dia sudah lebih dahulu berangkat ke masjid. Saya kira  engkau akan tertinggal shalat berjama’ah”. Dia segera shalat, dan sesudah itu pergi ke Rhaudah mutharah, berdo’a di dekat makam Rasulullah, karena betapa rindunya dia dengan Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mau meninggalkan masjid, begitu ramai orang yang sedang mengelilingi seorang ulama, yang belum pernah melihat sebelumnya. Mereka duduk melingkari Sheik itu. Sampai tak ada tempat yang kosong untuk dapat berjalan. Farrukh mengamati, ternyata orang-orang yang hadir, ada yang sudah lanjut usia, anak-anak muda, mereka semua duduk sambil menghamparkan lututnya. Semuanya menghadapkan pandangan kepada Sheikh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farrukh itu berusaha melihat wajah Sheikh yang luar biasa itu, tetapi tak dapat, karena begitu banyaknya orang yang mengelilinginya. Sampai saat majelis itu usai. Orang-orang meninggalkan masjid. Kemudian di tengah-tengah suasana yang sudah mulai sepi itu Farrukh bertanya kepada salah seorang yang masih tinggal di masjid itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farrukh: “Siapakah Sheikh yang baru saja berceramah itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fulan: “Apakah anda bukan penduduk Madinah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farrukh: “Saya penduduk Madinah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fulan: “Masih adakah di Madinah ini orang yang tak mengenal Sheikh yang memberikan ceramah itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farrukh: “Maaf, saya benar-benar tidak tahu, karena saya sudah meninggalkan kota ini sejak 30 tahun yang lalu, dan baru kemarin tiba”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fulan: “Tidak apa. Duduklah sejenak, saya akan menjelaskannya. Sheikh yang anda dengarkan ceramahnya itu adalah seorang tokoh tabi’in. Termasuk diantara ulama yang paling terpandang, dialah ahli hadist di Madinah, fuqaha dan imam kami, meksipun masih sangat muda”. Majelisnya dihadiri oleh Malik bin Anas, Abu Hanifah, An-Nu’man, Yahya bin Sa’id Al-Anshari, Sufyan Tsauri, Abdurrahman bin Amru Al-Auza’I, Laits bin Sa’id dan lainnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farrukh: “Tetapi anda belum menyebutkan namanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fulan: “Namanya adalah Ar-Rabi’ah Ar-Ra’yi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farrukh: “Namanya Ar-Rabi’ah Ar-Ra’yi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fulan: “Nama aslinya Ar-Rabi’ah, tetapi para ulama dan pemuka Madinah biasa memanggilnya Ar-Rabi’ah Ar-Ra’yi. Karena setiap menjumpai kesulitan tentang nash dari Kitabullah yang tidak jelas, mereka selalu bertanya kepadanya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farrukh: “Anda belum menyebutkan nasabnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fulan: “Dia adalah Ar-Rabi’ah putra Farrukh yang memiliki kunyah (julukan) Abu Abdurrahman. Tak lama dilahirkan setelah ayahnya meninggalkan Madinah sebagai mujahid fi sabilillah, lalu ibunya memelihara dan mendidiknya. Tetapi sebelum shalat tadi orang-orang ramai mengatakan ayahnya telah datang kemarin malam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba meleleh air mata Farrukh, tanpa lawan bicaranya mengerti mengapa Farrukh melelehkan air matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di rumah isterinya Ummu Rabi’ah melihat suaminya meneteskan air matanya, dan bertanya kepada suaminya, Farrukh : “Ada apa wahai Abu Abdirrahman?” Suaminya menjawab : “Tidak ada apa-apa. Aku melihat putraku berada dalam kedudukan ilu dan kehormatan yang tinggi, yang tidak kulihat pada orang lain”, tukasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ujung kehidupan itu, Ummu Rabi’ah bertanya kepada suaminya, “Menurutmu manakah yang lebih engkau sukai, uang 30.000 dinar, atau ilmu dan kehormatan yang telah dicapai putramu?”. Farrukh menjawab : “Demi Allah, bahkan ini lebih aku sukai dari pada dunia dan seisinya”, ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kisah generasi Tabi’in yang penuh kemuliaan, dan peranan seorang ibu yang ditinggal oleh suaminya berjihad ke negeri yang sangat jauh, selama tiga puluh, dan dapat mendidik putranya menjadi seorang ulama besar dan memiliki ilmu dan kehormatan yaitu Ar-Rabi’ah. Wallahu’alam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-1371675679524638160?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/1371675679524638160/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2010/09/keagungan-isteri-seorang-mujahid.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/1371675679524638160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/1371675679524638160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2010/09/keagungan-isteri-seorang-mujahid.html' title='Keagungan Isteri Seorang Mujahid'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TH4IVwoK_1I/AAAAAAAAAHw/g_1FcpGVHsc/s72-c/pinkroses7.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-555076598258599418</id><published>2010-08-30T09:59:00.004+07:00</published><updated>2010-08-30T10:05:14.842+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muhasabah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syariat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kebangkitan'/><title type='text'>Memburu Malam Seribu Bulan...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/THsftn4HcMI/AAAAAAAAAHo/aSXn6eC5UmY/s1600/lailatul_qadr.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/THsftn4HcMI/AAAAAAAAAHo/aSXn6eC5UmY/s400/lailatul_qadr.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511033437676859586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kita telah masuk pada penghujung bulan Ramadhan, berarti telah masuk pada sepertiga terakhir yang berisikan sepuluh atau barangkali hanya sembilan hari saja. Maha Benar Alloh Subhanahuwata'ala ketika menyebutkan bahwa Tamu Agung Ramadhan hanyalah ayyaam ma’dudaat (beberapa hari yang telah ditentukan) cepat dan singkat, namun Ramadhan berisikan kemuliaan dan keberkahan yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kalangan ulama tafsir banyak yang menafsirkan ayat sumpah Alloh Subhanahuwata'ala dalam surat al-Fajr bahwa layalin asyr (dan demi malam yang sepuluh) maksudnya adalah malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan, walaupun banyak pula yang menafsirkan maksudnya adalah sepuluh malam bulan Dzulhijjah, ada pula yang mengatakan sepuluh hari pertama bulan Muharram, semua penafsiran bisa jadi benar, karena masing-masing mempunyai dalil-dalil yang mendukungnnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari-hari terakhir ini Rosululloh Solallohu'alaihi Wassalam bersiaga penuh mengisi malam-malamnya, sampai-sampai beliau mengasingkan diri dari isteri-isterinya, beriktikaf di dalam Masjid, beribadah dan bermunajat kepada Alloh Subhanahuwata'ala, sebagai kesempatan akhir “ngalap berkah” bulan Ramadhan. Tak heran seperti diriwayatkan oleh istri beliau Sayidah Aisyah bahwa Rasul Solallohu'alaihi Wassalam bersungguh-sungguh dalam beribadat pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan yang tidak dilakukannya pada bulan-bulan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Timbul pertanyaan mengapa demikian? Mengapa Nabi Solallohu'alaihi Wassalam mendorong umatnya untuk melipatgandakan ibadah dalam waktu tersebut? Jawabnya singkat, karena pada malam-malam bulan Ramadhan tersebut, terutama pada malam-malam yang ganjil terdapat malam Lailatul qadar, malam kemuliaan yang sangat istimewa yang semua orang berlomba memburunya, yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan, sebagai bonus hadiah dari Alloh bagi orang yang ikhlas mengabdi kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lailatul qadar ibarat benda elok yang sangat indah namun langka, tak heran jika tak mudah meraihnya, karena mahal harga belinya. Malam kemuliaan tersebut hanya dapat dibeli dengan pengorbanan jiwa raga, dengan amalan-amalan ibadah yang telah dituntun oleh Agama sepertimelakukan qiyamullail, berpuasa sesuai tuntunan, tilawah dan tadarus Al-Quran dengan tadabbur, berdoa, zikir, memperbanyak istighfar, muhasabah diri, perbanyak sedekah serta amalan ma’ruf lainnya untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lailatul qadar dirahasiakan, jelas sesuatu yang mahal dan langka tentu dirahasiakan dan tidak diobral, agar umat semangat berlomba memburunya, dan agar ibadat tidak hanya dilakukan pada waktu tertentu saja, namun pengabdian haruslah langgeng terus dilakukan semasih hayat masih kandung badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merugilah kita yang luput dari peningkatan ibadah pada hari-hari sepuluh terakhir ini. Kebahagiaan mukmin sebenarnya bukan hanya karena akan mendapatkan bonus pahala lailatul qadar dan sejenisnya, namun kebahagiaan mukmin adalah saat dirinya mengabdi, mohon ampun, berserah dan tunduk kepada pencipta-Nya, karena itulah nikmat besar yang tiada taranya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiriman: Amiruddin Thamrin MA, Damaskus-Suriah &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-555076598258599418?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/555076598258599418/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2010/08/memburu-malam-seribu-bulan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/555076598258599418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/555076598258599418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2010/08/memburu-malam-seribu-bulan.html' title='Memburu Malam Seribu Bulan...'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/THsftn4HcMI/AAAAAAAAAHo/aSXn6eC5UmY/s72-c/lailatul_qadr.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-819885377069629060</id><published>2010-08-26T11:22:00.004+07:00</published><updated>2010-08-26T11:42:04.255+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muhasabah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Akhwat'/><title type='text'>Sifat-sifat Bidadari Surga menurut Al-Qur'an</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/THXuqrd1z8I/AAAAAAAAAHg/VMNdsgeOOVs/s1600/hijau.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/THXuqrd1z8I/AAAAAAAAAHg/VMNdsgeOOVs/s400/hijau.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5509572136147472322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Bidadari surga adalah makhluk yang sangat dirindukan oleh orang-orang yang beriman. Allah swt. menganugrahkan sifat-sifat terindah kepada para bidadari surga dan memberi mereka perhiasan-perhiasan terbaik.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ath-Thabrani meriwayatkan sebuah hadist yang berasal dari Ummu Salamah r.a., istri Rasulullah saw.&lt;br /&gt;Ia berkata, "&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku bertanya kepada Rasulullah mengenai firman Allah, &lt;br /&gt;'Dan (di dalam surga itu) ada bidadari yang bermata jeli.&lt;/span&gt;' &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(al-Waaqi'ah:22)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Beliau lalu bersabda, '&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jeli (hur) berarti sangat putih matanya. Sedangkan yang disebut mata indah ('in) berarti matanya lebar (besar). Rambutnya berkilau indah seperti sayap burung nasar.&lt;/span&gt;'&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku bertanya lagi tentang makna ayat,&lt;br /&gt;'&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Laksana mutiara yang tersimpan baik.&lt;/span&gt;' &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(al_Waaqi'ah: 23)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Beliau pun bersabda, '&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Maksudnya, bersihnya mereka seperti bersihnya mutiara yang berada dalam cangkangnya, yang belum pernah tersentuh tangan manusia.&lt;/span&gt;'&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku bertanya lagi, 'Wahai Rasulullah, beritahu pula aku tentang makna firman Allah,&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Di dalan surga-surga itu ada bidadari -bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik.&lt;/span&gt;" &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(ar-Rahmaan: 70)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Beliau bersabda, '&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Akhlaknya baik (khairat) dan wajahnya cantik&lt;/span&gt;'&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku bertanya lagi, 'Terangkan pula tentang firman Allah,&lt;br /&gt;'&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan baik.&lt;/span&gt;' &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(ash-Shaaffat: 49)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Beliau bersabda, '&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kelembutan kulit mereka seperti lembutnya kulit telur bagian dalam yang kamu lihat, yang tertutup oleh cangkang telur.&lt;/span&gt;'&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku bertanya lagi, 'Terangkan pula tentang firman Allah,&lt;br /&gt;'&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Penuh cinta ('uruban) lagi sebaya umurnya (atraban).&lt;/span&gt;' &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(al-Waaqi'ah: 37)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Beliau bersabda, '&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mereka adalah para wanita yang telah wafat di dunia dalam keadaan tua renta, matanya sudah rabun dan beruban rambutnya. Setelah itu Allah swt. kembali menciptakan mereka, dan menjadikan mereka perawan lagi. 'Uruban artinya penuh cinta dan kasih sayang. Sedangkan atraban bermakna mereka lahir dalam satu waktu (usia mereka semua sama).&lt;/span&gt;'&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku bertanya lagi, '&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wahai Rasulullah, mana yang lebih utama: wanita dunia atau bidadari?&lt;/span&gt;'&lt;br /&gt;Beliau menjawab, '&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wanita-wanita dunia lebih utama dari bidadari, seperti kelebihan apa yang tampak dari apa yang tidak tampak.&lt;/span&gt;'&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku bertanya lagi, '&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wahai Rasulullah, mengapa demikian?&lt;/span&gt;'&lt;br /&gt;Beliau bersabda, '&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Karena shalat mereka, puasa mereka, dan ibadah mereka karena Allah. Allah Ta'ala memberi cahaya di wajah mereka. Mereka mengenakan sutra di tubuhnya. Warna kulit mereka putih, pakaian mereka hijau, perhiasan mereka kuning, pedupan mereka mutiara, dan sisir mereka adalah emas. Mereka mengatakan: kami adalah perempuan-perempuan abadi yang takkan mati. Kami adalah perempuan-perempuan bahagia yang takkan pernah miskin. Kami adalah perempuan-perempuan penduduk tetap yang takkan pindah selamanya. Ketahuilah, kami adalah perempuan-perempuan yang ridha dan takkan marah selamanya. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami menjadi miliknya.&lt;/span&gt;'&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku bertanya lagi, '&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wahai Rasulullah, di antara kami ada yang menikah dua kali, tiga kali, dan empat kali, kemudian ia wafat dan masuk surga. Sedangkan para suami itu juga masuk surga bersamanya. Lalu, pria mana yang akan menjadi suaminya di surga kelak?&lt;/span&gt;'&lt;br /&gt;Beliau menjawab, '&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hai Ummu Salamah, nanti dia akan memilih, mana yang paling baik akhlaknya. Wanita itu nanti akan berkata: "Ya Tuhan, laki-laki itu paling baik akhlaknya kepadaku di antara lainnya saat hidup bersama di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya." Maka wahai Ummu Salamah. akhlak yang baik itu akan membawa kebaikan di dunia dan akhirat.'&lt;/span&gt;" &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(HR. ath_Thabrani)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(sumber: Taman Para Pecinta~Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah gambaran bidadari surga menurut Al Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Saudariku, engkaukah yang kan menjadi bidadari itu?&lt;br /&gt;dan engkau wahai Saudaraku, jemput dan pinanglah bidadari surgamu....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-819885377069629060?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/819885377069629060/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2010/08/sifat-sifat-bidadari-surga-menurut-al.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/819885377069629060'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/819885377069629060'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2010/08/sifat-sifat-bidadari-surga-menurut-al.html' title='Sifat-sifat Bidadari Surga menurut Al-Qur&apos;an'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/THXuqrd1z8I/AAAAAAAAAHg/VMNdsgeOOVs/s72-c/hijau.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-8742596322031908997</id><published>2010-08-25T22:02:00.003+07:00</published><updated>2010-08-26T10:43:57.762+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muhasabah'/><title type='text'>Betapa Cantiknya Bidadari Syurga</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/THXi6si7u_I/AAAAAAAAAHY/pVKRCgIuidI/s1600/Bidadari+Syurga.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 353px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/THXi6si7u_I/AAAAAAAAAHY/pVKRCgIuidI/s400/Bidadari+Syurga.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5509559217175641074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai teman-temanku para pemuda.. janganlah engkau tertipu oleh wanita-wanita dunia, jangan korbankan kebahagiaan akhiratmu hanya untuk bersenang-senang dengan wanita yang tidak halal bagimu. Aku tahu engkau memang suka dengan wanita, Aku tahu engkau adalah pemuda yang normal..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi.. Jangan sampai setan memperdayaimu.. Sadarilah.., bahwa setan sedang mengincarmu untuk menjerumuskanmu ke dalam neraka. Tahanlah syahwatmu hingga tiba waktunya nanti.. hingga engkau menikah dengan wanita muslimah dengan cara yang benar. Engkau akan merasakan kenikmatan tiada tara di dunia dan di surga yang kekal abadi. Alloh telah mempersiapkan bidadari surga yang cantik mempesona bagi orang-orang yang mampu menjaga kesucian dirinya dari perbuatan dosa di dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah engkau seperti apa bidadari itu? Tidak tau.. ya itulah jawaban yang tepat. Memang tak ada yang mampu membayangkan seperti apa kenikmatan surga. Meskipun demikian Rasulullah telah memberikan gambaran global seputar bidadari surga. Mari kita tengok sedikit betapa indahnya bidadari surga yang Insya Alloh akan menjadi milik kita nanti..&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Harumnya Bidadari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosululloh shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sekiranya salah seorang bidadari surga datang ke dunia, pasti ia akan menyinari langit dan bumi dan memenuhi antara langit dan bumi dengan aroma yang harum semerbak. Sungguh tutup kepala salah seorang wanita syurga itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kecantikan Fisikal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rombongan yg pertama masuk syurga adalah dengan wajah bercahaya bak rembulan di malam purnama. Rombongan berikutnya adalah dengan wajah bercahaya seperti bintang-bintang yang berkilauan di langit. Masing-masing orang di antara mereka mempunyai dua istri, dimana sumsum tulang betisnya kelihatan dari balik dagingnya. Di dalam syurga nanti tidak ada yg bujang.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَذَلِكَ وَزَوَّجْنَاهُم بِحُورٍ عِينٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari.” (Qs. Ad-Dukhan: 54)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Shuhaib al-Karami mengatakan, “Yang dimaksud dengan hur adalah bentuk jamak dari haura, yaitu wanita muda yang cantik jelita dengan kulit yang putih dan dengan mata yg sangat hitam. Sedangkan arti ‘ain adalah wanita yang memiliki mata yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hasan berpendapat bahawa haura adalah wanita yang memiliki mata dengan putih mata yang sangat putih dan hitam mata yang sangat hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sopan dan Pemalu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyifati bidadari dengan “menundukkan pandangan” pada tiga tempat di Al-Qur’an, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di dalam syurga, terdapat bidadari-bidadari yang sopan, yang menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin. Maka nikmat Robb-mu yang manakah yang kamu dustakan? Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (Qs. Ar-Rohman: 56-58)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya.” (Qs. Ash-Shoffat: 48)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan pada sisi mereka (ada bidadari-bidadari) yang tidak liar pandangannya dan sebaya umurnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh ahli tafsir sepakat bahawa pandangan para bidadari syurgawi hanya tertuju untuk suami mereka, sehingga mereka tidak pernah melirik lelaki lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Putihnya Bidadari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman, “Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (Qs. ar-Rohman: 58)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;al-Hasan dan mayoritas ahli tafsir lainnya mengatakan bahawa yang dimaksudkan adalah bidadari-bidadari syurga itu sebening yaqut dan seputih marjan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh juga menyatakan,“(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih dipingit dalam kemah.” (Qs. Ar-Rohman: 72)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya mereka itu dipingit hanya diperuntukkan bagi para suami mereka, sedangkan orang lain tidak ada yang melihat dan tidak ada yang tahu. Mereka berada di dalam kemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah…ini adalah sedikit gambaran yang Allah berikan tentang bidadari di syurga. Kerana bagaimanapun gambaran itu, maka manusia tidak akan boleh membayangkan sesuai rupa asli bidadari, kerana sesuatu yg berada di syurga adalah sesuatu yang tidak/belum pernah kita lihat di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, mengatakan bahawa Rosululloh shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Alloh Azza wa Jalla berfirman, “Aku siapkan bagi hamba-hamba-Ku yang sholih sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas oleh fikiran.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, tunggu apa lagi? Marilah kita beramal dan berdoa kepda Alloh sesuai yang diajarkan oleh Rosululloh. Agar kita dicintai Alloh dan mendapatkan syurganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-8742596322031908997?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/8742596322031908997/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2010/08/betapa-cantiknya-bidadari-syurga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/8742596322031908997'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/8742596322031908997'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2010/08/betapa-cantiknya-bidadari-syurga.html' title='Betapa Cantiknya Bidadari Syurga'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/THXi6si7u_I/AAAAAAAAAHY/pVKRCgIuidI/s72-c/Bidadari+Syurga.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-1045042607190910938</id><published>2010-08-23T10:17:00.003+07:00</published><updated>2010-08-23T11:14:15.776+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Akhwat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Waspada'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kebangkitan'/><title type='text'>Untuk Mu Saudariku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/THH1Q2mBg6I/AAAAAAAAAHA/XuGrArdiOCE/s1600/Warning+buat+Muslimah.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 342px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/THH1Q2mBg6I/AAAAAAAAAHA/XuGrArdiOCE/s400/Warning+buat+Muslimah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5508453489132536738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Saudariku.. Inilah Musuh-Musuh Wanita Maka, Waspadailah Olehmu..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya musuh-musuh wanita tiada lain juga merupakan musuh kaum lelaki, dan musuh tersebut secara umum ada 4 (empat) golongan, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;1.    &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kaum Yahudi&lt;/span&gt;; mereka adalah golongan yang sangat antusias dan berkeinginan keras untuk merusak ummat manusia,dengan menghancurkan aqidah dan akhlaknya. Permusuhan busuk ini disebabkan kepincingan pandangan mereka, bahwa identitas mereka tidak akan pernah ada kecuai dengan memperbudak atau merusak ummat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kaum Nashrani&lt;/span&gt;; yang menganut agama yang telah menyimpang hingga menjauhi kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kaum Sekuleris&lt;/span&gt;, walaupun masih mengaku sebagai “muslim”, tiada lain mereka adalah boneka Sekuleris Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kaum Penikmat&lt;/span&gt;, yang hanya menginginkan kenikmatan atau pemuasan nafsu dan mendapatkan keuntungan, hingga rela mengorabankan kaum wanita, dengan menjadikan wanita sebagai barang komoditi (jualan), model iklan, bintang merek dagang atau bahkan pemuas nafsu birahi dan penjaja seks murahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Rencana, Makar,dan Intrik Musuh Merusak Kaum Wanita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musuh-musuh wanita beserta para pengikutnya memiliki rencana-rencana jahat untuk merusak kaum wanita serta untuk mengeluarkan mereka dari kodrat dan posisi yang sebenarnya. Mereka bertekad bulat untuk melaksanakan semua rencana tersebut di negara-negara kaum muslimin. Dan mereka senantiasa berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakan rencana-rencana tersebut, baik secara keseluruhan ataupun sebagiannya, di negara-negara lainnya. Jadi mereka sebenarnya adalah musuh kaum wanita secara umum, dan bahkan musuh kemanusiaan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara rencana dan intrik-intrik tersebut adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama: Mengaburkan Persoalan Wanita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia tidak akan tergerak atau beraktifitas tanpa adanya masalah atau persoalan yang mampu membuat mereka ragu-ragu, bahkan terkadang dapat menggangu tidur lelap dan makan enak mereka. Berangkat dari sini, maka musuh-musuh tersebut merasa terilhami, bahwa wanita mempunyai persoalan yang perlu didiskusikan, dibela dan dilindungi. Kemudian muncullah beragam slogan yang menyuarakan hal tersebut. Sungguhpun demikian, kenyataan di tengah masyarakat, wanita tetap saja menderita dan tetap teraniaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila masyarakat diibaratkan sebagai satu tubuh, maka wanita adalah salah satu anggotanya, namun tidak pernah difungsikan. Mereka belum memperoleh dan menikmati hak-haknya secara penuh. Sementara itu, kaum laki-laki dapat berbuat segala sesuatu tanpa batasan seperti halnya kaum wanita. Sehingga muncullah asumsi, bahwa persoalan wanita di tengah-tengah masyarakat kita, jika dipikirkan, memang tidak ada wujudnya sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak dapat memungkiri terjadinya beragam kezhaliman terhadap wanita yang dilakukan oleh seorang suami atau ayah yang dungu. Namun hal-hal seperti itu sebenarnya merupakan produk dari tindakan suatu ummat yang menyalahi akidah dan ajaran agamanya. Jadi, tidak salah kalau dikatakan persoalan tersebut sesungguhnya juga merupakan persoalan seluruh masyarakat Islam yang di dalamnya telah menyebar wabah penyakit yang serius, sebagai akibat kepongahan mereka untuk tidak mau mencari penangkal serta terapinya. Kalau demikian, persoalan ini merupakan salah satu hasil dari sikap  kaum muslimin yang menjauhi agama mereka sendiri. Sebaliknya, mereka justru mengikuti musuh-musuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya mengatasi persoalan wanita, hakikatnya juga mengatasi persoalan ummat secara keseluruhan. Sedapat mungkin kita harus mengembalikan persoalan ini  sesuai proporsinya. Apabila seseorang sudah mempunyai satu asumsi, bahwa persoalan wanita sama sekali terpisah dari persoalan individu-individu masyarakat yang lain, itu artinya perangkap musuh telah mendapatkan mangsa yang empuk. Menganggap persoalan wanita sebagai persoalan internal yang bersifat mikro, selamanya tidak akan dapat mengatasi persoalan, karena hal itu telah menyimpang dari persoalan menyeluruh yang terjadi dalam masyarakat atau ummat terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kedua: Melumpuhkan Daya Tahan Masyarakat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya masyarakat Islam sekalipun mengalami kelemahan, namun akan tetap mampu menghalau hal-hal yang buruk dari dirinya. Ia akan memerangi akidah-akidah yang menyimpang dari kebenaran dan akan membenci akhlak-akhlak yang bejat. Perumpamaan masyarakat Islam adalah laksana sebatang tubuh yang tidak lumpuh digerogoti oleh penyakit sepanjang masih memiliki daya tahan yang prima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, pihak musuh sangat antusias untuk melemahkan daya tahan masyarakat  Islam. Mereka akan terus mengupayakannya sampai masyarakat Islam itu benar-benar kehilangan rasa kecemburuan kepada agamanya, bahkan sampai ia tidak mau peduli menjaga akidahnya. Pada saat itulah mereka dengan mudah mampu membujuk masyarakat tersebut tanpa khawatir akan adanya perlawanan, sehingga dengan leluasa mereka dapat mewarnai berbagai macam kejahataan di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya melumpuhkan daya tahan masyarakat Islam dilakukan dengan berbagai macam cara dan dari berbagai penjuru. Pertama kali, jiwa seseorang sangat boleh jadi akan bergetar menyaksikan perbuatan munkar. Namun untuk kedua kalinya, mungkin ia akan menganggap sepele getaran  perasaan tersebut. Untuk kemudian pada kali ketiga, ia tidak akan memperdulikannya lagi. Sedangkan pada kali keempat, ia akan mencari hal-hal yang sekiranya dapat mentolerirnya. Dan bahkan pada kali kelima, ia justru melakukannya dengan penuh kenikamatan. Hingga akhirnya pada kali keenam, ia akan menfalsafatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya melumpuhkan daya tahan masyarakat Islam ini dilakukan dengan banyak cara, di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Dengan menyebarkan majalah-majalah porno yang tidak memperdulikan nilai-nilai etika dan susila. Majalah-majalah tersebut mempertontonkan gambar-gambar wanita dalam pose vulgar dan kotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Dengan menyebarkan pemikiran menyimpang yang dilakukan dengan berbagai macam cara dan lewat berbagai media, supaya orang terbiasa mendengar ucapan atau pendapat-pendapat yang kontroversial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Dengan membelah dinding penghalang jiwa antara seorang muslim dengan orang-orang kafir, sehingga tidak lagi terjadi perang pemikiran antara mereka. Musuh-musuh Islam sangat mengharapkan agar kita mau membenarkan  konsep inter komunikasi modern, yang menuntut kita menempuh politik pintu terbuka dan bebas (sekarang dikemas dalam wacana egaliter, demokrasi dan pluralisme).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketiga: Tuntutan Kebebasan Wanita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa sih manusia di dunia ini yang benci kebebasan dan menyukai keterikatan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pertanyaan inilah muncul banyak penggunaan mengenai istilah kebebasan wanita. Seolah-olah hal itu memberikan kesan, wanita adalah budak yang harus dimerdekakan. Tidak jarang orang-orang yang lantang menyerukan kebebasan wanita, padahal sesungguhnya merekalah perusak kaum hawa tersebut. Dengan berkedok sebagai kaum penyelamat yang penuh kasih sayang, mereka bermaksud mengangkat harkat kaum wanita. Padahal semua orang tahu siapa mereka sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita perlu bertanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah di dunia ini ada kebebasan mutlak yang lepas tanpa adanya ikatan? Apakah bila seseorang menikmati kebebasan, tanpa perlu adanya ikatan sedikitpun?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kita ketahui bersama, sebagian besar manusia di muka bumi ini hidup dalam suatu masyarakat yang masing-masingnya diatur oleh berbagai sistem, norma dan undang-undang yang direkayasa oleh otak-otak mereka sendiri. Kepadanya mereka berhukum dan memutuskan perkara di antara mereka. Tapi apa yang mereka ada-adakan itu pada hakikatnya adalah perbuatan menyekutukan Allah dari berbagai aspek yang sangat fundamental. Baik pedoman yang harus dipedomani, penguasa yang harus ditaati, maupun ketaatan yang harus diwujudkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya penyebarluasan anarkhi dengan nama kebebasan, adalah intrik yang pernah dilakukan oleh kaum Yahudi. Dan mereka adalah orang-orang yang pertama kali dianggap kafir karena perbuatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keempat : Tuntutan Emansipasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya tuntutan seperti ini jelas bertentangan dengan fitrah Allah  Subhanahu Wa Ta’ala yang telah menciptakan manusia menjadi dua macam jenis. Dalam satu jenis saja, baik laki-laki maupun perempuan, rasanya tidak mungkin seseorang menuntut persamaan di antara seluruh individu. Bahkan seluruh kehidupan ini akan rusak jika persamaan diartikan seperti itu. Harus diakui, hukum semua materi yang ada dalam kehidupan ini adalah berdasarkan pada perbedaan. Kalau di antara sesama kaum lelaki saja tidak mungkin terwujud persamaan, bagaimana pula eratnya antara kaum lelaki dan perempuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak bisa menerima prinsip persamaan secara mutlak. Namun kita harus yakin, bahwa dibaliksemua itu tentu ada kadar persamaan antara laki-laki dan perempuan, yang secara mutlak sebaiknya kita namakan sebagai keadilan, bukan persamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Wanita sama dengan laki-laki dalam artian sama-sama dibebani dengan hukum-hukum syari’at sekalipun tetap ada perbedaan dalam beberapa hukum yang bersifat detail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Wanita sama dengan laki-laki dalam hal mendapatkan pahala dan siksa, baik yang bersifat dunia maupun ukhrawi secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Wanita sama dengan laki-laki dalam hal pemilikan harta berikut penggunaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Wanita sama dengan laki-laki dalam hal kebebasan memilih calon pasangan hidup. Jadi, seorang wanita tidak boleh dipaksa menikah dengan laki-laki yang tidak disukainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu konsep yang ditetapkan Islam adalah bahwa seorang laki-laki harus menjaga kelaki-lakiannya. Oleh sebab itu, diharamkan kepadanya memakai emas dan sutera. Begitu pula seorang wanita juga harus menjaga kewanitaannya. Karena itulah, diharamkan atasnya berbaur dengan kaum laki-laki, apalagi sampai sengaja mempertontonkan diri atau “mejeng” di hadapan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kelima: Menggambarkan Rumah Tangga, Tugas Ibu Dan Kekuasaan Laki-Laki Dengan Gambaran Yang Tidak Menyenangkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak musuh yang memang tidak simpati kepada Islam sengaja menggambarkan rumah tangga sebagai penjara abadi, suami sebagai seorang penjaga penjara (sipir) yang kejam, dan dominasi laki-laki (suami) sebagai pedang terhunus yang siap ditebaskan. Sementara tugas ibu yang harus mengasuh anak-anaknya diibaratkan laksana seorang penggembala. Akibatnya, jiwa kaum wanita menjadi jijik dan muak. Mereka ingin bebas tanpa adanya ikatan-ikatan yang membelenggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu ditegaskan, bahwa lingkungan rumah dan pekerjaan mengurus anak-anak, adalah sesuatu yang paling dapat membantu membentuk kepribadian seorang wanita. Beberapa wanita yang dikenal secara internasional baik di bidang seni lukis, film, tari dan sebagainya, menegaskan bahwa kebahagiaan yang mereka raih dari popularitasnya, sama sekali tidak ada nilainya jika dibandingkan dengan kebahagiaan mereka terhadap anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sophia Loren misalnya, ia pernah mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya kasih sayangku terhadap anak-anakku, adalah resep yang paling hebat untuk memerangi atau menghambat proses ketuaan. Banyak wanita yang membicarakan tentang usia-usia yang paling membahagiakan dan berkesan dalam kehidupan mereka.  Lazimnya mereka menyebutkan, bahwa usia keemasan bagi seorang wanita ialah ketika ia berumur sembilan belas tahun, ataupun dua puluh dua tahun. Namun bagiku, masa keemasan adalah usia tiga puluh empat tahun ketika aku memiliki anak pertama, dan usia tiga puluh delapan ketika lahir anakku yang kedua”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun mengenai masalah dominasi atau kepemimpinan, sebenarnya isteri lebih memerlukannya ketimbang suami. Karena seorang wanita tidak dapat merasakan kebahagiaan selama ia berada dalam naungan suami yang sejajar dengannya atau bahkan ia lebih tinggi kedudukannya daripada suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman mengenai kepemimpinan suami banyak diasumsikan secara tidak benar. Dominasi atau kepemimpinan seorang suami atas istri merupakan kaidah organisatoris yang harus ada demi terciptanya situasi yang mantap dalam kehidupan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Laki-laki itu adalah pemimpin bagi wa-nita…” [QS. an-Nisā’ (4): 34]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiap-tiap diri dari anak cucu Adam ada-lah pemimpin. Seorang suami adalah pe-mimpin bagi keluarganya, dan seorang is-tri adalah pemimpin dalam rumah tangga-nya” (HR. Ibnu Suniy: 388 dan dishahihkan al-Albāniy dalam al-Jāmi’ ash-Shagīr: 4/183)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang lingkup yang tercakup oleh dominasi atau kepemimpinan seorang suami, tidak akan menyentuh kehormatan dan harga diri seorang istri, karena terbatas hanya pada kepentingan dan kebaikan rumah tangga, serta agar konsisten menjalankan perintah-perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan hak-hak suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, seorang suami tidak berhak ikut campur. Seperti misalnya mengenai masalah kepentingan istri yang berkaitan dengan urusan harta, dalam hal ini si suami juga tidak boleh ikut campur. Seorang istri juga tidak wajib taat kepada suaminya dalam urusan maksiat atau dalam urusan sesuatu yang tidak ma’ruf. Seorang suami tidak dibenarkan menyakiti isterinya. Sebaliknya, sebagai suami yang ideal, maka sudah seharusnya dia memperlakukan isterinya dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keenam: Memutar-balikkan Kebenaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjauhkan diri dari hal-hal nista adalah sikap yang timbul dari jiwa yang bersih yang tidak menyukai kebusukan. Sesungguhnya mengenakan hijab dan menjauhi laki-laki lain yang bukan mahram, adalah dimaksudkan untuk membersihkan perilaku dan menghindarkan diri dari hal-hal yang diharamkan, bukan karena terpaksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musuh-musuh Islam begitu antusias mencari bukti ke sana ke mari untuk mendukung pendapatnya, di antaranya adalah memutar-balikkan masalah hijab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada beberapa hal yang harus kita ketahui, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Sesungguhnya hijab yang disyariatkan oleh agama, maka ia memiliki banyak dalil, baik dari al-Qur’an maupun al-Hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Terdapat banyak nash yang menujukkan larangan laki-laki  berbaur dengan wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Seorang wanita yang berbaur dengan kaum laki-laki apalagi sampai sengaja tabarruj (bermejeng ria seraya beRdandan menor), berarti telah menerjang beberapa bahaya, baik menurut pandangan agama maupun etika duniawi, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Ia telah berbuat durhaka (maksiat) kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya Salallahu Alaihi Wasalam.&lt;br /&gt;    * Ia telah mengundang laknat atau kutukan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sehingga ia ditolak dari rahmat-Nya.&lt;br /&gt;    * Secara langsung ia telah membantu tersebarluasnya kejahatan di tengah-tengah masyarakat.&lt;br /&gt;    * Ia telah meniru perbuatan kaum Yahudi dan orang-orang yang sebangsanya yang turut membantu membuat kerusakan di muka bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Kita tidak mengatakan bahwa setiap wanita yang berjilbab pasti terjaga dari perbuatan-perbuatan nista, dan sebaliknya setiap wanita yang membiarkan wajahnya terbuka akan tersungkur dalam lumpur maksiat. Tidak demikian halnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya hijab sangat membantu seorang wanita untuk menjaga rahasia dan perasaan malunya. Hijab akan melindunginya dari tatapan-tatapan mata yang jalang dan liar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketujuh: Siasat Membelah Gelombang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk merealisasikan makar jahatnya, mereka menempuhnya secara bertahap. Mereka tidak menuntut masyarakat untuk memberikan respon sekaligus. Sebab, kalau toh mereka lakukan, masyarakat sudah barang tentu tidak sanggup mewujudkannya. Karena itu, dalam menyebarluaskan niat jahat yang merusak, mereka berusaha secara perlahan sampai mereka dapat mewujudkan semua yang mereka inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang menghalangi mereka sama sekali untuk membuat kepala tertunduk sedikit. Kemudian lain kali mereka kembali lagi untuk maksud yang sama. Dan pada kesempatan yang lain mereka kembali lagi dengan melakukan yang lebih berani dari yang sebelumnya. Begitupun untuk kali yang ketiga, keempat dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedelapan: Memberlakukan Sesuatu Yang Tengah Trend Sekalipun Membenahi Masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya seperti; membuka kelas-kelas  untuk kajian-kajian ilmiah yang sebenarnya tidak dibutuhkan oleh masyarakat. Kemudian tampillah ribuan wanita lulusannya yang menuntut jaminan pekerjaan bagi mereka setelah bersusah payah selama bertahun-tahun. Sudah barang tentu masalah ini sangat menyentuh hajat hidup manusia yang bersifat material. Dan hal ini merupakan beban bagi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibukalah bidang-bidang pelajaran yang sebenarnya tidak sesuai, seperti misalnya bidang-bidang pelajaran teater. Akibatnya, beberapa lulusannya menuntut tempat yang sesuai dengan bidang yang telah ditekuninya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang masyarakat sekonyong-konyong dikejutkan oleh rencana-rencana yang bersifat investasi atau instruksi. Namun hal itu baru diketahui belakangan setelah terwujud menjadi realita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang dibuka bidang-bidang spesialisasi yang tinggi, di mana yang mempelajarinya hanyalah terdiri dari kaum laki-laki saja. Sementara materinya menuntut kebersamaan dan saling pandang-memandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kesembilan: Ilmu&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Musuh Islam juga mempunyai rencana dan intrik tersendiri di bidang ilmu dan pengajaran. Tidak lupa mereka pun menjadikannya sebagai alat untuk mewujudkan apa yang mereka inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam, ilmu termasuk sebaik-baiknya amal. Hanya orang-orang bodoh dan takabur saja yang mengingkarinya. Banyak sekali nash, baik dari al-Qur’an maupun as-Sunnah yang menganjurkan untuk mencari ilmu, dan hal ini ditujukan kepada kaum laki-laki dan juga kaum wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman Nabi Salallahu Alaihi Wasalam, pernah ada beberapa orang wanita yang meminta  agar beliau menyediakan waktu khusus bagi mereka barang satu hari untuk mengajarkan ilmu kepada mereka. Di antara wanita-wanita itu ada yang berpredikat alim di bidang ilmu fiqih, seperti Aisyah Radhiallahuanha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, musuh-musuh Islam merasa dengki terhadap hal tersebut. Mereka lalu membuat metode atau kurikulum bagi wanita yang sama seperti metode atau kurikulum bagi laki-laki. Jenjang-jenjang pendidikan wanita pun disamakan seperti jenjang-jenjang pendidikan laki-laki. Bahkan kita melihat ada orang yang sengaja mengadakan suatu kelas tertentu untuk mempelajari bidang-bidang teater wanita pada salah satu fakultas sastra kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya memang ada satu ilmu yang memberlakukan sama saja antara laki-laki dan perempuan, yaitu ilmu wajib untuk membenarkan akidah, ibadah dan prilaku. Namun bagi wanita harus memiliki metode atau kurikulum tersendiri yang sesuai dengan perannya dalam kehidupan, sebagaimana laki-laki juga  harus memiliki metode atau kurikulum tersendiri yang sesuai dengan perannya dalam kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mana metode kurikulum yang mengajarkan kepada puteri-puteri kita mengenai hak-hak wanita dalam Islam supaya mereka dapat menolak keraguan-keraguan yang sengaja disebarluaskan oleh orang-orang yang bermaksud jahat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mana metode kurikulum yang menerangkan secara terperinci mengenai tugas-tugas seorang wanita selaku isteri maupun selaku ibu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mana metode kurikulum yang membicarakan secara mendalam hubungan antara seorang wanita dalam rumah tangganya dan menempatkan rumah tangga tersebut dalam arti yang sebenarnya, bukan seperti yang digambarkan oleh orang-orang yang memusuhi Islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang wanita itu butuh melakukan interaksi dengan anak-anaknya baik secara fisik maupun secara psikis. Jadi, untuk itu ia perlu mempelajari cara-cara bagaimana melakukan interaksi dengan beberapa macam penyakit yang bisa saja menyerang mereka berikut berbagai macam terapi pengobatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang wanita diperintahkan untuk selalu memperhatikan kesehatan jasmani anak-anaknya dan memberikan makan kepada mereka dengan makanan yang sehat. Lalu mana metode kurikulum yang mengajarkan hal itu kepadanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang wanita perlu mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan cara mengatur perabot-perabot rumah tangganya, dan menatanya seindah mungkin. Lalu mana metode kurikulum yang mengajarkan kepadanya supaya ia dapat melakukan hal itu secara sempurna?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang wanita itu harus selalu diarahkan dan dididik. Namun mana upaya yang dapat menunjang meraih tujuan tersebut, seperti misalnya menanamkan kegemaran membaca?