Kabar gembira akan kemenangan Islam telah tersebar dimana-mana, al-hamdu lillah. Hari demi hari terdengar kabar kekalahan musuh Islam di berbagai penjuru dunia. Janji Alloh Subhanahu Wa Ta'ala benar-benar telah mendarat di bumi realita.
“Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, (yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang.” [QS. ash-Shaffāt (37): 171-173]
Semua pertolongan itu adalah semata-mata anugerah Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Hadir karena Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Maha kuat lagi Maha perkasa. Beruntung sekali orang-orang yang Alloh Subhanahu Wa Ta'ala pilih menjadi pejuang-Nya.
“Alloh telah menetapkan:“Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang”. Sesung-guhnya Alloh Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” [QS. al-Mujādilah (58): 12]
Sesuai hikmah-Nya, di setiap kemenangan Islam tersebut pasti ada pahlawannya. Melalui tangan dan kiprah para pejuang (pahlawan) tersebut, Alloh Subhanahu Wa Ta'ala menampakkan sunnah-sunnah-Nya. Mereka adalah orang-orang yang menunaikan janji mereka kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, menjadi pejuang di jalan-Nya. Demikianlah kehendak Alloh Subhanahu Wa Ta'ala untuk menguji orang-orang beriman agar membuktikan keimanan mereka di alam nyata.
“Demikianlah apabila Alloh menghen-daki niscaya Alloh akan membinasa-kan mereka tetapi Alloh hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain.” [QS. Muhammad (47): 4]
Turunnya ujian dan kesulitan di hadapan umat ini tidak lain agar lahir para pejuang. Melalui tangan-tangan mereka, Alloh Subhanahu Wa Ta'ala menggebuk dan meng-hinakan musuh-musuh-Nya, musuh-musuh mereka juga.
Saudaraku kaum muslimin.…
Kisah para shahabat menawarkan kita telaga penghilang dahaga dalam dunia perjuangan. Mereka adalah manusia-manusia terpuji yang paling bersegera dalam memenuhi seruan Rabb-nya.
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Alloh….” [QS. at-Tawbah (9): 100]
Ada poin penting dalam ayat di atas yang harus kita renungkan, yaitu:
“…dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik….”
Ini adalah gerbong yang memberikan peluang bagi kita untuk ikut mengisi-nya, sehingga kita pun mendapatkan:
“…Alloh ridha kepada mereka dan me-rekapun ridha kepada Alloh dan Alloh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalam-nya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya.” [QS. at-Tawbah (9): 100]
Syaikh Rasyid Ridha Rahimahullah berkata:
“Tidak ragu lagi bahwa kebersamaan setiap orang yang beriman dengan para shahabat dalam keridaan Alloh dan pahala adalah sesuai kadar pengikutan mereka dalam hijrah, jika mereka menghadapi situasi yang mengharuskan hijrah, dan serta dalam jihad mereka dengan harta dan jiwa untuk menolong Islam.” (al-Manār: 16/11)
Pertolongan adalah anugerah terindah dan tertinggi, karena bertujuan untuk menjadikan kalimat (agama) Alloh Subhanahu Wa Ta'ala tinggi serta untuk menolong Rasul Salallahu Alaihi Wasalam dan para shahabatnya (Tafsir al-Qāsimiy: 3243/9).
Maka menjadi pejuang adalah puncak kemuliaan sekaligus hadiah Alloh kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih, tidak semuanya. Di antara deretan orang mulia tersebut adalah al-anbiyā’ (para nabi). Setiap nabi selalu ada dan berdiri tegak di sampingnya sosok-sosok gagah yang mencintai dan membelanya, serta mati-matian memegang kebenaran dan menyebarkannya.
Rasululloh Salalalhu Alihi Wasalam bersabda:
(( مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي، إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّوْنَ وَأَصْحَابٌ، يَأْخُذُوْنَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُوْنَ بِأَمِرِهِ، ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوْفٌ، يَقُوْلُوْنَ مَا لاَ يَفْعَلُوْنَ، وَيَفْعُلُوْنَ مَا لاَ يُؤْمَرُوْنَ ))
“Tidak ada seorang nabi pun sebelum-ku yang diutus Alloh kecuali selalu ada sosok yang menemani dan membelanya dari umatnya. Mereka senantiasa melaksanakan sunnah dan mematuhi perintah nabinya. Kemudian datang sesudah mereka orang-orang yang me-ngatakan apa yang tidak mereka lakukan, mengerjakan apa yang tidak diperintahkan.” (HR. Muslim)
Alloh Subhanahu Wa Ta'ala menjelaskan dalam al-Qur’an tentang hawāriyyun (penolong) Nabi Isa as yang bersegera menjawab seruan Rabbnya dengan cepat dan sigap ketika:
“…Siapakah yang akan menjadi peno-long-penolongku untuk (menegakkan agama) Alloh?”. Para hawariyyin (sha-habat-shahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Alloh, kami beriman kepada Alloh; dan sak-sikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.” [QS. Āli ’Imrān (3): 52]
Demikian halnya di sisi Nabi kita Salallohu'alaihiwassalam pun berdiri para pemberani yang mencintai beliau Salallohu'alaihiwassalam dari kalangan Muhajirin dan orang-orang mukhlis dari golong-an Anshar yang telah berbaiat untuk me-nolong dīn Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Tak mau ketinggalan, orang-orang yang datang sete-lah mereka.
“Dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman.” [QS. al-Anfāl (8): 74]
Dalam kitab-kitab terdahulu pun telah diceritakan sifat-sifat mereka:
“Muhammad itu adalah utusan Alloh dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama me-reka. Kalian lihat mereka ruku dan sujud mencari karunia Alloh dan keridha-an-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang menge-luarkan tunasnya. Maka tunas itu men-jadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya.” [QS. al-Fath (48): 29]
Alloh Subhanahu Wa Ta'ala telah menjanjikan kepada orang-orang seperti itu dengan keberuntungan dan kemenangan.
“Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolong-nya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang ber-untung.” [QS. al-A’rāf (7): 157]
Saudaraku kaum muslimin….
Zaman yang sedang kita tapaki hari ini butuh sebanyak mungkin pejuang (calon pahlawan). Di setiap medan perjuangan butuh sosok pribadi pahlawan sebagai wasīlah (perantara) turunnya pertolongan. Alloh Subhanahu Wa Ta'ala pun telah menurunkan ayat-Nya, menyeru mereka, di antaranya adalah kita, ya kita semua.