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak mengatakan, bahwa semuaitu tidak diperhatikan dalam kuliah. Akan tetapi, hal itu tidak ditempatkan pada proporsi yang memadai, kecuali metode kurikulum yang memukul rata laki-laki dan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya Menjegal Serangan Musuh Adalah Kewajiban Kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai upaya menjegal serangan musuh-musuh, ada kewajiban yang harus kita lakukan, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    kita harus merasa mulia dan bangga dengan agama Islam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janganlah kamu bersikap lemah, dan ja-nganlah (pula) kamu bersedih hati, pada-hal kamulah orang-orang yang paling ti-nggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman” [QS. Ali ‘Imran (3): 139]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, merasa malu mengakui keIslaman telah berakhir. Sebaliknya yang sedang aktual ialah dimulainya masa bersikap tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Kita harus membekali diri dengan ilmu agama yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang lebih menguatkan semangat dan kemauan daripada memiliki argumen yang kuat dan cemerlang. Dengan ilmu agama, seseorang akan dapat mengatasi kesesatan orang-orang yang ingin menyesatkan dan penyimpangan orang-orang yang mau memalingkan orang lain dari kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Mempelajari apa yang ditulis oleh orang-orang Barat dan orang-orang Timur mengenai situasi masyarakat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita dengar apa yang tengah mereka serukan dari sana sini, setelah mereka merasakan betapa sengsaranya jika harus menjauhkan diri dari agama karena terlena dengan berbagai macam kebebasan dan kesenangan nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Memperhatikan pendidikan putera-puteri kita dengan benar dan penuh semangat, karena hal ini akan dimintai pertanggungjawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian semua adalah pemimpin, dan ka-lian semua akan dimintai pertanggungan jawab tentang yang kalian pimpin” (HR. al-Bukhariy: 13/111 dan Muslim: 1869)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan yang sehat akan sanggup memotivasi masyarakat untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat sekaligus untuk menjaga dari pemikiran-pemikiran yang menyesatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.    Mengetahui orang-orang sekuler lewat tulisan dan ucapan-ucapan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk selanjutnya kita memperingatkan orang lain agar jangan sampai tertipu dan tersesat oleh perbuatan mereka. Kita harus menjelaskan kepada orang lain betapa berbahayanya mereka bagi ummat dan agama. Dunia Islam telah mengalami berbagai peristiwa pahit akibat ulah tingkah mereka. Dan sangat boleh jadi mereka akan masuk dan membuat kerusakan setiap negara yang belum mau tunduk pada paham sekularis mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.    Kita harus menyerukan kepada ummat manusia, agar berkiblat pada ulama dan para da’i yang shaleh yang tetap konsisten dengan al-Qur’an dan as-Sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitapun harus memperingatkan mereka agar menjauhi tindakan-tindakan emosional dan tanpa perhitungan, yang terkadang dimaksudkan untuk memancing kaum muda yang baik-baik agar bergabung. Dengan demikian, orang yang berniat jahat akan mudah memancing di air yang keruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku…!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah musuhh-musuhmu, serta berbagai rencana dan makar mereka yang busuk, maka kenalilah mereka, waspadailah, belajarlah dan didiklah kaummu dengan pendidikan kewanitaan yang Islami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Selamat bertugas dan berjuang wahai kuntum mekar nan mewangi!&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-1045042607190910938?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/1045042607190910938/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2010/08/untuk-mu-saudariku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/1045042607190910938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/1045042607190910938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2010/08/untuk-mu-saudariku.html' title='Untuk Mu Saudariku'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/THH1Q2mBg6I/AAAAAAAAAHA/XuGrArdiOCE/s72-c/Warning+buat+Muslimah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-1224436305406598768</id><published>2010-08-18T13:31:00.002+07:00</published><updated>2010-08-18T13:48:23.676+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Fiqih Shoum ringkas dari A sampai Z</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TGuCDqjB1bI/AAAAAAAAAG4/Ms3tR02mqsI/s1600/39736_135374256504082_100000945248266_164567_5749140_n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 286px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TGuCDqjB1bI/AAAAAAAAAG4/Ms3tR02mqsI/s400/39736_135374256504082_100000945248266_164567_5749140_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5506637968862991794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Saudaraku   kaum Muslimin…!!! Tidak terasa waktu yang kita nanti-natikan itu kini telah datang kembali berada di depan kita marilah kita sambut bulan yang penuh berkah, bulan mulia yang agung telah menaungi kita. Saat di mana Alloh memperbesar pahala, melipatgandakan pemberian, dan membuka pintu-pintu kebaikan bagi  orang-orang  yang mau  Bulan yang penuh dengan berbagai kebaikan, keberkahan, dan pemberian. Alloh berfirman: &lt;br /&gt;"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Romadhon, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)."  &lt;br /&gt;(QS. Al-Baqoroh: 185).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan Puasa Romadhon &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya puasa termasuk ibadah dan bentuk ketaatan yang paling utama, bahkan Alloh telah mewajibkan leluhur ummat untuk melaKukan ibadah puasa, sebagai-mana dalam firman-Nya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.&lt;/span&gt; (QS. Al-Baqoroh: 183).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di antara keutamaan puasa Romadhon adalah ia merupakan sebab terampuninya dosa dan dihapuskannya  kesalahan. Disebutkan dalam riwayat Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairah  bahwa Nabi  bersabda :&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Barangsiapa yang berpuasa Romadhon dengan iman karena mengharapkan pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan lainnya adalah, pahala bagi orang yang berpuasa tidak terkait dengan bilangan tertentu, orang yang berpuasa akan diberikan pahala yang tidak terbatas. Disebutkan dalam salah satu riwayat Muslim: Satu kebaikan dalam tiap amalan anak Adam akan dibalas dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Lalu Alloh  berfirman: Kecuali puasa. Sesungguhnya ia untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya. Pelakunya telah meninggalkan syahwat dan makannya karena Aku.” Hadits ini menunjukkan di antara keutamaan puasa di antaranya adalah:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;: Alloh mengkhususkan puasa untuk diri-Nya, berbeda dengan seluruh amalan yang lain. Tentang puasa Alloh  berfirman dalam hadits tadi:  "Akulah yang akan membalasnya.” Puasa/shoum merupakan kesabaran dan ketaatan kepada Alloh  , kesabaran terhadap apa-apa yang diharamkan oleh Alloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;: Puasa adalah perisai, artinya ia adalah suatu yang mampu mencegah sekaligus mejadi tabir yang menjaga pelakunya dari perkara yang jelek dan sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;: Bau mulut orang yang berpuasa itu lebih baik di sisi Alloh dibandingkan wangi misik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;: Orang yang berpuasa itu mempunyai dua kegembiraan: kegembiraan ketika berbuka dan ketika berjumpa dengan Robb-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kelima&lt;/span&gt;: Ibadah shoum mampu memberikan syafa’at kepada pelakunya dihari kiamat dengan izin Alloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu bersungguh-sunguhlah kalian dalam menyempurna-kan puasa kalian dan menjaga batasan-batasannya serta bertaubatlah kepada Alloh atas kekurangan dan kekhilafan kita selama masa yang telah kita lalui….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Adab-adab yang wajib dalam berpuasa&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;Saudaraku-saudaraku ketahuilah, sesungguhnya puasa itu memiliki banyak adab sebagai penyempurna-annya. Adab-adab tersebut terbagi dua: Adab-adab wajib yang harus diperhatikan dan dijaga oleh orang yang berpuasa, dan adab-adab sunnah yang selayaknya dikerjakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara adab yang wajib adalah orang yang berpuasa juga harus me-laksanakan berbagai ibadah lain yang telah Alloh  wajibkan, baik itu berupa perkataan ataupun perbuatan. Salah satu contoh yang paling penting adalah shalat wajib, dimana shalat merupakan ruKun islam yang paling mendasar setelah dua kalimat syahadat. Ia wajb diperhatikan dengan menjaga rukun, kewajiban, syarat dan waktu pelaksanaanya di masjid secara berjama’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada orang yang berpuasa tetapi meremehkan shalat berjama’ah padahal hal itu merupakan kewajiban-nya. Alloh  telah memerintahkan hal itu dalam kitab-Nya: &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dan apabila kalian berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kalian hendak mendirikan sholat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (sholat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang sholat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat) Maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersholat, lalu bersholatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata…”&lt;/span&gt;(QS.An-Nisa:102)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian di antara adab-adab yang wajib dilakukan orang yang berpuasa yaitu harus menjauhi seluruh perkara yang diharamkan oleh Alloh  dan Rosul-Nya, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Contohnya: dia tidak boleh berdusta, yang dimaksud dengan dusta ialah memberikan kabar yang tidak sesuai dengan realita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adab-adab yang lain, orang yang berpuasa wajib menjauhi ghibah,yaitu menyebutkan sesuatu yang tidak disukai dari saudaranya tanpa se-pengetahuannya, baik itu memang benar ataupun tidak. Dalilnya Alloh  berfirman: &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kalian yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya.”&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; (QS. Al-Hujurat:12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang berpuasa juga wajib menjauhi namimah yaitu mengambil perkataan seseorang tentang orang lain untuk merusak hubungan baik diantara keduannya.perbuatan ini termasuk dosa besar. Rosululloh  bersabda: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“orang yang sering melaku-kan namimah tidak akan masuk surga.”&lt;/span&gt;(HR. Bukhori dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya, pelaku puasa wajib untuk menjauhi segala bentuk dan jenis alat musik yang menjerumuskan seseorang itu dalam kelalaian, baik itu berupa kecapi, rebab, gitar, biola, piano, dan sebagainya. Itu semua adalah haram. Keharamannya akan bertambah jika diiringi nyanyian pembangkit hawa nafsu yang dilagukan dengan suara yang indah. Alloh berfirman:  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Alloh  tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Alloh itu olok-olokan. mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan."&lt;/span&gt; (QS. Lukman:6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai kaum muslimin berhati-hatilah kalian dari perkara yang membatalkan atau mengurangi puasa. Jagalah ia dari perbuatan serta perkataan yang keji dan dusta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Adab-adab yang sunnah dalam berpuasa&lt;/span&gt;: &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;: Sahur, yaitu makan sebelum terbitnya fajar. Dinamakan demikian karena ia terjadi diwaktu sahur, artinya menjelang shubuh. Nabi  telah me-merintahkan untuk melakukan sahur, beliau bersabda  "Lakukanlah makan sahur, karena di dalam sahur terdapat berkah." (HR. Bukhori dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;: Dianjurkan agar bersahur dengan memakan Kurma. Rosululloh  bersabda: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“makanan sahur yang paling baik bagi orang mukmin adalah Kurma.”&lt;/span&gt;(HR.Abu Dawud).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;: Kalau tidak ada Kurma ataupun makanan lainnya yang tersedia maka cukup dengan seteguk air. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keempat&lt;/span&gt; : Jangan mubazir dan berlebihan. Alloh  berfirman : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang yang berlebihan. "&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kelima&lt;/span&gt;: Dianjurkan agar meng-akhirkan makan sahur. Maksudnya Nabi  selalu mengakhirkan waktu makan sahur hingga mendekati terbit fajar, jarak antara makan sahur dengan shalat shubuh sekitar bacaan lima puluh ayat dengan bacaan yang sedang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketujuh&lt;/span&gt;: Adab-adab sunnah lainnya, adalah menyegerakan berbuka setelah diketahui terbenamnya matahari, baik dengan melihatnya secara langsung, ataupun dengan kuatnya dugaan bahwa matahari telah tenggelam. Diriwayatkan dari sahl bin sa’ad  bahwa Nabi  bersabda: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Manusia itu akan senantiasa berada dalam kebaikan selama menyegerakan berbuka.”&lt;/span&gt;(HR. Bukhori dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedelapan: Di antara adab-adab yang juga disunnahkan dalam puasa adalah memperbanyak bacaan al-Qur’an, dzikir, berdo’a, sholat, dan sedekah. Adab lainnya yang disunnahkan dalam puasa. Pelakunya mengingat nikmat puasa yang telah Alloh  telah berikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pembatal-Pembatal Puasa &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;: Bersenggama pada siang hari, Disebutkan dalam shahih Muslim bahwa seorang pria mencampuri istrinya ketika Romadhon, lalu dia meminta fatwa kepada Nabi . beliau kemudian bersabda: &lt;br /&gt;“Apakah engkau mempunyai budak?” lelaki itu menjawab, “Tidak’, “beliau bertanya lagi,” apakah engkau sanggup berpuasa selama dua bulan (berturut-turut)?” dia menjawab lagi Tidak”, beliau melanjutkan, “kalau begitu maka berilah makan kepada enam puluh orang miskin. “(Hadits ini disebutkan secara panjang lebar di dalam riwayat Bukhori dan Muslim).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;: mengeluarkan air mani secara sadar dan sengaja, dengan ciuman, sentuhan, masturbasi, dan semisalnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini semua termasuk syahwat yang harus dihindari dalam puasa, sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dia meniggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya karena Aku.”&lt;/span&gt; (HR. Bukhori). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ciuman dan sentuhan itu tidak mengeluarkan air mani maka tidak batal akan tetapi hanya dikhawatirkan terjatuh kepada syahwat dan kita tidak bisa menahannya, sesungguhnya orang yang paling mampu menahan syahwatnya adalah Nabi  disebutkan dalam Bukhori dan Muslim, dari hadits ‘Aisyah:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Bahwa Nabi  biasa mencium dan bercumbu meskipun beliau sedang berpuasa. Namun beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan dirinya.” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;: Makan dan minum (secara sengaja-sengaja), yaitu memasukan makanan dan minuman kedalam kerongkongan melalui mulut atau hidung, apapun jenis makanan dan minuman tersebut. Alloh  berfirman:  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Dan makan minumlah hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurna-kanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kalian campuri mereka itu, sedang kalian beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Alloh, maka janganlah kalian mendekatinya. Demikianlah Alloh menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa"&lt;/span&gt;.(QS. Al-Baqoroh: 187). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;: Muntah dengan sengaja, yaitu dengan mengeluarkan makanan dan minuman yang terdapat dilambung melalui mulut. Dalilnya adalah sabda Nabi:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Barang siapa yag muntah dengan sengaja, maka ia tidak wajib mengqhada. Dan barang siapa yang muntah dengan sengaja, maka hendaklah ia mengqhada.”&lt;/span&gt; (HR. lima imam ahli hadits kecuali an-Nasa’i dan dishahihkan oleh al-Hakim). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketujuh&lt;/span&gt;: Keluarnya darah haidh dan nifas. Dalilnya adalah hadits yang didalannya terdapat ucapan Nabi  kepada seorang wanita: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;”Bukankah wanita yang sedang haidh tidak melakukan shalat dan puasa?”&lt;/span&gt;. Jika wanita melihat darah haidh ataupun nifas, maka batallah puasanya, baik diwaktu siang ataupun sesaat sebelum tenggelamnya matahari. Jika ia merasa darah haidh itu mulai mengalir namun tidak sampai keluar hingga terbenamnya matahari, maka puasanya itu sah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bila tiba waktu berbuka puasa…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1.Dua kegembiraan bagi orang yang berpuasa saat berbuka dan saat bertemu dengan-Nya. Rasul berkata: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"tersedia dua kegembiraan bagi orang yang berpuasa. Kegembiraan sewaktu berbuka dan kegembiraan sewaktu bertemu dengan Robb-Nya"&lt;/span&gt;. (HR. Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Kapan waktunya..? Bila bulatan matahari telah terbenam di ufuk barat maka segeralah berbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Menyegerakan berbuka janganlah menunda berbuka puasa bila waktu-nya telah tiba. Rosululloh  memerin-tahkan agar segera berbuka bila matahari terbenam karena menye-gerakan berbuka mendatangkan kebaikan, juga merupakan komitmen kepada sunnah Rosul, salah satu kemenangan Islam, meyegerakan berbuka adalah bentuk penyelisihan terhadap Yahudi dan Nasroni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Berbukalah sebelum mengerjakan shalat maghrib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Berbuka dengan seadanya dan janganlah berlebih-lebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.Membaca do’a ketika berbuka puasa, Rosululloh  bersabda. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;”Tiga orang yang tidak tertolak do’anya orang yang sedang berpuasa hingga berbuka, Imam yang adil dan orang yang terdzalimi."&lt;/span&gt; (HR. At-Tirmizi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-1224436305406598768?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/1224436305406598768/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2010/08/fiqih-shoum-ringkas-dari-sampai-z.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/1224436305406598768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/1224436305406598768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2010/08/fiqih-shoum-ringkas-dari-sampai-z.html' title='Fiqih Shoum ringkas dari A sampai Z'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TGuCDqjB1bI/AAAAAAAAAG4/Ms3tR02mqsI/s72-c/39736_135374256504082_100000945248266_164567_5749140_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-7350891024412301978</id><published>2010-08-17T14:47:00.008+07:00</published><updated>2010-08-17T15:05:55.705+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syariat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Waspada'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kebangkitan'/><title type='text'>Penting mana Khilafah atau Tauhid?</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TGpB7dAwpfI/AAAAAAAAAGo/6zWMczdwMPk/s1600/realisasi-tauhid.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 250px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TGpB7dAwpfI/AAAAAAAAAGo/6zWMczdwMPk/s400/realisasi-tauhid.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5506285984069756402" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ATAU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TGpB0b8c2dI/AAAAAAAAAGg/90qKFxnpcuc/s1600/images3.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 195px; height: 259px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TGpB0b8c2dI/AAAAAAAAAGg/90qKFxnpcuc/s400/images3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5506285863524162002" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Boleh jadi, banyak orang beranggapan bahwa masalah tauhid itu penting dan utama, bahkan wajib. Anggapan ini seratus persen benar. Namun, karena dalam kacamata sebagian orang, tauhid itu -meskipun penting dan utama, bahkan wajib- sempit cakupannya atau ‘terlalu’ mudah untuk direalisasikan -dan bahkan menurut mereka praktek dan pemahaman tauhid pada diri masyarakat  sudah beres semuanya- maka akhirnya banyak di antara mereka yang meremehkan atau bahkan melecehkan da’i-da’i yang senantiasa mendengung-dengungkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang muncul celetukan di antara mereka, “Kalian ini ketinggalan jaman, hari gini masih bicara tauhid?”. Atau yang lebih halus lagi berkata, “Agenda kita sekarang bukan lagi masalah TBC -takhayul, bid’ah dan churafat-, sekarang kita harus lebih perhatian terhadap agenda kemanusiaan.” Atau yang lebih cerdik lagi berkata, “Kalau kita meributkan masalah aqidah umat itu artinya kita su’udzan kepada sesama muslim, padahal su’udzan itu dosa! Jangan kalian usik mereka, yang penting kita bersatu dalam satu barisan demi tegaknya khilafah!”. Allahul musta’aan…&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Sampai Kapan Kita Bicara Tauhid?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tauhid adalah agenda terbesar umat Islam di sepanjang zaman. Sebab tauhid adalah hikmah penciptaan, tujuan hidup setiap insan, misi dakwah para nabi dan rasul, dan muatan kitab-kitab suci yang Allah turunkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji kalian siapakah di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (QS. al-Mulk: 2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul -yang menyeru-; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. an-Nahl: 36).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Kami utus sebelum kamu -hai Muhammad- seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepada mereka, bahwasanya tidak ada sesembahan -yang benar- kecuali Aku, maka sembahlah Aku saja.” (QS. al-Anbiya’: 25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, tauhid adalah syarat pokok diterimanya amalan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan janganlah mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (QS. al-Kahfi: 110).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh, apabila kamu berbuat syirik maka benar-benar semua amalanmu akan terhapus, dan kamu pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. az-Zumar: 65).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih daripada itu, kemusyrikan -sebagai lawan dari tauhid- menjadi sebab seorang hamba terhalang  masuk surga untuk selama-lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah haramkan atasnya surga dan tempat kembalinya adalah neraka, dan sama sekali tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu.” (QS. al-Maa’idah: 72).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidup dan matiku, seluruhnya adalah untuk Allah Rabb seluruh alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan dengan itulah aku diperintahkan, dan aku adalah orang yang pertama kali pasrah.” (QS. al-An’aam: 162-163).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, berbicara masalah tauhid berarti berbicara mengenai hidup matinya kaum muslimin dan keselamatan mereka di dunia maupun di akherat. Berbicara masalah tauhid adalah berbicara tentang tugas mereka sepanjang hayat masih dikandung badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sembahlah Rabbmu sampai datang kematian.” (QS. al-Hijr: 99).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, dia pasti masuk neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu). Maka dengan alasan apakah agenda yang sangat besar ini dikesampingkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kami Berjuang Demi Membela Hak-Hak Manusia!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seruan semacam ini sering kita dengar. Dan banyak sekali kalangan yang tertipu dan terbius dengannya, sampai-sampai sebagian aktifis gerakan dakwah pun termakan oleh slogan ini. Padahal, di balik slogan -yang terdengar merdu ini- tersimpan rencana jahat Iblis dan bala tentaranya untuk menjauhkan manusia dari jalan Allah ta’ala, yaitu jalan tauhid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Inilah jalanku, aku menyeru menuju Allah, di atas landasan bashirah/ilmu, inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku…” (QS. Yusuf: 108).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak-hak manusia sedemikian agung dalam pandangan mereka. Mereka benci dan murka apabila hak-hak manusia dihinakan dan diinjak-injak oleh sesamanya. Mereka pun bangkit dengan mengatasnamakan pejuang hak azasi manusia, pembela rakyat kecil, pembela kaum tertindas, dan gelaran-gelaran ‘keren’ lainnya. Orang-orang pun merasa tertuntut untuk mendukung mereka, karena mereka khawatir disebut tidak punya kepedulian terhadap sesama. Dan yang lebih busuk lagi, kalau ada yang menjadikannya sebagai sarana untuk meraih ambisi kekuasaan belaka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, hak-hak manusia -sebesar apapun jasanya, semulia apapun kedudukannya- tetap saja masih lebih rendah apabila dibandingkan dengan hak Allah ta’ala, Rabb yang menciptakan dan mengatur jagad raya. Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan agar dakwah tauhid didahulukan sebelum ajakan-ajakan yang lainnya. Beliau  bersabda, “Hendaklah yang pertama kali kamu serukan kepada mereka yaitu supaya mereka mentauhidkan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma). Demikian pula beliau mengajarkan kepada kita, “Hak Allah atas hamba adalah hendaknya mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu). Namun, jangan disalahpahami bahwa ini berarti kita meremehkan hak-hak manusia, sama sekali tidak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jangan Bicara Masalah Bid’ah!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan semacam ini pun sering terlontar. Dalam persepsi mereka, bid’ah itu adalah masalah sensitif yang tidak perlu diungkit-ungkit. Mengapa demikian? Karena dengan memperingatkan umat dari bahaya bid’ah dan menjelaskan amalan-amalan serta keyakinan-keyakinan yang bid’ah akan menyebabkan timbulnya konflik internal di dalam tubuh kaum muslimin, dan menurut ‘hemat mereka’ hal itu  akan melemahkan kekuatan kaum muslimin dan memecah belah persatuan mereka. Sepintas, sepertinya ini adalah alasan yang masuk akal dan bisa diterima… Namun, jangan terburu-buru! Karena ternyata cara berpikir semacam ini tidak dibenarkan oleh agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, kita yakini bersama bahwa bid’ah adalah tercela dan sesat. Allah tidak menerima ibadah yang dilakukan namun tidak ada tuntunannya alias diada-adakan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak ada tuntunannya dari kami maka ia tertolak.” (HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha). Sebagian ulama salaf juga berkata, “Bid’ah lebih disukai Iblis daripada maksiat. Karena maksiat masih ada kemungkinan diharapkan taubat darinya. Adapun bid’ah, maka sulit diharapkan taubat darinya.” Selain itu, sebagaimana kita yakini pula bahwa dalam berdakwah kita harus bersikap bijak, tidak boleh serampangan atau asal-asalan. Bahkan, sikap bijak/hikmah merupakan pilar dalam dakwah. Namun, bersikap bijak bukan dengan cara membiarkan kemungkaran merajalela tanpa pengingkaran kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala bid’ah menjadi penghalang diterimanya amalan, bahkan ia termasuk kategori dosa dan kemungkaran, maka sudah sewajarnya seorang da’i memperingatkan bahayanya dan menjelaskannya kepada umat. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di setiap khutbah Jum’at beliau selalu memperingatkan umat dari bahaya bid’ah dan mengingatkan mereka bahwa setiap bid’ah adalah kesesatan yang berujung kepada kehancuran, sebagaimana yang tertera di dalam khutbatul hajah di setiap awal ceramah. Oleh sebab itu para ulama menganggap bahwa orang yang membantah ahlul bid’ah adalah termasuk golongan mujahid!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah anda ingat bagaimana sahabat Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma dengan ilmu sunnah yang dimilikinya dengan tegas membantah dan berlepas diri dari bid’ah Qadariyah yang muncul di masanya? Demikian pula para ulama salaf lainnya seperti Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah yang dengan tegar mempertahankan aqidah al-Qur’an kalamullah dan bukan makhluk, dan masih banyak ulama lain yang melakukan perjuangan serupa seperti mereka berdua dengan segala resiko yang harus mereka tanggung di jalan dakwah ini. Maka apabila kita telah mengetahui itu semua, jelaslah bagi kita bahwa seorang da’i yang tidak menempuh jalan ini -memperingatkan umat dari bahaya bid’ah- itu maknanya dia telah berkhianat terhadap amanah dakwah. Karena ‘pengkhianatannya’ itulah statusnya akan berubah dari seorang da’i ilallah -orang yang mengajak kepada Allah- menjadi da’i ila ghairillah -orang yang mengajak kepada selain Allah-! Nas’alullahas salamah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jangan Merasa Paling Benar!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang ketika ditegur dan diingatkan untuk meninggalkan atau menjauhi perkara-perkara yang menyimpang dari agama -karena bertentangan dengan al-Qur’an ataupun as-Sunnah- dengan ringannya mengucapkan perkataan semacam itu. Entah penyimpangan itu terkait dengan aqidah, ibadah, ataupun masalah yang lainnya. Entah itu termasuk dalam kategori syirik, kekafiran, kebid’ahan ataupun kemaksiatan yang lainnya. Belum lagi, jika orang tersebut memiliki sedikit ‘ilmu’ dan wawasan, maka dengan sigapnya dia akan ‘memperkosa’ dalil demi melanggengkan tindakannya yang keliru. Keras kepala, itulah sifat yang melekat dalam dirinya. Kalau dicermati lebih dalam, justru ternyata sikapnya yang tidak mau menerima nasehat dan teguran itu merupakan bentuk kesombongan dan ekspresi perasaan diri yang paling benar [!], Wal ‘iyadzu billah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Kemudian apabila kalian berselisih tentang suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir…” (QS. an-Nisaa’: 59).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Demi Rabbmu, sekali-kali mereka tidak beriman sampai mereka mau menjadikan kamu -Muhammad- sebagai hakim atas segala perkara yang mereka perselisihkan, lalu mereka tidak mendapati rasa sempit dalam hati mereka terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka pun pasrah sepenuhnya.” (QS. an-Nisaa’: 65).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Tidaklah pantas bagi seorang mukmin lelaki maupun perempuan, apabila Allah dan rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara lantas masih ada bagi mereka pilihan yang lain dalam urusan mereka itu. Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya sesungguhnya dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.” (QS. al-Ahzab: 36).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah dia -Muhammad- itu berbicara melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (QS. an-Najm: 3-4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama adalah nasehat, untuk Allah, Kitab-Nya, rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan untuk rakyatnya.” (HR. Muslim dari Tamim bin Aus ad-Dari radhiyallahu’anhu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tauhid Sudah Ada di Dada-Dada Manusia!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang mengucapkan perkataan semacam ini, sehingga secara sadar ataupun tidak dia telah menjauhkan manusia dari dakwah tauhid. Berangkat dari asumsi yang salah itulah maka mereka tidak lagi memberikan porsi besar bagi dakwah tauhid. Mereka pun beralih ke kancah perpolitikan ala Yahudi dan menyibukkan diri dengan sesuatu yang menyeret mereka dalam kehinaan. Apabila dikaji sebabnya, maka hanya ada dua kesimpulan; mungkin karena ketidaktahuannya sehingga dengan mudahnya dia berkata demikian, atau karena dia mengetahui kebenaran namun sengaja berpaling darinya. Dan keduanya ini apabila menimpa seorang yang digelari sebagai da’i, ustadz ataupun murabbi merupakan realita yang sangat pahit sekali. Oleh sebab itu, kita perlu meluruskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana kita ketahui bahwa tauhid bukan sekedar ucapan la ilaha illallah yang tidak diiringi dengan konsekuensinya. Orang-orang munafikin di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan la ilaha illallah, akan tetapi mereka divonis akan menempati kerak neraka yang paling bawah. Hal itu tidak lain karena mereka tidak jujur dalam mengucapkannya. Tauhid juga bukanlah sekedar keyakinan bahwa Allah sebagai satu-satunya pencipta, penguasa dan pemelihara alam semesta, yang menghidupkan dan mematikan serta yang melimpahkan rezki, bukan itu saja! Sebab apabila memang itu tauhid yang dimaksud oleh dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam niscaya beliau tidak perlu mengobarkan peperangan kepada kaum kuffar Quraisy yang telah mengimani perkara-perkara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jangan Runtuhkan Persatuan!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apabila para da’i berbicara tentang tauhid dan membantah berbagai macam bentuk kemusyrikan yang ada serta menjelaskan sunnah dan membongkar berbagai macam bentuk bid’ah yang merajalela, maka bangkitlah sebagian orang dengan semangat bak pahlawan seraya berteriak, “Mengapa kalian sibukkan umat dengan urusan semacam ini? Umat akan terpecah belah akibat dakwah kalian.” Inilah komentar-komentar sinis yang mereka lontarkan. Padahal, kita telah mengetahui bersama bahwa persatuan kaum muslimin yang hakiki -yang dengannya mereka akan selamat di hadapan Rabbnya- adalah persatuan di atas tauhid dan sunnah, bukan persatuan di atas syirik dan bid’ah! Orang-orang yang gemar menebar syirik dan bid’ah -dengan dipoles berbagai macam hiasan- maka mereka itulah sesungguhnya gerombolan pemecah belah dan pengacau persatuan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menentang rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan dia mengikuti jalan selain orang-orang yang beriman maka niscaya Kami akan biarkan dia terombang-ambing di atas kesesatan yang dipilihnya, dan Kami akan memasukkan dia ke dalam neraka Jahannam, dan sungguh Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. an-Nisaa’: 115).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada hari itu -kiamat- tidak akan bermanfaat harta dan keturunan, melainkan bagi orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (QS. asy-Syu’ara: 88-89).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada hari itu -kiamat- orang-orang yang -dahulu ketika di dunia- saling berkasih sayang berubah menjadi saling memusuhi, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. az-Zukhruf: 67).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala juga berfirman mengenai seruan Nabi ‘Isa ‘alaihis salam kepada kaumnya (yang artinya), “Sesungguhnya Allah, Dialah Rabbku dan Rabb kalian, maka sembahlah Dia -saja-. Inilah jalan yang lurus.” (QS. az-Zukhruf: 64).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman tentang dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya), “Sesungguhnya inilah jalanku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain itu, karena hal itu akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Itulah yang Dia perintahkan kepada kalian mudah-mudahan kalian bertakwa.” (QS. al-An’aam: 153)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Khilafah, Itu Solusinya!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagian gerakan Islam yang telah kehilangan arah dan lalai dari misi dakwah para rasul sangat getol mendengung-dengungkan slogan ini. Menurut mereka, tanpa khilafah berarti tiada syari’ah. Tanpa khilafah, kaum muslimin tidak bisa berbuat apa-apa. Maka jadilah khilafah sebagai target perjuangan dan misi utama dakwah mereka. Tidak ada satupun problema di masyarakat atau negara melainkan  mereka sangkut-sangkutkan dengan khilafah dan politik kekuasaan. Mereka menuding para da’i tauhid sebagai da’i kampungan yang tidak bisa bicara kecuali masalah-masalah sepele. Tidak bisa mengatasi masalah bangsa, tidak punya visi ke depan demi kejayaan umat, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, kita semua tahu bahwa bangunan umat ini tidak akan tegak dan kokoh kecuali di atas aqidah yang kuat dan murni. Seorang muslim dengan aqidah yang kokoh akan dengan sukarela menerapkan syari’ah dalam kehidupannya sekuat kemampuannya, meskipun misalnya ternyata khilafah belum mampu mereka wujudkan karena kondisi umat yang masih berlumuran dengan kotoran-kotoran keyakinan dan bid’ah yang sedemikian luas menjangkiti anak bangsa dan diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi dan melindas lembaran sejarah sedemikian lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan ini membutuhkan proses yang bertahap, tidak bisa terjadi secara tiba-tiba seperti membalikkan telapak tangan begitu saja. Hal ini dapat kita saksikan dalam individu-individu kaum muslimin. Yang mana perubahan menjadi baik itu memerlukan proses dan tahap yang tidak sebentar. Nah, bagaimana lagi dengan sekelompok orang yang memiliki beragam problema, sebuah negara, apalagi kumpulan negara dengan jutaan masalah yang menghimpit warga negara mereka masing-masing? Tentu merubahnya tidak cukup dengan teriakan dan slogan semata. Kembali kepada syari’ah tidak seratus persen bergantung pada khilafah. Betapa banyak syari’at yang bisa diterapkan oleh seorang individu umat ini, sebuah keluarga atau sekumpulan orang tanpa perlu menunggu tegaknya khilafah. Tidak ada yang salah dalam merindukan khilafah, akan tetapi tatkala khilafah menjadi tujuan dan cita-cita dakwah maka silahkan anda jawab sendiri pertanyaan ini; Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah dengan tujuan mendirikan khilafah, ataukah menegakkan tauhid?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situlah perlu kita camkan wahai saudaraku, bahwa tidak akan berhasil upaya apapun yang ditempuh oleh gerakan mana saja selama mereka lebih memilih jalannya sendiri dan tidak mau mengikuti jejak para pendahulu mereka. Imam Malik rahimahullah telah mengingatkan, “Tidak akan baik urusan akhir umat ini kecuali dengan sesuatu yang telah memperbaiki generasi awalnya.” Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Kaum muslimin telah sepakat bahwa barangsiapa yang telah jelas baginya sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka tidak halal baginya meninggalkan hal itu gara-gara mengikuti pendapat seseorang.” Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Ikutilah tuntunan dan jangan membuat ajaran-ajaran baru, karena sesungguhnya kalian telah dicukupkan.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat kedudukan sebagian kaum dengan sebab Kitab ini -al-Qur’an- dan akan menghinakan sebagian kaum yang lain dengan sebab Kitab ini pula.” (HR. Muslim dari Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. ar-Ra’d: 11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh benar ucapan Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, “Betapa banyak orang yang menghendaki kebaikan namun tidak berhasil mendapatkannya.” Betapa banyak orang yang mengira dirinya pejuang Islam, mujahid dakwah, da’i kebenaran, namun ternyata mereka salah jalan dan justru menjadi musuh Islam dari dalam. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Maukah kuberitakan kepada kalian mengenai orang-orang yang paling merugi amalnya; yaitu orang-orang yang sia-sia usahanya di dalam kehidupan dunia akan tetapi mereka mengira bahwa mereka telah melakukan kebaikan yang sebaik-baiknya.” (QS. al-Kahfi: 103-104)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, betapa banyak rumah yang roboh bukan karena tiupan angin kencang ataupun terpaan banjir bandang. Akan tetapi ia roboh karena pondasinya yang tidak kokoh, karena pilar-pilarnya yang begitu lemah, tidak kuat menopang dinding dan atap serta barang-barang berat yang ada di dalamnya, sehingga tatkala getaran kecil gempa menyapa maka luluh lantaklah seluruh sendi-sendinya dan runtuhlah rumah itu menimpa pemiliknya! Maka demikianlah perumpamaan orang-orang yang mengimpikan kekuasaan dan khilafah namun menyingkirkan agenda terbesar umat Islam yang sesungguhnya. Jadi, sepenting apakah tauhid itu? Kini anda telah bisa menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-7350891024412301978?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/7350891024412301978/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2010/08/penting-mana-khilafah-atau-tauhid.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/7350891024412301978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/7350891024412301978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2010/08/penting-mana-khilafah-atau-tauhid.html' title='Penting mana Khilafah atau Tauhid?'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TGpB7dAwpfI/AAAAAAAAAGo/6zWMczdwMPk/s72-c/realisasi-tauhid.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-8711731085850881486</id><published>2010-08-14T17:38:00.002+07:00</published><updated>2010-08-14T17:46:00.033+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kebangkitan'/><title type='text'>Kebangkitan Sejati</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TGZzli6afAI/AAAAAAAAAGI/L4Ar8C6193c/s1600/tauhid.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 253px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TGZzli6afAI/AAAAAAAAAGI/L4Ar8C6193c/s400/tauhid.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5505214683371174914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Keterpurukan dan kebangkitan kehidupan manusia datang silih berganti. Sejak awal penciptaan manusia, yaitu ketika Nabi Adam 'alaihissalam bangkit kembali dari keterpurukan kecil akibat melanggar larangan Alloh Subhanahuwata'ala. Keterpurukan besar-besaran senantiasa terjadi akibat tipudaya musuh manusia yang nyata yaitu iblis dan para syaitan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterpurukan pertama terjadi pada Adam 'alaihissalam dan istrinya, ketika mereka melanggar larangan Alloh Subhanahuwata'ala dengan memakan buah dari pohon yang sudah dilarang untuk di dekati. Namun keterpurukan itu disambut dengan kebangkitan berupa taubatnya Nabi Adam 'alaihissalam kepada Alloh Subhanahuwata'ala.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setelah diturunkan ke bumi, Adam ‘Alaihissalam menda’wahkan Tauhid kepada keluarga dan keturunannya. Sepuluh generasi keturunannya berada di atas Tauhid, hingga datang generasi yang menyimpang dari sirotolmustaqim, lalu terpuruklah ke lubang-lubang kesyirikan. Kemudian Alloh Subhanahuwata'ala mengutus Nuh 'alaihissalam untuk membangkitkan kembali kaumnya yang saat itu berada dalam keterpurukan terbesar, berupa penyembahan kepada patung-patung orang sholeh. Selama 950 tahun Nabi Nuh 'alaihissalam mendakwahkan tauhid kepada ummatnya namun hanya segelintir orang yang mau bangkit dan mengikuti Nabi Nuh 'alaihissalam. Sehingga Alloh Subhanahuwata'ala memusnahkan kaum yang tidak mau mengikuti Nabi Nuh 'alaihissalam. Kembali manusia bangkit dari keterpurukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga suatu zaman, mereka kembali terpuruk dengan menyembah patung-patung, mengikuti syariat iblis dan berhukum bukan dengan hukum Alloh Subhanahuwata'ala. Alloh-pun mengutus Nabi Ibrahim 'alaihissalam untuk merintis sebuah gerakan kebangkitan dan mendakwahkan tauhid (kemurnian Islam). Begitu seterusnya, gelombang kebangkitan dan keterpurukan senantiasa silih berganti. Setiap terjadi keterpurukan Alloh Subhanahuwata'ala mengutus para Nabi dan Rosulnya untuk merintis sebuah gerakan kebangkitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga datanglah suatu zaman ketika manusia kembali berada dalam keterpurukan total, Alloh Subhanahuwata'ala pun mengutus Nabi dan Rosul terakhir-Nya yaitu Muhammad Solallohu'alaihi Wassalam. Untuk sekali lagi memulai sebuah gerakan kebangkitan di tengah-tengah keterpurukan total yang menyelimuti seantero dunia. Rosululloh dan para sahabatnya ketika itu harus mengorbankan segala kesenangan dunia ini untuk membangkitkan manusia dari keterpurukan, Usaha total hingga gerakan kebangkitan yang dipimpin oleh Rosululloh Solallohu'alaihi Wassalam semakin lama semakin meluas dan meliputi sepertiga dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sunnatulloh pun kembali terjadi, kemurnian Islam mulai pudar, dan kesyirikan pun kembali merajalela di tubuh ummat. Hingga kaum kufar seakan mendapatkan kesempatan untuk merusak ummat dari dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daulah Utsmaniyyah pada mulanya berada dalam manhaj ahlusunnah wal jama’ah, mulai tenggelam ketika pemahaman sufi mulai merasuki tubuh ummat, kemurnian-pun tergantikan dengan kepalsuan-kepalsuan yang dilabeli agama. Keruntuhan daulah Utsmaniyyah tak bisa terelakkan gejolak dari dalam dan luar harus di hadapi oleh para pemegang kemurnian. Hingga pada akhirnya bangunan nan kokoh itupun harus runtuh ditelah kegelapan zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca runtuhnya sistem kekhilafahan, banyak di antara ummat ini yang menyerah dan pasrah. Namun ada pula sebagian kecil dari mereka yang mencoba untuk berbuat sesuatu untuk mengembalikan kekhilafahan yang telah runtuh. Namun usaha yang mereka lakukan bukanlah usaha yang bermuatan kebangkitan, pandangan yang salah tentang realita yang ada menyebabkan mereka mengambil langkah cepat dan dangkal. Mereka tidak memahami asasi keterpurukan yang terjadi dalam tubuh ummat. Bahwa kebangkitan hanya dapat terjadi dengan membangkitkan ruhani ummat yang terpuruk, mengembalikan kembali ummat kepada jalan yang lurus (Sirotul Mustaqim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia sendiri sejak awal abad ke 20, gerakan-gerakan Islam terus bermunculan. Hanya saja amat disayangkan gerakan-gerakan tersebut banyak berorientasi pada problematika duniawi saja. Mereka kurang memperhatikan aspek keterpurukan ruhani. Padahal keterpurukan ruhani adalah ibu dari segala keterpurukan. Selain itu gerakan-gerakan yang banyak bermunculan jarang sekali yang mengusung manhaj Ahlusunnah sebagai suatu manhaj yang harus di anut oleh umat secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realita keterpurukan ruhani di negeri kita sudah sangat mengerikan dan sudah berpotensi untuk mengundang adzab dari Alloh Subhanahuwata’ala. Bahkan adzab-adzab itu memang sudah berdatangan bertubi-tubi bagaikan gelombang lautan yang terus-menerus bergantian menghempas pantai.