“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Alloh!” [QS. ash-Shaff (61): 14]
Maka jawablah segera seruan-Nya dengan memenuhi syarat-syaratnya. Supaya segera datang pertolongan-Nya. Akan tetapi ada satu hal yang jangan sampai luput dari perhatian, yaitu mengerti apa makna pertolongan. Jangan sampai pertolongan itu hanya sampai di alam perasaan, tidak riil di alam ke-nyataan. Atau menjalankan metode yang tidak sejalan dengan apa yang di-inginkan Rabb semesta alam. Jangan pula kita termasuk dalam apa yang disabdakan Rasululloh Salallahu Alaihi Wasalam:
“Mereka mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, mengerjakan apa yang tidak diperintahkan.” (HR. Muslim)
Saudaraku kaum muslimin…
Jangan sampai kita diharamkan dari mendapat kemuliaan ini. Kemuliaan apa sebenarnya yang hendak kita cari? Adapun kalau kita tak mau jadi pejuang, Alloh akan datangkan suatu kaum sebagai pengganti manusia-manusia yang tak mau berjuang.
“Hai orang-orang yang beriman, ba-rangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Alloh akan mendatangkan suatu kaum yang Alloh mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Alloh, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Alloh, diberikan-Nya kepada siapa yang dike-hendaki-Nya dan Alloh Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” [QS. al-Mā’idah (5): 54]
JADILAH PEJUANG...!!!
Label: Muhasabah | author: Tim Embun TarbiyahPendapat Ulama Tentang Hukum Wanita Berziarah Kubur
Label: Dunia Akhwat, Fiqih, Hadist | author: Tim Embun TarbiyahDari ibnu Buraidah dari ayahnya berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Aku pernah melarang kalian dari berziarah kubur maka ziarahilah.” (HR. Muslim).
Didalam riwayat Abu Daud ditambahkan,”..Sesungguhnya ia adalah peringatan.” Didalam riwayat al Hakim disebutkan,”Ia (Ziarah kubur) melunakkan hati, mengucurkan air mata, maka janganlah berkata kotor.” sedang didalam riwayat Tirmidzi disebutkan,”Maka sesungguhnya ia mengingatkan akherat.” Ia mengatakan,’Hadits Buraidah adalah hadits Hasan Shohih)
Para ulama bersepakat bahwa diperbolehkan bagi kaum laki-laki untuk berziarah kubur. Adapun bagi kaum wanita maka terjadi perbedaan pendapat dikalangan para ulama :
1. Haram secara mutlak, baik menimbulkan fitnah, kemudharatan atau tidak, berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas berkata,”Rasulullah saw melaknat para wanita yang menziarahi kubur dan menjadikannya masjid dan memberikan penerangan diatasnya.” (HR. Abu Daud)
2. Haram apabila akan menimbulkan fitnah berdasarkan hadits dari Abdullah bin Murroh dari Masruq dari Abdullah dari Nabi saw bersabda,”Bukan dari kami orang yang menampar pipi, menyobek baju dan mencaci dirinya dengan cacian jahiliyah.” (HR. Bukhori)
3. Makruh, berdasarkan hadits dari Ummu ‘Athiyah berkata,”Kami dahulu dilarang untuk mengikuti jenazah, namun hal itu tidak dipastikan kepada kami.” (HR. Bukhori Muslim)
4. Boleh, berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari ibnu Buraidah dari ayahnya berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Aku pernah melarang kalian dari berziarah kubur maka ziarahilah.” (HR. Muslim).
Kebanyakan ulama mengatakan bahwa ziarah kubur bagi wanita adalah boleh dikarenakan para wanita termasuk didalam keumuman hadits diatas, selama tidak mengundang fitnah.
Pendapat ini dikuatkan dengan hadits Anas bin Malik ra berkata,”Bahwa Rasulullah saw melewati seorang wanita yang sedang menangis di sebuah kuburan. Beliau saw bersabda,’Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah.’
Wanita itu mengatakan,’Sesungguhnya engkau tidaklah ditimpa musibah seperti yang telah menimpaku sehingga engkau tidak mengetahuinya.’ Dikatakan kepada wanita itu,’Sesungguhnya orang ini adalah Nabi.’ Maka wanita itu pun mendatangi Nabi saw dan ia tidak mendapati adanya para penjaga disisi Nabi saw. Wanita itu berkata,’Aku tidak mengenalmu.’ Beliau bersabda,’Sesungguhnya sabar adalah pada saat pertama kali mendapati (musibah itu).” (HR. Bukhori).
Hadits ini menunjukan bahwa nabi saw tidaklah melarang wanita itu duduk di kuburan dan taqrir (pengukuhan) beliau saw adalah hujjah (dalil).
Dan diantara orang yang membolehkannya secara umum bagi laki-laki maupun perempuan adalah Aisyah. Diriwayatkan oleh Hakim dari jalan Ibnu Abi Mulaikah bahwasanya dia pernah melihat Aisyah menziarahi kuburan saudara laki-lakinya, Abdurrahman.”Aisyah ditanya,’Bukankah Nabi saw telah melarang hal ini.’Dia menjawab,’Ya, dahulu beliau saw pernah melarangnya kemudian memerintahkan untuk menziarahinya.” (HR. Baihaqi)-- (Fathul bari juz III hal 180)
Telaah Beberapa Dalil Diatas
Imam Tirmidzi mengatakan,”Hadits Ibnu Abbas diatas yang diapakai sebagai dalil oleh mereka yang mengharamkan wanita berziarah kubur menurut sebagian ulama bahwa hadits itu terjadi sebelum adanya rukhshoh (keringanan) dari Nabi saw untuk ziarah kubur. Tatkala ada rukhshoh maka yang termasuk didalam rukhshoh ini adalah kaum laki-laki dan wanita.” (Aunul Ma’bud juz V hal 41)
Terhadap hadits pelaknatan yang digunakan oleh mereka yang mengharamkan ziarah wanita ke kuburan, maka disebutkan Ibnu Taimiyah bahwa telah datang riwayat dari Nabi saw melalui dua jalan :
1. “Annahu la’ana zuwarootil qubuur; artinya,’Bahwasanya beliau saw telah melaknat para wanita yang berziarah kubur.” dari Abu Hurairoh,”Annan Nabiyya la’ana zaairootil qubuur, artinya,’Bahwa Nabi saw telah melaknat para wanita yang berziarah kubur.” Diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Tirmidzi dan dishohihkan olehnya.
2. Dan dari Ibnu Abbas bahwa ,”Rasulullah saw melaknat para wanita yang menziarahi kubur dan menjadikannya masjid dan memberikan penerangan diatasnya.” (HR. Ahmad, Abu Daud, an Nasa’i, Tirmidzi dan dihasankan olehnya, didalam kitabnya yang lain dishohihkan olehnya serta diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah )
Disebutkan,”Hadits itu telah diriwayatkan dari dua jalan yang berbeda; satu dari Ibnu Abbas dan yang lainnya dari Abu Hurairoh. Orang-orang yang meriwayatkan didalam hadits yang satu bukanlah mereka yang meriwayatkannya pada hadits yang lainnya. Kedua kelompok tersebut tidak saling meriwayatkan dari yang lainnya. Didalam kedua sanadnya tidak ada orang yang diragukan karena berdusta.
esungguhnya pelemahannya hanya dari sisi buruknya hafalan. Dan dalam keadaan seperti ini tetap dianggap sebagai hujjah (dalil) yang tidak bisa diragukan. Ini adalah hasan yang paling baik yang telah disyaratkan oleh Tirmidzi, dia meletakkannya pada hasan dikarenakan banyaknya jalan dan tidak ada orang yang disangsikan didalamnya serta tidak menyimpang atau bertentangan dengan apa yang telah diriwayatkan oleh orang-orang yang tsiqoh (dipercaya).”