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mulai dari Kesyirikan yang nyata dilakukan oleh masyarakat mulai dari penyembahan-penyembahan kepada kuburan-kuburan hingga praktek-praktek sihir yang dilegalitas dan masuk ke setiap pintu-pintu rumah kaum muslimin melalui media elektronik maupun cetak, hingga ritual-ritual kebudayaan bangsa yang diadopsi dari kepercayaan-kepercayaan lain. Semuanya adalah bentuk kesyirikan meskipun diberi label islami. Bahkan praktek-praktek kesyirikan tersebut dilindungi oleh pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kita dapati banyak sekali praktek-praktek bid’ah dalam kehidupan agama yang sama sekali tidak pernah di ajarkan ataupun di anjurkan apalagi diperbuat oleh Rosululloh Solallohu'alaihi Wassalam dan para Sahabatnya. Semua dianggap sebagi sunnah sedangkan sunnah dianggap bid’ah dan sesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemaksiatan-kemaksiatan yang banyak dilakukan oleh masyarakat, baik secara individu maupun kemaksiatan secara kolektif seperti pacaran, zina, meminum khomr, judi dll. Semua di diamkan dan dibiarkan, dianggap sebagai sesuatu hal yang biasa dan wajar dilakuan. Na’udzubillah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu adalah keterpurukan ruhani yang akan mengakibatkan keterpurukan duniawi dan keterpurukan ukhrawi kelak, yaitu ancaman siksa pedih dan abadi di akhirat nanti serta menjadi sebab tidak mampunya kita mengemban khilafah tauhid di bumi ini.&lt;br /&gt;Diantara keterpurukan duniawi yang akan dan bahkan telah terjadi adalah bencana-bencana alam yang terjadi di bumi ini. Bencana-bencana yang silih berganti bahkan susul menyusul senantiasa bertambah cepat jarak waktu dari satu bencana ke bencana lainnya. Bencana seperti Tsunami, Tanah Longor, Banjir, Semburan Lumpur, Tumbukan Meteor dan lain sebagainya adalah akibat dari keterpurukan ruhani yang ditambah buruk lagi oleh keterpurukan peran.&lt;br /&gt;Alloh Subhanahuwata'ala berfirman:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“ dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. 'alaihissalam-Syuro: 30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Seperti yang telah disebutkan bahwa gerakan-gerakan Islam yang berorientasi kepada pembangkitan umat saling berbeda pandangan atau persepsi tentang realita umat saat ini dan tentang pangkal penyebab realita itu. Perbedaan ini telah melahirkan perbedaan strategi dalam mencapai tujuan setiap harokah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pandangan dan strategi pertama adalah mereka yang menganggap bahwa keterpurukan yang terjadi adalah keterpurukan duniawi semata, yaitu kepincangan dalam memanajemen umat dan solusinya adalah memperbaiki manahemen tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kemudian pandangan dan strategi kedua adalah mereka yang mengakui adanya keterpurukan ruhani, peran, dan duniawi. Para peyakin pandangan ini berbeda pendapat dalam menilai bobot masing-masing keterpurukan dan hubungan di antaranya. Para peyakin pandangan ini tidak atau kurang mendasarkan strategi mereka pada keyakinan bahwa keterpurukan ruhani adalah sebab segala-galanya dan kebangkitan ruhani akan menjadi ibu dari semua kebangkitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tsaqofah mereka terkonsentrasi pada “wajibnya mendirikan Negara Islam” yang setelah berdiri akan melahirkan “kejayaan umat”. Jadi solusi keterpurukan adalah berdirinya Negara Islam. Sehingga strategi ini dinamakan strategi tampuk kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kemudian pandangan dan strategi ketiga, mereka yang merangkum dan menganalisa keterpurukan yang terjadi di tubuh umat, yang di rangkum dalam butir-butir berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Umat Islam secara global dewasa ini berada dalam keterpurukan ruhani, peran, dan duniawi.&lt;br /&gt;2.Keterpurukan Ruhani adalah ibu dari semua keterpurukan.&lt;br /&gt;3.Keterpurukan ruhani pun mengancam berjuta umat di akhirat nanti dengan keterpurukan ukhrawi yang sangat dahsyat.&lt;br /&gt;4.Kebangkitan ruhani adalah kembalinya umat secara jama’I meniti Sirotulmustaqim. Ini berarti dominasi manhaj Ahlusunnah Wal Jama’ah secara utuh atas kehidupan umat bermasyarakat.&lt;br /&gt;5.Tak ada jalan untuk keselamatan ukhrawi dan terwujudnya kebangkitan peran dan duniawi tanpa kebangkitan ruhani.&lt;br /&gt;6.Jalan kebangkitan total harus dirintis dengan dakwah yang bertarget kebangkitan ruhani secara kaffah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang meyakini pandangan ini memilih jalan dakwah sebagai “Strategi menuju perubahan”. Strategi ini kita namakan “Strategi Dakwah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Strategi ke empat inilah yang di usung oleh HASMI (Harokah Sunniyah Untuk Masyarakat Islami). HASMI adalah sebuah organisasi yang murni kelahiran Indonesia, berpusat di Indonesia dan bukan sekali-kali organisasi lintas Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dasar keseluruhan HASMI adalah manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, manhaj kebenaran sesuai dengan kemurnian Islam. Manhaj wahyu Ilahi, Al-Qur’an dan Sunnah serta mengikuti pemahaman dan penerapan Salafussoleh. Hal ini tidak berarti sama sekali bahwa HASMI mengklaim tidak pernah atau tidak akan mempunyai kesalahan. Hal ini hanya sebatas kebulatan tekad penitian Sirotulmustaqim. HASMI mengusung dan mendakwahkan manhaj Ahlusunnah Wal Jama’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tujuan HASMI adalah terwujudnya kebangkitan total melalui usaha perwujudan ruhani yang bermahkotakan “Berdirinya masyarakat Islami di Indonesia” sebagi perwujudan dari kebangkitan peran yaitu masyarakat  yang kolektif atau perorangan dinaungi dan dituntun oleh norma-norma Islam yang suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; HASMI memilih strategi dakwah dalam meniti jalan perjuangan menuju tujuannya, karena Dakwah adalah strategi para nabi dalam misi penyelamatan mereka terhadap manusia. Sedangkan jihad besenjata adalah salah satu jalan dari jalan-jalan dakwah yang dilakukan hanya pada kondisi-kondisi tertentu. Bahkan jalan untuk merubah keterpurukan ruhani menjadi kebangkitan ruhani adalah dengan medakwahi umat tidak ada jalan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kita berada di tengah-tengah umat Islam yang sangat membutuhkan penerangan dan di waktu yang sama kesempatan serta pintu-pintu dakwah sangat terbuka lebar di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik". (QS. Yusuf: 108)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-8711731085850881486?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/8711731085850881486/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2010/08/kebangkitan-sejati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/8711731085850881486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/8711731085850881486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2010/08/kebangkitan-sejati.html' title='Kebangkitan Sejati'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TGZzli6afAI/AAAAAAAAAGI/L4Ar8C6193c/s72-c/tauhid.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-1088307034137826117</id><published>2010-08-04T11:33:00.003+07:00</published><updated>2010-08-04T11:43:49.908+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Waspada'/><title type='text'>Tiga Jalan Menuju Kesesatan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TFjvwlO6WgI/AAAAAAAAAF4/M9xrGbIFO0Q/s1600/direction_in_islam.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TFjvwlO6WgI/AAAAAAAAAF4/M9xrGbIFO0Q/s400/direction_in_islam.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5501410562740476418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ulama terkemuka dari India (Pakistan), Abul ‘Ala Maududi menjelaskan, dari mana sebenarnya kekufuran dan kesesatan (bid’ah) itu timbul? Al-Qur’anul Karim menegaskan, bahwa kejahatan-kejahatan itu muncul melalui tiga sumber :&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pertama, mengikuti kemauan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an menyatakan, “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapatkan petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (Qur’an : 28 : 50).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat diatas mengartikan bahwa faktor terbesar penyebab kesesatan manusia adalah dorongan-dorongan hawa-nafsunya sendiri. Dan sama sekali tidak mungkin seseorang untuk menjadi hamba Allah, sementara ia masih menuruti dorongan-dorongan hawa nafsunya. Ia akan terus menerus memikirkan pekerjaan apa yang mendatangkan uang baginya, usaha apa yang akan membawa kemasyhuran dan penghormatan orang kepadanya, kemanapun ia harus mengejar kesenangan dan kepuasan, dan apa saja yang bisa memberikan kemudahan dan kenikmatan hidup baginya. Pendeknya, manusia akan dengan segala macam cara untuk mencapai tujuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak akan pernah mengerjakan suatu apapun yang dianggapnya tidak akan membawa tercapainya tujuan-tujuan itu berupa kenikmatan dunia. Meskpun, Allah memerintahkannya lebih memilih jalan menuju kemuliaan di akhirat. Tetapi itu tidak pernah didengarnya lagi. Jadi Tuhan bagi orang seperti itu adalah dirinya (nafs), bukannya Allah Yang Agung. Jadi, bagimana ia akan mendapat manfaat dari petunjuk Allah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an menegaskan, “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat jalan (dari binatang ternak itu)”. (Qur’an : al-Furqan : 43-44)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Al-Maududi, bahwa menjadi budak hawa nafsu lebih jelek dibanding menjadi binatang. Ini adalah tidak diragukan lagi. “Anda tidak akan pernah melihat seekor binatang pun yang mau melanggar batas-batas yang telah ditentukan Allah baginya”, ucap al-Maududi. Binatang hanya melaksanakan fungsi yang telah ditentukan Allah baginya. Tetapi, manusia adalah binatang yang apabila sudah menjadi budak hawa nafsunya sendiri, dan bahkan akan melakukan perbuatan yang membuat syetan sendiri gemetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, mengikuti nenek-moyang tanpa berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan kedua adalah mengikuti adat kebiasaan, kepercayaan-kepercayaan dan pikiran-pikiran, ritus-ritus dan upacara-upacara yagn biasa dilakukan nenek-moyang, atau seorang ulama mereka. Mereka menganggap lebih penting daripada perintah Allah. Apabila perintah Allah dibacakan, maka orang-orang yang suka mengekor kepada nenek moyang (termasuk ulama mereka), maka mereka akan bersikeras bahwa mereka hanya akan mengikuti apa yang dilakukan nenek moyang mereka yang telah menjadi kebiasaan (habid). Bagaimana mungkin orang yang seperti ini akan menjadi hamba Allah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan-Tuhan mereka adalah nenek-moyang mereka. Hak apa yang dimilikinya untuk mendakwakan bahwa dirinya adalah seorang muslim?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an berfirman, “Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang diturunkan oleh Allah’, mereka menjawab: (Tidak), tetap kami hanya mengikuti apa yagn telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami’. (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatupun, dan tidak mendapat petunjuk?”. (Qur’an : 2: 170)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila dikatakan kepada mereka : “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul’. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya’. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek-moyang mereka walaupun nenek-moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu , tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu, apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepda Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (Qur’an : 5: 104-105)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jahatnya kesesatan itu adalah sedemikian rupa, sehingga semua orang bodoh di setiap zaman terkena cengkeramannya. Kesesatan selamanya mencegah mereka mendapatkan bimbingannya dari utusan-utusan Allah. Seperti halnya, Ibrahim alaihi salam, membujuk kaumnya untuk meninggalkan kepercayaan syirik, “Mereka menjawab : “Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya (patung-patung)”. (Qur’an : 21 : 25).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia harus memilih salah satu satu. Tidak mungkin berdampingan antara berhala-hala itu dengan Allah. Antara kesesatan yang menyembah berhala, dan mereka yang berorientasi kepada al-haq Allah Rabbul alamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, kepatuhan kepada selain Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan yang ketiga, seperti dinyatakan oleh al-Qur’an, adalah apabila manusia mengesampingkan perintah-perintah Allah, lalu mentaati perintah-perintah manusia dengan bermacam-macam alasan, seperti misalnya, “Karena bapak fulan adalah seorang besar, maka kata-katanya mestilah selalu baik dan harus kita ikuti’, atau ‘Karena rezeki saya bergantung pada  orang itu, maka saya harus patuh kepadanya’, atau ‘karena orang mampu menghancurkan hidup saya dengan kutukannya, dan mampu menjamin saya masuk surga, maka apa yang dikatakannya pasti benar’ atau ‘bangsa anu bangsa besar adalah bangsa yang maju, kita harus meminta pertolongan dan perlindungan kepadanya, dan meniru cara hidupnya”. Dengan alasan-alasan seperti itu, maka tertutup lah pintu petunjuk Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an berfirman : “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah .. “ (Qur’an : 6 : 116)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini mempunyai arti bahwa manusia hanya bisa tetap berada di jalan yang benar, bila ia mempercayakan diri seratus persen, secara totalitas hanya kepada Allah Ta’ala. Bagaimana bisa menemukan jalan kemuliaan kalau   manusia mempercayakan diri kepada salain Allah. Hidupnya tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pendapat dan pandangan Abul ‘Ala Maududi, seorang ulama besar yang lahir di anak benua India, yang sekarang sebagian menjadi Pakistan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-1088307034137826117?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/1088307034137826117/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2010/08/tiga-jalan-menuju-kesesatan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/1088307034137826117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/1088307034137826117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2010/08/tiga-jalan-menuju-kesesatan.html' title='Tiga Jalan Menuju Kesesatan'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TFjvwlO6WgI/AAAAAAAAAF4/M9xrGbIFO0Q/s72-c/direction_in_islam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-5938061596726627897</id><published>2010-07-19T15:16:00.002+07:00</published><updated>2010-07-19T16:29:28.226+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Waspada'/><title type='text'>Racun Kepalsuan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TEQNJdAB2ZI/AAAAAAAAAFo/r6Mz_67Ro18/s1600/bulan-purnama.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 287px; height: 374px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TEQNJdAB2ZI/AAAAAAAAAFo/r6Mz_67Ro18/s400/bulan-purnama.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5495531901353580946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Seorang sahabat Rasul, menahun ia bertugas sebagai gubernur di Mesir. Bertinggal lama di negeri seberang, tentu membuat dia sangat rindu kampung kelahiran, namun, tugas mulia yang ia emban untuk menjaga keutuhan khilafah islamiyah lebih ia utamakan daripada sekedar pulang dan bersua dengan keluarga. Hingga pada suatu hari yang panas, di atas kerinduan yang memuncak, tersampailah obat penawar baginya, seorang sahabat Rasululloh lainnya, Ubaid datang menjenguknya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lama tak bersua, tentu membuat keduanya ingin segera menumpahkan kerinduan masing-masing, hingga kesan penampilan yang pertama kali dilihat pun menjadi bahan perbincangan diantara mereka berdua. Ubaid yang menurut riwayat juga adalah seorang pejabat ternyata terlihat tampak kusut rambutnya. “Kenapa rambutmu berantakan seperti itu, padahal engkau pejabat?” tanya sahabat Rasul itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ubaid menjawab, “Sesungguhnya Rasululloh melarang kita untuk mengurusi rambut setiap hari.”&lt;br /&gt;“Kamu juga tidak pakai terompah?” Tanya sahabat itu kembali&lt;br /&gt;“Bukankah Rasul juga menyuruh kita, untuk sekali-kali jangan pakai terompah?” jawab ubaid lagi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepenggal rambut dan sepasang sepatu adalah pesan. Tidak saja untuk sebuah selera penampilan. Tapi juga cita rasa ruhani yang mendalam. Rasululloh, dalam hadits tersebut, yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ahmad dan Nasa’i, ingin mengajarkan kepada kita pilar mendasar tentang prinsip keaslian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya seorang muslim haruslah mengerti tentang prinsip keaslian ini. Sebagaimana pada dasarnya kita diciptakan dengan keaslian fitrah yang luhur. Alloh berfirman dalam surat Al-A’raf: 172:&lt;br /&gt;“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Alloh mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia kita saat ini, sungguh merindukan kembali originalitas, keaslian. Manusia yang berperilaku original. Dari hari ke hari rasanya kita makin kenyang disuguhi panorama serba kepalsuan. Dunia yang berlumur gincu, kepura-puraan, dan dusta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negeri ini, kita pantas untuk menggugat keotentikan. Kenapa di sebuah Tanah Air dengan mayoritas kaum muslimin dan penduduknya mengaku beragama, masih juga tumbuh mekar berbagai skandal dan penyimpangan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saksikan, bagaimana kebohongan dan kebatilan publik menjadi serba telanjang. Betapa hukum dipermainkan dengan logika hukum sendiri. Politik sekadar siasat, serba penuh dusta dan tipu daya. Berniaga hanya mengabdi pada keserakahan. Penjarahan kekayaan negara terkadang menjadi skandal publik yang penuh permainan agar tak terjerat hukum. Kemudian pada akhirnya hanya ditutup oleh dagelan di panggung politik yang para pemainnya saling tuduh-menuduh, tanpa jelas siapa pelakunya. Racun retorika telah mengemas serba kepalsuan menjadi hindangan publik yang harus diterima, dan seakan halal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai penyimpangan moral dan perilaku primitif pun telah menjadi kelaziman umum yang jauh dari rasa malu. Budaya dan interaksi diantara sesama manusia melahirkan eksperimen-eksperimen baru dalam soal keindahan, juga pemaknaan yang sering dipaksakan, atau imajinasi-imajinasi yang liar dan penuh tipu daya. Semua itu mengantarkan manusia dengan cepat atau lambat menuju fase hidup yang menyukai kepalsuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, meledaklah artis-artis yang bermodel telanjang yang dibilang keagungan seni. Maka, lahirlah industri-industri paranormal, nabi palsu dan sederet papan-papan reklame yang pada hakikatnya adalah racun yang akan mengantarkan manusia menuju jurang kehancuran fitrahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah keadaan dunia kita saat ini. Namun sayangnya, ledakan-ledakan kepalsuan itu diiringi oleh sebagian pemuda muslim kita yang latah. Sungguh beban berat yang kita emban untuk mengembalikan mereka ke jalan kemurnian Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya sebagai seorang muslim, kita dapat menapaki hidup ini dengan berpijak pada keaslian fitrah, islam serta aqidah kita yang mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandaran kita berpulang kepada riwayat asal mula kita ada, bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada Alloh, menyembah, mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sebab hidup ini begitu penuh tanggung jawab. Menuju akhir yang gelap di hari perhitungan. Sementara, amal kita hanya sedikit dan tak jelas apa akan sampai di kadar keridhaan.&lt;br /&gt;vItulah sandaran yang menginspirasi segala macam kesopanan, kepatuhan, bahkan dalam soal selera penampilan. Yang mengajarkan kepada kita dari mana kita memulai titik pertama arah hidup, selera, gaya, ekspresi dan cita-cita. Bahwa kita harus menyembah-Nya, mengikuti aturan-Nya, dan mengerti juga apa intisari dari tujuan Ia menciptakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang benar-benar beriman, lelaki atau perempuannya, mengerti betul fungsi keindahan. Tapi ia tidak menjadikan seluruh umurnya untuk bersolek. Ia tidak menghabiskan seluruh usianya untuk melicinkan rambut, melentikkan bulu mata, atau meronakan air wajah. Ia mengerti, mana batas keindahan dengan kepalsuan. Ia mengerti, mana batas kepatuhan dan ketawadhuan.&lt;br /&gt;Seorang mu’min, laki-laki atau perempuannya, menyadari bahwa ia punya ruang di dalam dirinya untuk selera keindahan. Ia punya kadar aslinya untuk merapikan diri dan berhias. Ia juga mencintai keindahan karena Alloh pun mencintai keindahan. Bahkan ia punya caranya sendiri menempatkan semua cita rasa keindahan, fisik maupun non fisik, sebagai bagian cara yang halal, untuk merawat cintanya kepada pasangan yang halal. Tapi begitu pun ia tak memenuhi seluruh langit jiwanya dengan nafsu berdandan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana ia sepenuh hati menjiwai, betapa kepalsuan tidak semata soal permak wajah, tapi juga perangai, tindak-tanduk, tutur kata, cara pandang terhadap orang dan juga hobi. itu sebabnya, kepalsuan-kepalsuan perangai, bisa menjerumuskan pelakunya, menjadi penumpuk dusta. Hingga akhirnya semua dusta itu menyeretnya ke dalam neraka. Rasululloh menasehati:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya dusta itu bisa menyeret kepada kekejian. Dan kekejian itu akan menyeret pelakunya ke dalam neraka.” (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;Barang palsu selalu diburu karena lebih murah dari yang asli. Namun, pada taraf identitas dan harga diri, yang palsu seolah dianggap lebih mahal dan layak dipertahankan. Bahkan repotnya, kepalsuan pada zaman ini justru dijadikan kurikulum kehidupan. Orang diajari untuk berbohong, bila perlu dengan memakai dalil agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memang sedang dikepung oleh kepalsuan seperti itu, maka diperlukan cara pandang keimanan yang mampu menembus batas-batas materi. Kita di sini melihat keindahan dunia, tetapi mata hati kita harus melihat jauh ke sana, ke keaslian kampung akhirat sana. Ini memang tidak mudah, karena keaslian terkadang hanya kita pakai di saat kita sulit, tetapi di saat kita senang, kepalsuan kita pertontonkan kembali.&lt;br /&gt;“Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Alloh menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Alloh), agar mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka dan agar mereka (hidup) bersenang-senang (dalam kekafiran). Kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya).” (QS. Al-Ankabut: 66).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-5938061596726627897?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/5938061596726627897/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2010/07/racun-kepalsuan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/5938061596726627897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/5938061596726627897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2010/07/racun-kepalsuan.html' title='Racun Kepalsuan'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TEQNJdAB2ZI/AAAAAAAAAFo/r6Mz_67Ro18/s72-c/bulan-purnama.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-7746818278094819691</id><published>2010-07-19T10:05:00.007+07:00</published><updated>2010-07-19T11:24:37.608+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hadist'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syariat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Waspada'/><title type='text'>KAIDAH ISLAM DALAM MENIMBA ILMU DAN BERDALIL</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TEPRePTnFtI/AAAAAAAAAFg/hac9h7uYIFs/s1600/ancientfootprints_narrowweb__300x450_0.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 267px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TEPRePTnFtI/AAAAAAAAAFg/hac9h7uYIFs/s400/ancientfootprints_narrowweb__300x450_0.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5495466287757203154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Islam adalah agama yang sempurna dan menyeluruh, kesempurnaan Islam bertolak dari kesempurnaan Dzat Yang Maha Sempurna. Untuk memahami Dien yang mulia ini dan merasakan kesempurnaan Islam haruslah di sertai dengan Metode (Manhaj) Pemahaman yang benar(Pemahaman Para Sahabat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyimpang dari manhaj (metode beragama) para sahabat akan berujung kepada kesesatan. Bagaimana tidak? Sementara Allah ‘azza wa jalla sendiri telah merekomendasikan mereka di hadapan segenap umat manusia di dalam Kitab-Nya Yang Mulia dalam firman-Nya (yang artinya), &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Allah ridha kepada mereka dan mereka pun pasti akan ridha kepada-Nya. Allah telah persiapkan untuk mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang sangat besar.” (QS. at-Taubah: 100)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu untuk mengikuti kebenaran tidak cukup dengan membawakan dalil tanpa disertai dengan cara pemahaman terhadap dalil yang benar! Dan betapa banyak orang yang tersesat melalui pintu ini -istidlal yang salah-, maka ambillah pelajaran wahai saudaraku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut kaidah dalam Menimba Ilmu dan Berdalil agar tidak terjadi kesalahan dalam memahami Dalil...&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pertama&lt;br /&gt;Sumber akidah/keyakinan adalah Kitabullah, Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sahih serta ijma’/konsensus Salafush shalih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua&lt;br /&gt;Setiap dalil yang shahih di antara Sunnah/hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ia wajib diterima dan diamalkan; meskipun statusnya adalah hadits ahad (bukan mutawatir, hanya sedikit jalan periwayatannya), dalam hal akidah maupun bidang-bidang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga&lt;br /&gt;Rujukan untuk memahami kandungan Al Kitab dan As Sunnah adalah nash/dalil-dalil yang menjelaskannya, pemahaman Salafush shalih dan pemahaman para imam yang menempuh manhaj mereka. Segala penafsiran yang sudah terbukti keabsahannya maka itu tidak boleh ditolak dengan berdasarkan kemungkinan makna bahasa semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat&lt;br /&gt;Semua pokok ajaran agama sudah diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga tidak ada lagi celah bagi siapapun untuk menciptakan suatu ajaran baru dengan dakwaan hal itu termasuk bagian dari agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima&lt;br /&gt;Harus bersikap pasrah kepada Allah, kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam secara lahir dan batin. Oleh karena itu maka dalil dari Al Kitab atau Sunnah yang shahih tidak boleh dipertentangkan dengan analogi/qiyas, perasaan, penyingkapan, ucapan seorang Syaikh/guru, pendapat seorang Imam dan semacamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam&lt;br /&gt;Dalil akal yang tegas dan akurat pasti sesuai dengan dalil naqli yang shahih. Tidak akan terjadi pertentangan dua hal qath’i/yang pasti dari keduanya selama-lamanya. Apabila muncul persangkaan seolah-olah ada pertentangan maka dalil naqli itulah yang lebih dikedepankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh&lt;br /&gt;Wajib konsisten memakai lafadz-lafadz syar’i dalam hal akidah dan harus menjauhi lafadz-lafadz bid’ah yang direka-reka oleh orang. Apabila terdapat lafadz yang masih bersifat global dan mengandung kemungkinan makna benar atau salah maka hendaknya diminta tafsirannya. Apabila tafsirannya adalah benar maka maksud itu cukup ditetapkan dengan lafadznya yang syar’i. Dan apabila ternyata tafsirannya adalah batil maka ia harus ditolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedelapan&lt;br /&gt;Keterpeliharaan dari salah (’ishmah) hanya dimiliki oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan umat Islam ini secara keseluruhan (bukan perindividu) juga terjaga dari bersepakat dalam kesesatan. Adapun individu-individunya maka tidak seorangpun di antara mereka yang ma’shum. Hal-hal yang telah diperselisihkan oleh para imam dan selain mereka maka rujukan pemecahannya adalah Al Kitab dan As Sunnah. Semua pendapat yang tegak di atas landasan dalil maka diterima dengan tetap memberikan toleransi bagi para mujtahid umat ini yang tersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesembilan&lt;br /&gt;Di antara umat ini ada orang-orang yang mendapatkan ilham/muhaddats, seperti halnya Umar bin Al Khaththab. Mimpi yang benar adalah nyata, dan ia termasuk bagian dari ciri Nubuwwah/kenabian. Firasat yang benar adalah nyata adanya. Begitu pula terdapat berbagai karamah (keistimewaan yang diberikan Allah kepada Wali-Nya) dan mubasysyaraat/tanda-tanda menggembirakan, dengan syarat itu semua harus selaras dengan aturan syari’at, dan hal itu juga bukan menjadi sumber akidah dan tidak dijadikan sebagai pedoman untuk menetapkan aturan/syari’at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesepuluh&lt;br /&gt;Debat kusir dalam hal agama adalah sesuatu yang tercela. Sedangkan perdebatan dengan cara yang baik adalah disyari’atkan. Perkara-perkara yang terdapat dalil shahih untuk tidak memperdebatkannya maka aturan itu harus dilaksanakan. Seorang muslim wajib menahan diri untuk tidak membicarakan hal-hal yang dia sendiri tidak menguasai ilmunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesebelas&lt;br /&gt;Wajib berpegang teguh dengan manhaj/metode wahyu dalam hal perbantahan, sebagaimana halnya itu juga wajib diterapkan dalam masalah akidah dan pemancangan suatu ketetapan. Bid’ah tidak boleh dibalas dengan bid’ah. Sikap tafrith/melecehkan tidak boleh dibalas dengan sikap ghuluw/ekstrim, begitu pula sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduabelas&lt;br /&gt;Semua urusan yang diada-adakan di dalam ajaran agama adalah bid’ah. Setiap bid’ah pasti sesat, dan setiap kesesatan nerakalah tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(disadur dari Mujmal Ushul Ahlis Sunnah wal Jama’ah fil ‘Aqidah karya Syaikh Dr. Nashir bin Abdul Karim Al ‘Aql, Penerbit Darul Wathan cet 1, 1413 H hal. 7-9)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-7746818278094819691?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/7746818278094819691/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2010/07/kaidah-islam-dalam-menimba-ilmu-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/7746818278094819691'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/7746818278094819691'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2010/07/kaidah-islam-dalam-menimba-ilmu-dan.html' title='KAIDAH ISLAM DALAM MENIMBA ILMU DAN BERDALIL'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/TEPRePTnFtI/AAAAAAAAAFg/hac9h7uYIFs/s72-c/ancientfootprints_narrowweb__300x450_0.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-3691626752301017602</id><published>2009-12-05T07:31:00.001+07:00</published><updated>2009-12-05T07:34:52.268+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><title type='text'>Mengenal Alloh (Agar mendatangkan  Kecintaan Hakiki)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SxmqbW4chcI/AAAAAAAAAFM/M73su9wgCUk/s1600-h/allah_20070514_132645.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 352px; height: 312px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SxmqbW4chcI/AAAAAAAAAFM/M73su9wgCUk/s400/allah_20070514_132645.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5411543814237881794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kenal maka tak sayang, demikian bunyi pepatah. Banyak orang mengaku mengenal Allah, tapi mereka tidak cinta kepada Allah. Buktinya, mereka banyak melanggar perintah dan larangan Allah. Sebabnya, ternyata mereka tidak mengenal Allah dengan sebenarnya. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sekilas, membahas persoalan bagaimana mengenal Allah bukan sesuatu yang asing. Bahkan mungkin ada yang mengatakan untuk apa hal yang demikian itu dibahas? Bukankah kita semua telah mengetahui dan mengenal pencipta kita? Bukankah kita telah mengakui itu semua? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mengenal Allah sebatas di masjid, di majelis dzikir, atau di majelis ilmu atau mengenal-Nya ketika tersandung batu, ketika mendengar kematian, atau ketika mendapatkan musibah dan mendapatkan kesenangan, barangkali akan terlontar pertanyaan demikian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dalam pembahasan ini yaitu mengenal Allah yang akan membuahkan rasa takut kepada-Nya, tawakal, berharap, menggantungkan diri, dan ketundukan hanya kepada-Nya. Sehingga kita bisa mewujudkan segala bentuk ketaatan dan menjauhi segala apa yang dilarang oleh-Nya. Yang akan menenteramkan hati ketika orang-orang mengalami gundah-gulana dalam hidup, mendapatkan rasa aman ketika orang-orang dirundung rasa takut dan akan berani menghadapi segala macam problema hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya, banyak yang mengaku mengenal Allah tetapi mereka selalu bermaksiat kepada-Nya siang dan malam. Lalu apa manfaat kita mengenal Allah kalau keadaannya demikian? Dan apa artinya kita mengenal Allah sementara kita melanggar perintah dan larangan-Nya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari itu mari kita menyimak pembahasan tentang masalah ini, agar kita mengerti hakikat mengenal Allah dan bisa memetik buahnya dalam wujud amal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenal Allah ada empat cara yaitu mengenal wujud Allah, mengenal Rububiyah Allah, mengenal Uluhiyah Allah, dan mengenal Nama-nama dan Sifat-sifat Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat cara ini telah disebutkan Allah di dalam Al Qur’an dan di dalam As Sunnah baik global maupun terperinci. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qoyyim dalam kitab Al Fawaid hal 29, mengatakan: “Allah mengajak hamba-Nya untuk mengenal diri-Nya di dalam Al Qur’an dengan dua cara yaitu pertama, melihat segala perbuatan Allah dan yang kedua, melihat dan merenungi serta menggali tanda-tanda kebesaran Allah seperti dalam firman-Nya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam terdapat (tanda-tanda kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memiliki akal.” (QS. Ali Imran: 190) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga dalam firman-Nya yang lain: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang, serta bahtera yang berjalan di lautan yang bermanfaat bagi manusia.” (QS. Al Baqarah: 164) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenal Wujud Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu beriman bahwa Allah itu ada. Dan adanya Allah telah diakui oleh fitrah, akal, panca indera manusia, dan ditetapkan pula oleh syari’at. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seseorang melihat makhluk ciptaan Allah yang berbeda-beda bentuk, warna, jenis dan sebagainya, akal akan menyimpulkan adanya semuanya itu tentu ada yang mengadakannya dan tidak mungkin ada dengan sendirinya. Dan panca indera kita mengakui adanya Allah di mana kita melihat ada orang yang berdoa, menyeru Allah dan meminta sesuatu, lalu Allah mengabulkannya. Adapun tentang pengakuan fitrah telah disebutkan oleh Allah di dalam Al Qur’an: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu menurunkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman ): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu’ Mereka menjawab: ‘(Betul Engkau Tuhan kami) kami mempersaksikannya (Kami lakukan yang demikian itu) agar kalian pada hari kiamat tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami bani Adam adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan-Mu) atau agar kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu sedangkan kami ini adalah anak-anak keturunan yang datang setelah mereka.’.” (QS. Al A’raf: 172-173) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa fitrah seseorang mengakui adanya Allah dan juga menunjukkan, bahwa manusia dengan fitrahnya mengenal Rabbnya. Adapun bukti syari’at, kita menyakini bahwa syari’at Allah yang dibawa para Rasul yang mengandung maslahat bagi seluruh makhluk, menunjukkan bahwa syari’at itu datang dari sisi Dzat yang Maha Bijaksana. (Lihat Syarah Aqidah Al Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin hal 41-45) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenal Rububiyah Allah &lt;br /&gt;Rububiyah Allah adalah mengesakan Allah dalam tiga perkara yaitu penciptaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan pengaturan-Nya. (Lihat Syarah Aqidah Al Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin hal 14) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maknanya, menyakini bahwa Allah adalah Dzat yang menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rizki, mendatangkan segala mamfaat dan menolak segala mudharat. Dzat yang mengawasi, mengatur, penguasa, pemilik hukum dan selainnya dari segala sesuatu yang menunjukkan kekuasaan tunggal bagi Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini, seorang mukmin harus meyakini bahwa tidak ada seorangpun yang menandingi Allah dalam hal ini. Allah mengatakan: “’Katakanlah!’ Dialah Allah yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya sgala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya.” (QS. Al Ikhlash: 1-4) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ketika seseorang meyakini bahwa selain Allah ada yang memiliki kemampuan untuk melakukan seperti di atas, berarti orang tersebut telah mendzalimi Allah dan menyekutukan-Nya dengan selain-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masalah rububiyah Allah sebagian orang kafir jahiliyah tidak mengingkarinya sedikitpun dan mereka meyakini bahwa yang mampu melakukan demikian hanyalah Allah semata. Mereka tidak menyakini bahwa apa yang selama ini mereka sembah dan agungkan mampu melakukan hal yang demikian itu. Lalu apa tujuan mereka menyembah Tuhan yang banyak itu? Apakah mereka tidak mengetahui jikalau ‘tuhan-tuhan’ mereka itu tidak bisa berbuat apa-apa? Dan apa yang mereka inginkan dari sesembahan itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah telah menceritakan di dalam Al Qur’an bahwa mereka memiliki dua tujuan. Pertama, mendekatkan diri mereka kepada Allah dengan sedekat-dekatnya sebagaimana firman Allah: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai penolong (mereka mengatakan): ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami di sisi Allah dengan sedekat-dekatnya’.” (Az Zumar: 3 ) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, agar mereka memberikan syafa’at (pembelaan ) di sisi Allah. Allah berfirman: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan mereka menyembah selain Allah dari apa-apa yang tidak bisa memberikan mudharat dan manfaat bagi mereka dan mereka berkata: ‘Mereka (sesembahan itu) adalah yang memberi syafa’at kami di sisi Allah’.” (QS. Yunus: 18, Lihat kitab Kasyfusy Syubuhat karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan sebagian orang kafir terhadap tauhid rububiyah Allah telah dijelaskan Allah dalam beberapa firman-Nya: &lt;br /&gt;“Kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan mereka? Mereka akan menjawab Allah.” (QS. Az Zukhruf: 87) &lt;br /&gt;“Dan kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan yang menundukkan matahari dan bulan? Mereka akan mengatakan Allah.” (QS. Al Ankabut: 61) &lt;br /&gt;“Dan kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan bumi setelah matinya? Mereka akan menjawab Allah.” (QS. Al Ankabut: 63) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah Allah menjelaskan tentang keyakinan mereka terhadap tauhid Rububiyah Allah. Keyakinan mereka yang demikian itu tidak menyebabkan mereka masuk ke dalam Islam dan menyebabkan halalnya darah dan harta mereka sehingga Rasulullah mengumumkan peperangan melawan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, jika kita melihat kenyataan yang terjadi di tengah-tengah kaum muslimin, kita sadari betapa besar kerusakan akidah yang melanda saudara-saudara kita. Banyak yang masih menyakini bahwa selain Allah, ada yang mampu menolak mudharat dan mendatangkan mamfa’at, meluluskan dalam ujian, memberikan keberhasilan dalam usaha, dan menyembuhkan penyakit. Sehingga, mereka harus berbondong-bondong meminta-minta di kuburan orang-orang shalih, atau kuburan para wali, atau di tempat-tempat keramat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka harus pula mendatangi para dukun, tukang ramal, dan tukang tenung atau dengan istilah sekarang paranormal. Semua perbuatan dan keyakinan ini, merupakan keyakinan yang rusak dan bentuk kesyirikan kepada Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, tidak ada yang bisa memberi rizki, menyembuhkan segala macam penyakit, menolak segala macam marabahaya, memberikan segala macam manfaat, membahagiakan, menyengsarakan, menjadikan seseorang miskin dan kaya, yang menghidupkan, yang mematikan, yang meluluskan seseorang dari segala macam ujian, yang menaikkan dan menurunkan pangkat dan jabatan seseorang, kecuali Allah. Semuanya ini menuntut kita agar hanya meminta kepada Allah semata dan tidak kepada selain-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenal Uluhiyah Allah &lt;br /&gt;Uluhiyah Allah adalah mengesakan segala bentuk peribadatan bagi Allah, seperti berdo’a, meminta, tawakal, takut, berharap, menyembelih, bernadzar, cinta, dan selainnya dari jenis-jenis ibadah yang telah diajarkan Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperuntukkan satu jenis ibadah kepada selain Allah termasuk perbuatan dzalim yang besar di sisi-Nya yang sering diistilahkan dengan syirik kepada Allah. &lt;br /&gt;Allah berfirman di dalam Al Qur’an: &lt;br /&gt;“Hanya kepada-Mu ya Allah kami menyembah dan hanya kepada-Mu ya Allah kami meminta.” (QS. Al Fatihah: 5) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah membimbing Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu dengan sabda beliau: &lt;br /&gt;“Dan apabila kamu minta maka mintalah kepada Allah dan apabila kamu minta tolong maka minta tolonglah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman: &lt;br /&gt;“Dan sembahlah Allah dan jangan kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun” (QS. An Nisa: 36) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman: &lt;br /&gt;“Hai sekalian manusia sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al Baqarah: 21) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ayat-ayat dan hadits di atas, Allah dan Rasul-Nya telah jelas mengingatkan tentang tidak bolehnya seseorang untuk memberikan peribadatan sedikitpun kepada selain Allah karena semuanya itu hanyalah milik Allah semata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Allah berfirman kepada ahli neraka yang paling ringan adzabnya. ‘Kalau seandainya kamu memiliki dunia dan apa yang ada di dalamnya dan sepertinya lagi, apakah kamu akan menebus dirimu? Dia menjawab ya. Allah berfirman: ‘Sungguh Aku telah menginginkan darimu lebih rendah dari ini dan ketika kamu berada di tulang rusuknya Adam tetapi kamu enggan kecuali terus menyekutukan-Ku.” ( HR. Muslim dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu ) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Allah berfirman dalam hadits qudsi: “Saya tidak butuh kepada sekutu-sekutu, maka barang siapa yang melakukan satu amalan dan dia menyekutukan Aku dengan selain-Ku maka Aku akan membiarkannya dan sekutunya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu ) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh konkrit penyimpangan uluhiyah Allah di antaranya ketika seseorang mengalami musibah di mana ia berharap bisa terlepas dari musibah tersebut. Lalu orang tersebut datang ke makam seorang wali, atau kepada seorang dukun, atau ke tempat keramat atau ke tempat lainnya. Ia meminta di tempat itu agar penghuni tempat tersebut atau sang dukun, bisa melepaskannya dari musibah yang menimpanya. Ia begitu berharap dan takut jika tidak terpenuhi keinginannya. Ia pun mempersembahkan sesembelihan bahkan bernadzar, berjanji akan beri’tikaf di tempat tersebut jika terlepas dari musibah seperti keluar dari lilitan hutang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qoyyim mengatakan: “Kesyirikan adalah penghancur tauhid rububiyah dan pelecehan terhadap tauhid uluhiyyah, dan berburuk sangka terhadap Allah.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenal Nama-nama dan Sifat-sifat Allah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya, kita beriman bahwa Allah memiliki nama-nama yang Dia telah menamakan diri-Nya dan yang telah dinamakan oleh Rasul-Nya. Dan beriman bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang tinggi yang telah Dia sifati diri-Nya dan yang telah disifati oleh Rasul-Nya. Allah memiliki nama-nama yang mulia dan sifat yang tinggi berdasarkan firman Allah: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Allah memiliki nama-nama yang baik.” (Qs. Al A’raf: 186) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Allah memiliki permisalan yang tinggi.” (QS. An Nahl: 60) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, kita harus beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah sesuai dengan apa yang dimaukan Allah dan Rasul-Nya dan tidak menyelewengkannya sedikitpun. Imam Syafi’i meletakkan kaidah dasar ketika berbicara tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah sebagai berikut: “Aku beriman kepada Allah dan apa-apa yang datang dari Allah dan sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Allah. Aku beriman kepada Rasulullah dan apa-apa yang datang dari Rasulullah sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Rasulullah” (Lihat Kitab Syarah Lum’atul I’tiqad Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin hal 36) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berbicara tentang sifat-sifat dan nama-nama Allah yang menyimpang dari yang dimaukan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka kita telah berbicara tentang Allah tampa dasar ilmu. Tentu yang demikian itu diharamkan dan dibenci dalam agama. Allah berfirman: &lt;br /&gt;“Katakanlah: ‘Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tampa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah (keterangan) untuk itu dan (mengharamkan) kalian berbicara tentang Allah tampa dasar ilmu.” (QS. Al A’raf: 33) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu mengatakan apa yang kamu tidak memiliki ilmu padanya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya akan diminta pertanggungan jawaban.” (QS. Al Isra: 36) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu ‘alam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-3691626752301017602?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/3691626752301017602/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/12/mengenal-alloh-agar-mendatangkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/3691626752301017602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/3691626752301017602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/12/mengenal-alloh-agar-mendatangkan.html' title='Mengenal Alloh (Agar mendatangkan  Kecintaan Hakiki)'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SxmqbW4chcI/AAAAAAAAAFM/M73su9wgCUk/s72-c/allah_20070514_132645.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-2307945869299261586</id><published>2009-11-26T06:24:00.002+07:00</published><updated>2009-11-26T06:38:02.357+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Tuntunan Shalat ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adha (Bag 2)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/Sw2_gyd2DlI/AAAAAAAAAFE/W1kurK7PKwU/s1600/ucapan-idul-adha+2.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 255px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/Sw2_gyd2DlI/AAAAAAAAAFE/W1kurK7PKwU/s400/ucapan-idul-adha+2.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5408189297565503058" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p aglin="justify"&gt;Pada bagian yang pertama telah disebutkan beberapa tuntunan dalam sholat iedul adha, pada bagian yang kedua ini akan di bahas mengenai tata cara sholat 'ied, dzikir, khutbah dan wajibnya makmum mendengarkan khutbah 'ied...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;8. Tata cara pengerjaan Shalat ‘Ied&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Shalat ‘Ied Shalat dua raka’at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;Yakni dimana pelaksanaannya sebagaimana dengan pelaksanaan shalat lainnya, dimulai dengna takbiratul ihram dan diakhir dengan salam. Hanya saja terdapat takbir tambahan selain takbiratul ihram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandaran hukumnya:&lt;br /&gt;Hadist Abu Waqid Al-Laitsi dan juga hadits An-Nu’man bin Basyir yang keduanya diriwayatkan oleh Imam Muslim. Dimana pada hadits Abu Waqid Al-Laitsi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada raka’at pertama membaca surah,&lt;br /&gt;(( Qaaf ))&lt;br /&gt;Dan pada raka’at kedua membaca:&lt;br /&gt;(( Iqtarabatis-saa`ah wan-syaqal Qamar ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada hadits An-Nu’man bin Basyir, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam pada raka’at pertama membaca:&lt;br /&gt;(( Sabbihisma Rabbikal-a’laa ))&lt;br /&gt;Dan pada raka’at kedua membaca:&lt;br /&gt;(( Hal ataaka haadiitsul-ghaasyiyah ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadist Umar radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, “Shalat jum’at dua raka’at, shalat ‘iedul fithri dua raka’at, shalat ‘iedul adha dua raka’at, shalat safar dua raka’at. Sebagai shalat yang sempurna bukanlah qashar, melalui penyampaian lisan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.“&lt;br /&gt;[Diriwayatkan oleh An-Nasa’i (3/1420 dan 1566) serta di dalam Al-Kubra (1/1733 dan 1734), Ibnu Majah (1/1063), Ahmad (1/37) dan selain mereka]&lt;br /&gt;An-Nawawi di dalam Al-Majmu’ (5/17) dan Ibnu Qudamah didalam Al-Mughni (2/233) mengutip ijma’/konsensus ulama bahwa shalat ‘iedain dua rakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Takbir Tambahan pada shalat ‘Ied (Tujuh takbir pada raka’at pertama dan lima kali takbir pada raka’at kedua) sebelum membaca Al-Fatihah, selain takbiratul ihram dan takbir disaat menuju raka’at kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandaran hukumnya:&lt;br /&gt;Hadist Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata, “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertakbir tujuh kali pada raka’at pertama dan lima kali pada raka’at terakhir, selain dua takbir ruku’ “&lt;br /&gt;[Diriwayatkan oleh Ahmad (6/70), Abu Daud (1/1150), Ad-Daraquthni (2/47) dan Al-Baihaqi (3/287) dan selain mereka ].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadist Abdullah bin ‘Amru bin Al-‘Ash, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Takbir pada shalat ‘iedul fithri tujuh kali pada raka’at pertama dan lima kali pada raka’at terakhir. Dan membaca Al-Fatihah setelah kedua takbir tersebut. “&lt;br /&gt;[HR. Abu Daud (1/1151), Ad-Daraquthni (2/48), Al-Baihaqi (3/285), dan selainnya]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat perbedaan ulama dalam takbir tambahan pada shalat ‘Iedain. Namun riwayat yang shahih menunjukkan bahwa takbir tambahan adalah tujuh kali pada raka’at pertama dan lima kali pada raka’at kedua. Adapun selain itu, sandarannya tidaklah shahih dari sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikian juga takbir tambahan ini adalah selain takbiratul ihram, berdasarkan riwayat lainnya pada hadits Abdullah bin ‘Amru bin Al-‘Ash dengan lafazh, “selain takbiratul ihram,” yang dishahihkan oleh beberapa imam ahlil Hadist, diantara mereka adalah Imam Ahmad dan Al-Bukhari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Apakah Mengangkat tangan disaat takbir ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;Perihal mengangkat tangan disaat takbir tambahan, terdapat perbedaan dikalangan ulama. Diantara mereka ada yang membolehkan mengangkat tangan sebagaimana mengangkat tangan pada takbiratul ihram. Dan ini merupakan pendapat Asy-Syafi’i, Ahmad, Abu Hanifah, Al-Auza’i, Atha’, Ibnul Mundzir, Al-Bukhari dan selain mereka.&lt;br /&gt;Sedangkan ulama lainnya, diantara mereka adalah Ats-Tsauri, Ibnu Abi Laila, Abu Yusuf, Malik bin Anas dan Ibnu Hazm azh-Zhahiri berpendapat untuk tidak mengangkat tangan selain hanya pada takbiratul ihram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masing-masing madzhab diatas berargumen dengan dalil dari atsar dan juga logika. Adapun dari atsar (hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan dari sahabat), hampir semua jalan periwayatannya terdapat kritikan dan diperbincangkan oleh ulama. Bahkan tidak satupun yang shahih diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam , berkaitan dengan masalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dari tinjauan logika, disebutkan oleh Asy-Syafi’i, Al-Kasaani dan selain mereka, bahwa tujuan dari takbir adalah pemberitahuan takbir tambahan bagi yang tidak dapat mendengar, karena tuli atau karena jauh dari Imam sehingga tidak mendengar suara takbir imam. Logika ini cukup kuat untuk dijadikan alasan bagi yang membolehkan mengangkat tangan ketika takbir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun yang menolak mengangkat tangan disaat takbir, berargumen tidak adanya atsar dari sahabat yang shahih bahwa mereka melakukannya, … sementara mengangkat tangan disaat takbir adalah ibadah, terlebih didalam shalat. Yang harus berpedoman kepada dalil syara’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya : Tidak mengapa mengangkat tangan pada takbir tambahan dan tidak juga sepatutnya bagi yang berpendapat tidak mengangkat tangat ketika takbir tambahan mengingkari hal tersebut, apalagi hingga dikategorikan sebagai bid’ah. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Dzikir yang dibaca diantara dua takbir tambahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;Berkaitan dengan masalah ini, tidak satupun hadits yang shahih maupun dha’if yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan adanya dzikir diantara dua takbir tambahan. Bahkan tidak satupun atsar dari sahabat yang shahih dalam masalah ini. Pendapat ini merupakan pendapat Malik bin Anas dan Al-Auza’i.&lt;br /&gt;Adapun sebagian ulama lainnya membolehkan adanya dzikir diantara dua takbir. Diantara yang membolehkan adalah Atha’, Asy-Syafi’i, Ahmad, Ibnul Mundzir dan juga merupakan pendapat yang diperbolehkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Mereka berdalilkan atsar yang diriwayatkan dari Atha’ dan Makhul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Seiring dengan perbedaan pendapat diatas, demikian juga dengan bacaan/dzikir yang dibacakan antara dua takbir tambahan. Apakah ada bacaan dzikir tertentu atau tidak?&lt;br /&gt;Imam Asy-Syafi’i didalam Al-Umm (1/395) menyebutkan, “Bahwa diamnya seseorang diantara dua takbir tambahan, seukuran membaca sebuah ayat yang tidak panjang dan juga tidak pendek. Lalu dia membaca tahlil, takbir dan tahmid … “&lt;br /&gt;Berkata Imam Ahmad pada “ Su`alaat Ibnu Hani` “ ( hal. 93 ), “ Dia bertasbih , bertahlil dan membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.”&lt;br /&gt;Dan sekali waktu beliau mengatakan, “Shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu setiap doa yang diucapkannya juga baik.”&lt;br /&gt;Jadi diperbolehkan dengan dzikir yang berupa tahlil, tahmid, tasbih, shalawat serta doa apapun diantara dua takbir tambahan. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bacaan Surah Al-Fatihah dan Surah setelahnya, dibacakan dengan suara nyaring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;Diantara sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada shalat ‘Ied adalah membaca surah Qaaf atau Al-A’laa pada raka’at pertama dan surah Al-Qamar atau Al-Ghasyiah pada raka’at kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandaran hukumnya:&lt;br /&gt;Hadist Abu Waqid Al-Laitsi radhiallahu ‘anhu, beliau ditanya, “Surah apakah yang dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada shalat ‘Iedul fithri dan ‘Iedul adha ?”&lt;br /&gt;Beliau menjawab, “Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam pada kedua shalat tersebut membaca:&lt;br /&gt;(( Qaaf ))&lt;br /&gt;Dan:&lt;br /&gt;(( Iqtarabatis-saa`ah … ))&lt;br /&gt;(HR. Muslim no. 891)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada hadits An-Nu’man bin Basyir, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada shalat ‘Iedain dan shalat jum’at membaca:&lt;br /&gt;(( Sabbihisma Rabbikal-a’laa ))&lt;br /&gt;Dan:&lt;br /&gt;(( Hal ataaka hadiitsul-ghaasyiyah ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua hadits diatas, dijadikan sandaran hukum juga oleh sebagian ulama, bahwa bacaan pada shalat ‘Iedain adalah bacaan yang dibaca dengan jahar/suara keras. Mereka mengatakan:&lt;br /&gt;1. Sahabat tidaklah mengetahui bacaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada shalat ‘Iedain kecuali jika beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjaharkan bacaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pada hadits An-Nu’man, sifat bacaan shalat ‘Iedain disetarakan dengan sifat bacaan pada shalat jum’at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Shalat ‘Iedain adalah shalat jama’ah dengan khutbah yang dapat dianalogikan dengan shalat jum’at yang juga dengan khutbah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat mengeraskan bacaan pada shalat ‘Iedain adalah pendapat Malik, Asy-Syafi’i dan sebagian besar ulama Islam. Ibnu Qudamah di dalam Al-Mughni (2/336) mengatakan, “Saya tidak mengetahui ada perbedaan pendapat dalam masalah ini, kecuali yang diriwayatkan dari Ali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan hadits ‘Ali adalah hadits yang dha’if. Pada sanadnya terdapat Al-Aslami dia perawi yang matruk (ditinggalkan). Dan sanad lainnya terdapat Al-Harits seorang perawi yang dha’if.&lt;br /&gt;Diantara ulama yang juga mengutip ijma’ seperti pernyataan Ibnu Qudamah: Az-Zarkasyi dan Al-Qurthubi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Khutbah Al-‘Iedain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Khutbah ‘Ied dilakukan setelah shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;Yang wajib adalah mendahulukan shalat baru selanjutnya khathib khutbah pada hari ‘Iedain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandaran hukumnya:&lt;br /&gt;Hadist yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, dari hadits Ibnu Abbas, beliau berkata, “Saya telah menyaksikan shalat ‘Ied bersama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , Abu Bakar, Umar dan Utsman radhiallahu’anhum, semuanya mengerjakan shalat sebelum khutbah.”&lt;br /&gt;Demikian juga hadits Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , Abu Bakar dan Umar radhiallahu ‘anhuma mengerjakan shalat ‘Iedain sebelum khutbah“ ( HR. Al-Bukhari dan Muslim ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim didalam Shahihnya meriwayatkan hadits Jabir, beliau berkata, “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat pada hari ‘iedul fithri, dimana beliau memulai shalat sebelum khutbah. Setelah beliau menyelesaikan khutbah, beliau lantas mendatangi wanita dan mengingatkan mereka. Beliau bersandar kepada Bilal, smeentara Bilal menghamparkan pakaian beliau , dan para wanita melemparkan sedekah mereka.”&lt;br /&gt;Juga semisalnya diriwayatkan dari hadits Abu Said Al-Khudri (Muttafaq ‘alaihi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Sunnah mengerjakan Khutbah sambil berdiri diatas tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;Terdapat beberapa hadits yang menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam khutbah ‘Ied diatas tanah, tanpa berdiri diatas mimbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantaranya hadits Abu Sa’id Al-Khudri, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar untuk mengerjakan shalat ‘Iedul fithri atau ‘Iedul adha di mushalla/lapangan. Kemudian beliau melewati kaum wanita, maka beliau bersabda: “ Wahai kaum wanita bersedekahlah kalian, karena sesungguhnya saya telah melihat penghuni neraka adalah kalian … “&lt;br /&gt;( HR. Al-Bukhari dan Muslim )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada lafadz lainnya, “ … lalu beliau memulai dengan shalat, setelah beliau shalat dan mengucapkan salam, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam lantas menghadap kepada kaum muslimin, sementara mereka duduk di tempat mereka … “&lt;br /&gt;Juga hadits Ibnu Abbas yang telah disebutkan sebelumnya, beliau ditanya, “ Apakah anda menyaksikan shalat ‘Ied bersama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau mengatakan, “ Iya, seandainya bukan karena keberadaan saya disisi beliau tidaklah saya menyaksikannya- yaitu karena usia beliau yang masih kecil- lalu beliau mendatangi gundukan tanah yang berada didekat kediaman Katsir bin Ash-Shalat, lalu beliau khutbah. Kemudian beliau mendatangi kaum wanita, menasihati mereka, dan memerintahkan mereka untuk berdedekah … “&lt;br /&gt;( HR. Al-Bukhari dan selainnya )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Pada hadits diatas menunjukkan pula sunnahnya bersedekah pada hari ‘Ied, terutama bagi kaum wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Khutbah ‘Ied terdiri atas dua kali Khutbah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;Khutbah ‘Ied adalah dua kali khutbah diselingi dengan duduk diantara dua khutbah. Berkata Imam Abu Muhammad Ibnu Hazm rahimahullah, “ … Apabila imam telah salam, maka imam berdiri untuk khutbah kehadapan kaum muslimin dengan dua kali khutbah diselingi dengan duduk diantaranya, … -lalu beliau berkata : - “dan pada masalan ini tidak terdapat perbedaan pendapat diantara ulama “ (Al-Muhalla 5/82)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hadits-hadits yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam , tidak satupun yang shahih menunjukkan adanya dua kali khutbah ‘Ied. Namun sebagian ulama hadits seperti An-Nasaa’i didalam Al-Kubra yang mencantumkan hadits dua kali khutbah jum’at pada bab. Khutbah ‘Iedain, demikian juga dengan Ibnu Khuzaimah (2/349) yang mencantumkan hadits khutbah jum’at dari hadits Ibnu Umar pada masalah khutbah ‘Iedain. Isyarat bahwa khutbah ‘Ied semisal dengan khutbah jum’at.&lt;br /&gt;- Mengawali Khutbah dengan bacaan “ Innal Hamda lillah … dst “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;Berkaitan dengan sebagian besar yang diamalkan oleh kaum muslimin/para khathib shalat ‘Ied, yakni bertakbir sembilan kali diawal khutbah ‘Ied, amalan tersebut merupakan pendapat dari Malik bin Anas, Asy-Syafi’i, Ahmad dan selain mereka. Sebagian besar pendapat yang mereka utarakan, bahwa khathib pada khutbah pertama bertakbir sembilan kali dan pada khutbah yang kedua bertakbir tujuh kali takbir.&lt;br /&gt;Bahkan Imam Malik menambahkan bahwa kaum muslimin bertakbir bersama dengan imam.&lt;br /&gt;Argumen mereka sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hadist ‘Ubaidullah bin Abdullah bin’Utbah, beliau berkata, “Termasuk sunnah bertakbir diatas mimbar pada hari ‘Ied ketika memulai khutbah pertama dengan sembilan takbir sebelum khutbah dan pada khutbah selanjutnya dengan tujuh kali takbir.” [Hadist ini diriwayatkan oleh Abdurrazzaq (5672, 5673, 3674), Ibnu Abi Syaibah (5865), Al-Baihaqi (3/299). Hadist ini didalamnya terdapat perawi yang matruk]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bahwa pada hari itu adalah hari takbir, olehnya itu disyari’atkan untuk memulai takbir disaat memulai khutbah ‘Ied.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan juga murid beliau Ibnul Qayyim rahimahullah kedua berpendapat bahwa yang sunnah adalah memulai dengan ucapan: “ Innalhamda lillah … “ tanpa takbir diawal khutbah ‘Ied. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah memulai khutbah beliau dengan selain ucapan tersebut. Pendapat kedua imam ini lebih tepat kiranya, dengan mengacu dha’ifnya hadits diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun argumen kedua, mungkin dapat dijawab, -jikalau benar adanya – maka hanya berlaku untuk ‘Iedul adha, disebabkan takbir pada ‘Iedul fithri berakhir disaat imam khutbah. Akan tetapi khutbah ‘Ied tidaklah menjadi batal karena hal ini, dan tidak juga diingkari bagi yang melakukannya. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Menghadiri Khutbah ‘Ied wajib menurut pandangan yang shahih dari Ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;Sebagian besar ulama Madzahib berpendapat menghadiri khutbah ‘Ied sunnah, dan tidak sampai ke derajat wajib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama tersebut berargumen dengan hadits Abdullah bin As-Saa`ib radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat ‘Ied, lalu beliau bersabda, “Barang siapa yang menyenangi untuk berpaling, maka tidak mengapa baginya untuk berpaling. Dan barang siapa yang menyenangi untuk menyimak khutbah hndaknya dia menyimak.“&lt;br /&gt;[Hadist ini diriwayatkan oleh An-Nasaa’i (3/1571) dan didalam Al-Kubra (1/1779), Abu Daud (1/1155), Ibnu Majah (1/1290), Al-Hakim (1/295), Ibnu Khuzaimah (2/1462) dan selain mereka].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadist ini yang shahih adalah hadits mursal. Sebagaimana yang disebutkan oleh An-Nasa’i, Abu Daud, Ibnu Khuzaimah dan demikian juga Abu Zur’ah Ar-Razi merajihkan bahwa hadits diatas adalah hadits yang mursal. ( Al-‘Ilal 1/513 dan Fathul Bari karya Ibnu Rajab 9/48–49).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan juga diriwayatkan dari mursal Atha’, semakna dengan hadits diatas.&lt;br /&gt;Sementara itu, diriwayatkan dari Imam Malik dan Imam Ahmad pendapat yang menyiratkan wajibnya menghadiri khutbah ‘Ied. Bahkan Imam Malik melarang kaum wanita dan hamba sahaya untuk berpaling meninggalkan khutbah ‘Ied.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara argumen mereka adalah hadits-hadits yang menyebutkan bahwa khutbah ‘Ied adalah bagian dari syi’ar ‘Ied. Dan juga seiring dengan pendapat yang mewajibkan kaum muslimin bahkan kaum wanita untuk menghadiri shalat ‘Ied, menyaksikan berkah dan da’wah kaum muslimin, dimana hal tersebut akan dijumpai disaat khutbah ‘Ied.&lt;br /&gt;Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Disunnahkan duduk diam dan mendengarkan Khutbah ‘Ied&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Ummu ‘Athiyah, beliau berkata: “ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan kepada kami mengajak kaum wanita keluar pada hari ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adha, yakni wanita-wanita yang telah berusia lanjut, wanita yang dalam keadaan haidh dan juga gadis belia. Adapun wanita yang dalam keadaan haidh maka mereka diperintahkan untuk memisahkan diri dari mushalla ‘ied, dan menyaksikan kebaikan yang ada pada hari itu serta menyaksikan dakwah kaum muslimin.”&lt;br /&gt;“ Menyaksikan dakwah kaum muslimin … “ dijelaskan oleh Ibnu Rajab yakni khutbah ‘Ied.&lt;br /&gt;Hanya saja, sebagian ulama memandang tidak wajib untuk diam mendengarkan khutbah ‘Ied. Dan hanya sebatas sunnah. Karena jika dianggap wajib maka akan mengharuskan pula wajibnya menghadiri khutbah ‘Ied, sementara sebagian besar ulama berpendapat tidak wajibnya, seperti yang telah dikemukakan diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faidah :&lt;br /&gt;Hukum bersalaman dan tahni`a setelah shalat ‘Ied&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari atsar Abdullah bin Busr, Abdurrahman bin ‘Aidz, Jubair bin Nadhir dan Khalid bin Mi’dan, “Bahwa diucapan kepada mereka ucapan: Taqabbalallahu minna wa minkum ( semoga Allah menerima amalan kami dan kalian), dan juga mereka mengucapkanya kepada selain mereka.“&lt;br /&gt;(Diriwayatkan oleh Al-Ashbahani didalam At-Targhib (1/381) dengan sanad yang tidak mengapa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan atsar ini pula, pembolehan mengucapkan ucapan tersebut merupakan amalan yang sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tidak mengapa mengucapkan ucapan selain ucapan diatas, disebabkan tidak adanya hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menerangkan hal tersebut, baik apakah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengamalkanya atau melarangnya. Yang ada hanyalah amalan sejumlah sahabat radhiallahu ‘anhum.&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, didalam Majmu’ Al-Fatawa (24/253) , membolehkannya dengan ucapan diatas dan juga yang semisalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Imam Ahmad, driwayatkan bahwa beliau membolehkannya hanya saja beliau tidak memulainya. Namun jika ada yang memulai maka beliau menjawabnya. (Al-Furu’ 2/150).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallohu'alam&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-2307945869299261586?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/2307945869299261586/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/11/tuntunan-shalat-iedul-fithri-dan-iedul_26.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/2307945869299261586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/2307945869299261586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/11/tuntunan-shalat-iedul-fithri-dan-iedul_26.html' title='Tuntunan Shalat ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adha (Bag 2)'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/Sw2_gyd2DlI/AAAAAAAAAFE/W1kurK7PKwU/s72-c/ucapan-idul-adha+2.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-3597429997603689615</id><published>2009-11-26T06:13:00.004+07:00</published><updated>2009-11-26T06:24:15.867+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Tuntunan Shalat ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adha (Bag 1)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/Sw28WK1jqwI/AAAAAAAAAE8/S1IfYIyCA3M/s1600/ucapan-idul-adha.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/Sw28WK1jqwI/AAAAAAAAAE8/S1IfYIyCA3M/s400/ucapan-idul-adha.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5408185816593967874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sebentar lagi Idul adha akan tiba, dan pada hari ied, baik iedul fitri maupun iedul adha di sunnahkan untuk mengerjakan sholat ied, penting bagi kaum muslimin untuk mengetahui tuntunan dalam melaksanakan sholat ied agar ibadah kita di terima dan sesuai dengan tuntunan Rasululloh Salallohu'alaihi wassalam...&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;1. Hukum Shalat Al-’Iedain ( Shalat dua hari Raya )&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;Terdapat perbedaan pendapat dikalangan Ulama Islam seputar hukum shalat ‘Iedain , baik itu shala ‘Iedul Fithri ataukah shalat ‘Iedul Adha. Sebagian Ulama berpendapat shalat ‘Iedain adalah termasuk diantara shalat-shalat yang sunnah. Sebagian lainnya berpendapat shalat ‘Iedain fardhu kifayah dan yang lainya berpendapat shalat ‘Iedain shalat yang fardhu ‘ain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat yang terakhir ini, adalah pendapat yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yang merupakan madzhab Imam Abu Hanifah, dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Bahkan Imam Asy-Syafi’i, sebagaimana didalam Mukhtashar Al-Muzani, menyatakan, “Barang siapa yang diwajibkan baginya shalat jum’at maka wajib pula untuk menghadiri shalat ‘Ied.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat ini juga merupakan pendapat Ash-Shan’ani dan Shiddiq Hasan Khan.&lt;br /&gt;Diantara dalil yang menunjukkan wajibnya shalat ‘Iedain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Dalam hadist Nabi shallahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan perintah beliau kepada kaum wanita, bahkan bagi yang dalam keadaan haidh, untuk menghadiri shalat ‘Iedain. Kemudian bagi wanita yang haidh mundur di bagian belakang shaf wanita disaat shalat didirikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Perintah Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bagi para sahabat untuk mengerjakan shalat ‘Iedain, dan juga beliau turut mengerjakannya, serta para Khalifah sepeninggal beliau dan kaum muslimin hingga zaman ini. Bahkan tidak ada satupun negeri Islam yang meninggalkan pengerjaan shalat ‘Iedain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Demikian pula jika shalat ‘Iedain bertepatan dengan shalat jum’at, maka shalat jum’at menjadi gugur kewajibannya. Dan seperti ini tidaklah mungkin dipahami kecuali bahwa shalat ‘Iedain merupakan shalat yang wajib. Uraiannya akan disebutkan pada pembahasan berikutnya insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Waktu Pengerjaan Shalat ‘Ied.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;Disenangi untuk menyegerakan pengerjaan shalat ‘ied. Dan yang paling utama, seseorang telah mendatangi mushalla ‘ied disaat matahari baru saja terbit, dan jika dapat dilakukan sebelum itu, maka lebih utama lagi.&lt;br /&gt;Diantara dalil-dalil yang menunjukkan hal tersebut, adalah amalan para sahabat radhiallahu ‘anhum:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Atsar Abdullah bin Umar. Berkata Nafi’, “Ibnu Umar biasanya mengerjakan shalat shubuh di masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian beliau berangkat menuju mushalla ‘ied.“ [HR. Ibnu Abi Syaibah (1/ 5609) dan juga Ibnul Mundzir didalam Al-Ausath (4/260) ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Atsar Salamah bin Al-Akwa’. Dari jalan Yazid bin Abu’Ubaid, dia berkata, “Saya telah mengerjakan shalat shubuh bersama Salamah bin Al-Akwa’ di masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian saya keluar bersama beliau ke mushalla dan saya duduk hingga imam datang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dan beberapa atsar juga dari ulama Tabi’in, diantaranya atsar Umar bin Abdul Azis, Abu Abdirrahman As-Sulami, Ibrahim An-Nakha’i dan selain mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Hukum Shalat ‘Ied bagi Musafir dan bagi orang sakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;Adapun bagi musafir, maka tidak diwajibkan baginya mengerjakan shalat ‘Iedain. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, setelah menyebutkan tiga pendapat ulama dalam masalah ini, salah satu diantaranya –yaitu pendapat pertama-, Bahwa mukimnya seseorang adalah syarat wajibnya shalat ‘Ied dan juga shalat jum’at. Dan ini merupakan pendapat mayoritas Ulama. Merupakan pendapat didalam madzhab Abu Hanifah, Malik bin Anas dan Ahmad pada riwayat beliau yang paling shahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasannya: Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak sekalipun mengerjakan shalat dan khutbah ‘Iedain dan jum’at di saat beliau besafar. Tidaklah beliau mengerjakan shalat ‘Ied di Mina, dan sewaktu Futuh Makkah yang pada saat itu terjadi di bulan Ramadhan, hingga datangnya hari ‘Ied, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah mengerjakan shalat ‘Iedul Fithri. Demikian juga para khalifah sepeninggal beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan bagi seorang yang sakit, maka dia beroleh udzur tidak menghadiri shalat ‘Iedain di Mushalla ‘Ied, jikalau tidak sanggup untuk bangkit dan berdiri berjalan menuju mushalla ‘ied. Dan bagaimanakah seorang yang sakit dan yang mempunyai udzur mengerjakan shalat pada hari ‘Iedain? Pembahasannya akan disebutkan pada poin yang ketujuh, insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Hukum Shalat ‘Ied bagi wanita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;Shalat ‘Ied bagi wanita hukumnya wajib.&lt;br /&gt;Sandaran hukumnya:&lt;br /&gt;Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan didalam kitab Shahih mereka berdua dari hadits Ummu ‘Athiyah, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan kepada kami mengajak kaum wanita keluar pada hari ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adha, yakni wanita-wanita yang telah berusia lanjut, wanita yang dalam keadaan haidh dan juga gadis belia. Adapun wanita yang dalam keadaan haidh maka mereka diperintahkan untuk memisahkan diri dari mushalla ‘ied, dan menyaksikan kebaikan yang ada pada hari itu serta menyaksikan dakwah kaum muslimin.”&lt;br /&gt;Saya bertanya: “Wahai Rasulullah, salah seorang diantara kami tidak mempunyai jilbab.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Saudaranya meminjamkan jilbabnya baginya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Sunnah mengerjakan Shalat Al-‘Iedain dikerjakan di lapangan terbuka ( Mushalla )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;Termasuk diantara Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah keluar mengerjakan shalat ‘Iedain (‘iedul fithri dan ‘iedul adha) di lapangan terbuka (mushalla), kecuali jika ada udzur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandaran hukumnya :&lt;br /&gt;Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri, beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasanya keluar pada hari ‘iedul fithri dan ’iedul adha menuju mushalla. Dan yang pertama kali beliau kerjakan adalah shalat, setelah itu beliau berbalik menghadap kepada kaum muslimin, dimana mereka duduk di shaf-shaf mereka. Lalu beliau menasihati dan memberi wasiat kepada mereka serta memerintahkan kepada mereka .. “&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “ Tidaklah seorangpun dari kaum muslimin mengerjakan shalat ‘ied di masjid kabilahnya dan tidak juga dirumahnya. Sebagaimana mereka tidaklah mengerjakan shalat jum’at di masjid-masjid kabilah.“ (Majmu’ Al-Fatawa 4/480)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Ibnul Mundzir didalam Al-Ausath (4/257), “Termasuk sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah keluarnya kaum muslimin menuju lapangan ‘ied (mushalla) untuk mengerjakan shalat ‘ied. Apabila sebagian kaum tidak kuasa untuk keluar ke lapangan, maka imam memerintahkan seseorang untuk menjadi imam shalat di masjid bagi kaum yang lemah tersebut.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Hal-hal yang Sunnah sebelum pelaksanaan Shalat ‘Ied&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Mandi sebelum menuju Mushalla ‘Ied&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;Disunnahkan untuk mandi sebelum menuju Mushalla ‘Ied.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandaran hukumnya:&lt;br /&gt;Atsar dari Abdullah bin ’Umar radhiallahu ‘anhuma, yang diriwayatkan oleh Imam Malik dari Nafi’, beliau berkata, “Ibnu Umar senantiasa mandi pada hari ‘Iedul Fithri sebelum beliau menuju ke mushalla ‘ied.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atsar ini juga diriwayatkan oleh Abdurrazzaq didalam Mushannaf beliau, Asy-Syafi’i didalam Al-Umm dan Al-Musnad serta selainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian ulama bahkan menyatakan adanya konsensus diantara ulama Islam bahwa mandi sebelum menuju mushalla ‘ied adalah perbuatan yang baik dan sunnah. Diantara mereka Ibnu Abdil Barr didalam Al-Istidzkar, An-Nawawi didalam Al-Majmu’ dan Ibnu Rusyd didalam Bidayah Al-Mujtahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun waktu mandi ‘Ied, yang paling utama adalah setelah shalat shubuh/setelah waktu fajar. Dikarenakan pengandaian mandi ‘Ied berlaku pada hari dimana dikerjakan shalat ‘Ied. Adapun bagi yang mandi pada malam sebelumnya, maka tidaklah mengapa, jika bertujuan untuk bersegera menuju mushalla ‘Ied pada pagi harinya. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Disunnahkan Berhias dan Memakai wangi-wangian sebelum menuju mushalla ‘Ied.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;Berdasarkan atsar dari Abdullah Ibnu Umar, dari jalan Muhammad bin Ishaq dia berkata: Saya bertanya kepada Nafi’, “Apakah yang diperbuat oleh Abdullah bin Umar pada hari ‘Ied ?”&lt;br /&gt;Beliau mengatakan, “Beliau menghadiri shalat jama’ah shubuh bersama imam, kemudian beliau kembali ke rumah beliau,dan mandi sebagaimana beliau mandi janabah, kemudian memakai pakaian terbaik yang beliau miliki, memakai wangi-wangian yang paling harum yang beliau punyai, kemudian barulah setelah itu beliau mendatangi mushalla ‘ied. Beliau duduk hingga imam datang. Apabila imam telah tiba, maka beliau mengerjakan shalat bersama imam. Setelah itu beliau pulang, dan masuk ke dalam masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengerjakan shalat dua raka’at. Kemudian beliau mendatangi rumah beliau.”&lt;br /&gt;Atsar ini diriwayatkan oleh Al-Harits didalam Musnad beliau (sebagaimana di dalam Bughyah Al-Baahits 1/323 dan juga Al-Mathalib Al-‘Aliyah 1/305 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Disunnahkan memakan kurma sebelum keluar mengerjakan shalat ‘Ied Fithri , berbeda dengan shalat ‘Iedul Adha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari didalam Ash-Shahih (no.953), dari hadits Anas, beliau mengatakan, “ Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beranjak ke mushalla ‘ied pada pagi hari sehingga beliau memakan beberapa butir kurma.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan juga hadits Buraidah, Beliau mengatakan, “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah keluar untuk mengerjakan shalat ‘iedul fitri hingga beliau makan, dan tidaklah beliau makan pada ‘iedul adha hingga beliau mengerjakan shalat –terlebih dahulu.“&lt;br /&gt;( HR. At-Tirmidzi (2/542), Ibnu Majah (1/1756), Ahmad (5/352, 360 ), Al-Hakim (1/294) dan selainnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanad hadits ini dha’if disebabkan perawi bernama Tsawwab bin ‘Utbah Al-Mahri.&lt;br /&gt;Namun hadits Buraidah diatas dikuatkan oleh beberapa atsar, diantaranya yang diriwayatkan oleh Imam Malik didalam Al-Muwaththa` (432) dari jalan Ibnu Syihab Az-Zuhri, dia mengatakan, Sa’id bin Al-Musayyab mengatakan, “Bahwa kaum muslimin telah diperintahkan untuk makan sebelum beranjak ke mushalla pada ‘iedul fithri.”&lt;br /&gt;Dan juga atsar dari Asy-Sya’bi, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (1/5590), beliau berkata, Husyaim menceritakan kepada kami, dia berkata, Al-Mughirah menceritakan kepada kami dari Asy-Sya’bi, beliau mengatakan, “Termasuk Sunnah jika seseroang makan pada hari ‘iedul fithri sebelum berangkat ke mushalla dan mengakhirkan makan pada ‘iedul adha setelah kembali dari mushalla.”&lt;br /&gt;Demikian semakna dengan kedua atsar tersebut, diriwayatkan juga dari Az-Zuhri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Disunnahkan Bertakbir disaat menuju Mushalla ‘Ied dan sunnah mengeraskan takbir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;Bertakbir disaat menuju mushalla ‘Ied adalah amalan yang sunnah, dan telah diriwayatkan dari beberapa sahabat dan tabi’in yang mengamalkan amalan ini. Adapun riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka tidak ada satupun hadits yang shahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara atsar-atsar tersebut, adalah atsar Abdullah bin Az-Zubair, Sa’id bin Jubair, Abdurrahman bin Abi Laila, Al-Hakam, Hammad, Urwah bin Az-Zubair dan selainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disunnahkan pula untuk mengeraskan suara ketika bertakbir menuju mushalla ‘Ied. Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” ( Al-Baqarah : 185 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Ibnu Qudamah (2/226), “Makna menampakkan takbir adalah dengan mengeraskan suara ketika bertakbir.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan 1:&lt;br /&gt;Adapun hukum asal takbir adalah firman Allah Ta’ala:&lt;br /&gt;“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” ( Al-Baqarah : 185 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan firman Allah :&lt;br /&gt;“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”&lt;br /&gt;Dan kedua ayat tersebut berlaku umum serta tidak adanya hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan tata cara serta lafazh takbir tertentu, maka dalam hal ini diperbolehkan bertakbir dengan lafadz takbir manapun tanpa adanya pengingkaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan 2:&lt;br /&gt;Dan takbir di mushalla ‘Ied juga berlaku bagi laki-laki dan wanita. Berdasarkan hadits Ummu ‘Athiyah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Rajab didalam Fathul Bari (9/33)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan 3:&lt;br /&gt;Takbir pada ‘Iedul Adha lebih ditegaskan dari pada ‘Iedul Fithri. Dikarenakan takbir pada ’Iedul adha disyari’atkan pada setiap akhir shalat pada hari ‘Ied dan hari-hari tasyriq ( tiga hari setelah ‘Ied ).&lt;br /&gt;Demikian yang dirajihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ( Al-Fatawa 24/221–222).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Disunnahkan Berjalan kaki menuju Mushalla ‘Ied&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandaran hukumnya:&lt;br /&gt;Beberapa hadits yang menerangkan hal ini adalah hadits-hadits yang dha’if, baik karena hafalan perawinya atau karena riwayat mereka yang diperbincangkan oleh ulama hadits. Namun ada sejumlah atsar yang shahih menyebutkan sunnahnya berjalan kaki menuju mushalla ‘ied, diantaranya atsar Al-Hasan bin ‘Ali, Ibrahim An-Nakha’i dan Umar bin Abdul Azis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Mundzir mengatakan, “Berjalan kaki menuju shalat ‘ied lebih baik, dan lebih dekat kepada sifat tawadhu’ (kerendahan hati). Dan tidak mengapa seseorang berkendara menuju mushalla. “ (Al-Ausath 4/264).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At-Tirmidzi setelah menyebutkan hadits ‘Ali (yang dha’if disebabkan riwayat ‘an’anah Abu Ishaq serta Al-Harits yang merupakan perawi yang dha’if ) mengatakan, “Hadist ini diamalkan oleh sebagian besar ulama. Mereka menyukai seseorang keluar menuju mushalla ‘ied sambil berjalan dan makan sesuatu sebelum menuju mushalla ‘ied. Dan disenangi tidak berkendara menuju mushalla kecuali jika ada udzur.” (As-Sunan 2/411).&lt;br /&gt;An-Nawawi mengatakan, “Berjalan kaki lebih utama, namun jika seseorang berkendara ketika pulang dari mushalla maka hal tersebut tidak mengapa. Karena tidak memaksudkan lagi ibadah kepada Allah.“ (Al-Majmu’ 5/10–11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, jika seseorang memungkinkan berjalan kaki menuju mushalla ‘ied dan tidak memberatkannya atau menjadikannya terlambat menghadiri shalat ’ied, disunnahkan untuk berjalan kaki. Namun jika sampai menjadikann terlambat menghadiri shalat atau menyulitkannya maka tidak mengapa sambil berkendara. Wallahu a’lam bish-shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Disunnahkan menyertakan anak-anak untuk menghadiri shalat ‘Ied.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandaran hukumnya:&lt;br /&gt;Hadist yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no.977), dari jalan Sufyan dari Abdurrahman bin Abbas, beliau berkata, Saya telah mendengar dari Ibnu Abbas, dimana beliau ditanya, “Apakah anda turut serta menyaksikan shalat ‘ied bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?” Beliau berkata, “Iya, seandainya bukan karena keberadaan saya yang masih kecil niscaya saya tidak akan menyaksikannya… “&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Bahwa perkataan beliau, “seandainya bukan karena keberadaan saya yang masing kecil, niscaya saya tidak akan menyaksikannya ..“ yaitu menyaksikan nasihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kaum wanita, disebabkan anak kecil masih ditolerir untuk berada disekitar kaum wanita berbeda dengan laki-laki dewasa.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Disunnahkan menyelisihi jalan disaat menuju dan disaat kembali dari Mushalla ‘Ied&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandaran hukumnya:&lt;br /&gt;Hadist yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari hadits Jabir radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi shalat ‘Ied, beliau menyelisihi jalan-berangkatnya- “&lt;br /&gt;Dan juga diriwayatkan dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, “Bahwa apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar mendatangi shalat ‘Ied, beliau pulang melewati jalan selain jalan yang beliau lewati ketika berangkat “&lt;br /&gt;[ HR. At-Tirmidzi (2/541), Ibnu Majah (1/1301), Ahmad (2/338), Al-Hakim (1/296) dan selainnya ].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Shalat ‘Ied bagi yang mempunyai udzur tidak dapat menuju Lapangan/Mushalla ‘Ied.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;Telah disinggung sebelumnya, bahwa seorang yang sakit atau mempunyai udzur, diperbolehkan untuk tidak menghadiri mushalla ‘ied.&lt;br /&gt;Berkata Ibnul Mundzir didalam Al-Ausath (4/257), “Termasuk sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah keluarnya kaum muslimin menuju lapangan ‘ied (mushalla) untuk mengerjakan shalat ‘ied. Apabila sebagian kaum tidak kuasa untuk keluar ke lapangan, maka imam memerintahkan seseorang untuk menjadi imam shalat di masjid bagi kaum yang lemah tersebut.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandaran hukumnya:&lt;br /&gt;Hadist Ali bin Abi Thalib, dimana beliau memerintahkan seseorang sebagai ganti imam shalat bagi orang-orang yang tua renta lagi lemah di masjid.&lt;br /&gt;Hadist ini ada beberapa jalan periwayatanya, sebagian sanadnya shahih sebagian lagi sanadnya hasan insya Allah, sebagian lagi ada perbincangan dikalangan ulama.&lt;br /&gt;Namun pada hadits tersebut terdapat perbedaan pada beberapa lafazhnya, ada yang menyebutkan “ imam mengerjakan empat raka’at “dan riwayat lainnya, “ mengerjakan dua raka’at “.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang shahih, dari kedua lafadz tersebut adalah, “ imam mengerjakan dua raka’at.“ Dan ini semisal dengan hadits Anas bin Malik, yang menyebutkan bahwa beliau mengerjakan shalat bersama keluarga beliau dua raka’at, jika beliau tertinggal shalat ‘ied bersama imam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-3597429997603689615?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/3597429997603689615/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/11/tuntunan-shalat-iedul-fithri-dan-iedul.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/3597429997603689615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/3597429997603689615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/11/tuntunan-shalat-iedul-fithri-dan-iedul.html' title='Tuntunan Shalat ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adha (Bag 1)'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/Sw28WK1jqwI/AAAAAAAAAE8/S1IfYIyCA3M/s72-c/ucapan-idul-adha.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-5552587331680794454</id><published>2009-11-16T06:15:00.003+07:00</published><updated>2009-11-16T06:41:39.091+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muhasabah'/><title type='text'>JADILAH PEJUANG...!!!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SwCNFAs9UVI/AAAAAAAAAE0/1b64FepwuTE/s1600/pejuang.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SwCNFAs9UVI/AAAAAAAAAE0/1b64FepwuTE/s400/pejuang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5404474670072025426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Kabar gembira akan kemenangan Islam telah tersebar dimana-mana, al-hamdu lillah. Hari demi hari terdengar kabar kekalahan musuh Islam di berbagai penjuru dunia. Janji Alloh Subhanahu Wa Ta'ala benar-benar telah mendarat di bumi realita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, (yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang.” [QS. ash-Shaffāt (37): 171-173]&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Semua pertolongan itu adalah semata-mata anugerah Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Hadir karena Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Maha kuat lagi Maha perkasa. Beruntung sekali orang-orang yang Alloh Subhanahu Wa Ta'ala pilih menjadi pejuang-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alloh telah menetapkan:“Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang”. Sesung-guhnya Alloh Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” [QS. al-Mujādilah (58): 12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai hikmah-Nya, di setiap kemenangan Islam tersebut pasti ada pahlawannya. Melalui tangan dan kiprah para pejuang (pahlawan) tersebut, Alloh Subhanahu Wa Ta'ala menampakkan sunnah-sunnah-Nya. Mereka adalah orang-orang yang menunaikan janji mereka kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, menjadi pejuang di jalan-Nya. Demikianlah kehendak Alloh Subhanahu Wa Ta'ala untuk menguji orang-orang beriman agar membuktikan keimanan mereka di alam nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demikianlah apabila Alloh menghen-daki niscaya Alloh akan membinasa-kan mereka tetapi Alloh hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain.” [QS. Muhammad (47): 4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turunnya ujian dan kesulitan di hadapan umat ini tidak lain agar lahir para pejuang. Melalui tangan-tangan mereka, Alloh Subhanahu Wa Ta'ala menggebuk dan meng-hinakan musuh-musuh-Nya, musuh-musuh mereka juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku kaum muslimin.…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah para shahabat menawarkan kita telaga penghilang dahaga dalam dunia perjuangan. Mereka adalah manusia-manusia terpuji yang paling bersegera dalam memenuhi seruan Rabb-nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Alloh….” [QS. at-Tawbah (9): 100]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada poin penting dalam ayat di atas yang harus kita renungkan, yaitu: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik….” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah gerbong yang memberikan peluang bagi kita untuk ikut mengisi-nya, sehingga kita pun mendapatkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…Alloh ridha kepada mereka dan me-rekapun ridha kepada Alloh dan Alloh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalam-nya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya.” [QS. at-Tawbah (9): 100]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Rasyid Ridha Rahimahullah berkata: &lt;br /&gt;“Tidak ragu lagi bahwa kebersamaan setiap orang yang beriman dengan para shahabat dalam keridaan Alloh dan pahala adalah sesuai kadar pengikutan mereka dalam hijrah, jika mereka menghadapi situasi yang mengharuskan hijrah, dan serta dalam jihad mereka dengan harta dan jiwa untuk menolong Islam.” (al-Manār: 16/11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertolongan adalah anugerah terindah dan tertinggi, karena bertujuan untuk menjadikan kalimat (agama) Alloh Subhanahu Wa Ta'ala tinggi serta untuk menolong Rasul Salallahu Alaihi Wasalam dan para shahabatnya (Tafsir al-Qāsimiy: 3243/9).&lt;br /&gt;Maka menjadi pejuang adalah puncak kemuliaan sekaligus hadiah Alloh kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih, tidak semuanya. Di antara deretan orang mulia tersebut adalah al-anbiyā’ (para nabi). Setiap nabi selalu ada dan berdiri tegak di sampingnya sosok-sosok gagah yang mencintai dan membelanya, serta mati-matian memegang kebenaran dan menyebarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasululloh Salalalhu Alihi Wasalam bersabda:&lt;br /&gt;(( مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي، إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّوْنَ وَأَصْحَابٌ، يَأْخُذُوْنَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُوْنَ بِأَمِرِهِ، ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوْفٌ، يَقُوْلُوْنَ مَا لاَ يَفْعَلُوْنَ، وَيَفْعُلُوْنَ مَا لاَ يُؤْمَرُوْنَ )) &lt;br /&gt;“Tidak ada seorang nabi pun sebelum-ku yang diutus Alloh kecuali selalu ada sosok yang menemani dan membelanya dari umatnya. Mereka senantiasa melaksanakan sunnah dan mematuhi perintah nabinya. Kemudian datang sesudah mereka orang-orang yang me-ngatakan apa yang tidak mereka lakukan, mengerjakan apa yang tidak diperintahkan.