Sedangkan pendapat dari mereka yang mengatakan bahwa ziarah wanita ke kuburan adalah makruh, yaitu Ahmad, Syafi’i dan para pengikutnya adalah bahwa hadits tentang laknat itu merupakan dalil terhadap pengharaman sedangkan hadits perizinan—Hadits Aisyah—menghilangkan pengharaman itu, sehingga yang tinggal adalah makruh.
Hal ini dikuatkan oleh Hadits Ummu ‘Athiyah ,”Kami dahulu dilarang untuk mengikuti jenazah, namun hal itu tidak dipastikan kepada kami.” (HR. Bukhori Muslim) Ziarah adalah bagian dari mengikuti jenazah maka kedua-duanya (menziarahi dan mengikuti jenazah) adalah makruh yang tidak diharamkan.
Sebagian dari ulama yang mengatakan makruh, seperti Ishaq bin Rohuyah, mengatakan,”Pelaknatan menggunakan lafazh az Zuwaroot, artinya; para wanita yang banyak berziarah. Maka jika hanya sekali berziarah dalam seumur hidupnya maka ia tidaklah termasuk dalam lafazh itu dan wanita tersebut tidaklah disebut dengan wanit yang sering berziarah. Mereka mengatakan,”Aisyah hanya berziarah sekali sehingga ia tidak disebut dengan wanita yang sering berziarah.” (Fathul ari juz XXIV hal 196 – 198)
Sesungguhnya hadits Anas tidaklah mengukuhkan ziarah wanita itu akan tetapi hanya memerintahkannya untuk bertakwa kepada Allah dengan menjalankan apa-apa yang diperintahkan Allah kepadanya dan meninggalkan apa-apa yang dilarang-Nya.
Secara umum hadits itu adalah pelarangan dari ziarah kubur. Beliau saw bersabda kepada wanita itu,”Bersabarlah.” Dan telah diketahui bahwa kedatangan wanita itu ke kuburan kemudian menangisinya adalah perbuatan meniadakan kesabarannya tatkala dia menolak nasehat dari Rasul saw dikarenakan belum mengenalinya dan Rasulullah saw pun berlalu darinya.
Kemudian tatkala wanita itu mengetahui bahwa yang memerintahkannya adalah Rasulullah saw maka dia pun mendatanginya dan meminta maaf kepadanya karena mengabaikan perintahnya. Jadi adakah dalil didalam hadits itu yang membolehkan ziarah kubur bagi kaum wanita?!
Pelarangan ziarah kubur yang kemudian dibolehkan—didalam Ibnu Buraidah—adalah pada awal-awal islam untuk menjaga keimanan, meniadakan ketergantungan dengan orang-orang yang sudah meninggal serta menutup jalan menuju kemusyrikan yang menjadi pangkalnya adalah mengagungkan dan menyembah kuburan.
Ibnu Abbas mengatakan,”Tatkala keimanan sudah kokoh bersemayam didalam hati mereka (kaum muslimin) dengan terkikisnya kemusyrikan dan terkukuhkannya agama maka mereka diizinkan berziarah kubur untuk menambah keimanan dan mengingatkannya terhadap apa yang telah diciptakan baginya berupa negeri yang kekal (akherat). Perizinan dan pelarangannya pada waktu itu adalah demi kemaslahatan.
Adapun bagi kaum wanita, meskipun terdapat kemaslahatan didalamnya akan tetapi ziarah mereka juga akan menimbulkan kemudharatan yang telah diketahui secara khsuus maupun umum, berupa fitnah bagi orang yang masih hidup atau menyakiti si mayit (karena tangisannya yang berteriak-teriak).
Kemudharatan ini tidaklah bisa dicegah kecuali dengan melarang mereka dari menziarahinya. Dalam hal ini kemudharatannya lebih besar daripada kemaslahatannya yang sedikit bagi mereka. Syari’ah tegak diatas pengharaman suatu perbuatan apabila kemudharatannya lebih kuat daripada kemaslahatannya. Kuatnya kemudharatan dalam permasalahan ini tidaklah tersembunyi maka melarang kaum wanita dari berziarah kubur adalah diantara perbuatan baik dalam syari’ah.“ (Aunul Ma’bud juz V hal 43)
Dengan demikian hukum bagi seorang wanita yang menziarahi kuburan adalah makruh yang tidak diharamkan selama tidak menimbulkan fitnah dan kemudharatan baik bagi diri sendiri seperti; menyingkap auratnya, berteriak-teriak, menangis dengan suara kencang, memukuli diri dan lainnya, ataupun membawa fitnah dan mudharat bagi orang lain, dan apabila hal ini terjadi maka ziarahnya menjadi haram.
Wallahu A’lam
KRITERIA HIJAB MUSLIMAH
Label: Dunia Akhwat, Fiqih | author: Tim Embun TarbiyahPenelitian kami terhadap ayat-ayat Al-Quran, As-Sunnah dan atsar-atsar Salaf dalam masalah yang penting ini, memberikan jawaban kepada kami bahwa jika seorang wanita keluar dari rumahnya, maka ia wajib menggunakan pakaian (jilbab) yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1. Meliputi Seluruh Badan Selain Yang Dikecualikan
Syarat ini terdapat dalam firman Allah dalam surat An-Nuur : 31 berbunyi : "Katakanlah kepada wanita yang beriman : "Hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka (mertua) atau putra-putra mereka atau putra-putra suami mereka atau saudara-saudar mereka (kakak dan adiknya) atau putra-putra saudara laki-laki mereka atau putra-putra saudara perempuan mereka (=keponakan) atau wanita-wanita Islam atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung."
Juga firman Allah dalam surat Al-Ahzab : 59 berbunyi : "Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mumin : "Hendaklah mereka mengulurkann jilbabnya ke seluruh tubuh mereka."Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam Tafsirnya : "Janganlah kaum wanita menampakkan sedikitpun dari perhiasan mereka kepada pria-pria ajnabi, kecuali yang tidak mungkin disembunyikan." Ibnu Masud berkata : Misalnya selendang dan kain lainnya. "Maksudnya adalah kain kudung yang biasa dikenakan oleh wanita Arab di atas pakaiannya serat bagian bawah pakiannya yang tampak, maka itu bukan dosa baginya, karena tidak mungkin disembunyikan."
2. Bukan Berfungsi Sebagai Perhiasan
Ini berdasarkan firman Allah dalam surat An-Nuur ayat 31 berbunyi : "Dan janganlah kaum wanita itu menampakkan perhiasan mereka." Secara umum kandungan ayat ini juga mencakup pakaian biasa jika dihiasi dengan sesuatu, yang menyebabkan kaum laki-laki melirikkan pandangan kepadanya. Hal ini dikuatkan oleh firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 33 : "Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti oang-orang jahiliyah."