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh Subhanahu Wa Ta'ala menjelaskan dalam al-Qur’an tentang hawāriyyun (penolong) Nabi Isa as yang bersegera menjawab seruan Rabbnya dengan cepat dan sigap ketika:&lt;br /&gt;“…Siapakah yang akan menjadi peno-long-penolongku untuk (menegakkan agama) Alloh?”. Para hawariyyin (sha-habat-shahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Alloh, kami beriman kepada Alloh; dan sak-sikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.” [QS. Āli ’Imrān (3): 52]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian halnya di sisi Nabi kita Salallohu'alaihiwassalam pun berdiri para pemberani yang mencintai beliau Salallohu'alaihiwassalam dari kalangan Muhajirin dan orang-orang mukhlis dari golong-an Anshar yang telah berbaiat untuk me-nolong dīn Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Tak mau ketinggalan, orang-orang yang datang sete-lah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman.” [QS. al-Anfāl (8): 74]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab-kitab terdahulu pun telah diceritakan sifat-sifat mereka:&lt;br /&gt;“Muhammad itu adalah utusan Alloh dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama me-reka. Kalian lihat mereka ruku dan sujud mencari karunia Alloh dan keridha-an-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang menge-luarkan tunasnya. Maka tunas itu men-jadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya.” [QS. al-Fath (48): 29]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh Subhanahu Wa Ta'ala telah menjanjikan kepada orang-orang seperti itu dengan keberuntungan dan kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolong-nya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang ber-untung.” [QS. al-A’rāf (7): 157]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku kaum muslimin….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaman yang sedang kita tapaki hari ini butuh sebanyak mungkin pejuang (calon pahlawan). Di setiap medan perjuangan butuh sosok pribadi pahlawan sebagai wasīlah (perantara) turunnya pertolongan. Alloh Subhanahu Wa Ta'ala pun telah menurunkan ayat-Nya, menyeru mereka, di antaranya adalah kita, ya kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Alloh!” [QS. ash-Shaff (61): 14]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jawablah segera seruan-Nya dengan memenuhi syarat-syaratnya. Supaya segera datang pertolongan-Nya. Akan tetapi ada satu hal yang jangan sampai luput dari perhatian, yaitu mengerti apa makna pertolongan. Jangan sampai pertolongan itu hanya sampai di alam perasaan, tidak riil di alam ke-nyataan. Atau menjalankan metode yang tidak sejalan dengan apa yang di-inginkan Rabb semesta alam. Jangan pula kita termasuk dalam apa yang disabdakan Rasululloh Salallahu Alaihi Wasalam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, mengerjakan apa yang tidak diperintahkan.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku kaum muslimin…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan sampai kita diharamkan dari mendapat kemuliaan ini. Kemuliaan apa sebenarnya yang hendak kita cari? Adapun kalau kita tak mau jadi pejuang, Alloh akan datangkan suatu kaum sebagai pengganti manusia-manusia yang tak mau berjuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, ba-rangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Alloh akan mendatangkan suatu kaum yang Alloh mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Alloh, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Alloh, diberikan-Nya kepada siapa yang dike-hendaki-Nya dan Alloh Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” [QS. al-Mā’idah (5): 54]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-5552587331680794454?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/5552587331680794454/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/11/jadilah-pejuang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/5552587331680794454'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/5552587331680794454'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/11/jadilah-pejuang.html' title='JADILAH PEJUANG...!!!'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SwCNFAs9UVI/AAAAAAAAAE0/1b64FepwuTE/s72-c/pejuang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-7435424207639647037</id><published>2009-11-10T23:19:00.002+07:00</published><updated>2009-11-10T23:35:29.856+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hadist'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Akhwat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Pendapat Ulama Tentang Hukum Wanita Berziarah Kubur</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.kabarindonesia.com/gbrberita/20080323174053.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 523px; height: 277px;" src="http://www.kabarindonesia.com/gbrberita/20080323174053.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dari ibnu Buraidah dari ayahnya berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Aku pernah melarang kalian dari berziarah kubur maka ziarahilah.” (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Didalam riwayat Abu Daud ditambahkan,”..Sesungguhnya ia adalah peringatan.” Didalam riwayat al Hakim disebutkan,”Ia (Ziarah kubur) melunakkan hati, mengucurkan air mata, maka janganlah berkata kotor.” sedang didalam riwayat Tirmidzi disebutkan,”Maka sesungguhnya ia mengingatkan akherat.” Ia mengatakan,’Hadits Buraidah adalah hadits Hasan Shohih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama bersepakat bahwa diperbolehkan bagi kaum laki-laki untuk berziarah kubur. Adapun bagi kaum wanita maka terjadi perbedaan pendapat dikalangan para ulama :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Haram secara mutlak, baik menimbulkan fitnah, kemudharatan atau tidak, berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas berkata,”Rasulullah saw melaknat para wanita yang menziarahi kubur dan menjadikannya masjid dan memberikan penerangan diatasnya.” (HR. Abu Daud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Haram apabila akan menimbulkan fitnah berdasarkan hadits dari Abdullah bin Murroh dari Masruq dari Abdullah dari Nabi saw bersabda,”Bukan dari kami orang yang menampar pipi, menyobek baju dan mencaci dirinya dengan cacian jahiliyah.” (HR. Bukhori)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Makruh, berdasarkan hadits dari Ummu ‘Athiyah berkata,”Kami dahulu dilarang untuk mengikuti jenazah, namun hal itu tidak dipastikan kepada kami.” (HR. Bukhori Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Boleh, berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari ibnu Buraidah dari ayahnya berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Aku pernah melarang kalian dari berziarah kubur maka ziarahilah.” (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan ulama mengatakan bahwa ziarah kubur bagi wanita adalah boleh dikarenakan para wanita termasuk didalam keumuman hadits diatas, selama tidak mengundang fitnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat ini dikuatkan dengan hadits Anas bin Malik ra berkata,”Bahwa Rasulullah saw melewati seorang wanita yang sedang menangis di sebuah kuburan. Beliau saw bersabda,’Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah.’&lt;br /&gt;Wanita itu mengatakan,’Sesungguhnya engkau tidaklah ditimpa musibah seperti yang telah menimpaku sehingga engkau tidak mengetahuinya.’ Dikatakan kepada wanita itu,’Sesungguhnya orang ini adalah Nabi.’ Maka wanita itu pun mendatangi Nabi saw dan ia tidak mendapati adanya para penjaga disisi Nabi saw. Wanita itu berkata,’Aku tidak mengenalmu.’ Beliau bersabda,’Sesungguhnya sabar adalah pada saat pertama kali mendapati (musibah itu).” (HR. Bukhori).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini menunjukan bahwa nabi saw tidaklah melarang wanita itu duduk di kuburan dan taqrir (pengukuhan) beliau saw adalah hujjah (dalil).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan diantara orang yang membolehkannya secara umum bagi laki-laki maupun perempuan adalah Aisyah. Diriwayatkan oleh Hakim dari jalan Ibnu Abi Mulaikah bahwasanya dia pernah melihat Aisyah menziarahi kuburan saudara laki-lakinya, Abdurrahman.”Aisyah ditanya,’Bukankah Nabi saw telah melarang hal ini.’Dia menjawab,’Ya, dahulu beliau saw pernah melarangnya kemudian memerintahkan untuk menziarahinya.” (HR. Baihaqi)-- (Fathul bari juz III hal 180)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telaah Beberapa Dalil Diatas &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Tirmidzi mengatakan,”Hadits Ibnu Abbas diatas yang diapakai sebagai dalil oleh mereka yang mengharamkan wanita berziarah kubur menurut sebagian ulama bahwa hadits itu terjadi sebelum adanya rukhshoh (keringanan) dari Nabi saw untuk ziarah kubur. Tatkala ada rukhshoh maka yang termasuk didalam rukhshoh ini adalah kaum laki-laki dan wanita.” (Aunul Ma’bud juz V hal 41)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap hadits pelaknatan yang digunakan oleh mereka yang mengharamkan ziarah wanita ke kuburan, maka disebutkan Ibnu Taimiyah bahwa telah datang riwayat dari Nabi saw melalui dua jalan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. “Annahu la’ana zuwarootil qubuur; artinya,’Bahwasanya beliau saw telah melaknat para wanita yang berziarah kubur.” dari Abu Hurairoh,”Annan Nabiyya la’ana zaairootil qubuur, artinya,’Bahwa Nabi saw telah melaknat para wanita yang berziarah kubur.” Diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Tirmidzi dan dishohihkan olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dan dari Ibnu Abbas bahwa ,”Rasulullah saw melaknat para wanita yang menziarahi kubur dan menjadikannya masjid dan memberikan penerangan diatasnya.” (HR. Ahmad, Abu Daud, an Nasa’i, Tirmidzi dan dihasankan olehnya, didalam kitabnya yang lain dishohihkan olehnya serta diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah )&lt;br /&gt;Disebutkan,”Hadits itu telah diriwayatkan dari dua jalan yang berbeda; satu dari Ibnu Abbas dan yang lainnya dari Abu Hurairoh. Orang-orang yang meriwayatkan didalam hadits yang satu bukanlah mereka yang meriwayatkannya pada hadits yang lainnya. Kedua kelompok tersebut tidak saling meriwayatkan dari yang lainnya. Didalam kedua sanadnya tidak ada orang yang diragukan karena berdusta.&lt;br /&gt;esungguhnya pelemahannya hanya dari sisi buruknya hafalan. Dan dalam keadaan seperti ini tetap dianggap sebagai hujjah (dalil) yang tidak bisa diragukan. Ini adalah hasan yang paling baik yang telah disyaratkan oleh Tirmidzi, dia meletakkannya pada hasan dikarenakan banyaknya jalan dan tidak ada orang yang disangsikan didalamnya serta tidak menyimpang atau bertentangan dengan apa yang telah diriwayatkan oleh orang-orang yang tsiqoh (dipercaya).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pendapat dari mereka yang mengatakan bahwa ziarah wanita ke kuburan adalah makruh, yaitu Ahmad, Syafi’i dan para pengikutnya adalah bahwa hadits tentang laknat itu merupakan dalil terhadap pengharaman sedangkan hadits perizinan—Hadits Aisyah—menghilangkan pengharaman itu, sehingga yang tinggal adalah makruh.&lt;br /&gt;Hal ini dikuatkan oleh Hadits Ummu ‘Athiyah ,”Kami dahulu dilarang untuk mengikuti jenazah, namun hal itu tidak dipastikan kepada kami.” (HR. Bukhori Muslim) Ziarah adalah bagian dari mengikuti jenazah maka kedua-duanya (menziarahi dan mengikuti jenazah) adalah makruh yang tidak diharamkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian dari ulama yang mengatakan makruh, seperti Ishaq bin Rohuyah, mengatakan,”Pelaknatan menggunakan lafazh az Zuwaroot, artinya; para wanita yang banyak berziarah. Maka jika hanya sekali berziarah dalam seumur hidupnya maka ia tidaklah termasuk dalam lafazh itu dan wanita tersebut tidaklah disebut dengan wanit yang sering berziarah. Mereka mengatakan,”Aisyah hanya berziarah sekali sehingga ia tidak disebut dengan wanita yang sering berziarah.” (Fathul ari juz XXIV hal 196 – 198)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya hadits Anas tidaklah mengukuhkan ziarah wanita itu akan tetapi hanya memerintahkannya untuk bertakwa kepada Allah dengan menjalankan apa-apa yang diperintahkan Allah kepadanya dan meninggalkan apa-apa yang dilarang-Nya.&lt;br /&gt;Secara umum hadits itu adalah pelarangan dari ziarah kubur. Beliau saw bersabda kepada wanita itu,”Bersabarlah.” Dan telah diketahui bahwa kedatangan wanita itu ke kuburan kemudian menangisinya adalah perbuatan meniadakan kesabarannya tatkala dia menolak nasehat dari Rasul saw dikarenakan belum mengenalinya dan Rasulullah saw pun berlalu darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian tatkala wanita itu mengetahui bahwa yang memerintahkannya adalah Rasulullah saw maka dia pun mendatanginya dan meminta maaf kepadanya karena mengabaikan perintahnya. Jadi adakah dalil didalam hadits itu yang membolehkan ziarah kubur bagi kaum wanita?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelarangan ziarah kubur yang kemudian dibolehkan—didalam Ibnu Buraidah—adalah pada awal-awal islam untuk menjaga keimanan, meniadakan ketergantungan dengan orang-orang yang sudah meninggal serta menutup jalan menuju kemusyrikan yang menjadi pangkalnya adalah mengagungkan dan menyembah kuburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas mengatakan,”Tatkala keimanan sudah kokoh bersemayam didalam hati mereka (kaum muslimin) dengan terkikisnya kemusyrikan dan terkukuhkannya agama maka mereka diizinkan berziarah kubur untuk menambah keimanan dan mengingatkannya terhadap apa yang telah diciptakan baginya berupa negeri yang kekal (akherat). Perizinan dan pelarangannya pada waktu itu adalah demi kemaslahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun bagi kaum wanita, meskipun terdapat kemaslahatan didalamnya akan tetapi ziarah mereka juga akan menimbulkan kemudharatan yang telah diketahui secara khsuus maupun umum, berupa fitnah bagi orang yang masih hidup atau menyakiti si mayit (karena tangisannya yang berteriak-teriak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudharatan ini tidaklah bisa dicegah kecuali dengan melarang mereka dari menziarahinya. Dalam hal ini kemudharatannya lebih besar daripada kemaslahatannya yang sedikit bagi mereka. Syari’ah tegak diatas pengharaman suatu perbuatan apabila kemudharatannya lebih kuat daripada kemaslahatannya. Kuatnya kemudharatan dalam permasalahan ini tidaklah tersembunyi maka melarang kaum wanita dari berziarah kubur adalah diantara perbuatan baik dalam syari’ah.“ (Aunul Ma’bud juz V hal 43)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian hukum bagi seorang wanita yang menziarahi kuburan adalah makruh yang tidak diharamkan selama tidak menimbulkan fitnah dan kemudharatan baik bagi diri sendiri seperti; menyingkap auratnya, berteriak-teriak, menangis dengan suara kencang, memukuli diri dan lainnya, ataupun membawa fitnah dan mudharat bagi orang lain, dan apabila hal ini terjadi maka ziarahnya menjadi haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu A’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-7435424207639647037?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/7435424207639647037/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/11/pendapat-ulama-tentang-hukum-wanita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/7435424207639647037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/7435424207639647037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/11/pendapat-ulama-tentang-hukum-wanita.html' title='Pendapat Ulama Tentang Hukum Wanita Berziarah Kubur'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-5896483810593645090</id><published>2009-10-31T22:21:00.002+07:00</published><updated>2009-10-31T22:33:28.123+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Akhwat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>KRITERIA HIJAB MUSLIMAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SuxYktJer1I/AAAAAAAAAEs/Jvts-PYd7Z0/s1600-h/jilbab+hijab.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SuxYktJer1I/AAAAAAAAAEs/Jvts-PYd7Z0/s400/jilbab+hijab.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5398787440928272210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Penelitian kami terhadap ayat-ayat Al-Quran, As-Sunnah dan atsar-atsar Salaf dalam masalah yang penting ini, memberikan jawaban kepada kami bahwa jika seorang wanita keluar dari rumahnya, maka ia wajib menggunakan pakaian (jilbab) yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;1. Meliputi Seluruh Badan Selain Yang Dikecualikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat ini terdapat dalam firman Allah dalam surat An-Nuur : 31 berbunyi : "Katakanlah kepada wanita yang beriman : "Hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka (mertua) atau putra-putra mereka atau putra-putra suami mereka atau saudara-saudar mereka (kakak dan adiknya) atau putra-putra saudara laki-laki mereka atau putra-putra saudara perempuan mereka (=keponakan) atau wanita-wanita Islam atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga firman Allah dalam surat Al-Ahzab : 59 berbunyi : "Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mumin : "Hendaklah mereka mengulurkann jilbabnya ke seluruh tubuh mereka."Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam Tafsirnya : "Janganlah kaum wanita menampakkan sedikitpun dari perhiasan mereka kepada pria-pria ajnabi, kecuali yang tidak mungkin disembunyikan." Ibnu Masud berkata : Misalnya selendang dan kain lainnya. "Maksudnya adalah kain kudung yang biasa dikenakan oleh wanita Arab di atas pakaiannya serat bagian bawah pakiannya yang tampak, maka itu bukan dosa baginya, karena tidak mungkin disembunyikan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bukan Berfungsi Sebagai Perhiasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini berdasarkan firman Allah dalam surat An-Nuur ayat 31 berbunyi : "Dan janganlah kaum wanita itu menampakkan perhiasan mereka." Secara umum kandungan ayat ini juga mencakup pakaian biasa jika dihiasi dengan sesuatu, yang menyebabkan kaum laki-laki melirikkan pandangan kepadanya. Hal ini dikuatkan oleh firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 33 : "Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti oang-orang jahiliyah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga berdasarkan sabda Nabi : "Ada tida golongan yang tidak akan ditanya yaitu, seorang laki-laki yang meninggalkan jamaah dan mendurhakai imamnya serta meninggal dalam keadaan durhaka, seorang budak wanita atau laki-laki yang melarikan diri (dari tuannya) lalu ia mati, serta seorang wanita yang ditinggal oleh suaminya, padahal suaminya telah mencukupi keperluan duniawinya, namun setelah itu ia bertabarruj. Ketiganya itu tidak akan ditanya." (Dikeluarkan Al-Hakim 1/119 dan disepakati Adz-Dzahabi; Ahmad VI/19; Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad; At-Thabrani dalam Al-Kabir; Al-Baihaqi dalam As-Syuaib).Tabarruj adalah perilaku wanita yang menampakkan perhiasan dan kecantikannya serta segala sesuatu yang wajib ditutup karena dapat membangkitkan syahwat laki-laki. (Fathul Bayan VII/19).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kainnya Harus Tebal (Tidak Tipis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab yang namanya menutup itu tidak akan terwujud kecuali harus tebal. Jika tipis, maka hanya akan semakin memancing fitnah (godaan) dan berarti menampakkan perhiasan. Dalam hal ini Rasulullah telah bersabda : "Pada akhir umatku nanti akan ada wanita-wanita yang berpakain namun (hakekatnya) telanjang. Di atas kepala mereka seperti terdapat bongkol (punuk) unta. Kutuklah mereka karena sebenarnya mereka adalah kaum wanita yang terkutuk." Di dalam hadits lain terdapat tambahan : "Mereka tidak akan masuk surga dan juga tidak akan mencium baunya, padahal baunya surga itu dapat dicium dari perjalanan sekian dan sekian." (At-Thabrani dalam Al-Mujam As-Shaghir hal. 232; Hadits lain tersebut dikeluarkan oleh Muslim dari riwayat Abu Hurairah. Lihat Al-HAdits As-Shahihah no. 1326).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abdil Barr berkata : Yang dimaksud oleh Nabi adalah kaum wanita yang mengenakan pakaian yang tipis, yang dapat mensifati (menggambarkan) bentuk tubuhnya dan tidak dapat menutup atau menyembunyikannya. Mereka itutetap berpakaian namanya, akan tetapi hakekatnya telanjang. (dikutip oleh As-Suyuthi dalam Tanwirul Hawalik III/103).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abdullah bin Abu Salamah, bahawsannya Umar bin Al-Khattab pernah memakai baju Qubthiyah (jenis pakaian dari Mesir yang tipis dan berwarna putih) kemudian Umar berkata : Jangan kamu pakaikan baju ini untuk istri-istrimu !. Seseorang kemudian bertanya : Wahai Amirul Muminin, Telah saya pakaikan itu kepada istriku dan telah aku lihat di rumah dari arah depan maupun belakang, namun aku tidk melihatnya sebagai pakaian yang tipis ! Maka Umar menjawab : Sekalipun tidak tipis, namun ia mensifati (menggambarkan lekuk tubuh). (Riwayat Al-Baihaqi II/234-235; Muslim binAl-Bitthin dari Ani Shalih dari Umar).Atsar di atas menunjukkan bahwa pakaian yang tipis atau yang mensifati dan menggambarkan lekuk-lekuk tubuh adalah dilarang. Yang tipis (transparan) itu lebih parah daripada yang menggambarkan lekuk tubuh (tapi tebal). Olehkarena itu Aisyah pernah berkata : "Yang namanya khimar adalah yang dapat menyembunyikan kulit dan rambut."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Harus Longgar (Tidak Ketat) Sehingga Tidak Dapat Menggambarkan Sesuatu Dari Tubuhnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usamah bin Zaid pernah berkata : Rasulullah pernah memberiku baju Quthbiyah yang tebal yang merupakan baju yang dihadiahkan oleh Dihyah Al-Kalbi kepada beliau. Baju itu pun aku pakaikan pada istriku. Nabi bertanya kepadaku : "Mengapa kamu tidak mengenakan baju Quthbiyah ?" Aku menjawab : Aku pakaiakan baju itu pada istriku. Nabi lalu bersabda : "Perintahkan ia agar mengenakan baju dalam di balik Quthbiyah itu, karena saya khawatir baju itu masih bisa menggambarkan bentuk tulangnya." (Ad-Dhiya Al-Maqdisi dalam Al-Hadits Al-Mukhtarah I/441; Ahmad dan Al-Baihaqi dengan sanad Hasan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah pernah berkata : Seorang wanita dalam shalat harus mengenakan tiga pakaian : Baju, jilbab dan khimar. Adalah Aisyah pernah mengulurkan izar-nya (pakaian sejenis jubah) dan berjilbab dengannya. (Ibnu Sad VIII/71).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat yang senada juga dikatakan oleh Ibnu Umar : Jika seorang wanita menunaikan shalat, maka ia harus mengenakan seluruh pakainnya : Baju, khimar dan milhafah (mantel). (Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf II:26/1).Ini semua juga menguatkan pendapat yang kami pegangi mengenai wajibnya menyatukan antara khimar dan jilbab bagi kaum wanita jika keluar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Tidak Diberi Wewangian Atau Parfum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Musa Al-Asyari bahwasannya ia berkata : Rasulullah bersabda : "Siapapun wanita yang memakai wewangian, lalu ia melewati kaum laki-laki agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah pezina." (An-Nasai II/283; Abu Daud II/192; At-Tirmidzi IV/17; Ahmad IV/100, Ibnu Khuzaimah III/91; Ibnu Hibban 1474; Al-Hakim II/396 dan disepakati oleh Adz-Dzahabi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Zainab Ats-Tsaqafiyah bahwasannya Nabi bersabda : "Jika salah seorang diantara kalian (kaum wanita) keluar menuju masjid, maka jangan sekali-kali mendekatinya dengan (memakai) wewangian." (Muslim dan Abu Awanahdalam kedua kitab Shahih-nya; Ash-Shabus Sunan dn lainnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah bahwa ia berkata : Rasulullah bersabda : "Siapapun wanita yang memakai bakhur (wewangian yang berasal dari pengasapan), maka janganlah ia menyertai kami dalam menunaikan shalat Isya yang akhir." (ibid)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Musa bin Yasar dari Abu Hurairah : Bahwa seorang wanita berpapasan dengannya dan bau wewangian menerpanya. Maka Abu Hurairah berkata : Wahai hamba Allah ! Apakah kamu hendak ke masjid ? Ia menjawab : Ya. Abu Hurairah kemudian berkata : Pulanglah saja, lalu mandilah ! karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah bersabda : "Jika seorang wanita keluar menuju masjid sedangkan bau wewangian menghembus maka Allah tidak menerima shalatnya, sehingga ia pulang lagi menuju rumahnya lalu mandi." (Al-Baihaqi III/133; Al-Mundziri III/94).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan pelarangannya sudah jelas, yaitu bahwa hal itu akan membangkitkan nafsu birahi. Ibnu Daqiq Al-Id berkata : Hadits tersebut menunjukkan haramnya memakai wewangian bagi wanita yang hendak keluar menuju masjid, karena hal itu akan dapat membangkitkan nafsu birahi kaum laki-laki (Al-Munawi dalam Fidhul Qadhir dalam mensyarahkan hadits dari Abu Hurairah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya (Al-Albany) katakan : Jika hal itu saja diharamkan bagi wanita yang hendak keluar menuju masjid, lalu apa hukumnya bagi yang hendak menuju pasar, atau tempat keramaian lainnya ? Tidak diragukan lagi bahwa hal itujauh lebih haram dan lebih besar dosanya. Al-Haitsami dalam kitab AZ-Zawajir II/37 menyebutkan bahwa keluarnya seorang wanita dari rumahnya dengan memakai wewangian dn berhias adalah termasuk perbuatan kabair (dosa besar) meskipun suaminya mengizinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Tidak Menyerupai Pakaian Laki-Laki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ada beberapa hadits shahih yang melaknat wanita yang menyrupakan diri dengan kaum pria, baik dalam hal pakaian maupun lainnya.Dari Abu Hurairah berkata : Rasulullah melaknat pria yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian pria (Abu Daud II/182; Ibnu Majah I/588; Ahmad II/325; Al-Hakim IV/19 disepakati oleh Adz-Dzahabi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abdullah bin Amru yang berkata : Saya mendengar Rasulullah bersabda : "Tidak termasuk golongan kami para wanita yang menyerupakan diri dengan kaum pria dan kaum pria yang menyerupakan diri dengan kaum wanita." (Ahmad II/199-200; Abu Nuaim dalam Al-Hilyah III/321)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Abbas yang berkata : Nabi melaknat kaum pria yang bertingkah kewanita-wanitaan dan kaum wanita yang bertingkah kelaki-lakian. Beliau bersabda : "Keluarkan mereka dari rumah kalian. Nabi pun mengeluarkan si fulan dan Umar juga mengeluarkan si fulan." Dalam lafadz lain : "Rasulullah melaknat kaum pria yang menyerupakan diri dengan kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupakan diri dengan kaum pria." (Al-Bukhari X/273-274; Abu Daud II/182,305; Ad-Darimy II/280-281; Ahmad no. 1982,2066,2123,2263,3391,3060,3151 dan 4358; At-Tirmidzi IV/16-17; Ibnu Majah V/189; At-Thayalisi no. 2679).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abdullah bin Umar yang berkata : Rasulullah bersabda : "Tiga golongan yang tidak akan masuk surga dan Allah tidak akan memandang mereka pada hari kiamat; Orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yangbertingkah kelaki-lakian dan menyerupakan diri dengan laki-laki dan dayyuts (orang yang tidak memiliki rasa cemburu)." (An-Nasai !/357; Al-Hakim I/72 dan IV/146-147 disepakati Adz-Dzahabi; Al-Baihaqi X/226 dan Ahmad II/182).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam haits-hadits ini terkandung petunjuk yang jelas mengenai diharamkannya tindakan wanita menyerupai kaum pria, begitu pula sebaiknya.Ini bersifat umum, meliputi masalah pakaian dan lainnya, kecuali hadits yang pertama yang hanya menyebutkan hukum dalam masalah pakaian saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Tidak Menyerupai Pakaian Wanita-Wanita Kafir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syariat Islam telah menetapkan bahwa kaum muslimin (laki-laki maupun perempuan) tidak boleh bertasyabuh (menyerupai) kepada orang-orang kafir, baik dalam ibadah, ikut merayakan hari raya, dan berpakain khas mereka. Dalilnya : Firman Allah surat Al-Hadid : 16, berbunyi : "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam Al-Iqtidha hal. 43 : Firman Allah "Janganlah mereka seperti..." merupakan larangan mutlak dari tindakan menyerupai mereka, di samping merupakan larangan khusus dari tindakan menyerupai mereka dalam hal membatunya hati akibat kemaksiatan. Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini (IV/310) berkata : Karena itu Allah melarang orang-orang beriman menyerupai mereka dalam perkara-perkara pokok maupun cabang.Allah berfirman : "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad) : "Raaina" tetapi katakanlah "Unzhurna" dan dengarlah. Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih." Ibnu Katsir I/148 berkata : Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mnyerupai ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan orang-orang kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, orang-orang Yahudi suka menggunakan plesetan kata dengan tujuan mengejek. Jika mereka ingin mengatakan "Denagrlah kami" mereka mengatakan "Raaina" sebagai plesetan kata "ruunah" (artinyaketotolan) sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 46. Allah telah memberitahukan (dalm surat Al-Mujadalah : 22) bahwa tidak ada seorang mumin yang mencintai orang-orang kafir. Barangsiapa yang mencintai orang-orang kafir, maka ia bukan orang mumin, sedangkan tindakanmenyerupakan diri secara lahiriah merupakan hal yang dicurigai sebagai wujud kecintaan, oleh karena itu diharamkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Bukan Pakaian Untuk Mencari Popularitas (Pakaian Kebesaran)&lt;br /&gt;Berdasarkan hadits Ibnu Umar yang berkata : Rasulullah bersabda : "Barangsiapa mengenakan pakaian (libas) syuhrah di dunia, niscaya Allah mengenakan pakaian kehinaan kepadanya pada hari kiamat, kemudian membakarnyadengan api neraka." (Abu Daud II/172; Ibnu Majah II/278-279).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Libas Syuhrah adalah setiap pakaian yang dipakai dengan tujuan untuk meraih popularitas di tengah-tengah orang banyak, baik pakain tersebut mahal, yang dipakai oleh seseorang untuk berbangga dengan dunia dan perhiasannya,maupun pakaian yang bernilai rendah, yang dipakai oleh seseorang untuk menampakkan kezuhudannya dan dengan tujuan riya (Asy-Syaukani dalam Nailul Authar II/94). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Atsir berkata : "Syuhrah artinya terlihatnya sesuatu.Maksud dari Libas Syuhrah adalah pakaiannya terkenal di kalangan orang-orang yang mengangkat pandangannya mereka kepadanya. Ia berbangga terhadap orang lain dengan sikap angkuh dan sombong."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikutip dari Kitab Jilbab Al-Marah Al-Muslimah fil Kitabi was Sunnah (Syaikh Al-Albany rahimahulloh) (Abu Dzar alghifari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-5896483810593645090?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/5896483810593645090/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/10/kriteria-hijab-muslimah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/5896483810593645090'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/5896483810593645090'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/10/kriteria-hijab-muslimah.html' title='KRITERIA HIJAB MUSLIMAH'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SuxYktJer1I/AAAAAAAAAEs/Jvts-PYd7Z0/s72-c/jilbab+hijab.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-5337617674490160938</id><published>2009-10-24T12:30:00.001+07:00</published><updated>2009-10-24T13:14:35.378+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Akhwat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akhlak'/><title type='text'>BERBAHAGIALAH, WAHAI HAMBA ALLAH!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SuKbA6UAHII/AAAAAAAAAEM/r1A2nru5pjs/s1600-h/DropOfWater.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 261px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SuKbA6UAHII/AAAAAAAAAEM/r1A2nru5pjs/s400/DropOfWater.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5396045743498730626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Air Mata, Sakit Hati = Ujian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak pernahkah kita berpikir bahwa betapa Allah senantiasa membuat kita bahagia? Apakah kita tidak pernah berpikir bahwa semua air mata dan luka di hati adalah jalan untuk kita lebih mendekatkan diri kepada Allah?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah , sesungguhnya pertolongan Allah itu sangat dekat.” (QS.Al Baqarah: 214)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat, mari kita merenung sejenak. Apa yang kita lakukan saat kita sedang bersedih. Dari lubuk hati yang paling dalam, akan muncul sebuah pengakuan. Betapa lemahnya diri kita. Betapa rapuhnya iman kita. Betapa bodohnya kita. Dan betapa kecil kita sebagai manusia. Sebuah keyakinan tercipta bahwa betapa Maha Kuasa Allah atas diri kita. Dia Yang Maha Kaya, Maha Berilmu, Maha Perkasa sekaligus Maha Penyayang. Semua keangkuhan sirna dalam sekejap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, saat diri rapuh dan tidak berdaya, saat itu pula kita mulai yakin bahwa ada yang lebih segala-galanya di atas kita. Sebuah kesejukan menetes membasahi hati yang terbakar. Ada kelembutan membelai pikiran yang gersang. Sebuah genggaman dahsyat yang membantu kita untuk bangkit kembali, melanjutkan kehidupan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat, begitulah cara Allah membahagiakan kita. Dengan menguji kita lewat berbagai macam penyakit, baik itu penyakit fisik dan sakit hati. Karena penyakit itulah, seseorang akan tersadar dari semua keangkuhan dan mengakui semua kesalahan yang telah kita perbuat dan segera bertaubat. Dengan ujian-ujian itu pula kita sebagai manusia merasa sangat kecil, merasa diri ini betul-betul seorang hamba yang bergantung hanya kepada Allah. Saat kita tersadar dari segala perjalanan dosa, mulailah kita memperbaiki kualitas ibadah kita dan mendekatkan diri kepada Allah.&lt;br /&gt;Betapa Allah sangat mencintai hambanya. Betapa Allah ingin kita berada dekat dengan-Nya. Bukankah kebahagian itu jika kita berada dekat dengan yang kita cintai? Dan hanya Allah-lah yang memiliki cinta sejati itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nikmat Allah selalu lebih besar dari cobaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Fatihah:2-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Maha Pemurah. Allah Maha Penyayang. Cobalah hitung berapa banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Seumur hidup kita tidak akan sanggup karena saking banyaknya. Lalu apa yang kita khawatirkan? Apa yang membuat kita gelisah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pasti mengetahui bahwa apa yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah. Bahkan nyawa kita adalah milik-Nya. Mengapa hanya karena kehilangan kaki seseorang merasa kehilangan segala-galanya? Bukankah ia masih memiliki anggota badan yang lainnya? Mengapa setelah ditinggal kekasih, seorang pemuda atau pemudi menjadi frustasi? Bukankah jodoh itu sudah diatur oleh Allah? Mengapa hanya karena tidak lulus ujian seorang siswa rela menghilangkan nyawanya? Bukan, bukan itu tujuan Allah memberi kita penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah selalu bahwa Allah itu Maha Pemurah. Nikmat yang Allah berikan selalu lebih besar dari cobaan-Nya. Bukankah orang yang kakinya buntung masih mempunyai tangan untuk menggenggam, masih mempunyai mata untuk melihat kebesaran Allah, masih dapat mendengar seruan Allah? Bukankah orang yang buta sekalipun juga diberi kelebihan oleh Allah dengan insting yang kuat? Lalu apa yang harus kita sesali dengan begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan? Apa yang membuat kita bersedih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka, nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian dustakan?” (QS. Ar-Rahman:13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakinlah, bahwa di balik setiap tetes air mata, selalu ada sejuta senyum yang menanti. Di balik sayatan luka di hati, selalu ada sejuta kebahagiaan yang siap menyambut. Dan yakinlah, bersama dengan kesulitan pasti ada kemudahan. Itu janji Allah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intan dalam Duri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah:5-6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan menuju kebahagiaan memang tidaklah selalu mudah. Ada saja rintangan yang menghadang. Setan bekerja keras melaksanakan tugasnya. Menggoda manusia, memberi was-was ke dalam hati mereka. Bagi orang yang lemah imannya, kurang cintanya terhadap Allah, pastilah dengan senang hati mengikuti bujuk rayu dan tipu daya para setan. Sebaliknya, orang-orang yang begitu mencintai Allah akan menempuh jalan merintang sekalipun. Dan orang-orang seperti itulah yang akan memperoleh kemenangan dan kebahagiaan. Menjadi pemenang atas godaan setan, berhasil membuktikan penghambaannya kepada Allah dan menjadi bahagia karena pahala yang dicurahkan kepadanya serta kemenangan yang terbesar adalah saat perjumpaan dengan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai sebuah kebahagiaan, di perlukan pengorbanan dan kerja keras. Jangan mudah putus asa mencari rahmat Allah. Ibaratkan Dia memberikan kita sebuah hadiah berupa sebongkah intan tetapi hadiah tersebut di bungkus dengan kertas berduri. Apakah kita punya nyali untuk membukanya? Mungkin tangan kita akan berdarah, mungkin juga tidak. Dengan petunjuk cara membukanya, kita akan selamat dari duri-duri dan berhasil membuka hadiah tersebut. Akhirnya kita mendapat isi dari kotak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti dalam kehidupan, segala rintangan untuk mencapai sebuah kebahagian pastilah ada. Kalau rintangan tersebut kita anggap sebagai penghalang, ia akan betul-betul menghalangi langkah kita. Tapi, jika kita menganggap mereka sebagai tantangan, itu jauh lebih baik. Dalam menghadapi tantangan, kita harus menggunakan ilmu sesuai dengan petunjuk Allah. Dengan ilmu itulah kita dapat keluar dari permasalahan yang ada dan memperoleh hadiah yaitu kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Berbahagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Syukur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya, jika kalian bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat_Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim:7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang bahagia adalah mereka yang senantiasa bersyukur. Dengan bersyukur hidup akan menjadi lebih bahagia. Syukurilah apa yang ada di hadapan kita. Tidak lupa bersyukur atas apa yang telah kita peroleh di masa lalu. Jangan mencari yang tidak ada, jangan meresahkan kelebihan orang lain karena Allah juga telah menitipkan potensi ke dalam diri kita untuk dikembangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang terjebak di masa lalu. Menangisi kegagalannya, menyesali kesalahan-kesalahan saat itu. Kita harus berhati-hati. Sebesar apapun penyesalan kita, masa lalu tidak akan kembali dan tidak akan terulang lagi. Jangan sampai kegagalan membuat kita sedih berkepanjangan. Jangan sampai musibah yang kita alami membuat kita lalai dan melupakan semua nikmat yang telah Allah berikan, kufur atas nikmat Allah. Jangan pernah sedetikpun lidah kita absen dari ucapan syukur, memuji Allah Yang Maha Pemurah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa sekarang adalah sebuah kenyataan. Tepat berada di hadapan kita. Bersyukurlah karena hari pagi ini kita masih bisa menghirup udara bebas, bersyukur akan hidangan yang lezat di depan kita, bersyukur karena kita dikelilingi oleh keluarga dan sahabat yang menyayangi. Bersyukur atas semua cinta yang telah diberi Allah kepada kita. Bersyukurlah agar kita menjadi orang yang paling bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ikhlas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhlas karena Allah. Kalimat yang mudah diucapkan namun kadang dalam prakteknya bertentangan. Mulailah dengan niat karena Allah. Segala sesuatu yang kita lakukan, baik itu bekerja, mencari nafkah atau belajar adalah ikhlas demi mendapatkan ridha Allah semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sedikit orang yang menyia-nyiakan usaha kerasnya. Mengapa sia-sia? Karena tujuannya bukan karena Allah. Tujuannya hanyalah mencari kesenangan dunia semata. Kalau sudah tujuannya dunia, orang-orang seperti itu akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kebahagiaan. Walaupun kebahagiaannya itu semu dan hanya sesaat. Dan balasannya pun bisa berupa murka Allah di dunia dan di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gantungkan tujuan dan cita-cita kita hanya kepada Allah. Karena hanya Allah-lah Yang Maha Pemberi, Allah Yang Maha Penyayang. Hanya Allah yang dapat membalas semua perbuatan kita.&lt;br /&gt;Orang-orang yang bekerja dan hanya mengharapkan ridha Allah, merekalah yang memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat kelak. Setiap langkah adalah ibadah ikhlas kepada Allah dan setiap ucapannya adalah dzikir, perkataan yang baik, serta nasihat-nasihat kepada sesama. Begitulah, orang-orang yang berjuang dengan niat yang ikhlas mengharapkan ridha Allah, senantiasa menjaga perilakunya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pada niat, ikhlas juga akan tercermin pada sikap yang mudah memaafkan. Bagaimana kita melupakan semua kesalahan orang yang pernah menyakiti. Sulit memang, tapi yakinlah kalau kita bisa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergurulah pada Nabi Muhammad . Bagaimana beliau yang lembut hatinya dengan sabar menerima semua ejekan dan cacian dari orang-orang kafir saat menyebarkan Islam. Pada saat salah satu dari orang kafir tersebut jatuh sakit, apa yang dilakukan kekasih Allah ini? Beliau datang kerumah orang itu, menjenguknya. Subhanallah! Luar biasa! Begitu besar rasa ikhlas untuk memaafkan pada diri Rasulullah. Tidak ada dendam sedikit pun. Dengan ikhlas hati kita menjadi lapang. Dengan kelapangan tersebutlah kebahagiaan akan didapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sabar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-oang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolong kalian, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al- Baqarah:45)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar dalam menjalani kehidupan akan tercermin pada pribadi yang lapang dada, tabah, dan pantang menyerah. Sabar bukan berarti menerima begitu saja dan menunggu datangnya keajaiban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar dalam bekerja, mencari nafkah adalah mengerahkan segala upaya, pantang menyerah, memaksimalkan potensi untuk dimanfaatkan oleh orang lain. Sabar dalam menuntut ilmu adalah dengan tekun belajar, mengatur waktu dengan baik, memahami dan mencerna pokok-pokok yang diajarkan dan yang lebih penting adalah mengamalkannya di jalan Allah .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kesabaran, jiwa kita akan terasa lapang. Keyakinan akan janji Allah semakin kuat. Orang-orang yang sabar akan berdiri laksana gunung yang kokoh menancapkan kakinya, berjalan di jalan yang diridhai Allah. Akhirnya, orang-orang yang sabarlah yang akan menjadi pemenang dan berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Berpikir Positif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sesuai sangkaan hamba-Ku kepada-Ku, maka ia bebas berprasangka apa saja kepada-Ku.” (Hadist Qudsi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikirkanlah yang indah-indah, maka hidupmu akan menjadi indah. Berpikir positif terhadap segala sesuatu yang menimpa kita dapat menciptakan sebuah semangat untuk menjalani hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita senantiasa berpikiran negatif, segala sesuatu yang kita kerjakan pun akan bernilai negatif. Contoh, ada seseorang yang berpikiran bahwa musibah adalah sesuatu yang menyakitkan, musibah adalah penghalang untuk mencapai cita-cita, kemudian disikapi dengan berkeluh kesah dan bersedih terus menerus. Apa yang terjadi kemudian? Bisa jadi orang tersebut akan mengalami gangguan jiwa seperti stress dan depresi. Belum lagi fisik yang semakin lemah akibat hilangnya nafsu makan. Sungguh rugi orang-orang yang mempunyai pikiran negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang mempunyai pikiran positif akan menganggap musibah itu sebagai ujian dan tantangan. Bisa jadi mereka berpikiran bahwa musibah itu adalah hadiah untuk mendekatkan diri kepada Allah . Semangat dan optimis akan tercipta dalam setiap langkahnya. Dengan jiwa yang optimis itu pula, orang yang berpikiran positif akan senantiasa mengembangkan potensi dalam dirinya, untuk menjadi pribadi yang unggul. Sungguh bahagialah orang-orang yang senantiasa berpikiran positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Berbuat Baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeru kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran:110)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita berlomba-lomba untuk berbuat baik agar kita bahagia. Berbuat baik pada diri sendiri seperti memperbaiki kualitas shalat, mengkaji Al-Qur’an dan menuntut ilmu. Shalat yang khusyuk akan membuat hati dan pikiran kita menjadi tenang. Dengan mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an kita bisa menemukan rahasia kehidupan ini. Berbagai macam ilmu ada di dalamnya. Itulah yang membuat kita menjadi orang yang cerdas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbuat baik kepada orang lain adalah wajib hukumnya. Berbuat baik kepada orang tua dengan menjadi anak yang saleh/salehah. Menyambung tali silaturahmi, tersenyum kepada orang lain, mengajarkan ilmu yang bermanfaat, saling menasehati untuk berbuat baik dan menegur teman yang berbuat salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersedekah juga salah satu cara untuk berbuat baik kepada orang lain. Dalam harta yang kita miliki ada hak orang lain. Kekayaan kita bukan tercermin pada berapa banyak saldo tabungan di bank, bukan seberapa tinggi tumpukan emas di lemari, bukan pula berapa banyak mobil mewah yang diparkir di garasi mobil. Kekayaan kita dapat dilihat dari berapa banyak yang telah kita beri kepada orang lain, baik itu harta benda ataupun ilmu yang bermanfaat, ikhlas karena Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kita rasakan saat memberi seorang pengemis selembar uang seribuan dan tersenyum bahagia karenanya? Bahagia bukan? Kebahagiaan kita terletak pada bahagia orang lain. Jika kita membahagiakan diri sendiri, kita hanya mempunyai satu point bahagia. Jika kita membahagiakan sepuluh orang, maka kita mempunyai sepuluh point bahagia. Jadi berbuat baiklah kepada semua orang, tentunya dengan hati yang ikhlas untuk mendapatkan ridha Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Percaya Akan Janji Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah menjanjikan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat yang baik di surga ‘Adn. Dan keridaan Allah lebih besar. Dan itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah: 72)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percayalah kepada Allah. Jangan ada keraguan sedikitpun di hati kita. Mungkin apa yang kita peroleh saat ini bertolak belakang dengan apa yang kita inginkan. Yakinlah bahwa itulah yang terbaik buat kita. Allah sangat sayang kepada hamba-hambanya yang berbuat baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah memang tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan. Dia akan senantiasa memberikan apa yang kita butuhkan. Semua kebutuhan sebagai bekal untuk bertemu dengan-Nya sudah tersedia. Hanya saja kita yang tidak melihat atau bahkan tidak peduli dengan seruan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, berdoa dan berbuat baik adalah kuncinya. Setelah itu, serahkan semua kepada Allah Yang Maha Adil. Bisa jadi kita tidak akan menerima imbalan di dunia. Hadiah tersebut akan kita terima di akhirat kelak. Dan yakinlah, hadiah itu pasti lebih indah dari dunia dan isinya. Pertemuan dengan Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-5337617674490160938?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/5337617674490160938/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/10/berbahagialah-wahai-hamba-allah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/5337617674490160938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/5337617674490160938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/10/berbahagialah-wahai-hamba-allah.html' title='BERBAHAGIALAH, WAHAI HAMBA ALLAH!'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SuKbA6UAHII/AAAAAAAAAEM/r1A2nru5pjs/s72-c/DropOfWater.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-5820694308883581533</id><published>2009-10-24T10:49:00.002+07:00</published><updated>2009-10-24T11:24:37.150+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Akhwat'/><title type='text'>Karena Adinda Begitu Mulia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://ndah15.files.wordpress.com/2009/08/bunga_mawar_merah.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 224px; height: 168px;" src="http://ndah15.files.wordpress.com/2009/08/bunga_mawar_merah.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="Justify"&gt;Semoga ukhti termasuk wanita yang membuat cemburu bidadari surgawi karena kemuliaan ukhti melebihi mereka. Amien ya Maulaya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bidadari merupakan makhluq ghaib yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala ciptakan nan selalu dipuji manusia. Seluruh kecantikan, keindahan, kelembutan dan kemuliaan wanita selalu diandaikan dengan bidadari, walau tiada pernah mata melihatnya. Mendapat nikmat berupa bidadari di surga Allah, merupakan rangsangan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada seluruh hamba-Nya. Bukan hanya masalah seks sehingga keindahan, kecantikan, kelembutan dan kemuliaan bidadari menjadi perangsang hamba agar bertaqwa, namun tabi’at akal dan nafsu manusia membutuhkan tamsil nikmat yang begitu dekat dengannya, maka bidadari dan seluruh nikmat dunia dijadikan permisalan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan di sisi Allah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah: ’Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu.’ Untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah), di sisi Rabb mereka ada surga, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya”. (QS. Ali Imran: 14-15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu Wa Ta’ala kembali gambarkan tentang kenikmatan surgawi yang akan direguk hamba-hamba-Nya yang baik. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada dalam tempat yang aman. (Yaitu) di dalam taman-taman dan mata air-mata air. Mereka memakai sutera halus dan sutera tebal, (duduk) berhadap-hadapan. Demikianlah, dan Kami jodohkan mereka kepada bidadari bermata jeli”. (QS. Ad-Dukhan: 51-54).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh sulit membayangkan wanita dunia bisa menandingi keindahan, kecantikan dan kemuliaan bidadari surgawi. Namun tunggu dulu ukhti sayang, jangan terlalu cemburu! toh, karena ternyata kita jauh lebih mulia daripada mereka. Dialog antara Ummul Mukminin Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha dibawah ini menjadi bukti betapa kita, ternyata lebih mulia daripada bidadari bermata jeli, namun tentu semua ada syarat dan kategorinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummul Mukminin Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha berkata, “Ya Rasulallah, jelaskan padaku firman Allah tentang ‘Bidadari-bidadari yang bermata jeli’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab,”Bidadari yang kulitnya bersih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilau bak sayap burung Nasar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Salamah berkata,”Jelaskanlah padaku, ya Rasulallah, tentang firmanNya,’ Laksana mutiara yang tersimpan baik”. (QS. Al-Waqi’ah: 23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab, “Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman laut, tak pernah tersentuh tangan manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Salamah bertanya lagi, “Ya Rasulallah, jelaskanlah kepadaku tentang firman Allah, ’Di dalam surga itu ada bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik”. (QS. Ar-Rahman : 70)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab, “Akhlaqnya baik dan wajahnya cantik jelita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Salamah bertanya, “Jelaskanlah padaku firman Allah, ‘Seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan baik”. (QS. Ash-Shaffat : 49).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab, “Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada di bagian dalam telur dan terlindung dari kulit bagian luarnya (yang biasa disebut putih telur).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Salamah kembali bertanya, “Ya Rasulallah, jelaskan padaku firman Allah, ‘Penuh cinta lagi sebaya umurnya”. (QS. Al-Waqi’ah : 37)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab, “Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal di dunia dalam usia lanjut dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Allah menjadikan mereka sebagai gadis-gadis muda, penuh cinta, bergairah, mengasihi, dan umurnya sebaya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Salamah bertanya, “Ya Rasulallah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab,”Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang nampak dari apa yang tidak terlihat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Salamah bertanya, “Mengapa wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari, ya Rasulullah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka. Tubuh mereka bak sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali. Kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali. Kami ridha dan tak pernah bersungut-bersungut. Bahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya’…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Salamah bertanya kembali, “Ya Rasulullah, salah seorang diantara kami pernah menikah dengan dua, tiga atau empat laki-laki lalu meninggal dunia. Dia masuk surga dan mereka pun masuk surga. Siapakan diantara laki-laki itu yang akan menjadi suaminya di surga?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab, “Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, lalu dia pun memilih siapa diantara mereka yang paling baik akhlaqnya. Lalu dia berkata: ‘Rabbi, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik tatkala hidup bersamaku di dunia maka nikahkanlah aku dengannya’…Wahai Ummu Salamah, akhlaq yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, kebaikan dunia dan kebaikan akhirat.” (HR Ath-Thabrani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amboy, indahnya penggambaran Islam terhadap kaum wanitanya yang bertaqwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Masihkah kita enggan untuk taqwa? Taqwa dalam makna ta’at terhadap seluruh perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, takut bermaksi’at ketika melanggar larangan-Nya. Ridha terhadap apapun keputusan Allah untuk kita. Mengharap cinta, rahmat dan kasih sayang Allah Azza Wa Jalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-5820694308883581533?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/5820694308883581533/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/10/karena-adinda-begitu-mulia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/5820694308883581533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/5820694308883581533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/10/karena-adinda-begitu-mulia.html' title='Karena Adinda Begitu Mulia'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-1225194726215915481</id><published>2009-10-23T17:08:00.002+07:00</published><updated>2009-10-23T17:23:02.945+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Akhwat'/><title type='text'>Suratan Hati Kepada Putri Islami</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.kapanlagi.com/p/2470-1-faqs.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 460px; height: 306px;" src="http://www.kapanlagi.com/p/2470-1-faqs.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teruntuk putri muslimah putri islami bagi dien ini. “semoga allah SWT senantiasa menjaga kesucian harga dirimu di tengah dahsyatnya finah dan ujian.”.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ukhti muslimah, Putri islami di negeri pertiwi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini ada gelisah yang menyusup kedalam jiwaku.Aku terbangun dengan ikatan -ikatan kecemasan.Mataku berembun sebagaimana kaca jendela kamarku yang setiap malam berbasah embun musim dingin yang begitu dahsyat.Tak ada suara selain teriakan – teriakan batin yang menggema di liang telingaku ketika teringat keadaanmu di negeri pertiwi yang dirudung fitnah begitu besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri islami dinegeri pertiwi …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuambil pena setelah kulantunkan untaian doa.Semoga lantunan pena kegelisahan ini membuat jiwa-jiwamu tersadar akan apa yang sebenarnya kami rasakan. Hingga pena ini tergerak untuk menasihatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhti muslimah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tarian pena kegelisahan ini terlalu latah dan kering , semoaga tetesan bening yang membersamai tulisan ini bisa menyejukkan suasana hatimu laksana gerimis ketika hadirnya musim panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri islami yang sedang memegang suratan hati ini , adakah waktu beberapa menit saja di tengah kesibukanmu bersama tugas kuliah? Dan adakah beberapa saat saja untuk meluangkan isi hati dan perasaan demi membaca tarian pena di lembar putih ini? Dan adakah sebentuk kasabaran yang setiap sisinya dihiasi perhatian untuk menyelesaikan suratan hati ini hingga akhir? Kami mohon engkau tak merasa keberatan ataupun waktumu tercuri untuk sekedar mendengarkan suratan hati dari seseorang yang barang kali tak pernah engkau mengenalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri islami…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Izinkan tarian pena ini menggores lembut lembaran-lembaran putih ini sebagai lukisan hati kami yang sedang cinta dan cemburu karena allah. Biarkan diri ini berterus terang menuliskan untaian kalimat yang sebelumnya telah kami tulis di lembar hati kami sebelum kami tuangkan di lembar putih ini.Kami pun tak mengerti apakah dirimu merasa senang atau malah benci dengan kehadiran suratan hati ini yang tak pernah kau harapkan sebelumnya.kami serahkan semua kepada pemilik hati setiap jiwa,Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri islami …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengaja kutulis suratan hati ini untukmu ,karena kami berharap lewat suratan hati ini bisa menjadi wasilah yang membuat harga dirimu mewangi bak melati yang berseri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhti muslimah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tulis suratan hati ini disaat hati kami kalut dan resah melihat keaadaanmu. Hingga terkadang hanya elusan dada sebagai rasa iba yang terpendam didalam jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak iba jika setiap hari aku lihat saudari-saudarimu ditelanjamngi auratnya? Ditelanjangi sehelai demi sehelai pakaian harga dirinya di depan jutaan orang sebagai tontonan para penggembira yang mengabdikan kepada hawa nafsu setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak resah jika tiap waktu slalu kudengar saudari-saudarimu di nodai kehormatannya , bahkan menyerahkan seluruh tubuhnya demi diobral di majalh –majalah murahan yang menjerumuskan ke jurang perzinaan. Jurang yang menjijikkan yang tak pantas dilakukan kecuali para binatang yang tak berakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh…. bagaimana diri ini tak bersedih menagis bahwa sebenarnya pasukan setan itu menggiring mereka ke lembah–lembah jahannam di balik ketertawaan dan kemasyhuran yang sebenarnya adalah tipuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri islami di negeri pertiwi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak tahukah dirimu bahwa ada bening yang menetes hangat membasahi dua pipi ini saat melihat keadaanmu? Akan tetapi seolah dirimu tak pernah mengerti arti sebuah air mata dari seseorang yang mengharapkan kejayan harga dirimu dalam menopang panji islami bagi dien ini. Hingga akhirnya dirimu enggan mendengarkan nasihat yang dengannya mungkin allah menjadikan wasilah kebaikan bagi dirimu di dunia dan akhirat kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutulis suratan hati ini sebagai nasihat uintukmu karena allah SWT semata. Kugores saat mulut ini tak sanggup lagi bicara karena saudari-saudarimu yang tertipu itu semakin membabi buta mengumbar aurat didepan pria.Mereka bangga menjadi mangsa srigala-srigala pengumbar cinta dusta. Seakan mereka tak pernah bersedih dan justru bangga menumpuk dosa setiap harinya. Berzina dengan setiap pria yang diinginnya demi memuaskan nafsu bejatnya.Berlenggak lenggok bagaikan cacing yang kepanasan di club-club malam. Menghabiskan hari-hari siang dan malam dengan lantunan musik yang melalaikan. Meninggalkan istananya menuju panggung–panggung hiburan.Wajahnya menghitam dibalik polesan bedak tebal yang tak pernah terbasuh sucinya air wudhu yang mencerahkan.Keningnya telah jauh dari sujud sebagaimana bejat akhlaqnya yang tak karuhan.Berdandan dan berdandan demi laris dalam perzinaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh… betapa jauhnya mereka dari belaian suami tercinta , karena kekasih mereka adalah srigala yang tajam taring dan kukunya.Tak pernah merasakan nikmatnya bercanda dengan anak tercinta karena rahim mereka telah mereka haramkan dari mengandung anak sebagai anugrah dari Arrahman.Rahim mereka kotor dengan air mani haram dan menjijikan . Naudzu b illahi mindzalik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai putri islami…&lt;br /&gt;Tidak sampaikah kabar yang benar dari langit akan kebanyakan penghuni neraka adalah wanita? Belum datangkah kepadamu akan nasihat dari kitab dan sunnah tentang orang-orang dari kalangan wanita yang di haramkan allah mencium bau jannah? Padahal bau jannah itu tercium dari jarak 500 tahun perjalanan. Itulah para wanita penggembira di dunia tanpa mengindahkan perintahNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri islami…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai disini aku tak megerti apakah kata–kata ini menembus kerelung hati mu.Hingga membuat dirimu sudi merenung sejenak tuk memperbaiki diri menjadi sesosok muslimah sejati? . Muslimah sejati yang hidupnya bahagia dengan suami setia tercinta hingga di surga. Muslimah sejati yang jiwanya kaya dengan kasih sayang tulus kepada anak tercinta. Dan muslimah sejati yang hidupnya mulia menutup auratnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuharap masih tersisa secuil kesempatan tuk telusuri pahatan-pahatan pena di lembar putih ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri islami di negeri pertiwi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutulis suratan hati ini saat nuraniku menjerit dan berteriak kesakitan melihat harga dirimu diinjak–injak oleh anjing–anjing durjana yang setiap saat mengintaimu. Mereka menyembunyikan kebuasan nafsunya di balik kata-kata cinta manis dan menawan. Emansipasi dan persamaan gender yang sebenarnya rayuan gombal. Mereka menyembuyikan semua itu padahal hati mereka penuh dengan makar dan tipuan bejat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri islami di negeri pertiwi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua mata ini sudah sepat membuka dan menatap hari-hari yang ditaburi kemaksiatan . dan telinga ini pun juga bosan mendengar musik–musik setan yang dihalalkan pengikut kebatilan.Setiap ruang dan waktu musik-musik itu bergema di telinga dengan syair-syair cinta dusta.Di puja-puja dan dihafal para remaja melebihi cintanya terhadap ayat alquran yang mulia. Bahkan ratusan ribu keluar demi menyaksikan konser musik, dengan berdesak-desakan dan berjingkrak ria. Bahkan diantara mereka ada yang meningggal di tempat maksiat bersama iringan suara gitar dan band yang melalaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri islami…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kapan air mata ini kan mongering . Dan sampai kapan kepedihan ini kan berakhir .Aku tak mengerti jawabannya. Yang aku bisa hanyalah memberikan nasihat bagi jiwa-jiwa yang menerimanya . putri islami yang masih tenggelam dalam keterlenaaan , Ku harap engkau segera mengakhiri hari –hari kelabumu dimana bunga-bunga harga dirimu berguguran di tangan kumbang –jumbang tak beradap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri islami…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarkan diriku dengan seonggok kesedihan ini meneruskan kembali goresan suratan hatii ini. Dan kalaulah boleh jujur hati ini sering kali menangis melihat putri-putri islami di sembelih rasa malunya dengan pisau–pisau mode, dirobek dengan belati emansipasi dan ditusuk-tusuk dengan pedang persamaan gender. Sungguh mereka telah menghalalkan segala cara.demi tercapai tujuan nafsunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri islami…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musuh-musuhmu telah menyaiapkan ribuan wanita yang setia berperang di jalan setan.Mereka memberikan seluruh tubuhnya untuk merusakmu lewat film -film porno majalah-majalah bejat dan jutaan situs terlaknat.Mereka berikan suara indahnya tuk mendendangkan syair-syair setan yang mereka atas namakan dengan cinta. Setiap hari mereka bicara dengan subhat mereka dengan dukungan ratusan media masa.&lt;br /&gt;Putri isalmi yang hatinya masih terbingkai anggun keyakinan bahwa alloh adalah Rabb sesembahanya. Kekhawatiran dan kecemburuan dalam hati ini tidak lain karena kerbanyakan dirimu telah terperngkap di lorong-lorong fujur itu.Bahkan diantara dirimu telah terbuai dengan ungkapan-ungkapan gombal dari para wanita jalang di layar lebar dan majalah kacangan di pinggir jalan .Diantara dirimu telah terlena dengan rasi-rasi bintang yang tak lebih perkataan syirik yang dihiasi dengan ramalan kebatilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri islami…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menghawatirkan karena subhat dalam dirimu akan hijab sebagai pakaian wajibmu dimana mereka memakai kerudung kecil berwarna warni merangsang pandangan mata .Berjalan didepan pria dengan celana jeans dan baju ketatnya.Wajahnya bersolek dan dibumbui parfum yang menyengat setiap orang yang dilaluinya. Mereka tampak islami sebenarnya menodai kemurniaan islam. dibalik kejahiliyahan model baru. Dimanakah mereka diantara hijab islami yang diajarkan Nabi SAW? Dimanakah mereka diantara adab islami yang dicontohkan istri-isteri nabi SAW? Mengapa masih ada muslimah yang bertabaruj bahkan tidak mengenal jilbab sementara al qur’an dia dengar setiap hari?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri islami…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang membuatmu membenci jilbab padahal ia pakaian anggunmu dimata Allah? Apa yang membuatmu ragu dengan jilbab padahal ia menjaga kehormatanmu dari mata-mata jalang . Kenapa engkau lebih menyukai berdandan seronok dengan aurat terbuka menjadi ajang zina mata durjana. Jika bukan ridha Allah ridha siapa lagi yang akan engkau cari?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri islami…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutulis surat ini untukmu karena ada harga yang harus kau bayar dengan mahal di batas waktu yang tak terhingga.Dan sesungguhnya penggalan nafas yang tak akan kembali ini akan bersaksi dihadapan ilahi. Tapi kenyataannya mengapa masih ada yang begitu tega menggadaikan harga diri dan kehormatan demi selembar uang? Bahkan harga dirinya tak sewangi bunga lagi karena naik turun sesuai pasaran perzinaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri islami…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akal sehat yang mana yang rela menjual harga dirinya dengan hanya sebotol sampo atau sebutir sabun untuk telanjang di mata jutaan orang. Ah…barang kali engkau terlalu bermimpi menggapai kemasyhuran dan lupa siksaan sebagai tebusan. Tidak tahukah tubuhmu yang setiap hari kau dandani itu telah ditunggu ulat-ulat busuk yang siap menggorogoti? Dan dirimu dikenal orang sebagai bintang perzinaan yang didemeni laki –laki biadab yang berhianat pada istri-istrinya. Apakah engkau suka saat kamatian menjemputmu dan dirimu menjadi maskot dalam kemaksiatan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh…kuharap engkau mengerti suratan hati ini. Bahwa susungguhnya aku sangat ingin engkau masuk islam dengan kaffah. Aku ingin dirimu merasakan secuil iman yang setelah itu engkau tak berpaling kepada kejahiliyahan. Aku ingin engkau meneguk setetes hidayah yang membuat kehausan nafsu birahimu terobati selamanya. Semoga Allah membuatmu mencintai keimanan dan membenci jalan –jalan kejahiliyahan dan kefasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri islami…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau bukan dien ini nasihat apa gunanya pena latah ini ku alunkan. Harapanku minimal nasihat ini membebaskan ku dari tuduhan sebagai ”setan bisu” yang ridha dengan kemungkaran. Lebih jauh dari itu semoga suratan hati ini menjadi wasilah dan hujjah yang mengantarkan ke janah abadi bersanding bersama bidadari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudarikun putri isalami…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuharap engkau tak bosan membaca suratan hati ini. Nasihat yang jujur apa adanya dari seseorang yang cinta dan cemburu karena Allah dengan harga diri saudarnya . Kalau bukan karena ridha allah tak pernah ku goreskan pena ini untukmu . Semoga setiap kata yang kau baca dapat kau pahami dan bernilai ibadah disisi allah. SWT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putir islami…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah para muslimah di zaman sahabat . ridha Allah dan rosulNya adalah tujuan utama. Tak bergeming menghadapi ocehan orang-orang musyrik dalam memegang diennya. Bersegera meyambut seruan allah , bahkan dalam berbagai moment mereka adalah rijal yang siap membela rosulullah SAW saat di lukai dan di lecehkan kehormatannya. Asma’,Nusaibah, Khansa tak perlu ku ceritakan tentang mereka karena namanya telah telah terukir indah dalam sejarah ummah. Pesona teladan yang mekar mewangi bagi para muslinah sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri islami …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah sekelilimnngmu tentang keadaan kaum muslimah hari ini. Siapakah diantara mereka yang menjadikan para istri nabi SAW dan sahabat sebagai teladan? Padahal mereka adalah orang –orang yang di janjikan dengan jannah. Bahkan diantara mereka namanya telah tercatat sebagai penghuni surga sedang mereka masih hidup di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa wanita-wanita penzina lebih di sukai dan disebut –sebut dari pada sosok mulia itui? Meniru mereka dari gaya rambut dan pakaian serba terbuka. Bahkan jika mereka terpelosok kedalam lembah zina akan mereka ikuti juga. Dimanakah harga diri itu wahai putri islami? Dimankah kesucian diri dari perbuatan busuk itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah wahai putri islami ,lihatlah dengan matamu yang bersinar betapa ribuan muslimah telah mengabaikan perintah Alloh. Bahkan mereka tak mengerti bahwa jilbab itu wajib sebagaiman solat dan zakat. Bahkan mereka akan berdosa jika mereka enggan memakainya Tapi kebanyakan mereka menutup diri dan mencaci pemilik jiwa yang murni yang menunaikan perintah Alloh. Siapa yang hari ini tak mencibir orang muslimah yang berjilbab besar dan bercadar. Ejekan–ejekan tak senonoh, kata-kata pedas dan menghina, pandangan-pandangan benci dan marah, serta tuduhan-tuduhan ekstrim dan kolot lekat dari mulut-mulut yang mengaku dirinya seorang muslimah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak kah mereka melihat dirinya yang lebih hina dengan bermaksiat kepada alloh setiap harinya? Tidakkah mereka sadar akan ancaman siksa alloh yang begitu perih? Dan tidakkah mereka mengerti bahwa harga dirinya telah membusuk dikelilingi makhluk kotor setan penyembah syahwat?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri islami….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika srigala hewan itu hanya menginginkan daging ,tapi srigala manusia menginginkan sesuatu yang lebih berharga dari itu.Dia ingin engkau kehilangan harga diri. Mereka berusaha memburu harga duirimu dan merobek-robek dalam ranjang perzinaan setelah itu engkau ditertawakan karena engkau bagaikan binatang jalang yang tak punya lagi harga diri kemudian dijadikanlah engkau ajang jual beli bagi para penyembah birahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri islami… jangan tertipu kebusukan makar setan yang dibalut dengan cinta-cinta palsu seperti valentine day. Betapa hari itu telah menjadi sakral bagi penodaan yang berkedok cinta dan kasih sayang. Berapa harga diri telah melayang dalam kepalsuan dan kenaifan.Bahkan mereka mengenangnya sebagai hari bersejarah tentang kebusukan cinta mereka, mencatatnya didalam agenda dan seolah dosa-dosa itu terasa manis saat di kenangnya .Naudzubillahi mindzalik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah engkau melihat wanita-wanita kafir penyembah syahwat yang hidupnya bergelimang dengan zina setiap harinya? Bahkan mereka membunuh anak dalam perutnya sebelum ia dilahirkannya? Entah berapa ribu anak yang dibunuh dari berzina, entah berapa ribu pula anak yang hidup tak mengetahui siapa bapaknya. Oh…begitukah yang kau cari wahai putri islami?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku….&lt;br /&gt;Tak perlu aku ceritakan tentang pacaran yang telah menjadi tuntunan bagi para pemuda umat ini. Hati ini diris-iris ketika masuk dan melihat sosok–sosok pemuda di universitas-universitas islam.Duduk berdua-duaan di kesepian asyik pacaran.&lt;br /&gt;Jilbab gaul yang tak karuhan; pergaulan bebas yang telah dihalalkan. Musik-misik yang dilantunkan pengganti al qur’an . Hanya beberapa gelintir ihwah mahasiswa yang allah selamatkan dari kejahiliyahan itu. Dan itu pun mendapat tekanan dari berbagai kalangan. Semoga alloh teguhka jiwa mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri islami …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah engkau bahwa seseorang akan diadzab karena cinta yang ia sekutukan karena alloh? Fahamkankah dirimu bahwa rindu-rindu palsu itu ibarat kerak dosa didalam qolbu yang menghangi beningnya hatimu dari hidayah allah? Dan mengertikah cinta selain allah itu tidak pernah akan abadi meskipun ibarat Romeo dan Juliet?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas mengapa begitu mudahnya kau obralkan cintamu dengan seseorang yang berkata “I LOVE YOU” untuk merayumu? Kenapa kata-kata itu membuatmu luluh tak berdaya dan kau berikan seluruh dirimu kepada laki laki asing yang bukan suamimu? Kenapa kata kata itu menjadi berhala didalam hatimu dan kau nodai cinta Alloh? Kenapa wahai putri islami kata yang sebenarnya bisikan iblis itu membuat dirimu gelisah tidur dan jiwamu melayang- layang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu karena engkau tak mengerti akan cinta Alloh. Dan ruang hatimu kau biarkan kosong dengan cinta-cinta setan. Lupakan kata kata itu dari hatimu kecuali suamimu yang Alloh halalkan sebagai bajumu. Jadikanlah cintamu ladang pahala. Ladang pahala yang tumbuh dari akar-akar ma’rifatulloh. Dan batangnya kuat perkasa menjulang keangkasa dengan tauhidulloh. Jagalah cintamu, awasi jangan pernah lengah hingga engkau berlabuh di dermaga ketenangan jiwa yang bernama pernikahan islami yang diberkahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh… betapa banyaknya muslimah hancur dengan cintanya yang liar diantantara srigala srigala buas. Demi hawa nafsunya yang berkata atas nama cinta sejati mereka serahkan seluruh tubuh dari ujung rambut sampai ujung kaki utuk di nodai. Bahkan demi cinta palsunya ribuan orang rela bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri islami…&lt;br /&gt;Cobalah berfiikir bening dan jernih. Tanyakan dengan jujur kepada nuranimu yang lembut itu. Tentang kemasyuran yang kau buru atau pun kebebasan yang kau tuju. Apakah kebebasan yang kau maksud itu kebbebasan berkencan dan berzina, seperti wanita-wanita kafir penyembah syahwat? Apakah berjingkrak ria dikonser musik itu kebebasan yang kau cari? Ataukah berdandan seksi didepan umum itu yang kau maksud? Cobalah tanyakan lagi semua itukah kebahagiaan seorang wanita? Ataukah dengan tunduk dengan syariah alloh Menjadi wanita sholehah yang terjaga auratnya?Yang dibelai suami dengan mesranya kasih sayang dalam keluarga. Begitu juga didamba putra dan putri tercinta dalam membina keluarga bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanyakanlah wahai putri islamiku&lt;br /&gt;Demi Alloh tanyakan kepada pemburu syahwat itu. Apakah mereka rela jika anak cucunya kelak menjadi biduanita yang dihargai dengan selembar uang? Apakah mereka tega meliaht anak anaknya dicengkram srigala srigala buas yang siap merobek harga dirinya? Tanyakan pada mereka yang setiap malam menjual diri di klub klub malam menjadi wanita penghibur. Apakah mereka mendapatkan kebahagiaan dengan tidur bersama laki laki buas dan relakan mereka jika putrinya kelak seperti dia yang tak punya harga? Tanyakan wahai putriku, tanyakan jika engkau masih ragu. Tentang orang yang termahsyur diantara penyembah syahwat itu, tanyakan kepada mereka yang berlenggak-lenggok disorak sorai tepukan tangan jutaan orang. Kebahagiaan seperti apa yang dia cari dibalik keternodaaan harga dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri islami…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa kebanyakan engkau tak sadar bahwa kebanyakan wanita telah menjadi barang dagangan di tangan penyembah syahwat, Lihat dan bukalah matamu disepajang jalan penuh dengan pampangan wanita telanjang disapu mata sembarang orang. Lihat wahai putriku disetiap produk barang kecantikan wanita dijual dengan kemurahan. Dan iklan tv pun setiap detik seolah tak berhenti memamerkan aurat wanita. Siapakah diantara bintang tv yang paling terkenal? Tidak lain wanita yang paling berani menjual hargadirinya. Dan tak perlu kau tanya tentang koran murahan dan majalah rendahan disudut-sudut jalanan yang memamerkan wanita telanjang penghibur preman jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kau cari wahai putri islamiku di balik semua itu.Apa yang kau dapat dengan berkencan dan foto bersama dengan orang orang fasik pembela musik. `&lt;br /&gt;Apa gunanya menghabiskan masa mudamu dengan pacaran bersama laki laki yang belum tentu jadi suamimu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri islamiku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku harap engkau masih bersamaku hingga akhir suratan hati ini. Aku selalu dirudung duka dan dibalut rasa resah selama dirimu tak mau mengerti atau kau anggap angin lalu tentang apa yang aku ungkapkan di lembar putih ini. Bukannya diri ini ingin dikenang, sama sekali tidak wahai putri islamiku. Aku tidak ingin setiap muslimah menjadi mangsa bagi srigala srigala buas penyembah syahwat dan aku tidak ingin mereka nantinya menyesal karena merasa mengkhianati calon suaminya meskipun mereka tak mengetahuinya saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri islami …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika fitrahmu yang lembut itu masih murni, dan jika nalurimu yang halus itu belum terkoyak dan ternodai aku yakin, ya demi Alloh aku yakin engkau akan menemukan jalan kembali dari kebimbangan yang engkau hadapi. Tidak lain dan tidak bukan dengan mengetuk pintu Alloh yang terbuka bagi siapa saja siang dan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku berhentilah dari kefujuran itu. Engkau adalah calon ibu yang menjadi teladan bagi putra-putrimu. Jauhilah teman dan tempat tempat yang menyeretmu kejurang kehinaan. Dan mulailah mengenal Alloh dengan menuntut ilmu dihalaqoh halaqoh kajian keislaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri islami…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temanilah jiwa jiwa yang tegar yang menjaga syariah Alloh. Dan saling menasihatilah dalam ketaqwaan dan kesabaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri islami…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kau baca suratku ini aku berdoa semoga engkau menjadi permata yang selalu berkilau menyejukkan pandangan suamimu yang sholeh. Begitu juga menjadi teladan bagi keluargamu dan anak anakmu. Hingga bias pelangi islam yang indah itu menghiasi setiap rumah tanggamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan maafkan aku jika kata kata dilembar putih ini terlalu hambar dan kasar. Namun akau yakin engkau lebih tahu apa yang harus kau lakukan setelah membaca suratku ini. Memang tak pantas diri ini menulis banyak karena memang bukan ulama yang pantas menuliskannya. Bukan pula seorang pujangga yang kata-katanya bagai mutiara gemerlap didalam jiwa. Namun aku hanya seorang yang ingin menyampaikan nasihat kepada saudaranya satu agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pena yang latah ini menuliskan kata kata yang mengiris pilu hatimu.maka bukan itu maksudku suratan hati ini tak lebih hanyalah wasilah yang semoga bersamaan membaca surat ini membersamai pula turunnya hidayah atas dirimu. Ya aku sangat berharap seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri islami…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau mempunyai andil yang besar dalam meretas jalan panjang perjuangan. Entah apa jadinya jika wanita muslimah bertingkah laksana wanita kafir yang Alloh janjikan jahanam. Sekali kali jangan lah engkau tertakjub, dimata Alloh mereka tak ada harganya dengan wanita budak yang beriman. Keindahan sejati itu bukan diwajah dan tubuh tapi dalam kesholehahan dan akhlak yang terpuji. Engkau lah seharusnya pemilik keindahan itu. Ya, hanya engkau wahai putri islami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan inilah akhir dari suratan hatiku. Mudah mudahan akhir surat ini mengakhiri pula kebimbanganmu untuk memutuskan menjadi muslimah sejati. Begitu juga menjadi akhir dari hari-hari lalumu yang penuh kejahiliyahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku tak ada yang terlambat untuk menjadi muslimah sejati. Buang kata kata, ” Tapi aku belum mantap, nanti keluarga ku gimana?”. Tak ada kata “nanti“ bagi pribadi yang ingin mekar mewangi. Dan tak ada kata “tapi” untuk merubah diri lebih berseri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku…&lt;br /&gt;Alloh setia menanti taubatmu setiap pagi siang serta sore dan malam hari. Segeralah bertaubat sebelum mentari terbit dari barat.atau nyawa telah sampai ditenggorokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang katakan pada dirimu sendiri :&lt;br /&gt;“AKU HARUS MENJADI MUSLIMAH SEJATI, HARUS DAN HARUS APAPUN YANG TERJADI”.&lt;br /&gt;Saudariku aku sangat yakin dengan dirimu. Kau bisa mewujudkan cita cita mulia itu. PERCAYALAH..!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika senja merekah dikota shon’a&lt;br /&gt;Ahad 24 sya’ban 1429H / 24 agustus 2008.&lt;br /&gt;Dari saudaramu yang cemburu karena Alloh atas harga diri saudaranya yang dinodai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-1225194726215915481?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/1225194726215915481/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/10/suratan-hati-kepada-putri-islami.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/1225194726215915481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/1225194726215915481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/10/suratan-hati-kepada-putri-islami.html' title='Suratan Hati Kepada Putri Islami'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-7197541841453852827</id><published>2009-09-14T07:23:00.002+07:00</published><updated>2009-09-14T07:30:00.104+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nikah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Akhwat'/><title type='text'>KISAH MAHAR PALING MULIA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:l259edGrB1494M:http://www.ksai-aluswah.org/wp-content/uploads/2008/08/tempx_wf_islam_koran_g.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 127px; height: 103px;" src="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:l259edGrB1494M:http://www.ksai-aluswah.org/wp-content/uploads/2008/08/tempx_wf_islam_koran_g.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sejarah telah berbicara tentang berbagai kisah yang bisa kita jadikan pelajaran dalam menapaki kehidupan. Sejarah pun mencatat perjalanan hidup para wanita muslimah yang teguh dan setia di atas keislamannya. Mereka adalah wanita yang kisahnya terukir di hati orang-orang beriman yang keterikatan hati mereka kepada Islam lebih kuat daripada keterikatan hatinya terhadap kenikmatan dunia. Salah satu diantara mereka adalah Rumaisha’ Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin Adi bin Najar Al-Anshariyah Al-Khazrajiyah. Beliau dikenal dengan nama Ummu Sulaim.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Siapakah Ummu Sulaim ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ummu Sulaim adalah ibunda Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terkenal keilmuannya dalam masalah agama. Selain itu, Ummu Sulaim adalah salah seorang wanita muslimah yang dikabarkan masuk surga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau termasuk golongan pertama yang masuk Islam dari kalangan Anshar yang telah teruji keimanannya dan konsistensinya di dalam Islam. Kemarahan suaminya yang masih kafir tidak menjadikannya gentar dalam mempertahankan aqidahnya. Keteguhannya di atas kebenaran menghasilkan kepergian suaminya dari sisinya. Namun, kesendiriannya mempertahankan keimanan bersama seorang putranya justru berbuah kesabaran sehingga keduanya menjadi bahan pembicaraan orang yang takjub dan bangga dengan ketabahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dan, apakah kalian tahu wahai saudariku???&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kesabaran dan ketabahan Ummu Sulaim telah menyemikan perasaan cinta di hati Abu Thalhah yang saat itu masih kafir. Abu Thalhah memberanikan diri untuk melamar beliau dengan tawaran mahar yang tinggi. Namun, Ummu Sulaim menyatakan ketidaktertarikannya terhadap gemerlapnya pesona dunia yang ditawarkan kehadapannya. Di dalam sebuah riwayat yang sanadnya shahih dan memiliki banyak jalan, terdapat pernyataan beliau bahwa ketika itu beliau berkata, “Demi Allah, orang seperti anda tidak layak untuk ditolak, hanya saja engkau adalah orang kafir, sedangkan aku adalah seorang muslimah sehingga tidak halal untuk menikah denganmu. Jika kamu mau masuk Islam maka itulah mahar bagiku dan aku tidak meminta selain dari itu.” (HR. An-Nasa’i VI/114, Al Ishabah VIII/243 dan Al-Hilyah II/59 dan 60). Akhirnya menikahlah Ummu Sulaim dengan Abu Thalhah dengan mahar yang teramat mulia, yaitu Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini menjadi pelajaran bahwa mahar sebagai pemberian yang diberikan kepada istri berupa harta atau selainnya dengan sebab pernikahan tidak selalu identik dengan uang, emas, atau segala sesuatu yang bersifat keduniaan. Namun, mahar bisa berupa apapun yang bernilai dan diridhai istri selama bukan perkara yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesuatu yang perlu kalian tahu wahai saudariku, berdasarkan hadits dari Anas yang diriwayatkan oleh Tsabit bahwa Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda, “Aku belum pernah mendengar seorang wanita pun yang lebih mulia maharnya dari Ummu Sulaim karena maharnya adalah Islam.” (Sunan Nasa’i VI/114).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang kita untuk bermahal-mahal dalam mahar, diantaranya dalam sabda beliau adalah: “Di antara kebaikan wanita ialah memudahkan maharnya dan memudahkan rahimnya.” (HR. Ahmad) dan “Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.” (HR. Abu Dawud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Demikianlah saudariku muslimah…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Semoga kisah ini menjadi sesuatu yang berarti dalam kehidupan kita dan menjadi jalan untuk meluruskan pandangan kita yang mungkin keliru dalam memaknai mahar. Selain itu, semoga kisah ini menjadi salah satu motivator kita untuk lebih konsisten dengan keislaman kita. Wallahu Waliyyuttaufiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji: &lt;br /&gt;1.Panduan Lengkap Nikah dari “A” sampai “Z” (Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin ‘Abdir Razzaq),&lt;br /&gt;2.Wanita-wanita Teladan Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Mahmud Mahdi Al Istanbuli dan Musthafa Abu An Nashr Asy Syalabi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-7197541841453852827?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/7197541841453852827/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/09/kisah-mahar-paling-mulia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/7197541841453852827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/7197541841453852827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/09/kisah-mahar-paling-mulia.html' title='KISAH MAHAR PALING MULIA'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-177645049509242195</id><published>2009-08-19T17:14:00.003+07:00</published><updated>2009-12-05T07:31:08.435+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Waspada'/><title type='text'>BID’AH-BID’AH DI BULAN RAMADHAN (Menjelang atau Sesudah)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://tbn3.google.com/images?q=tbn:nZPvDCXDX3EJLM:http://i143.photobucket.com/albums/r143/Fay_Almeer/Blog/Ramadhan___By_lakoubi_by_Arabdesign.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 197px; height: 223px;" src="http://tbn3.google.com/images?q=tbn:nZPvDCXDX3EJLM:http://i143.photobucket.com/albums/r143/Fay_Almeer/Blog/Ramadhan___By_lakoubi_by_Arabdesign.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Satu hal yang menodai bulan Ramadhan adalah bermunculannya amalan-amalan bid'ah yang banyak dilakukan oleh sebagian kaum muslimin. Karena sudah turun temurun dilakukan merekapun menganggap baik bid'ah tersebut. Itulah sebabnya setan lebih menyukai bid'ah daripada maksiat. Khususnya di bulan Ramadhan ini, salah satu cara setan untuk menghalangi kebaikan di bulan ini adalah menebar amalan-amalan bid'ah. Para pelaku bid'ah itu merasa mereka lebih dekat kepada Allah, padahal mereka semakin jauh dari-Nya. Yang sangat menyedihkan adalah amalan-amalan bid'ah ini justru menjamur di bulan Ramadhan!&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam kajian kali ini kami coba membahas beberapa amalan bid'ah yang sering dilakukan oleh kaum muslimin. Semoga mereka dapat meninggalkan dan bertaubat darinya. Kami mencupliknya dari kitab Mu'jamul Bida' oleh Raa-id bin Shabri bin Abi 'Alfah dan kitab Al-Bida' Al-Hauliyah oleh Abdullah bin Abdul Aziz bin Ahmad At-Tuwairijiy  serta beberapa referensi lainnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1.       Bid'ah Punggahan.&lt;br /&gt;      Yakni makan-makan atau kenduri di masjid atau surau satu hari menjelang Ramadhan. Di beberapa tempat masyarakat berbondong-bondong membawa makanan beraneka ragam untuk kenduri di masjid menyambut datangnya bulan Ramadhan. Kenduri seperti ini disebut punggahan. Hal ini tidak ada contohnya dari Rasulullah, para Sahabat maupun Salafus Shalih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.       Bid'ah pesta ru'yah. &lt;br /&gt;      Yaitu berkeliling kota atau desa menyambut malam pertama bulan Ramadhan sebagaimana biasa dilakukan oleh pengikut-pengikut tarikat dan orang awam. Silakan lihat kitab Al-Ibdaa' fi Madhaar Al-Ibtidaa' karangan Syeikh Ali Mahfuzh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.       Bid'ah hisab. &lt;br /&gt;Yakni menentukan awal Ramadhan dengan perhitungan hisab. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa telah menegaskan bahwa cara seperti itu adalah bid'ah dalam agama. Silakan lihat Majmu' Fatawa (XXV/179-183).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.       Mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya.&lt;br /&gt;Perbuatan seperti itu merupakan kedurhakaan terhadap Rasulullah Shallallahu álaihi wa Sallam. Rasulullah melarang mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya, kecuali bagi yang bertepatan dengan hari puasanya. Silakan lihat kitab Al-Ibdaa' fi Madhaar Al-Ibtidaa' karangan Syeikh Ali Mahfuzh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.       Menyewa Qori untuk menjadi imam shalat tarawih di bulan Ramadhan.&lt;br /&gt;Perbuatan ini termasuk bid'ah makruh, silakan lihat kitab As-Sunan wal Mubtada'aat (161) dan kitab Bida' Al-Qurra' karangan Muhammad Musa (42).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.       Bid'ah adanya waktu Imsak sebelum Azan Shubuh di bulan Ramadhan. &lt;br /&gt;Bagaimana mungkin manusia mengharamkan apa2 yang dihalalkan Allh SWT, dimana Allah SWT melalui Rasulnya menghalalkan manusia untuk makan dan minum sampai terdengar azan shubuh, namun ada sebagian orang yang mengharamkannya 10-15 menit sebelum azan shubuh.&lt;br /&gt;Silakan lihat kitab Tamaamul Minnah karangan Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani (415).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.       Bid'ah Tashir. &lt;br /&gt;Yakni membangunkan orang untuk sahur dengan berteriak: Sahur....sahur. Perbuatan seperti ini tidak ada contohnya di zaman Rasulullah dan tidak pula diperintahkan oleh beliau. Dan tidak pula dilakukan oleh para sahabat dan tabi'in.&lt;br /&gt;Di negeri Mesir, para muadzdzin menyerukan lewat menara masjid: Sahur... sahur... makan.... minum...., kemudian membaca firman Allah:&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu bershiyam sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (QS. 2:183)&lt;br /&gt;Di negeri Syam lebih parah lagi, mereka membangunkan sahur dengan membunyikan alat musik, bernyanyi, menari dan bermain.&lt;br /&gt;Tidak ketinggalan di Indonesia, berbagai macam cara dilakukan oleh orang-orang awam. Ada yang keliling kampung sambil teriak-teriak: Sahur....sahur. Di sebagian daerah dengan membunyikan musik lewat mikrofon masjid atau dengan membunyikan tape dan membawanya keliling kampung, ada yang membunyikan mercon atau meriam bambu, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Semua itu adalah perbuatan bid'ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.       Bid'ah shalat Tarawih setelah shalat Maghrib.&lt;br /&gt;Bid'ah ini umumnya dilakukan oleh kaum Rafidhah (Syi’ah). Sebab mereka mengingkari shalat tarawih bahkan membencinya. Menurut mereka shalat tarawih itu bid'ah yang diada-adakan oleh Umar Radhiyallahu ánhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.       Bid'ah shalat Al-Qadar.&lt;br /&gt;Yakni mengerjakan shalat dua rakaat berjama'ah setelah shalat tarawih, kemudian di penghujung malam mereka mengerjakan shalat seratus rakaat di malam yang mereka yakini sebagai malam Lailatul Qadar, karena itulah mereka menamakannya shalat Al-Qadar.