Juga berdasarkan sabda Nabi : "Ada tida golongan yang tidak akan ditanya yaitu, seorang laki-laki yang meninggalkan jamaah dan mendurhakai imamnya serta meninggal dalam keadaan durhaka, seorang budak wanita atau laki-laki yang melarikan diri (dari tuannya) lalu ia mati, serta seorang wanita yang ditinggal oleh suaminya, padahal suaminya telah mencukupi keperluan duniawinya, namun setelah itu ia bertabarruj. Ketiganya itu tidak akan ditanya." (Dikeluarkan Al-Hakim 1/119 dan disepakati Adz-Dzahabi; Ahmad VI/19; Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad; At-Thabrani dalam Al-Kabir; Al-Baihaqi dalam As-Syuaib).Tabarruj adalah perilaku wanita yang menampakkan perhiasan dan kecantikannya serta segala sesuatu yang wajib ditutup karena dapat membangkitkan syahwat laki-laki. (Fathul Bayan VII/19).
3. Kainnya Harus Tebal (Tidak Tipis)
Sebab yang namanya menutup itu tidak akan terwujud kecuali harus tebal. Jika tipis, maka hanya akan semakin memancing fitnah (godaan) dan berarti menampakkan perhiasan. Dalam hal ini Rasulullah telah bersabda : "Pada akhir umatku nanti akan ada wanita-wanita yang berpakain namun (hakekatnya) telanjang. Di atas kepala mereka seperti terdapat bongkol (punuk) unta. Kutuklah mereka karena sebenarnya mereka adalah kaum wanita yang terkutuk." Di dalam hadits lain terdapat tambahan : "Mereka tidak akan masuk surga dan juga tidak akan mencium baunya, padahal baunya surga itu dapat dicium dari perjalanan sekian dan sekian." (At-Thabrani dalam Al-Mujam As-Shaghir hal. 232; Hadits lain tersebut dikeluarkan oleh Muslim dari riwayat Abu Hurairah. Lihat Al-HAdits As-Shahihah no. 1326).
Ibnu Abdil Barr berkata : Yang dimaksud oleh Nabi adalah kaum wanita yang mengenakan pakaian yang tipis, yang dapat mensifati (menggambarkan) bentuk tubuhnya dan tidak dapat menutup atau menyembunyikannya. Mereka itutetap berpakaian namanya, akan tetapi hakekatnya telanjang. (dikutip oleh As-Suyuthi dalam Tanwirul Hawalik III/103).
Dari Abdullah bin Abu Salamah, bahawsannya Umar bin Al-Khattab pernah memakai baju Qubthiyah (jenis pakaian dari Mesir yang tipis dan berwarna putih) kemudian Umar berkata : Jangan kamu pakaikan baju ini untuk istri-istrimu !. Seseorang kemudian bertanya : Wahai Amirul Muminin, Telah saya pakaikan itu kepada istriku dan telah aku lihat di rumah dari arah depan maupun belakang, namun aku tidk melihatnya sebagai pakaian yang tipis ! Maka Umar menjawab : Sekalipun tidak tipis, namun ia mensifati (menggambarkan lekuk tubuh). (Riwayat Al-Baihaqi II/234-235; Muslim binAl-Bitthin dari Ani Shalih dari Umar).Atsar di atas menunjukkan bahwa pakaian yang tipis atau yang mensifati dan menggambarkan lekuk-lekuk tubuh adalah dilarang. Yang tipis (transparan) itu lebih parah daripada yang menggambarkan lekuk tubuh (tapi tebal). Olehkarena itu Aisyah pernah berkata : "Yang namanya khimar adalah yang dapat menyembunyikan kulit dan rambut."
4. Harus Longgar (Tidak Ketat) Sehingga Tidak Dapat Menggambarkan Sesuatu Dari Tubuhnya
Usamah bin Zaid pernah berkata : Rasulullah pernah memberiku baju Quthbiyah yang tebal yang merupakan baju yang dihadiahkan oleh Dihyah Al-Kalbi kepada beliau. Baju itu pun aku pakaikan pada istriku. Nabi bertanya kepadaku : "Mengapa kamu tidak mengenakan baju Quthbiyah ?" Aku menjawab : Aku pakaiakan baju itu pada istriku. Nabi lalu bersabda : "Perintahkan ia agar mengenakan baju dalam di balik Quthbiyah itu, karena saya khawatir baju itu masih bisa menggambarkan bentuk tulangnya." (Ad-Dhiya Al-Maqdisi dalam Al-Hadits Al-Mukhtarah I/441; Ahmad dan Al-Baihaqi dengan sanad Hasan).
Aisyah pernah berkata : Seorang wanita dalam shalat harus mengenakan tiga pakaian : Baju, jilbab dan khimar. Adalah Aisyah pernah mengulurkan izar-nya (pakaian sejenis jubah) dan berjilbab dengannya. (Ibnu Sad VIII/71).
Pendapat yang senada juga dikatakan oleh Ibnu Umar : Jika seorang wanita menunaikan shalat, maka ia harus mengenakan seluruh pakainnya : Baju, khimar dan milhafah (mantel). (Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf II:26/1).Ini semua juga menguatkan pendapat yang kami pegangi mengenai wajibnya menyatukan antara khimar dan jilbab bagi kaum wanita jika keluar rumah.
5. Tidak Diberi Wewangian Atau Parfum
Dari Abu Musa Al-Asyari bahwasannya ia berkata : Rasulullah bersabda : "Siapapun wanita yang memakai wewangian, lalu ia melewati kaum laki-laki agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah pezina." (An-Nasai II/283; Abu Daud II/192; At-Tirmidzi IV/17; Ahmad IV/100, Ibnu Khuzaimah III/91; Ibnu Hibban 1474; Al-Hakim II/396 dan disepakati oleh Adz-Dzahabi).
Dari Zainab Ats-Tsaqafiyah bahwasannya Nabi bersabda : "Jika salah seorang diantara kalian (kaum wanita) keluar menuju masjid, maka jangan sekali-kali mendekatinya dengan (memakai) wewangian." (Muslim dan Abu Awanahdalam kedua kitab Shahih-nya; Ash-Shabus Sunan dn lainnya).
Dari Abu Hurairah bahwa ia berkata : Rasulullah bersabda : "Siapapun wanita yang memakai bakhur (wewangian yang berasal dari pengasapan), maka janganlah ia menyertai kami dalam menunaikan shalat Isya yang akhir." (ibid)
Dari Musa bin Yasar dari Abu Hurairah : Bahwa seorang wanita berpapasan dengannya dan bau wewangian menerpanya. Maka Abu Hurairah berkata : Wahai hamba Allah ! Apakah kamu hendak ke masjid ? Ia menjawab : Ya. Abu Hurairah kemudian berkata : Pulanglah saja, lalu mandilah ! karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah bersabda : "Jika seorang wanita keluar menuju masjid sedangkan bau wewangian menghembus maka Allah tidak menerima shalatnya, sehingga ia pulang lagi menuju rumahnya lalu mandi." (Al-Baihaqi III/133; Al-Mundziri III/94).