&lt;br /&gt;Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakannya sebagai amalan bid'ah berdasarkan kesepatakan para ulama. Silakan lihat dalam kitab Majmu' Fatawa (XXIII/122).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.   Bid'ah mengumpulkan ayat-ayat berisi doa dan membacanya di rakaat terakhir shalat tarawih setelah membaca surat An-Naas. Silakan lihat kitab Al-Baa'its karangan Abu Syaamah (halaman 84).&lt;br /&gt;11.   Bid'ah perayaan malam khatam Al-Qurán.&lt;br /&gt;Yakni berdoa dengan suara keras secara berjama'ah atau sendiri-sendiri setelah mengkhatamkan Al-Qurán.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.   Bid'ah perayaan Nuzul Al-Qurán.&lt;br /&gt;Perayaan ini dilakukan setiap tanggal tujuh belas Ramadhan. Perayaan ini dan perayaan-perayaan lain sejenisnya seperti maulid nabi, isra' mi'raj dan tahun baru Islam merupakan perbuatan bid'ah yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu álaihi wa Sallam dan tidak pernah dilakukan oleh para sahabat sepeninggal beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13.   Bid'ah perayaan mengenang perang Badar.&lt;br /&gt;Salah satu perayaan bid'ah yang diada-adakan oleh manusia adalah peringatan perang Badar pada malam ke tujuh belas Ramadhan. Orang-orang awam dan yang mengaku pintar berkumpul di masjid pada malam itu. Perayaan dibuka dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qurán kemudian dilanjutkan dengan pembacaan kisah perang Badar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14.   Menunda azan Maghrib di bulan Ramadhan dengan alasan untuk kehati-hatian.&lt;br /&gt;Hal ini bertentangan dengan petunjuk nabi yang memerintahkan umatnya agar segera berbuka begitu bulatan matahari telah tenggelam di ufuk barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15.   Berziarah kubur menjelang Ramadhan dan sesudahnya. &lt;br /&gt;Perbuatan seperti ini banyak dilakukan oleh kaum muslimin di Indonesia. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang membumbuinya dengan perbuatan-perbuatan bid'ah atau bahkan syirik. Berziarah kubur memang dianjurkan untuk mengingat Akhirat, namun mengkhususkannya pada waktu-waktu tertentu merupakan bid'ah dalam agama. Rasulullah tidak menganjurkan waktu-waktu tertentu untuk berziarah kubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16.   Menyalakan lilin di depan rumah dan kembang api pada malam dua puluh tujuh Ramadhan.&lt;br /&gt;Sebagian orang melakukannya dengan keyakinan bahwa para malaikat akan menyinggahi rumah yang dipasangi lilin. Perbuatan seperti itu jelas bid'ah dan mirip seperti perbuatan orang-orang Nasrani merayakan natal atau tahun baru, wal iyadzu billah minad dhalal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17.   Bid'ah Megengan.&lt;br /&gt;Yakni kenduri di rumah-rumah yang dilakukan pada malam-malam ganjil sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Bid'ah ini banyak dilakukan di kampung-kampung di pulau Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18.   Bid'ah Wadaa' Ramadhan.&lt;br /&gt;Salah satu bid'ah yang diada-adakan di bulan Ramadhan adalah bid'ah wadaa' (perpisahan) Ramadhan. Yakni lima malam atau tiga malam terakhir di bulan Ramadhan para muadzdzin dan wakil-wakilnya berkumpul, setelah imam mengucapkan salam pada shalat witir, mereka melantunkan syair-syair berisi kesedihan mereka dengan kepergian bulan Ramadhan. Syair ini dilantunkan secara bergantian tanpa putus dengan suara keras. Tujuannya untuk mengumumkan kepada masyarakat bahwa malam ini adalah malam perpisahan bulan Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19.   Bid'ah takbiran bersama2 dengan lafazh2 bid’ah dan memukul Beduq di malam 'Iedul Fithri.&lt;br /&gt;Menurut sunnah nabi, takbiran dilakukan sendiri2 dengan boleh mengeraskan suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20.   Bid'ah dzikir berjama'ah dengan suara keras disela-sela shalat tarawih. &lt;br /&gt;Silakan lihat kitab Al-Madkhal karangan Ibnul Haaj (II/293-294).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21.   Ucapan muadzdzin sebelum memulai shalat tarawih atau disela-sela shalat tarawih: "Shalaatut taraawih rahimakumullah". Lalu para berjamaah menyahut dengan teriakan2 nggak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22.   Melafalkan niat: "Nawaitu shauma ghadin...." untuk berpuasa yang biasa dibaca setelah sahur.&lt;br /&gt;Tidak ada satupun riwayat dari sahabat maupun tabi'in yang menyebutkan bahwa mereka melafalkan niat puasa seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23.   Bid'ah Tahwiithah. &lt;br /&gt;Yaitu doa di akhir jum'at di bulan Ramadhan yang diucapkan oleh khatib di atas mimbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24.   Bid'ah memilih-milih masjid untuk shalat tarawih di bulan Ramadhan, hingga terkadang harus bersafar karenanya. Rasulullah Shallallahu álaihi wa Sallam memerintahkan kita untuk shalat di masjid yang terdekat dengan kita dan melarang memilih-milih masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25.   Bid'ah Hafizhah.&lt;br /&gt;Yakni surat sakti yang ditulis oleh khatib di akhir jum'at pada bulan Ramadhan, sebagian orang jahil meyakini surat sakti ini dapat menjaga mereka dari bahaya kebakaran, banjir, pencurian dan musibah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26.   Membaca surat Al-An'am (pada rakaat terakhir shalat tarawih di malam kedua puluh tujuh Ramadhan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27.   Bid'ah shalat khatam Al-Qurán pada bulan Ramadhan dengan melakukan seluruh sujud tilawah dalam satu rakaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28.   Mengada-adakan gerakan ataupun ucapan dalam shalat tarawih yang tidak ada tuntunannya dalam sunnah. Sebagai contoh ucapan sebagian orang di beberapa negeri Islam: "Shallu yaa Hadhdhaar 'Alan Nabi" atau ucapan: "Ash-Shalaatul Qiyam Atsabakumullah". Demikian pula takbir dan tahlil setiap selesai dua rakaat, membaca shalawat nabi, menyuarakan tabligh (penyampaian suara) diantara mereka dengan suara keras. Dan perbuatan-perbuatan bid'ah, sesat dan mungkar lainnya yang mesti ditinggalkan karena sangat mengganggu orang yang sedang beribadah di rumah Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29.   Meniru-niru bacaan para qari'.&lt;br /&gt;Hampir mirip dengan kesalahan di atas adalah meniru-niru bacaan sejumlah qari' sebagaimana banyak dilakukan oleh orang-orang sekarang. Kadang memaksakan diri meniru bacaannya. Sehingga yang menjadi tujuannya hanyalah mengelokkan suara, menarik perhatian orang kepadanya, mengatur alat pengeras suara dan sound system untuk menarik jama'ah shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30.   Membaca doa khatam al-qurán dalam shalat tarawih.&lt;br /&gt;Sebagian imam ada yang berlebihan dalam masalah ini. Mereka sengaja menyusun doa-doa dengan irama tertentu, mengikuti sajak, berusaha menangis atau memaksakan diri menangis dan khusyuk serta merubah-rubah suara dengan cara yang tidak pantas menjadi contoh dalam membaca Al-Qurán.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demikianlah beberapa bid'ah yang dapat kami rangkum dalam kesempatan kali ini. Sebenarnya masih banyak lagi bentuk-bentuk bid'ah lainnya yang tidak mungkin kami sebutkan satu persatu di sini. Hendaknya kaum muslimin dapat menghindari amalan-amalan bid'ah tersebut agar bulan Ramadhan yang suci ini tidak ternodai dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-177645049509242195?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/177645049509242195/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/08/bidah-bidah-di-bulan-ramadhan-menjelang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/177645049509242195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/177645049509242195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/08/bidah-bidah-di-bulan-ramadhan-menjelang.html' title='BID’AH-BID’AH DI BULAN RAMADHAN (Menjelang atau Sesudah)'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-2144537934241042120</id><published>2009-08-04T11:21:00.003+07:00</published><updated>2009-08-04T11:30:17.147+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Akhwat'/><title type='text'>Saudariku, Akhirilah Kepedihanmu!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/Sne4w38uI3I/AAAAAAAAAD0/dOB-JdrqPfo/s1600-h/New+Picture.png"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 224px; height: 201px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/Sne4w38uI3I/AAAAAAAAAD0/dOB-JdrqPfo/s400/New+Picture.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365960630827098994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Kaum muslimah adalah salah satu benteng dari benteng-benteng Islam yang tidak boleh dijamah, apalagi dirusak. Di pundak mereka ada tanggung jawab besar untuk melindungi, mentarbiyyah dan menjaga ummat dari berbagai kerusakan yang menyesatkan. Apabila para muslimah senantiasa istiqāmah dalam mengayomi ummat, maka seluruh lapisan masyarakat pun akan terlindungi. Keshalehan dan ‘iffah (kesucian jiwa) mereka merupakan jalan untuk melindungi ummat dari kemunduran dan kesenangan menurutkan hawa nafsu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Karena inilah saudariku...musuh-musuh Allah Subhanahu Wa Ta'ala baik dari kalangan Westernis (pembeo kebudayaan Barat) maupun Sekuleris senantiasa berusaha keras untuk dapat menghancurkan benteng kokoh yang mulia dan untuk memecahkan permata yang belum terjamah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulailah mereka menyebarkan racun dan rayuan maut untuk menjerumuskan kaum muslimah dari agama dan ketakwaannya. Mereka memobilisasi berbagai media massa untuk mengiklankan beragam bentuk fāhisyah (perbuatan keji lagi lacur) sebagai suatu seni atau sebagai sebuah peradaban. Dan mereka sebarkan pula peradaban semu yang hina, seperti komoditi seksual, dengan tujuan untuk merubah tatanan masyarakat dan opini publik terhadap kaum muslimah atau harga diri seorang wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya hal ini bukanlah hal yang aneh, karena ini merupakan slogan dan adat-istiadat yang telah mendarah daging bagi mereka. Namun, yang sebaiknya kita perbuat adalah untuk saling bertanya dengan tulus ikhlash: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa sajakah yang telah diperbuat para da'i kita, dalam mengayomi permata ini?”&lt;br /&gt;Tentunya yang paling berhak untuk merenungi pertanyaan ini adalah para wanita muslimah yang shalihah, dan merekalah yang lebih layak merenunginya. Sesungguhnya kita semua dituntut untuk mengetahui dengan seksama bahwa realita ummat kita, baik dari segi sosial masyarakat maupun dari sisi dakwah, menunjukkan satu kesimpulan pasti bahwa kita semua kurang memberikan porsi dan perhatian yang cukup untuk mendakwahi kaum muslimah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitapun melihat bahwa kebanyakan muslimah yang shalihah, terlebih yang awamnya lebih banyak diam dan tidak mampu berbuat banyak dalam berdakwah kepada kalangannya sendiri. Bahkan kebanyakan mereka hanya pandai mencari berbagai alasan semu atau kambing hitam, agar ketidakmampuan dan sifat diam mereka dapat dilegalkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah secara pasti kita semua mengetahui bahwa rintangan-rintangan dakwah yang dihadapi oleh kaum wanita adalah lebih banyak daripada yang menimpa saudara-saudaranya, kaum lelaki? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, apakah hal ini justru menjadi alasan kuat bagi seorang wanita untuk bersiap menyongsong kebangkitannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ataukah dibenarkan bagi seorang wanita dā’iyyah untuk bermalas-malasan dan berfutūr (berpangku tangan, malas) ria?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudariku, marilah sejenak bersama-sama kita merenungi khabar berita dari Abū Hurayrah Radialhu Anhu tatkala berkata: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada seseorang berkulit hitam–lelaki ataupun perempuan– meninggal dunia dan dia adalah orang yang senantiasa menyapu masjid, dan kematiannya belum diketahui oleh Rasulullah. Maka ketika pada suatu hari beliau diinformasikan tentang hal tersebut, maka beliau berkata: Apakah yang telah dikerjakannya? Lalu dijawab: Dia telah meninggal, wahai Rasulullah! Beliau berkata: Maukah kalian menginformasikannya lebih lanjut? Maka merekapun menjawab: Sesungguhnya dia itu begini dan begini –tentang kisah hidupnya–, seakan-akan merendahkannya. Maka beliau berkata: Tolong tunjukkan kepadaku kuburannya! Kemudian beliau mendatangi kuburannya dan menyalatkannya” (HR. al-Bukhāri dalam Kitāb ash-Shalāh Bāb Kans al-Masjid 1/552 No. 458 dan Mus-lim dalam Kitāb al-Imārah Bāb Fadhl al-Jihād wa ar-Ribāth 3/1503 No. 1889)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Subhānallah...seorang wanita –sebagaimana dalam riwayat lain– yang oleh kebanyakan orang dipandang dengan sebelah mata ataupun hina...Namun nilai (kemuliaannya) di sisi Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam sangatlah agung sehingga beliau menanyakan hal-ihwalnya dan juga menyalatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita tersebut telah menunaikan tugas dan tanggung jawabnya –meskipun dianggap sepele-, akan tetapi di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala merupakan amalan yang agung sehingga berhak mendapatkan pujian dan perhatian dari Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya hal ini adalah suatu bentuk kreatifitas, yang mendorong wanita agung tersebut untuk berkhidmat kepada kaum muslimin dalam memenuhi hajat kebutuhan mereka. Itulah gambaran amalan mulia yang berasal dari seorang wanita lemah dalam pandangan orang lain...Namun hatinya adalah hati yang dipenuhi dengan ketaatan yang sanggup untuk melahirkan kesungguhan dan pengorbanan, tanpa disertai perasaan malu atau malas sedikitpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya hal ini adalah suatu bentuk kreatifitas, yang membuat bangga hati orang-orang yang memiliki nurani yang sensitif (dalam kebaikan) dan senantiasa bergelora (untuk berjuang). Maka diapun bangkit untuk segera mempersembahkan kemampuan dirinya untuk mengharap wajah Allah Subhanahu Wa Ta'ala semata, tanpa dibarengi perasaan berpasrah diri atau menunggu orang lain saja yang akan berbuat.&lt;br /&gt;Ternyata banyak sekali pengaruh yang meresap dalam jiwa tatkala kita menyaksikan kebiasaan yang telah mendarah daging seperti ini, dan ternyata sering kita lihat. Sebaliknya, kita menyaksikan bahwa kebanyakan wanita shalihah justru berpaling dan menghindar dari amanat dan tanggung jawab yang besar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhānallah...Mengapa saudariku meninggalkan medan mulia ini? Lalu, kepada siapa saudari akan berharap agar ada orang lain yang akan memainkan peranannya?&lt;br /&gt;Ataukah hati saudariku tidak merasa tersayat tatkala melihat berbagai kebejadan yang memberondong kehidupan melalui taring-taring tajam dunia maya (internet) dan juga melalui berbagai media massa? Dengan mudah mereka mempermainkan dan mengombang-ambingkan saudari-saudarimu sehingga merenggut ‘iffah (kesucian diri) dan kemuliannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah hati saudariku merasa teriris tatkala menyaksikan beragam kerusakan yang menimpa saudari-saudarimu? Atau bahkan yang tersebar luas di rumah-rumah kita bagaikan kobaran api yang menyala-nyala?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau masih sanggupkah saudariku merasakan lezatnya makanan dan minuman tatkala saudariku menyaksikan seorang pemudi dan diikuti oleh pemudi lainnya, mulai mencampakkah hijabnya? Atau mulai berdansa-dansi ke sana kemari karena terbuai alunan musik durjana pembawa petaka dan fitnah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah...!! Bagaimana mungkin saudariku masih diam seribu bahasa, sementara engkau memiliki kemampuan –dengan karunia Allah– untuk melindungi dan mengayomi saudari-saudarimu dari jerat dan tipu-daya para durjana? Sudah keringkah air matamu? Atau sudah tenteramkah hatimu? Ataukah Allah Subhanahu Wa Ta'ala meridhai langkahmu? &lt;br /&gt;Saudariku sesama hamba Allah Subhanahu Wa Ta'ala......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekaranglah saatnya, agar engkau mulai mempersiapkan diri...karena kalau tidak, maka sesungguhnya ummat ini adalah tanggung jawabmu. Sesungguhnya kelalaianmu merupakan kesempatan yang engkau berikan kepada para durjana untuk bebas melakukan segala upayanya. Barangsiapa yang menyadari akan besarnya tanggung jawab yang harus diembannya, maka dia akan terbebas dari segala dosa...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Barangsiapa membenarkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, maka Allahpun akan mengakuinya sebagai hamba-Nya yang jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَ مَنْ رَعَى غَنَمًا فِي أَرْضٍ مَسْبَعَةٍ&lt;br /&gt;وَ نَـامَ عَنْهَا تَوَلَّى رَعْيهَا اْلأَسَـد&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa mengembalakan kambingnya di lahan yang penuh binatang buas&lt;br /&gt;Kemudian dia terlelap menjaganya, maka tidaklah heran apabila gembalaannya diterkam harimau&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saudariku......bangkitlah, pelajarilah agamamu, dakwahi saudari-saudarimu terus berjuanglah wahai saudariku, ayunkan langkah pastimu dan akhirilah kepedihanmu, didiklah kaummu dimanapun kakimu berdiri, dibalut Iman tetap tegarlah kuntum mawar nan mewangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-2144537934241042120?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/2144537934241042120/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/08/saudariku-akhirilah-kepedihanmu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/2144537934241042120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/2144537934241042120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/08/saudariku-akhirilah-kepedihanmu.html' title='Saudariku, Akhirilah Kepedihanmu!'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/Sne4w38uI3I/AAAAAAAAAD0/dOB-JdrqPfo/s72-c/New+Picture.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-7666188356201773043</id><published>2009-07-17T14:09:00.002+07:00</published><updated>2009-07-17T14:31:44.024+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nikah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Akhwat'/><title type='text'>Salahkah Seorang Ikhwan Memilih Calon Istri yang Cantik?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://tbn3.google.com/images?q=tbn:RUJPqFLIkXrIWM:http://www.halaqah-online.com/v3/images/stories/27341484939805l.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 230px; height: 195px;" src="http://tbn3.google.com/images?q=tbn:RUJPqFLIkXrIWM:http://www.halaqah-online.com/v3/images/stories/27341484939805l.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Kecantikan tetap merupakan daya tarik yang memikat setiap lelaki di dunia ini. Wajarlah jika para produsen menggunakan jasa wanita cantik untuk melariskan barang dagangan mereka dan memang tak bisa dipungkiri! Begitupula masalah memilih pasangan hidup tentu setiap lelaki memiliki kriteria tertentu tentang calon istri yang akan di nikahinya. Kalau mau jujur dalam setiap kriteria itu diantara salah satunya adalah menginginkan calon istrinya berwajah cantik atau sedap dipandang mata, tidak membosankan. Salahkah bila seorang ikhwan menghendaki atau menginginkan seorang istri yang cantik?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Wahai ukhti saudariku,.. jangan bersungut dahulu menyalahkan si ikhwan yang berselera demikian. Karena pernikahan itu sendiri adalah ibadah, terkadang iman akan naik dan turun. Tentunya sangat membutuhkan sebab-sebab yang dapat merekatkan tali pernikahan dimasa mendatang. Bila kecantikan adalah merupakan daya tarik bagi si ikhwan itu yang nantinya akan mengekalkan hubungan percintaan (pernikahan)dan kasih sayangnya kepada wanita yang akan di nikahinya maka islam tidaklah melarangnya. Karena ia adalah fitrah atau naluri yang Allah subhanahu wata’ala ciptakan untuk manusia. Coba kita simak hadits berikut ini, dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu alaihi wassalam beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“wanita itu biasa dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, karena kemuliaan keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah yang beragama, karena kalau tidak niscaya engkau akan merugi”1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian marilah kita simak penjelasan fiqh hadits diatas:2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits diatas menjelaskan kepada kita tentang adat atau kebiasaan laki-laki menikahi wanita karena salah satu dari empat perkara diatas.Yaitu diantara mereka mengutamakan (cenderung) kepada harta, kemulian keturunannya (nasabnya), kecantikannya, dan karena agama si wanita tersebut.Kemudian Nabi kita yang mulia memberikan petunjuk kepada kita agar memilih yang tertinggi dan termulia yang akan memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat yaitu pilihlah yang beragama.Yaitu pilihlah wanita karena keshalihahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi hal ini tidak berarti bahwa laki-laki tidak boleh memilih wanita yang cantik dan seterusnya. Tidak demikian! Ini adalah sebuah kesalahan di dalam memahami hadits. Akan tetapi maksudnya -Insya Allah- seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya ada seorang laki-laki memilih wanita yang cantik parasnya. Kemudian dia melihat apakah pilihannya seorang wanita shalihah? Kalau jawabannya adalah: ‘ya’ maka dia boleh melanjutkan pilihannya. Kiaskanlah dengan keistimewaan yang lainnya! Tetapi kalau jawabannya ‘tidak’, maka dia dihadapkan kepada dua pilihan yang salah satunya harus dia tentukan dan tetapkan. Kalaupun dia melanjutkan pilihannya berarti dia telah mendahulukan kecantikan dari keshalihan.Kalaupun dia membatalkan pilihannya berarti dia telah mendahulukan keshalihan (agama) dari kecantikan. Atau ketika akan memilih dia menentukan sesuai dengan apa yang dia mau atau sesuai dengan seleranya misalnya: “Saya akan memilih wanita yang cantik, yang tinggi, yang putih, yang begini dan begitu dan seterusnya.” Pilihan yang seperti ini dibolehkan dan agama tidak pernah melarangnya.Karena memang berjalan dengan fitrah manusia. Oleh karena itu Nabi kita shalallahu alaihi wassalam mengatakan: “Wanita itu biasa dinikahi karena empat perkara…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi tetap saja penentuan akhirnya ada pada agama si akhwat tersebut, sebagaimana sabda Nabi mengakhiri dan menutup sabdanya: Maka pilihlah yang beragama! Maksudnya janganlah kau kalahkan agamamu dengan segala kecantikan dan harta benda duniawi. Padahal sebaik-baik kesenangan, kemewahan, harta benda dunia adalah wanita shalihah. Kalau pilihanmu jatuh pada wanita shalihah berarti engkau telah memiliki harta benda dan kesenangan dunia yang terbaik. Istimewa kalau wanita shalihah pilihanmu itu seperti yang kau ingini. Hukum ini juga berlaku bagi setiap muslimah yang akan menjatuhkan pilihannya kepada laki-laki muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tahu penjelasan hadits diatas tentu kita melihat betapa indahnya islam sejalan dengan fitrah manusia. Karena kecenderungan merupakan hak mutlak bagi setiap pasangan yang akan menikah untuk mengekalkan hubungan mereka maka islampun menganjurkan agar mereka melihat (nazhar) hal-hal yang dapat membuat mereka tertarik untuk segera menikah dan salah satunya adalah faktor kecantikan yang dimana terkadang sangat mempengaruhi hati atau hasrat seorang laki-laki untuk segera menikahi wanita yang telah dilihatnya. Wallahu ‘alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;- Al Masail Masalah-masalah Agama jilid 7, Abdul hakim Abdat, Darus Sunnah, Jakarta, 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Fiqh Wanita, Syaikh Kamil Uwaidah, Pustaka Kautsar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-7666188356201773043?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/7666188356201773043/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/07/salahkah-seorang-ikhwan-memilih-calon.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/7666188356201773043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/7666188356201773043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/07/salahkah-seorang-ikhwan-memilih-calon.html' title='Salahkah Seorang Ikhwan Memilih Calon Istri yang Cantik?'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-2857106625045610238</id><published>2009-07-14T17:48:00.001+07:00</published><updated>2009-07-14T17:50:16.894+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Akhwat'/><title type='text'>Mengenal Islam</title><content type='html'>Suatu ketika, terjadi percakapan antara sepasang suami istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bang, jumlah orang Islam tuh lebih sedikit ya daripada Nasrani?”&lt;br /&gt;“Iya kalau ukurannya internasional lebih sedikit.”&lt;br /&gt;“Hmm… belum lagi kaum munafiqin di dalam Islam itu sendiri ya bang? (wal’iyya dzubillah.)”&lt;br /&gt;“Iya…”&lt;br /&gt;“Belum lagi orang-orang yang berpikiran liberal ya?&lt;br /&gt;“Iya…”&lt;br /&gt;“Belum lagi…”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tahu tidak saudariku, belum lagi yang terakhir itu apa?&lt;br /&gt;Belum lagi orang yang mungkin sebenarnya mengaku dirinya Islam, tapi ia tidak mengenal Islam dan mungkin tidak paham bahwa dia telah keluar dari Islam. Kita berlindung kepada Allah dari hal demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa Itu Islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna Islam sebagaimana didefinisikan para ulama adalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;االأِسْتِسْلامُ لِلَّهِ بِالتّوحيدد&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;al istislamu lillahi bit tauhid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;و الأنقياد له بالطاعة&lt;br /&gt;wal inqiyaadu lahu bit too’ah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;و البراءة من الشرك و أهله&lt;br /&gt;wal barooatu minasyirki wa ahlihi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita perjelas satu persatu definisi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Berserah diri kepada Allah dengan cara hanya beribadah kepada-Nya dan tidak kepada selain-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya kita benar-benar melakukan peribadatan dan segala bentuk penghambaan hanya kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (Qs. Al Ikhlas [112]: 1-4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, sebagian besar dari saudara kita masih sulit meninggalkan kepercayaan pada ramalan bintang (zodiak) dan penentuan nasib baik dan buruk berdasarkan hal ini (artinya ia menggantungkan urusannya dan pengharapannya pada sesuatu selain Allah). Padahal perkara ghaib hanyalah Allah yang mengetahui dan hanya kepada Allah-lah seseorang menggantungkan segala urusannya selain usaha yang dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, dari perkara yang sulit ditinggalkan ini merambat ke hal-hal lain yang juga merupakan bentuk-bentuk kesyirikan yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam. Maka untuk poin pertama ini, kita harus memperbaiki ilmu tentang tauhid. Dan janganlah merasa aman dan merasa pintar sehingga mengatakan “Ah, bosan bahasannya tauhid terus.” Bukankah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berdakwah di Mekah selama 13 tahun untuk menanamkan pondasi penting ini kepada para sahabat? Begitu pentingnya tauhid, karena menjadi dasar untuk peribadahan yang lain. Dan begitu pentingnya tauhid ini, agar segala amal ibadah tercatat sebagai amalan ibadah dan tidak terhapus begitu saja oleh kesyirikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh pentingnya tauhid, tidak akan ada kemenangan besar dalam jihad fi sabilillah jika di dalamnya terdapat hal-hal yang merusak tauhid, seperti jimat, bergantung pada jin, aji tolak bala dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menundukkan ketaatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, seorang muslim menundukkan segala bentuk ketaatan kepada Allah dengan melaksanakan segala perintah Allah dan Rasul-Nya. Mungkin kita tidak sadar, bahwa selama ini kita bukan taat kepada Allah dan Rasul sebagaiman yang diperintahkan oleh syari’at. Bahkan kita terjatuh pada perilaku orang-orang jahiliyyah yang lebih mengedepankan ketaatan kepada tetua yang jika ditelusuri ternyata tidak mengajarkan hal-hal yang sesuai dengan syari’at-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;َاوَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْاْ إِلَى مَا أَنزَلَ اللّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُواْ حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ شَيْئاً وَلاَ يَهْتَدُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila dikatakan kepada mereka: Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.” Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” (Qs. Al Maaidah [5]: 104)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh kecil, karena sudah dari kecil diajarkan merayakan maulid nabi, isra mi’raj dan hari-hari besar yang bahkan dijadikan libur nasional, maka kita menganggap bahwa kita harus tunduk dan ikut merayakannya. Padahal jika benar kita taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka kita tunduk dan pasrah tidak merayakan hari-hari tersebut karena memang hari-hari tersebut tidak disyari’atkan (tidak diperintahkan) oleh Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Berlepas diri dari syirik dan pelakunya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang berserah diri hanya kepada Allah dan tidak kepada yang lain, maka ia akan berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya. Karena sungguh sia-sialah seluruh amalan seorang muslim jika ia melakukan kesyirikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَوْ أَشْرَكُواْ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Qs. Al An’am [6]: 88}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh dalam masalah ini adalah ucapan selamat natal kepada kaum nasrani. Padahal jelas-jelas natal dirayakan oleh mereka dalam rangka ‘kelahiran’ yesus (yang dianggap tuhan). Maka jika kita memberi ucapan selamat kepada mereka, ini dapat diartikan menyetujui hari tersebut dan berarti mengakui adanya tuhan selain Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kesyirikan, kadang samar sekali tak terlihat secara langsung, namun sungguh sangat membinasakan. Oleh sebab itulah, kaum muslimin disarankan membaca do’a sebagai berikut agar segala bentuk kesyirikan yang mungkin secara tidak sadar dilakukan, diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللهمَّ إنّي أعوذُ بكَ أنْ أُشْركَ بكَ وَ انا أعْلمُ و أستغفرُك لما لا اعْلمُِ&lt;br /&gt;Allahuma inni ‘a udzu bika an usyrika bika wa ana a’lamu wa astaghfiruka limaa laa a’ lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dari berbuat kesyirikan kepadamu yang aku ketahui, dan aku memohon ampunanmu dari kesyirikan yang aku tidak ketahui.” (HR. Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga menjadi pengenalan singkat tentang Islam yang bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Majalah Al Furqon edisi 5 tahun ke-8 1429/2008&lt;br /&gt;   2. Syarah Tsalatsatul Ushul (terjemah) Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin, Pustaka Al Qowam cetakan ke-6 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-2857106625045610238?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/2857106625045610238/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/07/mengenal-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/2857106625045610238'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/2857106625045610238'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/07/mengenal-islam.html' title='Mengenal Islam'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-713626599164204957</id><published>2009-07-09T18:54:00.002+07:00</published><updated>2009-07-09T19:07:25.891+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Akhwat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akhlak'/><title type='text'>Menjaga Kehormatan Wanita Muslimah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://tbn2.google.com/images?q=tbn:nB4-rwGNXFf-aM:http://2.bp.blogspot.com/_CTxGcKFDReM/Se0V7QtBbhI/AAAAAAAAAbY/3W3zDhVQyi4/s400/tio.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 124px; height: 93px;" src="http://tbn2.google.com/images?q=tbn:nB4-rwGNXFf-aM:http://2.bp.blogspot.com/_CTxGcKFDReM/Se0V7QtBbhI/AAAAAAAAAbY/3W3zDhVQyi4/s400/tio.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Wahai saudariku muslimah, wanita adalah kunci kebaikan suatu umat. Wanita bagaikan batu bata, ia adalah pembangun generasi manusia. Maka jika kaum wanita baik, maka baiklah suatu generasi. Namun sebaliknya, jika kaum wanita itu rusak, maka akan rusak pulalah generasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Maka, engkaulah wahai saudariku… engkaulah pengemban amanah pembangun generasi umat ini. Jadilah engkau wanita muslimah yang sejati, wanita yang senantiasa menjaga kehormatannya. Yang menjunjung tinggi hak Rabb-nya. Yang setia menjalankan sunnah rasul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Wanita Berbeda Dengan Laki-Laki&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;وَمَاخَلَقْتُ الجِنَّ وَ الإِنْسَ إِلاَّلِيَعْبُدُوْنِ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Qs. Adz-Dzaariyat: 56)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah telah menciptakan manusia dalam jenis perempuan dan laki-laki dengan memiliki kewajiban yang sama, yaitu untuk beribadah kepada Allah. Dia telah menempatkan pria dan wanita pada kedudukannya masing-masing sesuai dengan kodratnya. Dalam beberapa hal, sebagian mereka tidak boleh dan tidak bisa menggantikan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya memiliki kedudukan yang sama. Dalam peribadatan, secara umum mereka memiliki hak dan kewajiban yang tidak berbeda. Hanya dalam masalah-masalah tertentu, memang ada perbedaan. Hal itu Allah sesuaikan dengan naluri, tabiat, dan kondisi masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah mentakdirkan bahwa laki-laki tidaklah sama dengan perempuan, baik dalam bentuk penciptaan, postur tubuh, dan susunan anggota badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالأنْثَى&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan laki-laki itu tidaklah sama dengan perempuan.” (Qs. Ali Imran: 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena perbedaan ini, maka Allah mengkhususkan beberapa hukum syar’i bagi kaum laki-laki dan perempuan sesuai dengan bentuk dasar, keahlian dan kemampuannya masing-masing. Allah memberikan hukum-hukum yang menjadi keistimewaan bagi kaum laki-laki, diantaranya bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan, kenabian dan kerasulan hanya diberikan kepada kaum laki-laki dan bukan kepada perempuan, laki-laki mendapatkan dua kali lipat dari bagian perempuan dalam hal warisan, dan lain-lain. Sebaliknya, Islam telah memuliakan wanita dengan memerintahkan wanita untuk tetap tinggal dalam rumahnya, serta merawat suami dan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mujahid meriwayatkan bahwa Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata: “Wahai Rasulullah, mengapa kaum laki-laki bisa pergi ke medan perang sedang kami tidak, dan kamipun hanya mendapatkan warisan setengah bagian laki-laki?” Maka turunlah ayat yang artinya, “Dan janganlah kamu iri terhadap apa yang dikaruniakan Allah…” (Qs. An-Nisaa’: 32)” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari, Imam Ahmad, Al-Hakim, dan lain sebagainya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku, maka hendaklah kita mengimani apa yang Allah takdirkan, bahwa laki-laki dan perempuan berbeda. Yakinlah, di balik perbedaan ini ada hikmah yang sangat besar, karena Allah adalah Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mari Menjaga Kehormatan Dengan Berhijab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhijab merupakan kewajiban yang harus ditunaikan bagi setiap wanita muslimah. Hijab merupakan salah satu bentuk pemuliaan terhadap wanita yang telah disyariatkan dalam Islam. Dalam mengenakan hijab syar’i haruslah menutupi seluruh tubuh dan menutupi seluruh perhiasan yang dikenakan dari pandangan laki-laki yang bukan mahram. Hal ini sebagaimana tercantum dalam firman Allah Ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya.” (Qs. An-Nuur: 31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenakan hijab syar’i merupakan amalan yang dilakukan oleh wanita-wanita mukminah dari kalangan sahabiah dan generasi setelahnya. Merupakan keharusan bagi wanita-wanita sekarang yang menisbatkan diri pada islam untuk meneladani jejak wanita-wanita muslimah pendahulu meraka dalam berbagai aspek kehidupan, salah satunya adalah dalam masalah berhijab. Hijab merupakan cermin kesucian diri, kemuliaan yang berhiaskan malu dan kecemburuan (ghirah). Ironisnya, banyak wanita sekarang yang menisbatkan diri pada islam keluar di jalan-jalan dan tempat-tempat umum tanpa mengenakan hijab, tetapi malah bersolek dan bertabaruj tanpa rasa malu. Sampai-sampai sulit dibedakan mana wanita muslim dan mana wanita kafir, sekalipun ada yang memakai kerudung, akan tetapi kerudung tersebut tak ubahnya hanyalah seperti hiasan penutup kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semoga Alloh merahmati para wanita generasi pertama yang berhijrah, ketika turun ayat:&lt;br /&gt;“dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung kedadanya,” (Qs. An-Nuur: 31)&lt;br /&gt;“Maka mereka segera merobek kain panjang/baju mantel mereka untuk kemudian menggunakannya sebagai khimar penutup tubuh bagian atas mereka.”&lt;br /&gt;Subhanallah… jauh sekali keadaan wanita di zaman ini dengan keadaan wanita zaman sahabiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa hijab merupakan kewajiban atas diri seorang muslimah dan meninggalkannya menyebabkan dosa yang membinasakan dan mendatangkan dosa-dosa yang lainnya. Sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya hendaknya wanita mukminah bersegera melaksanakan perintah Alloh yang satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan tidaklah patut bagi mukmin dan tidak (pula) bagi mukminah, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, kemudian mereka mempunyai pilihan (yang lain) tentang urusan mereka, dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya. Maka sungguhlah dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Qs. Al-Ahzab: 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenakan hijab syar’i mempunyai banyak keutamaan, diantaranya:&lt;br /&gt;1. Menjaga kehormatan.&lt;br /&gt;2. Membersihkan hati.&lt;br /&gt;3. Melahirkan akhlaq yang mulia.&lt;br /&gt;4. Tanda kesucian.&lt;br /&gt;5. Menjaga rasa malu.&lt;br /&gt;6. Mencegah dari keinginan dan hasrat syaithoniah.&lt;br /&gt;7. Menjaga ghirah.&lt;br /&gt;8. Dan lain-lain. Adapun untuk rincian tentang hijab dapat dilihat pada artikel-artikel sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Kembalilah ke Rumahmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;وَقَرْنَ فِيْ بُيُوْتِكُنَّ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan hendaklah kamu tetap berada di rumahmu.” (Qs. Al-Ahzab: 33)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam telah memuliakan kaum wanita dengan memerintahkan mereka untuk tetap tinggal dalam rumahnya. Ini merupakan ketentuan yang telah Allah syari’atkan. Oleh karena itu, Allah membebaskan kaum wanita dari beberapa kewajiban syari’at yang di lain sisi diwajibkan kepada kaum laki-laki, diantaranya:&lt;br /&gt;1. Digugurkan baginya kewajiban menghadiri shalat jum’at dan shalat jama’ah.&lt;br /&gt;2. Kewajiban menunaikan ibadah haji bagi wanita disyaratkan dengan mahram yang menyertainya.&lt;br /&gt;3. Wanita tidak berkewajiban berjihad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan keluarnya mereka dari rumah adalah rukhshah (keringanan) yang diberikan karena kebutuhan dan darurat. Maka, hendaklah wanita muslimah tidak sering-sering keluar rumah, apalagi dengan berhias atau memakai wangi-wangian sebagaimana halnya kebiasaan wanita-wanita jahiliyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perintah untuk tetap berada di rumah merupakan hijab bagi kaum wanita dari menampakkan diri di hadapan laki-laki yang bukan mahram dan dari ihtilat. Apabila wanita menampakkan diri di hadapan laki-laki yang bukan mahram maka ia wajib mengenakan hijab yang menutupi seluruh tubuh dan perhiasannya. Dengan menjaga hal ini, maka akan terwujud berbagai tujuan syari’at, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Terpeliharanya apa yang menjadi tuntunan fitrah dan kondisi manusia berupa pembagian yang adil diantara hamba-hamba-Nya yaitu kaum wanita memegang urusan rumah tangga sedangkan laki-laki menangani pekerjaan di luar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Terpeliharanya tujuan syari’at bahwa masyarakat islami adalah masyarakat yang tidak bercampur baur. Kaum wanita memiliki komunitas khusus yaitu di dalam rumah sedang kaum laki-laki memiliki komunitas tersendiri, yaitu di luar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Memfokuskan kaum wanita untuk melaksanakan kewajibannya dalam rumah tangga dan mendidik generasi mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam adalah agama fitrah, dimana kemaslahatan umum seiring dengan fitrah manusia dan kebahagiaannya. Jadi, Islam tidak memperbolehkan bagi kaum wanita untuk bekerja kecuali sesuai dengan fitrah, tabiat, dan sifat kewanitaannya. Sebab, seorang perempuan adalah seorang istri yang mengemban tugas mengandung, melahirkan, menyusui, mengurus rumah, merawat anak, mendidik generasi umat di madrasah mereka yang pertama, yaitu: ‘Rumah’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bahaya Tabarruj Model Jahiliyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersolek merupakan fitrah bagi wanita pada umumnya. Jika bersolek di depan suami, orang tua atau teman-teman sesama wanita maka hal ini tidak mengapa. Namun, wanita sekarang umumnya bersolek dan menampakkan sebagian anggota tubuh serta perhiasan di tempat-tempat umum. Padahal di tempat-tempat umum banyak terdapat laki-laki non mahram yang akan memperhatikan mereka dan keindahan yang ditampakkannya. Seperti itulah yang disebut dengan tabarruj model jahiliyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di zaman sekarang, tabarruj model ini merupakan hal yang sudah dianggap biasa, padahal Allah dan Rasul-Nya mengharamkan yang demikian.&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan hendaklah kamu tetap berada di rumahmu, dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti model berhias dan bertingkah lakunya orang-orang jahiliyah dahulu (tabarruj model jahiliyah).” (Qs. Al-Ahzab: 33)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Ada dua golongan ahli neraka yang tidak pernah aku lihat sebelumnya; sekelompok orang yang memegang cambuk seperti ekor sapi yang dipakai untuk mencambuk manusia, dan wanita-wanita yang berpakaian tapi hakikatnya telanjang, mereka berjalan melenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak bisa mencium aromanya. Sesungguhnya aroma jannah tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk tabarruj model jahiliyah diantaranya:&lt;br /&gt;1. Menampakkan sebagian anggota tubuhnya di hadapan laki-laki non mahram.&lt;br /&gt;2. Menampakkan perhiasannya,baik semua atau sebagian.&lt;br /&gt;3. Berjalan dengan dibuat-buat.&lt;br /&gt;4. Mendayu-dayu dalam berbicara terhadap laki-laki non mahram.&lt;br /&gt;5. Menghentak-hentakkan kaki agar diketahui perhiasan yang tersembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pernikahan, Mahkota Kaum Wanita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikah merupakan sunnah para Nabi dan Rasul serta jalan hidup orang-orang mukmin. Menikah merupakan perintah Allah kepada hamba-hamba-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan nikahkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Qs. An-Nuur: 32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan merupakan sarana untuk menjaga kesucian dan kehormatan baik laki-laki maupun perempuan. Selain itu, menikah dapat menentramkan hati dan mencegah diri dari dosa (zina). Hendaknya menikah diniatkan karena mengikuti sunnah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan untuk menjaga agama serta kehormatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sepantasnya bagi wanita mukminah bercita-cita untuk hidup membujang. Membujang dapat menyebabkan hati senantiasa gelisah, terjerumus dalam banyak dosa, dan menyebabkan terjatuh dalam kehinaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemaslahatan-kemaslahatan pernikahan:&lt;br /&gt;1. Menjaga keturunan dan kelangsungan hidup manusia.&lt;br /&gt;2. Menjaga kehormatan dan kesucian diri.&lt;br /&gt;3. Memberikan ketentraman bagi dua insan. Ada yang dilindungi dan melindungi. Serta memunculkan kasih sayang bagi keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah beberapa perkara yang harus diperhatikan oleh setiap muslimah agar dirinya tidak terjerumus ke dalam dosa dan kemaksiatan dan tidak menjerumuskan orang lain ke dalam dosa dan kemaksiatan. Allahu A’lam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-713626599164204957?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/713626599164204957/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/07/menjaga-kehormatan-wanita-muslimah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/713626599164204957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/713626599164204957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/07/menjaga-kehormatan-wanita-muslimah.html' title='Menjaga Kehormatan Wanita Muslimah'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-4241475150593484699</id><published>2009-06-30T13:22:00.005+07:00</published><updated>2009-06-30T14:06:28.227+07:00</updated><title type='text'>PADAMNYA RASA CEMBURU</title><content type='html'>Cemburu, asal tidak berlebihan, merupakan salah satu sifat terpuji yang harus dimiliki pasangan suami istri. Sayangnya, kerusakan moral atas nama modernitas telah mengikis rasa cemburu itu. Walhasil, pintu perselingkuhan pun terbuka lebar hingga berujung pada runtuhnya bangunan rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kita jumpai fenomena di mana seorang suami tidak lagi merasa berat hati bila melihat istrinya keluar rumah berdandan lengkap dengan beraneka polesan make-up di wajah. Sang istri datang ke pesta, ke pusat perbelanjaan, ataupun ke tempat kerja hanya dengan pakaian ‘sekedarnya’ yang memperlihatkan auratnya. Tak cuma itu, keluarnya istri dari rumah pun seringkali hanya ditemani sopir pribadinya.&lt;br /&gt;Hati suami seakan tak tergerak. Darahnya pun seolah tidak mendidih melihat semua itu. Justru terselip rasa bangga bila istrinya dapat tampil cantik di hadapan banyak orang. Parahnya lagi, dia tetap merasa tenang ketika ada lelaki lain yang mendekati istrinya dan berbicara dengan nada akrab. Bahkan sekali lagi dia merasa bangga bila lelaki lain itu mengagumi kecantikan istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ironis, sang suami dengan semua itu, kemudian memandang dirinya sebagai seorang yang berpikiran maju, moderat, penuh pengertian, dan mengikuti perkembangan jaman. Innalillahi wa inna ilaihi raji‘un.