Alasan pelarangannya sudah jelas, yaitu bahwa hal itu akan membangkitkan nafsu birahi. Ibnu Daqiq Al-Id berkata : Hadits tersebut menunjukkan haramnya memakai wewangian bagi wanita yang hendak keluar menuju masjid, karena hal itu akan dapat membangkitkan nafsu birahi kaum laki-laki (Al-Munawi dalam Fidhul Qadhir dalam mensyarahkan hadits dari Abu Hurairah).
Saya (Al-Albany) katakan : Jika hal itu saja diharamkan bagi wanita yang hendak keluar menuju masjid, lalu apa hukumnya bagi yang hendak menuju pasar, atau tempat keramaian lainnya ? Tidak diragukan lagi bahwa hal itujauh lebih haram dan lebih besar dosanya. Al-Haitsami dalam kitab AZ-Zawajir II/37 menyebutkan bahwa keluarnya seorang wanita dari rumahnya dengan memakai wewangian dn berhias adalah termasuk perbuatan kabair (dosa besar) meskipun suaminya mengizinkan.
6. Tidak Menyerupai Pakaian Laki-Laki
Karena ada beberapa hadits shahih yang melaknat wanita yang menyrupakan diri dengan kaum pria, baik dalam hal pakaian maupun lainnya.Dari Abu Hurairah berkata : Rasulullah melaknat pria yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian pria (Abu Daud II/182; Ibnu Majah I/588; Ahmad II/325; Al-Hakim IV/19 disepakati oleh Adz-Dzahabi).
Dari Abdullah bin Amru yang berkata : Saya mendengar Rasulullah bersabda : "Tidak termasuk golongan kami para wanita yang menyerupakan diri dengan kaum pria dan kaum pria yang menyerupakan diri dengan kaum wanita." (Ahmad II/199-200; Abu Nuaim dalam Al-Hilyah III/321)
Dari Ibnu Abbas yang berkata : Nabi melaknat kaum pria yang bertingkah kewanita-wanitaan dan kaum wanita yang bertingkah kelaki-lakian. Beliau bersabda : "Keluarkan mereka dari rumah kalian. Nabi pun mengeluarkan si fulan dan Umar juga mengeluarkan si fulan." Dalam lafadz lain : "Rasulullah melaknat kaum pria yang menyerupakan diri dengan kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupakan diri dengan kaum pria." (Al-Bukhari X/273-274; Abu Daud II/182,305; Ad-Darimy II/280-281; Ahmad no. 1982,2066,2123,2263,3391,3060,3151 dan 4358; At-Tirmidzi IV/16-17; Ibnu Majah V/189; At-Thayalisi no. 2679).
Dari Abdullah bin Umar yang berkata : Rasulullah bersabda : "Tiga golongan yang tidak akan masuk surga dan Allah tidak akan memandang mereka pada hari kiamat; Orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yangbertingkah kelaki-lakian dan menyerupakan diri dengan laki-laki dan dayyuts (orang yang tidak memiliki rasa cemburu)." (An-Nasai !/357; Al-Hakim I/72 dan IV/146-147 disepakati Adz-Dzahabi; Al-Baihaqi X/226 dan Ahmad II/182).
Dalam haits-hadits ini terkandung petunjuk yang jelas mengenai diharamkannya tindakan wanita menyerupai kaum pria, begitu pula sebaiknya.Ini bersifat umum, meliputi masalah pakaian dan lainnya, kecuali hadits yang pertama yang hanya menyebutkan hukum dalam masalah pakaian saja.
7. Tidak Menyerupai Pakaian Wanita-Wanita Kafir
Syariat Islam telah menetapkan bahwa kaum muslimin (laki-laki maupun perempuan) tidak boleh bertasyabuh (menyerupai) kepada orang-orang kafir, baik dalam ibadah, ikut merayakan hari raya, dan berpakain khas mereka. Dalilnya : Firman Allah surat Al-Hadid : 16, berbunyi : "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik."
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam Al-Iqtidha hal. 43 : Firman Allah "Janganlah mereka seperti..." merupakan larangan mutlak dari tindakan menyerupai mereka, di samping merupakan larangan khusus dari tindakan menyerupai mereka dalam hal membatunya hati akibat kemaksiatan. Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini (IV/310) berkata : Karena itu Allah melarang orang-orang beriman menyerupai mereka dalam perkara-perkara pokok maupun cabang.Allah berfirman : "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad) : "Raaina" tetapi katakanlah "Unzhurna" dan dengarlah. Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih." Ibnu Katsir I/148 berkata : Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mnyerupai ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan orang-orang kafir.
Sebab, orang-orang Yahudi suka menggunakan plesetan kata dengan tujuan mengejek. Jika mereka ingin mengatakan "Denagrlah kami" mereka mengatakan "Raaina" sebagai plesetan kata "ruunah" (artinyaketotolan) sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 46. Allah telah memberitahukan (dalm surat Al-Mujadalah : 22) bahwa tidak ada seorang mumin yang mencintai orang-orang kafir. Barangsiapa yang mencintai orang-orang kafir, maka ia bukan orang mumin, sedangkan tindakanmenyerupakan diri secara lahiriah merupakan hal yang dicurigai sebagai wujud kecintaan, oleh karena itu diharamkan.
8. Bukan Pakaian Untuk Mencari Popularitas (Pakaian Kebesaran)
Berdasarkan hadits Ibnu Umar yang berkata : Rasulullah bersabda : "Barangsiapa mengenakan pakaian (libas) syuhrah di dunia, niscaya Allah mengenakan pakaian kehinaan kepadanya pada hari kiamat, kemudian membakarnyadengan api neraka." (Abu Daud II/172; Ibnu Majah II/278-279).
Libas Syuhrah adalah setiap pakaian yang dipakai dengan tujuan untuk meraih popularitas di tengah-tengah orang banyak, baik pakain tersebut mahal, yang dipakai oleh seseorang untuk berbangga dengan dunia dan perhiasannya,maupun pakaian yang bernilai rendah, yang dipakai oleh seseorang untuk menampakkan kezuhudannya dan dengan tujuan riya (Asy-Syaukani dalam Nailul Authar II/94).
Ibnul Atsir berkata : "Syuhrah artinya terlihatnya sesuatu.Maksud dari Libas Syuhrah adalah pakaiannya terkenal di kalangan orang-orang yang mengangkat pandangannya mereka kepadanya. Ia berbangga terhadap orang lain dengan sikap angkuh dan sombong."
Dikutip dari Kitab Jilbab Al-Marah Al-Muslimah fil Kitabi was Sunnah (Syaikh Al-Albany rahimahulloh) (Abu Dzar alghifari)
BERBAHAGIALAH, WAHAI HAMBA ALLAH!