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebobrokan akhlak yang sangat parah pun menimpa, tatkala ghirah itu hilang… tatkala bara cemburu itu padam… Seorang suami tidak lagi memiliki ghirah terhadap istrinya, tidak ada rasa cemburu yang membuat dia menjaga istri dengan baik. Menyimpannya dalam istana yang mulia agar tidak terjamah tatapan mata dan sentuhan tangan yang tidak halal… Tidak ada lagi rasa cemburu di hatinya yang dapat mendorong untuk menjaga istrinya agar tidak melakukan hal-hal yang dilarang Allah dan Rasul-Nya, agar tidak melakukan pelanggaran akhlak dan moral. Bahkan, dia sendiri terjerembab, jatuh dalam jurang kenistaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ghirah yang Hilang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita bandingkan kenyataan yang kita dapati pada hari ini dan kisah masa lalu, maka yang terucap hanyalah kata rindu, rindu kepada masa lalu. Betapa orang-orang dahulu begitu menjaga wanita mereka. Tidak mereka biarkan wanita mereka terlihat oleh mata-mata yang tidak halal, apalagi terkena sentuhan. Merupakan suatu aib bagi mereka bila wanita keluar rumah tanpa memakai kain penutup seluruh tubuhnya. Suatu cela bagi mereka bila ada lelaki lain berbicara dengan wanita mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka lazimkan wanita untuk mengenakan perhiasan rasa malu dan ‘iffah (menjaga kehormatan dan harga diri). Perbuatan seperti itu bukan sekedar tradisi dan budaya suatu masyarakat atau bangsa tertentu. Namun demikianlah yang diinginkan dalam syariat agama yang mulia ini. Dengan ghirah ini kemuliaan mereka pun tetap terjaga dan akhlak mereka terpelihara. Namun ketika ghirah ditanggalkan dan wanita dibiarkan keluar dari rumahnya tanpa rasa malu, terjadilah apa yang terjadi. Fitnah dan kerusakan moral yang tak terkira. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam jauh sebelumnya telah memperingatkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau. Dan Allah menjadikan kalian sebagai pengatur di dalamnya dengan turun temurun, lalu Dia melihat bagaimana kalian berbuat. Maka hati-hatilah kalian dari dunia dan hati-hatilah kalian dari wanita karena awal fitnah yang menimpa Bani Israil adalah pada wanitanya.” (Shahih, HR. Muslim no. 2742)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaman memang telah berubah. Mayoritas manusia semakin jauh dari akhlak yang lurus. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak datang kepada kalian suatu jaman kecuali jaman setelahnya lebih jelek darinya (yakni dari jaman sebelumnya) hingga kalian bertemu dengan Tuhan kalian.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 7068)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ghirah Seorang Suami Menurut Tuntunan Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam agama yang mulia ini, seorang suami dituntut untuk memiliki ghirah atau rasa cemburu kepada istrinya, sehingga ia tidak menghadapkan istrinya kepada perkara yang mengikis rasa malu dan mengeluarkannya dari kemuliaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa’ad bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu pernah berkata dalam mengungkapkan kecemburuan terhadap istrinya:&lt;br /&gt;“Seandainya aku melihat seorang laki-laki bersama istriku niscaya aku akan memukul laki-laki itu dengan pedang (yang dimaksud bagian yang tajam, red)…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar penuturan Sa‘ad yang sedemikian itu, tidaklah membuat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mencelanya, bahkan beliau bersabda: “Apakah kalian merasa heran dengan cemburunya Sa`ad? Sungguh aku lebih cemburu daripada Sa`ad dan Allah lebih cemburu daripadaku.” (Shahih, HR. Al-Bukhari, dalam kitab An Nikah, bab “Al-Ghairah” dan Muslim no. 1499)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqalani berkata: “Dalam hadits Ibnu ‘Abbas yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad, Abu Dawud dan Al-Hakim disebutkan bahwa tatkala turun ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang menuduh wanita baik-baik berzina kemudian mereka tidak dapat menghadirkan empat saksi maka hendaklah kalian mencambuk mereka sebanyak 80 cambukan dan jangan kalian terima persaksian mereka selama-lamanya.” (An-Nur: 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkatalah Sa‘ad bin ‘Ubadah: “Apakah demikian ayat yang turun? Seandainya aku dapatkan seorang laki-laki berada di paha istriku, apakah aku tidak boleh mengusiknya sampai aku mendatangkan empat saksi? Demi Allah, aku tidak akan mendatangkan empat saksi sementara laki-laki itu telah puas menunaikan hajatnya.” Mendengar ucapan Sa‘ad, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai sekalian orang-orang Anshar, tidakkah kalian mendengar apa yang diucapkan oleh pemimpin kalian?”. Orang-orang Anshar pun menjawab: “Wahai Rasulullah, janganlah engkau mencelanya karena dia seorang yang sangat pencemburu. Demi Allah, dia tidak ingin menikah dengan seorang wanita pun kecuali bila wanita itu masih gadis dan bila dia menceraikan seorang istrinya, tidak ada seorang laki-laki pun yang berani untuk menikahi bekas istrinya tersebut karena cemburunya yang sangat.” Sa‘ad berkata: “Demi Allah, sungguh aku tahu wahai Rasulullah bahwa ayat ini benar dan datang dari sisi Allah, akan tetapi aku cuma heran.” (Fathul Bari, 9/385)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asma bintu Abi Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anha bertutur tentang dirinya dan kecemburuan suaminya: “Az-Zubair menikahiku dalam keadaan ia tidak memiliki harta dan tidak memiliki budak. Ia tidak memiliki apa-apa kecuali hanya seekor unta dan seekor kuda. Akulah yang memberi makan dan minum kudanya. Aku yang menimbakan air untuknya dan mengadon tepung untuk membuat kue. Karena aku tidak pandai membuat kue maka tetangga-tetanggaku dari kalangan Anshar-lah yang membuatkannya, mereka adalah wanita-wanita yang jujur. Aku yang memikul biji-bijian di atas kepalaku dari tanah milik Az-Zubair yang diserahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai bagiannya, dan jarak tempat tinggalku dengan tanah tersebut 2/3 farsakh1. Suatu hari aku datang dari tanah Az-Zubair dengan memikul biji-bijian di atas kepalaku, maka aku bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beserta sekelompok orang dari kalangan Anshar. Beliau memanggilku, kemudian menderumkan untanya untuk memboncengkan aku di belakangnya2. Namun aku malu untuk berjalan bersama para lelaki dan aku teringat dengan Az-Zubair dan kecemburuannya, sementara dia adalah orang yang sangat pencemburu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengetahui bahwa aku malu maka beliau pun berlalu. Aku kembali berjalan hingga menemui Az-Zubair. Lalu kuceritakan padanya: ‘Tadi aku berjumpa dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan aku sedang memikul biji-bijian di atas kepalaku, ketika itu beliau disertai oleh beberapa orang shahabatnya. Beliau menderumkan untanya agar aku dapat menaikinya, namun aku malu dan aku tahu kecemburuanmu’.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 5224 dan Muslim no. 2182)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukanlah makna ghirah atau cemburu itu dengan selalu berprasangka buruk kepada istri sehingga selalu mengintainya siang dan malam guna mencari-cari kesalahannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jauhilah oleh kalian kebanyakan dari prasangka karena sebagian prasangka itu dosa….” (Al-Hujurat: 12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:&lt;br /&gt;“Hati-hati kalian dari prasangka3 karena prasangka itu adalah pembicaraan yang paling dusta.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6064 dan Muslim no. 2563)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ghirah Menyaring Kejelekan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullahu berkata, bara dan panasnya ghirah ini akan menyaring kejelekan dan sifat tercela, sebagaimana emas dan perak dibersihkan dari kotoran yang mencampurinya. Orang-orang mulia dan tinggi harga dirinya pasti memiliki ghirah yang besar terhadap dirinya dan orang-orang yang dekat dengannya juga terhadap orang lain secara umum. Karena itulah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling memiliki ghirah terhadap umatnya. Dan ghirah Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih dibanding beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. (Ad-Daau wad Dawa, hal. 106)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;“Tidak ada satupun yang lebih ghirah daripada Allah. Karena ghirah-Nya inilah Dia mengharamkan perbuatan keji baik yang tampak maupun yang tersembunyi.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 5220 dan Muslim no. 2760)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim juga mengatakan: “Pokok dari agama ini adalah ghirah, maka siapa yang tidak memiliki ghirah berarti ia tidak memiliki agama. Ghirah ini akan melindungi hati sehingga terlindung pula anggota badan lainnya, tertolaklah dengannya segala perbuatan jelek dan keji. Sementara tidak adanya ghirah menyebabkan matinya hati hingga anggota badan lainnya pun ikut mati, akibatnya tidak ada penolakan terhadap perbuatan jelek dan keji.” (Ad-Daau wad Dawa, hal. 109-110)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Awal Runtuhnya Ghirah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hilangnya ghirah dari lubuk hati seorang insan disebabkan oleh banyak hal, di antara sebab terbesar yang bisa kita saksikan adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kebanyakan mereka berpaling dari mempelajari agama yang agung ini, yang dengannya Allah memuliakan kita setelah sebelumnya kita hina. Namun ketika nikmat yang agung ini disia-siakan dan manusia enggan mengikuti petunjuk Rasul yang menyampaikan agama ini, mereka kembali terpuruk hina dina di hadapan umat lainnya. Sehingga mereka merasa minder bila tidak mengikuti orang-orang kafir. Sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, mereka terus mengikuti jejak orang-orang kafir tersebut. Dalam keadaan mereka menyangka bahwa itu adalah peradaban dan kemajuan, padahal sebenarnya hal itu adalah kehinaan dan kehancuran. Kenyataan yang demikian ini telah disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam jauh sebelumnya, beliau bersabda:&lt;br /&gt;“Sungguh-sungguh kalian akan mengikuti sunnah (cara hidupnya) orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga seandainya mereka masuk ke dalam lubang dhabb (sejenis biawak), kalian pun akan memasukinya.” Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 3456 dan Muslim no. 2669)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Termasuk perkara yang menyebabkan hilangnya ghirah dalam dada kaum muslimin adalah banyaknya fitnah dan perubahan yang mereka terima lalu ditelan mentah-mentah oleh hati-hati mereka sehingga menjadi bagian darinya. Akibatnya terbaliklah fitrah mereka. Dalam pandangan mereka, yang mungkar adalah ma‘ruf dan yang ma‘ruf adalah mungkar. Bila ada yang membawakan kebenaran kepada mereka sementara kebenaran itu menyelisihi kebiasaan mereka, maka mereka menganggap hal itu jumud, terbelakang, dan menghambat kemajuan. Membebaskan wanita keluar dari rumahnya dengan segenap keindahannya adalah termasuk kemajuan dalam pikiran kotor mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Hal lain yang membuat seorang suami menanggalkan ghirah-nya adalah persangkaannya yang keliru. Dia menyangka bahwa rasa malu dan menutup tubuh (berhijab) bagi wanita adalah bagian dari masa lalu sehingga telah ketinggalan jaman bila tetap dikenakan di masa modern ini. Ia tidak ingin mengekang istrinya dengan kebiasaan yang sudah usang dimakan jaman, bahkan ia ingin menunjukkan kepada istrinya dan kepada orang lain bahwa ia seorang laki-laki yang moderat dan selalu mengikuti kemajuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tenggelam dalam lumpur dosa termasuk salah satu sebab padamnya api ghirah di dalam hati dan hal ini merupakan hukuman atas dosa yang diperbuat. (Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Ad-Daau wad Dawa, hal. 106)&lt;br /&gt;Dari penjelasan yang kita dapatkan di atas, pahamlah kita bahwa ghirah dalam batasan yang diperkenankan syariat merupakan sifat yang terpuji. Dengan ghirah ini seorang laki-laki dapat menjaga istrinya dan mahramnya yang lain dari perbuatan yang melanggar syariat Allah Subhanahu wa ta’ala. Sebaliknya tidak adanya ghirah menyebabkan seorang suami membiarkan istrinya jatuh ke dalam lumpur noda dan dosa. Akibatnya kejelekan dan fitnah pun tersebar…&lt;br /&gt;Betapa butuhnya kita untuk kembali kepada aturan syariat yang mulia ini. Betapa perlunya kita kembali menengok ke masa lalu yang sangat menjaga ghirah, masa lalu yang sarat dengan penerapan ajaran agama yang mulia ini. Dan sungguh ini adalah senandung kerinduan kepada masa lalu….&lt;br /&gt;Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-4241475150593484699?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/4241475150593484699/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/06/padamnya-rasa-cemburu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/4241475150593484699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/4241475150593484699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/06/padamnya-rasa-cemburu.html' title='PADAMNYA RASA CEMBURU'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-1205689963016126230</id><published>2009-06-18T17:12:00.000+07:00</published><updated>2009-06-18T17:19:08.301+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Akhwat'/><title type='text'>Karakteristik Istri Shalihah</title><content type='html'>Wanita Shalihah (isteri shalihah) merupakan sebaik-baik dan semulia-mulia gelar yang diberikan kepada wanita kekasih Allah. Titel atau gelar itu bukan sekadar nama dan kebanggaan, tetapi dia adalah buah dari satu perjuangan panjang dalam kehidupan seorang wanita. Masyarakat Muslim diingatkan, supaya waspada terhadap khadra'uddiman, yaitu wanita cantik yang tumbuh dewasa di tempat yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;BANYAK wanita mendambakan titel itu, tetapi sangat sedikit yang sampai kepada tujuan yang dirindukan. Sebab, perjalanan panjang yang harus ditempuh oleh seorang wanita meng-haruskannya melalui jalan yang terjal, berkelok, ber-batu, naik bukit dan turun gunung, penuh onak dan duri. Kenanglah sejenak perjalanan hidup para pemimpin wanita ahli sur-ga, yaitu sebaik-baik wa-nita sebagaimana sabda Rasulullah Saw berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaik-baik wanita ialah Maryam binti Imran dan sebaik-baik wanita ialah Khadijah binti Khuwailid.” (HR. Bukhari Muslim). Dari Abu Musa ra. berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Lelaki yang sempurna ba-nyak, tetapi tidak demikian halnya bagi wanita kecuali Asiah istri Fir'aun dan Mar-yam binti Imran. Dan sesung-guhnya keutamaan Aisyah atas wanita lainnya seperti ke-utamaan tsarid (lauk yang berminyak) atas makanan lainnya.” (HR. Bukhari). Nabi Saw bersabda: “Fati-mah adalah pemimpin wa-nita ahli surga”. (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesemua wanita yang disebut di dalam hadits-hadits di atas, yang diberi gelar sebagai sebaik-baik wanita ahli surga (Mar-yam, Asiah, Khadijah, Aisyah dan Fatimah) ada-lah wanita-wanita yang perjalanan hidupnya pe-nuh dengan ujian dan tan-tangan. Mereka ditimpa banyak musibah dan bala bencana, baik dalam urusan keluarga, masya-rakat dan musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya. Na-mun mereka tidak ber-geming dari keimanan dan ketaatan kepada Allah Swt.&lt;br /&gt;Apakah ciri dan karakter yang dimiliki da-lam menjalankan ke-hidupan sehari-hari, se-hingga dengan tegar ber-tahan dari segala amuk duniawi, dan mendapat-kan gelar mulia se-bagai wanita/istri shalihah? Se-cara umum dijelaskan di dalam al-Qur'an, Allah Swt berfirman:|&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wa-nita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri[ ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (Qs. An Nisaa' 4: 34)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah ayat yang me-nerangkan secara terpe-rinci tentang ihwal kaum wanita dalam ke-hidupan rumah tangga yang berada di bawah ke-pemimpinan kaum pria. Disebutkan bahwa ada dua jenis wa-nita: yang shalihah dan yang tidak shalihah. Lalu ciri shalihah antara lain adalah taat, yaitu taat ke-pada Allah Swt, kepada Rasul Nya dan taat kepada suami. Selain itu dia betah tinggal di rumah, bersikap ma'ruf kepada suami dan menjaga kehormatan diri di saat suaminya tidak ada di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ats-Tsauri dan Qata-dah mengatakan: Arti menjaga kehormatan diri di saat suami tidak ada di rumah adalah menjaga segala sesuatu yang mesti dipelihara, baik berkenaan dengan kehormatan diri maupun harta. Sementara itu Ibnu Jarir dan al-Baihaqi meriwayatkan ha-dits dari Abu Hurairah yang menyatakan bahwa Nabi Saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaik-baik wanita adalah yang menawan hati-mu bila engkau pandang, taat manakala engkau perintah, dan menjaga hartamu serta memelihara kehormatan diri-nya ketika engkau tidak ada di rumah.” Kemudian Rasulullah Saw. membaca ayat tersebut di atas. (Qs. An Nisaa' 4: 34).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Muhammad Abduh mengatakan bahwa yang dimaksud dengan menjaga kehormatan diri di sini adalah menutup apa yang dapat membuat malu ketika diperlihatkan atau diungkapkan. Artinya, menjaga segala sesuatu yang secara khusus berke-naan dengan rahasia suami istri, serta tidak menceritakan rahasia su-aminya kepada siapa-pun kecuali kepada orang yang benar-benar dipercaya ka-rena ingin mencari solusi keruwetan rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara syar'i, yang juga bisa dikategorikan da-lam hal ini adalah keha-rusan merahasiakan se-gala sesuatu yang berkait-an dengan hubungan intim suami istri, termasuk di da-lamnya menceritakan hal-hal yang tidak senonoh. Jangan seperti khadrau'ud-diman, seperti yang sering ditayangkan infotainment tv, mengumbar segala au-rat keluarga sehingga o-rang jijik mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apatah lagi bila sam-pai ke bentuk-bentuk peri-laku yang mereka laksana-kan sebagai pasangan sua-mi isteri yang tidak layak didengar oleh selain me-reka. Selain itu juga dapat difahami bahwa ungkapan yang disebut oleh al-Qur-'an di atas, merupakan salah satu ungkapan yang memiliki arti kiasan yang amat mendalam: meng-hentak kaum wanita yang keras hati, namun bisa di-fahami rahasianya oleh mereka yang berhati lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum wanita me-mang memiliki naluri yang demikian lembut, dimana anda sekalian bisa mene-robos hati mereka hanya dengan menyentuh ujung jarinya saja. Jantung me-reka memiliki nadi-nadi peka yang segera memom-pakan darah ke raut wajah mereka manakala mene-rima rangsangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tidak dibenar-kan menghubungkan lang-sung kalimat hifzhul ghaib (menjaga harta dan kehor-matan diri) dengan kalimat bima hafizhallah (sebagai-mana Allah menjaga diri-nya). Sebab perpindahan yang demikian drastis dari penuturan rahasia diri yang tersembunyi ke arah penuturan penjagaan Allah yang demikian jelas memalingkan seseorang untuk berfikir secara ber-kepanjangan tentang hal-hal yang berada di balik tabir-tabir rahasia pribadi suami istri. Yakni, hal-hal yang tersembunyi dan rahasia, untuk dialihkan pada pengawasan Allah Azza wajalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghormatan yang diberikan kepada kaum wanita melalui kesaksian Allah tersebut di atas, di-maksudkan agar mereka tetap terjaga dari jamahan tangan-tangan kotor, pan-dangan mata jahil, atau pergunjingan, di saat sua-mi mereka tidak berada di rumah, melalui bujukan, rayuan berupa lembaran-lembaran uang, mobil mewah, rumah indah atau beberapa kerat roti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, wanita-wanita shalihah ialah wanita yang menjaga harta dan kehor-matan dirinya ketika su-aminya tidak di rumah, sebagaimana Allah telah menjaga mereka. Itulah yang menjadi sifat shalihah kepada mereka. Sebab se-orang wanita yang sha-lihah akan selalu men-dapat pengawasan dari Allah Swt, dan ketakwaan yang mereka miliki me-nyebabkan mereka bisa menjadi wanita-wanita yang terpelihara dari sifat khianat dan mampu men-jaga amanat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itulah yang dimaksud dengan Wanita Shalihah dalam ayat di atas adalah mereka yang selalu taat kepada Allah Swt, Rasul Nya, suaminya dan tidak mem-perturutkan hawa nafsu-nya dalam hidup harian-nya. Apabila dikaitkan arti ayat yang disebutkan di atas tepat sekali untuk menggambarkan ihwal kaum wanita masa kini yang senang membeberkan rahasia-rahasia rumah tangga sendiri, atau rumah tangga orang lain (gosip wanita sinetron) dan tidak bisa menjaga harta dan kehormatan dirinya mana-kala suami mereka tidak berada di rumah bukanlah termasuk dalam koridor wanita shalihah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan seperti khad-rau'uddiman, seperti yang sering ditayangkan infotai-ment tv, mengumbar segala aurat keluarga sehingga orang jijik mendengarnya. Jika diamati dengan seksa-ma keterangan diatas, ma-ka dapat disimpulkan bah-wa isteri yang shalihah mempunyai karakter se-bagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menaati Allah dan Rasul Nya&lt;br /&gt;Dengan ketaatannya itulah sebagai aset terbesar baginya untuk meraih ganjaran tertinggi sebagai buah dari ilmu dan iman-nya. Yaitu surga yang pe-nuh dengan kenikmatan, dia kekal didalamnya se-lama-lamanya. Allah Swt. berfirman:|&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Hukum-hukum ter-sebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barang-siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah me-masukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. (Qs. An Nisaa', 4: 13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah lagi: “Dan barangsiapa yang men-taati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sa-ma dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (Qs. An Nisaa', 4: 69)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah ra ber-kata, Rasulullah Saw ber-sabda: “Semua ummatku akan masuk surga kecuali yang enggan (tidak mau). Pa-ra sahabat bertanya: Siapa-kah yang enggan itu wahai Rasulullah? Beliau men-jawab: Barang siapa yang ta'at kepadaku (mengikuti Sunnahku), dialah yang akan masuk surga, dan barang siapa yang mendurhakaiku, maka dialah yang yang enggan masuk surga.” (HR Bukhari)&lt;br /&gt;Maka demikian pula seorang wanita atau isteri, dia akan masuk surga de-ngan menaati Allah dan Rasul-Nya dengan se-benar-benarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menaati Suami&lt;br /&gt;Ketaatan kepada su-aminya merupakan pin-tu keselamatan baginya un-tuk meraih kenikmatan yang kekal dan abadi di surga. Rasulullah Saw bersabda:&lt;br /&gt;“Jika seorang isteri itu telah menunaikan shalat lima waktu, dan shaum (puasa) di bulan Ramadhan, dan men-jaga kemaluannya dari yang haram serta taat kepada suaminya, maka akan di-persilakan: masuklah ke surga dari pintu mana saja kamu suka.” (HR. Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Ummu Salamah, bahwasa-nya Asma datang kepada Nabi dan berkata: Sesung-guhnya aku adalah utusan dari kaum wanita Muslim, semua mereka berkata dan berpendapat sebagaimana aku Wahai Rasulullah, se-sungguhnya Allah telah mengutusmu kepada laki-laki dan wanita, kami telah beriman kepadamu dan mengikutimu, (namun) ka-mi kaum wanita merasa dibatasi dan dibelenggu. Padahal kamilah yang me-nunggu rumah mereka, tempat menyalurkan nafsu mereka, kamilah yang mengandung anak-anak mereka, sedang mereka dilebihkan dengan sholat berjamaah, menyaksikan jenazah dan berjihad di jalan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan apabila mereka ke luar berjihad, kamilah yang menjaga harta me-reka dan kamilah yang me-melihara anak-anak me-reka, maka apakah kami tidak mendapatkan bagian pahala mereka wahai Rasulullah? Maka ber-palinglah Rasulullah ke-pada para sahabatnya dan bertanya: Apakah tadi ka-mu sudah mendengar pertanyaan sebaik itu dari seorang perempuan ten-tang agamanya? Mereka menjawab: Ya, Demi Allah wahai Rasulullah, kemu-dian beliau bersabda: Pergilah engkau wahai Asma dan beritahukanlah kepada wanita-wanita yang mengutusmu bahwa layanan baik salah seorang kamu kepada suaminya, meminta keridhaannya dan menuruti kemauannya menyamai (pahala) amal-an laki-laki yang engkau sebutkan tadi. Maka Asma pun pergi sambil bertahlil dan bertakbir karena gem-biranya dengan apa yang diucapkan Rasulullah ke-padanya. (Al Istii'aab, Ibnu 'Abd al Bar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Abbas ra ia berkata, wakil wanita ber-kata:“Wahai Rasulullah, saya wakil dari kaum wanita untuk berjumpa denganmu. Sesungguhnya jihad hanya diwajibkan atas kaum laki-laki saja, sekiranya mereka menang mereka memperoleh pahala dan sekiranya mereka terbunuh, maka mereka senantiasa hidup dan diberi rizki di sisi Rabb mereka. Sedangkan kami golongan wanita menjalankan tugas (berkhidmat) untuk mereka, maka adakah bagian kami dari yang tersebut? Maka Rasulullah menjawab, Sam-paikanlah kepada siapa saja dari kaum wanita yang eng-kau temui, bahwa taat kepada suami dan mengakui hak sua-mi adalah menyamai yang demikian itu, dan amat sedikitlah di antara kamu yang mampu melaksana-kannya.” (HR al Bazzar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Melayani Suami&lt;br /&gt;Sebagian isteri sangat taat kepada suaminya, tapi kurang pandai melayani suami dengan sebaik-baik-nya. Maka jika taat kepada suami dan pandai me-layaninya, hal itu merupa-kan kemuliaan tersendiri yang mengangkat derajat-nya meraih keselamatan di dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;Ummu Salamah ra berkata, Rasulullah Saw bersabda: “Tiap-tiap isteri yang mati diridhai oleh suaminya, maka ia akan masuk surga.” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abdullah bin Abi Aufa ia berkata, Mu'adz di-utus ke Yaman atau Syam dan dia melihat orang-orang Nashrani bersujud kepada pembesar-pem-besar dan kepada pendeta-pendetanya. Maka beliau berkata dalam hatinya sesungguhnya Rasulullah lebih layak untuk di-agungkan (daripada me-reka). Maka tatkala ia da-tang kepada Rasulullah ia berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku melihat orang-orang Nashrani bers-ujud kepada pembesar-pem-besar dan kepada pendeta-pendetanya, dan aku berkata dalam hatiku sesungguhnya engkaulah yang lebih layak untuk diagungkan (daripada mereka) lalu beliau bersabda: Andaikata aku boleh meme-rintahkan seseorang bersujud kepada seseorang, maka sung-guh akan kuperintahkan isteri bersujud kepada suami-nya dan seorang isteri belum dikatakan menunaikan kewajibannya terhadap Allah sehingga menunaikan ke-wajibannya terhadap suami seluruhnya, sehingga andai-kan (suaminya) memerlu-kannya di atas kendaraan, sungguh ia tidak boleh me-nolaknya. (HR Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Menjaga Kehormatan Diri&lt;br /&gt;Ciri keempat inilah yang merupakan kunci dari keshalihan seorang isteri yang berada di bawah pengawasan suaminya yang shalih. Lelaki yang memiliki isteri dengan ka-rakteristik seperti ini ber-arti telah memiliki harta simpanan yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Umamah ra, dari Nabi Saw beliau ber-sabda: “Tidak ada yang paling bermanfaat bagi se-orang (lelaki) Mukmin se-su-dah bertaqwa kepada Allah daripada memiliki isteri yang shalihah, yaitu jika ia di-perintah ia taat, jika ia dipan-dang menye-nangkan hati, dan jika ia digilir ia tetap ber-buat baik, dan jika ia diting-galkan (suaminya) ia tetap menjaga suaminya dalam hal dirinya dan harta suaminya.” (HR Ibnu Majah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibn Abbas ra Rasulullah Saw bersabda: “Ada empat perkara siapa yang memilikinya berarti mendapat kebaikan di dunia dan akhirat, yaitu hati yang bersyukur, lisan yang selalu berzikir, tubuh yang bersabar ketika ditimpa bala bencana (musibah) dan isteri yang ti-dak menjerumuskan suami-nya dan merusakkan harta bendanya.” (HR Thabrani dengan isnad Jayyid).&lt;br /&gt;Wanita paling baik ada-lah wanita (isteri) yang apabila engkau meman-dangnya menggembirakan-mu, apabila engkau menyu-ruhnya dia pun menaati, dan apabila engkau pergi dia juga memelihara dirinya dan menjaga hartamu. (HR Abu Dawud. Derajat hadits oleh al Hakim dinyatakan shahih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga para akhwat mampu memiliki karakter tersebut sehingga melayak-kannya mendapat pahala yang telah dijanjikan Allah Swt. Mereka menjadi par-tner dalam perjuangan fi sabilillah, dan menjadi pendamping setia dikala suka dan duka bersama suami yang dicintainya. Amien Ya Rabbal Alamin. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-1205689963016126230?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/1205689963016126230/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/06/karakteristik-istri-shalihah.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/1205689963016126230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/1205689963016126230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/06/karakteristik-istri-shalihah.html' title='Karakteristik Istri Shalihah'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-8310512855609352955</id><published>2009-06-12T15:34:00.002+07:00</published><updated>2009-06-12T16:48:03.391+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syariat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Akhwat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Waspada'/><title type='text'>nasihat untuk akhwat..awas tipudaya setan</title><content type='html'>Setan dalam menggoda manusia memiliki berbagai macam strategi, dan yang sering dipakai adalah dengan memanfaatkan hawa nafsu, yang memang memiliki kecenderungan mengajak kepada keburukan (ammaratun bis su'). Setan tahu persis kecenderungan nafsu kita, dia terus berusaha agar manusia keluar dari garis yang telah ditentukan Allah, termasuk melepaskan hijab atau pakaian musli-mah. Berikut ini tahapan-tahapannya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;I. Menghilangkan Definisi Hijab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tahap ini setan membisik-kan kepada para wanita, bahwa pakaian apapun termasuk hijab (penutup) itu tidak ada kaitannya dengan agama, ia hanya sekedar pakaian atau mode hiasan bagi para wanita. Jadi tidak ada pakaian syar'i, pakaian ya pakaian, apa pun bentuk dan namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga akibatnya, ketika zaman telah berubah, atau kebudayaan manusia telah berganti, maka tidak ada masalah pakaian ikut ganti juga. Demikian pula ketika seseorang berpindah dari suatu negeri ke negeri yang lain, maka harus menyesuaikan diri dengan pakaian penduduknya, apapun yang mereka pakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda halnya jika seorang wanita berkeyakinan, bahwa hijab adalah pakaian syar'i (identitas keislaman), dan memakainya adalah ibadah bukan sekedar mode. Biarpun hidup kapan saja dan di mana saja, maka hijab syar'i tetap dipertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila seorang wanita masih bertahan dengan prinsip hijabnya, maka setan beralih dengan strategi yang lebih halus. Caranya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Membuka Bagian Tangan&lt;br /&gt;Telapak tangan mungkin sudah terbiasa terbuka, maka setan mem-bisik kan kepada para wanita agar ada sedikit peningkatan model yakni membuka bagian hasta (siku hingga telapak tangan). "Ah tidak apa-apa, kan masih pakai jilbab dan pakai baju panjang? Begitu bisikan setan. Dan benar sang wanita akhirnya memakai pakain model baru yang menampakkan tangannya, dan ternyata para lelaki yang melihat nya juga biasa-biasa saja. Maka setan berbisik," Tuh tidak apa-apa kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Membuka Leher dan Dada&lt;br /&gt;Setelah menampakkan tangan menjadi kebiasaan, maka datanglah setan untuk membisikkan hal baru lagi. "Kini buka tangan sudah lumrah, maka perlu ada peningkatan model pakaian yang lebih maju lagi, yakni terbuka bagian atas dada kamu." Tapi jangan sebut sebagai pakaian terbuka, hanya sekedar sedikit untuk mendapatkan hawa, agar tidak gerah. Cobalah! Orang pasti tidak akan peduli, sebab hanya bagian kecil saja yang terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dipakailah pakaian model baru yang terbuka bagian leher dan dadanya dari yang model setengah lingkaran hingga yang model bentuk huruf "V" yang tentu menjadikan lebih terlihat lagi bagian sensitif lagi dari dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Berpakian Tapi Telanjang&lt;br /&gt;Setan berbisik lagi, "Pakaian kok hanya gitu-gitu saja, cari model atau bahan lain yang lebih bagus! Tapi apa ya? Sang wanita bergumam. "Banyak model dan kain yang agak tipis, lalu bentuknya dibuat yang agak ketat biar lebih enak dipandang," setan memberi ide baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tergodalah si wanita, di carilah model pakaian yang ketat dan kain yang tipis bahkan transparan. "Nggak apa-apa kok, kan potongan pakaiannya masih panjang, hanya bahan dan modelnya saja yang agak berbeda, biar nampak lebih feminin," begitu dia menambahkan. Walhasil pakaian tersebut akhirnya membudaya di kalangan wanita muslimah, makin hari makin bertambah ketat dan transparan, maka jadilah mereka wanita yang disebut oleh Nabi sebagai wanita kasiyat 'ariyat (berpakaian tetapi telanjang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, Agak di Buka Sedikit&lt;br /&gt;Setelah para wanita muslimah mengenakan busana yang ketat, maka setan datang lagi. Dan sebagaimana biasanya dia menawarkan ide baru yang sepertinya segar dan enak, yakni dibisiki wanita itu, "Pakaian seperti ini membuat susah berjalan atau duduk, soalnya sempit, apa nggak sebaiknya di belah hingga lutut atau mendekati paha?" Dengan itu kamu akan lebih leluasa, lebih kelihatan lincah dan enerjik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dicobalah ide baru itu, dan memang benar dengan dibelah mulai bagian bawah hingga lutut atau mendekati paha ternyata membuat lebih enak dan leluasa, terutama ketika akan duduk atau naik ke jok mobil. "Yah tersingkap sedikit nggak apa-apa lah, yang penting enjoy," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah tahapan awal setan merusak kaum wanita, hingga tahap ini pakaian masih tetap utuh dan panjang, hanya model, corak, potongan dan bahan saja yang dibuat berbeda dengan hijab syar'i yang sebenarnya. Maka kini mulailah setan pada tahapan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Terbuka Sedikit Demi Sedikit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini setan melangkah lagi, dengan trik dan siasat lain yang lebih ampuh, tujuannya agar para wanita menampak kan bagian aurat tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Membuka Telapak Kaki dan Tumit.&lt;br /&gt;Setan Berbisik kepada para wanita, "Baju panjang benar-benar membuat repot, kalau hanya dengan membelah sedikit bagiannya masih kurang leluasa, lebih enak kalau di potong saja hingga atas mata kaki." Ini baru agak longgar. "Oh ada yang kelupaan, kalau kamu bakai baju demikian, maka jilbab yang besar tidak cocok lagi, sekarang kamu cari jilbab yang kecil agar lebih serasi dan gaul, toh orang tetap menamakannya dengan jilbab."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka para wanita yang terpengaruh dengan bisikan ini buru-buru mencari model pakaian yang dimaksudkan. Tak ketinggalan sepatu hak tinggi, yang kalau untuk berjalan mengeluarkan suara yang menarik perhatian orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Membuka Seperempat Hingga Separuh Betis&lt;br /&gt;Terbuka telapak kaki telah biasa ia lakukan, dan ternyata orang-orang yang melihat juga tidak begitu peduli. Maka setan kembali berbisik, "Ternyata kebanyakan manusia menyukai apa yang kamu lakukan, buktinya mereka tidak bereaksi apa-apa, kecuali hanya beberapa orang. Kalau langkah kakimu masih kurang leluasa, maka cobalah kamu cari model lain yang lebih enak, bukankah kini banyak rok setengah betis dijual di pasaran? Tidak usah terlalu mencolok, hanya terlihat kira-kira sepuluh senti saja." Nanti kalau sudah terbiasa, baru kamu cari model baru yang terbuka hingga setengah betis."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar-benar bisikan setan dan hawa nafsu telah menjadi penasehat pribadinya, sehingga apa yang saja yang dibisikkan setan dalam jiwanya dia turuti. Maka terbiasalah dia mema-kai pakaian yang terlihat separuh betisnya kemana saja dia pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Terbuka Seluruh Betis&lt;br /&gt;Kini di mata si wanita, zaman benar-benar telah berubah, setan telah berhasil membalikkan pandangan jernihnya. Terkadang sang wanita berpikir, apakah ini tidak menyelisihi para wanita di masa Nabi dahulu. Namun buru-buru bisikan setan dan hawa nafsu menyahut, "Ah jelas enggak, kan sekarang zaman sudah berubah, kalau zaman dulu para lelaki mengangkat pakaiannya hingga setengah betis, maka wanitanya harus menyelisihi dengan menjulurkannya hingga menutup telapak kaki, tapi kini lain, sekarang banyak laki-laki yang menurunkan pakaiannya hingga bawah mata kaki, maka wanitanya harus menyelisihi mereka yaitu dengan mengangkatnya hingga setengah betis atau kalau perlu lebih ke atas lagi, sehingga nampak seluruh betisnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi… apakah itu tidak menjadi fitnah bagi kaum laki-laki," gumamnya. "Fitnah? Ah itu kan zaman dulu, di masa itu kaum laki-laki tidak suka kalau wanita menampakkan auratnya, sehingga wanita-wanita mereka lebih banyak di rumah dan pakaian mereka sangat tertutup. Tapi sekarang sudah berbeda, kini kaum laki-laki kalau melihat bagian tubuh wanita yang terbuka malah senang dan mengatakan ooh atau wow, bukankah ini berarti sudah tidak ada lagi fitnah, karena sama-sama suka? Lihat saja model pakaian di sana-sini, dari yang di emperan hingga yang yang bermerek kenamaan, seperti Kristian Dior, semuanya menawarkan model yang dirancang khusus untuk wanita maju di zaman ini. Kalau kamu tidak mengikuti model itu akan menjadi wanita yang ketinggalan zaman."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, maka pakaian yang menampakkan seluruh betis biasa dia kenakan, apalagi banyak para wanita yang memakainya dan sedikit sekali orang yang mempermasalahkan itu. Kini tibalah saatnya setan melancarkan tahap terakhir dari siasatnya untuk melucuti hijab wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Serba Mini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pakaian yang menampak kan betis menjadi pakaian sehari-hari dan dirasa biasa-biasa saja, maka datanglah bisikan setan yang lain. "Pakaian membutuhkan variasi, jangan itu-itu saja, sekarang ini modelnya rok mini, dan agar serasi rambut kepala harus terbuka, sehingga benar-benar kelihatan indah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka akhirnya rok mini yang menampakkan bagian bawah paha dia pakai, bajunya pun bervariasi, ada yang terbuka hingga lengan tangan, terbuka bagian dada sekaligus bagian punggung nya dan berbagai model lain yang serba pendek dan mini. Koleksi pakaiannya sangat beraneka ragam, ada pakaian pesta, berlibur, pakaian kerja, pakaian resmi, pakaian malam, sore, musim panas, musim dingin dan lain-lain, tak ketinggalan celana pendek separuh paha pun dia miliki, model dan warna rambut juga ikut bervariasi, semuanya telah dicoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah sesuatu yang sepertinya mustahil untuk dilakukan, ternyata kalau sudah dihiasi oleh setan, maka segalanya menjadi serba mungkin dan diterima oleh manusia.&lt;br /&gt;Hingga suatu ketika, muncul ide untuk mandi di kolam renang terbuka atau mandi di pantai, di mana semua wanitanya sama, hanya dua bagian paling rawan saja yang tersisa untuk ditutupi, kemaluan dan buah dada. Mereka semua mengenakan pakaian yang sering disebut dengan "bikini". Karena semuanya begitu, maka harus ikut begitu, dan na'udzu billah bisikan setan berhasil, tujuannya tercapai, "Menelanjangi Kaum Wanita." Selanjutnya terserah kamu wahai wanita, kalian semua sama, telanjang di hadapan laki-laki lain, di tempat umum. Aku berlepas diri kalau nanti kelak kalian sama-sama di neraka. Aku hanya menunjukkan jalan, engkau sendiri yang melakukan itu semua, maka tanggung sendiri semua dosamu" Setan tak mau ambil resiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian halus, cara yang digunakan setan, sehingga manusia terjeru-mus dalam dosa tanpa terasa. Maka hendaklah kita semua, terutama orang tua jika melihat gejala menyimpang pada anak-anak gadis dan para wanita kita sekecil apapun, segera secepatnya diambil tindakan. Jangan biarkan berlarut-larut, karena kalau dibiarkan dan telah menjadi kebiasaan, maka sangat sulit bagi kita untuk mengatasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membiarkan mereka membuka aurat berarti merelakan mereka mendapatkan laknat Allah, kasihanilah mereka, selamatkan para wanita muslimah, jangan jerumuskan mereka ke dalam kebinasaan yang menyeng-sarakan, baik di dunia maupun di akhirat. Wallahu a'lam bis shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-8310512855609352955?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/8310512855609352955/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/06/nasihat-untuk-akhwatawas-tipudaya-setan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/8310512855609352955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/8310512855609352955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/06/nasihat-untuk-akhwatawas-tipudaya-setan.html' title='nasihat untuk akhwat..awas tipudaya setan'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-3982225137827504413</id><published>2009-04-19T10:15:00.004+07:00</published><updated>2009-04-19T10:18:22.200+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nikah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatawa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syariat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Akhwat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Waspada'/><title type='text'>MENUNDA NIKAH KARENA MASIH BELAJAR</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bismillah....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://tbn3.google.com/images?q=tbn:e39bUAJmMu8RpM:http://akhsa.files.wordpress.com/2008/10/mawar.jpeg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 120px; height: 90px;" src="http://tbn3.google.com/images?q=tbn:e39bUAJmMu8RpM:http://akhsa.files.wordpress.com/2008/10/mawar.jpeg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan.&lt;br /&gt;&lt;p align="Justify"&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Ada suatu tradisi yang membudaya, yaitu perempuan atau orang tuanya menolak lamaran orang yang melamarnya karena alasan ingin meyelesaikan sekolahnya di SMU atau Perguruan Tinggi, atau bahkan karena anak (perempuan) ingin belajar beberapa tahun lagi. Bagaimana hukum masalah ini, apa nasehat Syaikh kepada orang-orang yang melakukan hal seperti itu, yang kadang-kadang anak perempuan itu sampai berusia 30 tahun belum menikah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jawaban.&lt;br /&gt;Hukumnya adalah bahwa hal seperti itu bertentangan dengan perintah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, sebab beliau bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Apabila datang (melamar) kepada kamu lelaki yang kamu ridhai akhlak dan (komitmennya kepada) agamanya, maka kawinkanlah ia (dengan putrimu)".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Wahai sekalian pemuda, barangsiapa diantara kamu yang mempunyai kemampuan, maka menikahlah, karena menikah itu lebih dapat menahan pandangan mata dan lebih menjaga kehormatan diri".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mau menikah itu berarti menyia-nyiakan maslahat pernikahan. Maka nasehat saya kepada saudara-saudaraku kaum Muslimin, terutama mereka yang menjadi wali bagi putri-putrinya dan saudari-saudariku kaum Muslimat, hendaklah tidak menolak nikah (perkawinan) dengan alasan ingin menyelesaikan studi atau ingin mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan bisa saja minta syarat kepada calon suami, seperti mau dinikahi tetapi dengan syarat tetap diperbolehkan belajar (meneruskan studi) hingga selesai, demikian pula (kalau sebagai guru) mau dinikahi dengan syarat tetap menjadi guru sampai satu atau dua tahun, selagi belum sibuk dengan anak-anaknya. Yang demikian itu boleh-boleh saja, akan tetapi adanya perempuan yang mempelajari ilmu pengetahuan di Perguruan Tinggi yang tidak kita butuhkan adalah merupakan masalah yang masih perlu dikaji ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pendapat saya bahwa apabila perempuan telah tamat Tingkat Dasar (SD) dan mampu membaca dan menulis dengannya ia dapat membaca Al-Qur'an dan tafsirnya, dapat membaca hadits dan penjelasannya (syarahnya), maka hal itu sudah cukup, kecuali kalau untuk mendalami suatu disiplin ilmu yang memang dibutuhkan oleh ummat, seperti kedokteran (kebidanan, -pent-) dan lainnya, apabila di dalam studinya tidak terdapat sesuatu yang terlarang, seperti ikhtilat (campur baur dengan laki-laki) atau hal lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[ As'illah Muhimmah Ajaba 'Anha Syaikh Ibnu Utsaimin, hal 26-27]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Muthofa Aini dkk, Penerbit Darul Haq]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7582286808779537650-3982225137827504413?l=al-ikhwahmedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/feeds/3982225137827504413/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/04/menunda-nikah-karena-masih-belajar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/3982225137827504413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7582286808779537650/posts/default/3982225137827504413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://al-ikhwahmedia.blogspot.com/2009/04/menunda-nikah-karena-masih-belajar.html' title='MENUNDA NIKAH KARENA MASIH BELAJAR'/><author><name>Tim Embun Tarbiyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12377950248817298139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1RNwDhb9uNs/SRlA-FcDsKI/AAAAAAAAAA0/fJWrmQsYyww/S220/Embun1(2).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7582286808779537650.post-5561810817117330805</id><published>2009-04-19T10:06:00.002+07:00</published><updated>2009-04-19T10:19:39.050+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nikah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatawa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syariat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Akhwat'/><title type='text'>UTAMAKAN MENIKAH</title><content type='html'>&lt;P align="center"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bismillah....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://tbn1.google.com/images?q=tbn:mntNxJQjcs0wUM:http://www.flowersonline.com.sg/images%255Cvalentine%255Cvt067.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 108px; height: 108px;" src="http://tbn1.google.com/images?q=tbn:mntNxJQjcs0wUM:http://www.flowersonline.com.sg/images%255Cvalentine%255Cvt067.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan.&lt;br /&gt;&lt;p align="Justify"&gt;Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Ada suatu kebiasaan yang sudah meyebar, yaitu adanya gadis remaja atau orang tuanya menolak orang yang melamarnya, dengan alasan madih hendak menyelesaikan studinya di SMU atau di Perguruan Tinggi, atau sampai karena untuk mengajar dalam beberapa tahun. Apa hukumnya ? Apa nasihat Syaikh bagi orang-orang yang melakukannya, bahkan ada wanita yang sudah mencapai usia 30 tahun atau lebih belum menikah ?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jawaban.&lt;br /&gt;Nasehat saya kepada semua pemuda dan pemudi agar segera menikah jika ada kemudahan, karena Nabi Shallallau