Label: akhlak, Dunia Akhwat | author: Tim Embun TarbiyahAir Mata, Sakit Hati = Ujian
Tidak pernahkah kita berpikir bahwa betapa Allah senantiasa membuat kita bahagia? Apakah kita tidak pernah berpikir bahwa semua air mata dan luka di hati adalah jalan untuk kita lebih mendekatkan diri kepada Allah?
“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah , sesungguhnya pertolongan Allah itu sangat dekat.” (QS.Al Baqarah: 214)
Sahabat, mari kita merenung sejenak. Apa yang kita lakukan saat kita sedang bersedih. Dari lubuk hati yang paling dalam, akan muncul sebuah pengakuan. Betapa lemahnya diri kita. Betapa rapuhnya iman kita. Betapa bodohnya kita. Dan betapa kecil kita sebagai manusia. Sebuah keyakinan tercipta bahwa betapa Maha Kuasa Allah atas diri kita. Dia Yang Maha Kaya, Maha Berilmu, Maha Perkasa sekaligus Maha Penyayang. Semua keangkuhan sirna dalam sekejap.
Nah, saat diri rapuh dan tidak berdaya, saat itu pula kita mulai yakin bahwa ada yang lebih segala-galanya di atas kita. Sebuah kesejukan menetes membasahi hati yang terbakar. Ada kelembutan membelai pikiran yang gersang. Sebuah genggaman dahsyat yang membantu kita untuk bangkit kembali, melanjutkan kehidupan yang lebih baik.
Sahabat, begitulah cara Allah membahagiakan kita. Dengan menguji kita lewat berbagai macam penyakit, baik itu penyakit fisik dan sakit hati. Karena penyakit itulah, seseorang akan tersadar dari semua keangkuhan dan mengakui semua kesalahan yang telah kita perbuat dan segera bertaubat. Dengan ujian-ujian itu pula kita sebagai manusia merasa sangat kecil, merasa diri ini betul-betul seorang hamba yang bergantung hanya kepada Allah. Saat kita tersadar dari segala perjalanan dosa, mulailah kita memperbaiki kualitas ibadah kita dan mendekatkan diri kepada Allah.
Betapa Allah sangat mencintai hambanya. Betapa Allah ingin kita berada dekat dengan-Nya. Bukankah kebahagian itu jika kita berada dekat dengan yang kita cintai? Dan hanya Allah-lah yang memiliki cinta sejati itu.
Nikmat Allah selalu lebih besar dari cobaannya.
“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Fatihah:2-3)
Allah Maha Pemurah. Allah Maha Penyayang. Cobalah hitung berapa banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Seumur hidup kita tidak akan sanggup karena saking banyaknya. Lalu apa yang kita khawatirkan? Apa yang membuat kita gelisah?
Kita pasti mengetahui bahwa apa yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah. Bahkan nyawa kita adalah milik-Nya. Mengapa hanya karena kehilangan kaki seseorang merasa kehilangan segala-galanya? Bukankah ia masih memiliki anggota badan yang lainnya? Mengapa setelah ditinggal kekasih, seorang pemuda atau pemudi menjadi frustasi? Bukankah jodoh itu sudah diatur oleh Allah? Mengapa hanya karena tidak lulus ujian seorang siswa rela menghilangkan nyawanya? Bukan, bukan itu tujuan Allah memberi kita penyakit.
Ingatlah selalu bahwa Allah itu Maha Pemurah. Nikmat yang Allah berikan selalu lebih besar dari cobaan-Nya. Bukankah orang yang kakinya buntung masih mempunyai tangan untuk menggenggam, masih mempunyai mata untuk melihat kebesaran Allah, masih dapat mendengar seruan Allah? Bukankah orang yang buta sekalipun juga diberi kelebihan oleh Allah dengan insting yang kuat? Lalu apa yang harus kita sesali dengan begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan? Apa yang membuat kita bersedih?
“Maka, nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian dustakan?” (QS. Ar-Rahman:13)
Yakinlah, bahwa di balik setiap tetes air mata, selalu ada sejuta senyum yang menanti. Di balik sayatan luka di hati, selalu ada sejuta kebahagiaan yang siap menyambut. Dan yakinlah, bersama dengan kesulitan pasti ada kemudahan. Itu janji Allah…
Intan dalam Duri
“Maka, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah:5-6)
Jalan menuju kebahagiaan memang tidaklah selalu mudah. Ada saja rintangan yang menghadang. Setan bekerja keras melaksanakan tugasnya. Menggoda manusia, memberi was-was ke dalam hati mereka. Bagi orang yang lemah imannya, kurang cintanya terhadap Allah, pastilah dengan senang hati mengikuti bujuk rayu dan tipu daya para setan. Sebaliknya, orang-orang yang begitu mencintai Allah akan menempuh jalan merintang sekalipun. Dan orang-orang seperti itulah yang akan memperoleh kemenangan dan kebahagiaan. Menjadi pemenang atas godaan setan, berhasil membuktikan penghambaannya kepada Allah dan menjadi bahagia karena pahala yang dicurahkan kepadanya serta kemenangan yang terbesar adalah saat perjumpaan dengan Allah.
Untuk mencapai sebuah kebahagiaan, di perlukan pengorbanan dan kerja keras. Jangan mudah putus asa mencari rahmat Allah. Ibaratkan Dia memberikan kita sebuah hadiah berupa sebongkah intan tetapi hadiah tersebut di bungkus dengan kertas berduri. Apakah kita punya nyali untuk membukanya? Mungkin tangan kita akan berdarah, mungkin juga tidak. Dengan petunjuk cara membukanya, kita akan selamat dari duri-duri dan berhasil membuka hadiah tersebut. Akhirnya kita mendapat isi dari kotak itu.
Sama seperti dalam kehidupan, segala rintangan untuk mencapai sebuah kebahagian pastilah ada. Kalau rintangan tersebut kita anggap sebagai penghalang, ia akan betul-betul menghalangi langkah kita. Tapi, jika kita menganggap mereka sebagai tantangan, itu jauh lebih baik. Dalam menghadapi tantangan, kita harus menggunakan ilmu sesuai dengan petunjuk Allah. Dengan ilmu itulah kita dapat keluar dari permasalahan yang ada dan memperoleh hadiah yaitu kebahagiaan.
Cara Berbahagia
1. Syukur
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya, jika kalian bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat_Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim:7)
Orang-orang yang bahagia adalah mereka yang senantiasa bersyukur. Dengan bersyukur hidup akan menjadi lebih bahagia. Syukurilah apa yang ada di hadapan kita. Tidak lupa bersyukur atas apa yang telah kita peroleh di masa lalu. Jangan mencari yang tidak ada, jangan meresahkan kelebihan orang lain karena Allah juga telah menitipkan potensi ke dalam diri kita untuk dikembangkan.
Banyak orang yang terjebak di masa lalu. Menangisi kegagalannya, menyesali kesalahan-kesalahan saat itu. Kita harus berhati-hati. Sebesar apapun penyesalan kita, masa lalu tidak akan kembali dan tidak akan terulang lagi. Jangan sampai kegagalan membuat kita sedih berkepanjangan. Jangan sampai musibah yang kita alami membuat kita lalai dan melupakan semua nikmat yang telah Allah berikan, kufur atas nikmat Allah. Jangan pernah sedetikpun lidah kita absen dari ucapan syukur, memuji Allah Yang Maha Pemurah.
Masa sekarang adalah sebuah kenyataan. Tepat berada di hadapan kita. Bersyukurlah karena hari pagi ini kita masih bisa menghirup udara bebas, bersyukur akan hidangan yang lezat di depan kita, bersyukur karena kita dikelilingi oleh keluarga dan sahabat yang menyayangi. Bersyukur atas semua cinta yang telah diberi Allah kepada kita. Bersyukurlah agar kita menjadi orang yang paling bahagia.
2. Ikhlas
Ikhlas karena Allah. Kalimat yang mudah diucapkan namun kadang dalam prakteknya bertentangan. Mulailah dengan niat karena Allah. Segala sesuatu yang kita lakukan, baik itu bekerja, mencari nafkah atau belajar adalah ikhlas demi mendapatkan ridha Allah semata.
Tidak sedikit orang yang menyia-nyiakan usaha kerasnya. Mengapa sia-sia? Karena tujuannya bukan karena Allah. Tujuannya hanyalah mencari kesenangan dunia semata. Kalau sudah tujuannya dunia, orang-orang seperti itu akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kebahagiaan. Walaupun kebahagiaannya itu semu dan hanya sesaat. Dan balasannya pun bisa berupa murka Allah di dunia dan di akhirat.
Gantungkan tujuan dan cita-cita kita hanya kepada Allah. Karena hanya Allah-lah Yang Maha Pemberi, Allah Yang Maha Penyayang. Hanya Allah yang dapat membalas semua perbuatan kita.
Orang-orang yang bekerja dan hanya mengharapkan ridha Allah, merekalah yang memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat kelak. Setiap langkah adalah ibadah ikhlas kepada Allah dan setiap ucapannya adalah dzikir, perkataan yang baik, serta nasihat-nasihat kepada sesama. Begitulah, orang-orang yang berjuang dengan niat yang ikhlas mengharapkan ridha Allah, senantiasa menjaga perilakunya
Selain pada niat, ikhlas juga akan tercermin pada sikap yang mudah memaafkan. Bagaimana kita melupakan semua kesalahan orang yang pernah menyakiti. Sulit memang, tapi yakinlah kalau kita bisa!
Bergurulah pada Nabi Muhammad . Bagaimana beliau yang lembut hatinya dengan sabar menerima semua ejekan dan cacian dari orang-orang kafir saat menyebarkan Islam. Pada saat salah satu dari orang kafir tersebut jatuh sakit, apa yang dilakukan kekasih Allah ini? Beliau datang kerumah orang itu, menjenguknya. Subhanallah! Luar biasa! Begitu besar rasa ikhlas untuk memaafkan pada diri Rasulullah. Tidak ada dendam sedikit pun. Dengan ikhlas hati kita menjadi lapang. Dengan kelapangan tersebutlah kebahagiaan akan didapatkan.
3. Sabar
“Hai orang-oang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolong kalian, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al- Baqarah:45)
Sabar dalam menjalani kehidupan akan tercermin pada pribadi yang lapang dada, tabah, dan pantang menyerah. Sabar bukan berarti menerima begitu saja dan menunggu datangnya keajaiban.
Sabar dalam bekerja, mencari nafkah adalah mengerahkan segala upaya, pantang menyerah, memaksimalkan potensi untuk dimanfaatkan oleh orang lain. Sabar dalam menuntut ilmu adalah dengan tekun belajar, mengatur waktu dengan baik, memahami dan mencerna pokok-pokok yang diajarkan dan yang lebih penting adalah mengamalkannya di jalan Allah .
Dengan kesabaran, jiwa kita akan terasa lapang. Keyakinan akan janji Allah semakin kuat. Orang-orang yang sabar akan berdiri laksana gunung yang kokoh menancapkan kakinya, berjalan di jalan yang diridhai Allah. Akhirnya, orang-orang yang sabarlah yang akan menjadi pemenang dan berbahagia.
4. Berpikir Positif
“Aku sesuai sangkaan hamba-Ku kepada-Ku, maka ia bebas berprasangka apa saja kepada-Ku.” (Hadist Qudsi)
Pikirkanlah yang indah-indah, maka hidupmu akan menjadi indah. Berpikir positif terhadap segala sesuatu yang menimpa kita dapat menciptakan sebuah semangat untuk menjalani hidup ini.
Jika kita senantiasa berpikiran negatif, segala sesuatu yang kita kerjakan pun akan bernilai negatif. Contoh, ada seseorang yang berpikiran bahwa musibah adalah sesuatu yang menyakitkan, musibah adalah penghalang untuk mencapai cita-cita, kemudian disikapi dengan berkeluh kesah dan bersedih terus menerus. Apa yang terjadi kemudian? Bisa jadi orang tersebut akan mengalami gangguan jiwa seperti stress dan depresi. Belum lagi fisik yang semakin lemah akibat hilangnya nafsu makan. Sungguh rugi orang-orang yang mempunyai pikiran negatif.
Orang-orang yang mempunyai pikiran positif akan menganggap musibah itu sebagai ujian dan tantangan. Bisa jadi mereka berpikiran bahwa musibah itu adalah hadiah untuk mendekatkan diri kepada Allah . Semangat dan optimis akan tercipta dalam setiap langkahnya. Dengan jiwa yang optimis itu pula, orang yang berpikiran positif akan senantiasa mengembangkan potensi dalam dirinya, untuk menjadi pribadi yang unggul. Sungguh bahagialah orang-orang yang senantiasa berpikiran positif.
5. Berbuat Baik
“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeru kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran:110)
Marilah kita berlomba-lomba untuk berbuat baik agar kita bahagia. Berbuat baik pada diri sendiri seperti memperbaiki kualitas shalat, mengkaji Al-Qur’an dan menuntut ilmu. Shalat yang khusyuk akan membuat hati dan pikiran kita menjadi tenang. Dengan mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an kita bisa menemukan rahasia kehidupan ini. Berbagai macam ilmu ada di dalamnya. Itulah yang membuat kita menjadi orang yang cerdas.
Berbuat baik kepada orang lain adalah wajib hukumnya. Berbuat baik kepada orang tua dengan menjadi anak yang saleh/salehah. Menyambung tali silaturahmi, tersenyum kepada orang lain, mengajarkan ilmu yang bermanfaat, saling menasehati untuk berbuat baik dan menegur teman yang berbuat salah.
Bersedekah juga salah satu cara untuk berbuat baik kepada orang lain. Dalam harta yang kita miliki ada hak orang lain. Kekayaan kita bukan tercermin pada berapa banyak saldo tabungan di bank, bukan seberapa tinggi tumpukan emas di lemari, bukan pula berapa banyak mobil mewah yang diparkir di garasi mobil. Kekayaan kita dapat dilihat dari berapa banyak yang telah kita beri kepada orang lain, baik itu harta benda ataupun ilmu yang bermanfaat, ikhlas karena Allah.
Apa yang kita rasakan saat memberi seorang pengemis selembar uang seribuan dan tersenyum bahagia karenanya? Bahagia bukan? Kebahagiaan kita terletak pada bahagia orang lain. Jika kita membahagiakan diri sendiri, kita hanya mempunyai satu point bahagia. Jika kita membahagiakan sepuluh orang, maka kita mempunyai sepuluh point bahagia. Jadi berbuat baiklah kepada semua orang, tentunya dengan hati yang ikhlas untuk mendapatkan ridha Allah.
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)
6. Percaya Akan Janji Allah
“Allah menjanjikan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat yang baik di surga ‘Adn. Dan keridaan Allah lebih besar. Dan itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah: 72)
Percayalah kepada Allah. Jangan ada keraguan sedikitpun di hati kita. Mungkin apa yang kita peroleh saat ini bertolak belakang dengan apa yang kita inginkan. Yakinlah bahwa itulah yang terbaik buat kita. Allah sangat sayang kepada hamba-hambanya yang berbuat baik.
Allah memang tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan. Dia akan senantiasa memberikan apa yang kita butuhkan. Semua kebutuhan sebagai bekal untuk bertemu dengan-Nya sudah tersedia. Hanya saja kita yang tidak melihat atau bahkan tidak peduli dengan seruan tersebut.
Jadi, berdoa dan berbuat baik adalah kuncinya. Setelah itu, serahkan semua kepada Allah Yang Maha Adil. Bisa jadi kita tidak akan menerima imbalan di dunia. Hadiah tersebut akan kita terima di akhirat kelak. Dan yakinlah, hadiah itu pasti lebih indah dari dunia dan isinya. Pertemuan dengan Allah.
Karena Adinda Begitu Mulia
Label: Dunia Akhwat | author: Tim Embun TarbiyahSemoga ukhti termasuk wanita yang membuat cemburu bidadari surgawi karena kemuliaan ukhti melebihi mereka. Amien ya Maulaya.
Bidadari merupakan makhluq ghaib yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala ciptakan nan selalu dipuji manusia. Seluruh kecantikan, keindahan, kelembutan dan kemuliaan wanita selalu diandaikan dengan bidadari, walau tiada pernah mata melihatnya. Mendapat nikmat berupa bidadari di surga Allah, merupakan rangsangan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada seluruh hamba-Nya. Bukan hanya masalah seks sehingga keindahan, kecantikan, kelembutan dan kemuliaan bidadari menjadi perangsang hamba agar bertaqwa, namun tabi’at akal dan nafsu manusia membutuhkan tamsil nikmat yang begitu dekat dengannya, maka bidadari dan seluruh nikmat dunia dijadikan permisalan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan di sisi Allah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah: ’Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu.’ Untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah), di sisi Rabb mereka ada surga, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya”. (QS. Ali Imran: 14-15).
Dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu Wa Ta’ala kembali gambarkan tentang kenikmatan surgawi yang akan direguk hamba-hamba-Nya yang baik. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada dalam tempat yang aman. (Yaitu) di dalam taman-taman dan mata air-mata air. Mereka memakai sutera halus dan sutera tebal, (duduk) berhadap-hadapan. Demikianlah, dan Kami jodohkan mereka kepada bidadari bermata jeli”. (QS. Ad-Dukhan: 51-54).
Sungguh sulit membayangkan wanita dunia bisa menandingi keindahan, kecantikan dan kemuliaan bidadari surgawi. Namun tunggu dulu ukhti sayang, jangan terlalu cemburu! toh, karena ternyata kita jauh lebih mulia daripada mereka. Dialog antara Ummul Mukminin Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha dibawah ini menjadi bukti betapa kita, ternyata lebih mulia daripada bidadari bermata jeli, namun tentu semua ada syarat dan kategorinya.
Ummul Mukminin Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha berkata, “Ya Rasulallah, jelaskan padaku firman Allah tentang ‘Bidadari-bidadari yang bermata jeli’.”
Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab,”Bidadari yang kulitnya bersih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilau bak sayap burung Nasar.”
Ummu Salamah berkata,”Jelaskanlah padaku, ya Rasulallah, tentang firmanNya,’ Laksana mutiara yang tersimpan baik”. (QS. Al-Waqi’ah: 23).
Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab, “Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman laut, tak pernah tersentuh tangan manusia.”
Ummu Salamah bertanya lagi, “Ya Rasulallah, jelaskanlah kepadaku tentang firman Allah, ’Di dalam surga itu ada bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik”. (QS. Ar-Rahman : 70)
Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab, “Akhlaqnya baik dan wajahnya cantik jelita.”
Ummu Salamah bertanya, “Jelaskanlah padaku firman Allah, ‘Seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan baik”. (QS. Ash-Shaffat : 49).
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab, “Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada di bagian dalam telur dan terlindung dari kulit bagian luarnya (yang biasa disebut putih telur).”
Ummu Salamah kembali bertanya, “Ya Rasulallah, jelaskan padaku firman Allah, ‘Penuh cinta lagi sebaya umurnya”. (QS. Al-Waqi’ah : 37)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab, “Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal di dunia dalam usia lanjut dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Allah menjadikan mereka sebagai gadis-gadis muda, penuh cinta, bergairah, mengasihi, dan umurnya sebaya.”
Ummu Salamah bertanya, “Ya Rasulallah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?”
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab,”Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang nampak dari apa yang tidak terlihat.”
Ummu Salamah bertanya, “Mengapa wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari, ya Rasulullah?”
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka. Tubuh mereka bak sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas.
Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali. Kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali. Kami ridha dan tak pernah bersungut-bersungut. Bahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya’…”
Ummu Salamah bertanya kembali, “Ya Rasulullah, salah seorang diantara kami pernah menikah dengan dua, tiga atau empat laki-laki lalu meninggal dunia. Dia masuk surga dan mereka pun masuk surga. Siapakan diantara laki-laki itu yang akan menjadi suaminya di surga?”
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab, “Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, lalu dia pun memilih siapa diantara mereka yang paling baik akhlaqnya. Lalu dia berkata: ‘Rabbi, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik tatkala hidup bersamaku di dunia maka nikahkanlah aku dengannya’…Wahai Ummu Salamah, akhlaq yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, kebaikan dunia dan kebaikan akhirat.” (HR Ath-Thabrani).
Amboy, indahnya penggambaran Islam terhadap kaum wanitanya yang bertaqwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Masihkah kita enggan untuk taqwa? Taqwa dalam makna ta’at terhadap seluruh perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, takut bermaksi’at ketika melanggar larangan-Nya. Ridha terhadap apapun keputusan Allah untuk kita. Mengharap cinta, rahmat dan kasih sayang Allah Azza Wa Jalla.


