Titian Surga Dunia

|


Mencari tambatan hati bukanlah perkara mudah.
Perlu pertimbangan, trik dan jurus ampuh untuk memperolehnya.
Bila salah memilih, jangan harap surga dunia yang kita dapat.



Islam membimbing umatnya dalam membentuk keluarga yang sakinah dengan cara rinci dan pasti, agar setiap keluarga muslim yang terbentuk secara islami itu, dapat dengan mudah melaksanakan agamanya pada seluruh aspek kehidupan.

Sakinah sendiri berasal dari bahasa Arab yang bermakna ketenangan/kebahagian. Maka keluarga sakinah dapat berarti keluarga yang berbahagia. Untuk membentuk "keluarga yang sakinah" dibutuhkan adanya mawaddah (cinta) dan rahmah (kasih sayang) dari Allah Ta’ala. Mawaddah adalah suatu rasa ketertarikan kepada seseorang yang dapat memuaskan harapan dan keinginannya, sedangkan rahmah (kasih sa-yang) adalah rasa yang timbul karena adanya hubungan dan pengertian untuk melindungi seseorang dari hal-hal yang tidak menyenangkan.

Maka untuk menumbuhkan rasa mawaddah dan rahmah ketika membentuk keluarga sakinah, Allah Ta’ala dan Rasul-Nya memberikan bimbingan untuk itu. Seorang muslim dan musli-mah dalam upaya membentuk keluarga yang sakinah haruslah memperhatikan dan mengikuti bimbingan Islam, agar tujuan dari perkawinan tersebut tercapai.

Allah Ta’ala telah mengisyaratkan cara memilih pasangan hidup dalam firman-Nya : "Kawinilah (nikahilah) oleh kalian wanita-wanita yang baik bagi kalian" (QS. An Nisaa: 3).

Abu Hurairah radiyallahu 'anhu meriwayatkan hadist dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang memerintahkan untuk mengawini wanita yang mempunyai dasar agama (yang islami); "Wanita itu dinikahi karena empat sebab; karena hartanya, karena ke-turunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah oleh-mu karena dasar agamanya niscaya usahamu akan beruntung! (HR. Bukhary, Muslim dan Abu Daud). Hadits ini menunjukkan bahwa wanita yang baik adalah wanita yang mempunyai dasar agama (Islam) yang kuat. Ketinggian nilai seorang wanita yang baik diukur sejauh mana pemahaman agama yang dimiliki dan dihayatinya.

Adapun keterangan sifat wanita yang baik, yaitu sebagaimana hadist yang diriwayatkan dalam sebuah kitab Kanzul Ummal dari Baihaqy; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya; "Siapakah wanita yang terbaik? Lalu beliau menjawab; "Wanita yang menyenangkan bila dipandang suaminya, patuh bila diperintah suami dan tidak pernah mengerjakan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak suami-nya ". Itulah wanita yang shalihah, yang menjadi harapan kaum mukminin untuk memilihnya menjadi pasangan hidup dalam membangun keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya dunia itu kesenangan dan kesenangan yang terbaik adalah wanita (isteri) yang shalihah"

Agama Allah yang mulia ini menuntun kaum pria untuk memilih calon isteri yang shalihah dan menjadikan isteri yang Allah Ta’ala amanahkan kepadanya menjadi wanita yang shalihah. Ini adalah suatu amanah Allah yang harus dapat diwujudkan. Dan wanita juga dituntun agar membentuk diri menjadi wanita yang shalihah, menjadi permata dunia, mutiara manikam ditengah lumpur kelam dunia fana.

Malam Pertama Syuraih

Syuraih bercerita kepada Sya'bi tentang awal pernikahannya dengan seorang wanita Bani Tamim; "Kalau sekiranya engkau menyaksikan aku, wahai Sya'bi. Bagaimana dia menghadapku dan masuk ke ruanganku, pada waktu itu aku mengatakan kepadanya; "Sesungguhnya bagian dari yang disunnahkan apabila seorang wanita masuk untuk pertama kali kepada suaminya adalah seorang suami disunnahkan untuk mengerjakan shalat dua raka'at, berdo'a memohon kepada Allah Ta’ala untuk kebaikan isterinya dan memohon perlindungan dari keburukan perilakunya”.

Ketika aku mengambil air wudhu, diapun turut serta. Aku melakukan shalat dua raka'at dan dia pun melakukan hal yang sama. Ketika aku telah selesai melakukan shalat dia menghampiriku dan mengambil bajuku. Lalu dia memakaikanku selimut yang diharumi dengan minyak za'faran.

Dikala rumah sudah lengang, aku menghampirinya lalu aku ulurkan kedua lenganku untuk meraihnya, diapun berkata; “Ya Aba Umayyah, bersabarlah secara tertib. Segala puji bagi Allah, aku memohon pertolongan-Nya. Shalawat serta salam bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan keluarga-nya. Aku ini adalah wanita yang masih asing, yang tidak mempunyai pengetahuan tentang perilaku yang harus aku lakukan padamu.

Maka untuk itu, aku mohon engkau menjelaskan kepadaku tentang apa saja yang engkau sukai, agar aku dapat me-lakukannya untukmu. Dan apa saja yang engkau tidak sukai, agar aku dapat menghindarinya. Karena engkau adalah orang yang punya keluarga bersama kaummu, sedangkan aku pun seperti itu pula bersama kaumku. Akan tetapi takdir ketentuan Ilahi telah berlaku dan aku telah menjadi milikmu maka aku mohon kepadamu berbuatlah kepadaku sesuai yang Allah perintahkan kepada-mu. Menggauliku dengan ma'ruf (baik) atau memisahkanku dengan ihsan (kebaikan). Demikian kalimat yang kuucapkan dan aku mohon ampun kepada Allah untuk diriku, juga untuk kamu dan semua kaum muslimin”
.

Wahai Sya'bi...

Hal itu telah memaksaku untuk memberikan khutbah jawaban, lalu aku pun mengatakan; “Segala puji bagi Allah Ta'ala. Aku memohon pertolongan kepada-Nya. Shalawat serta salam untuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan keluarganya. Sebagaimana yang telah engkau katakan dengan beberapa kalimat tadi, bila engkau tetap berada dalam kalimat tersebut maka engkau telah menjadi bagian diriku. Sedangkan bila engkau menyalahinya, maka kata-kata tersebut akan menjadi tuntutan bagimu. Aku jelaskan bahwa yang aku senangi adalah…(ini-ini), dan yang tidak aku senangi adalah…(ini-ini). Dan apa saja yang engkau lihat kebaikan yang ada padaku, maka engkau kembangkanlah. Dan apa saja yang engkau lihat keburukan yang ada pada diriku, engkau tutupi-lah!!"

Maka aku pun bermalam pengantin dengannya, Wahai Sya'bi, Itu adalah suatu malam yang sangat menyenang-kan. Aku hidup dengannya sepanjang masa tak pernah aku menyaksikan sesuatu yang tidak aku senangi".

Read More......

Putri Islami Pengikut Sunnah Nabi

|


Ternyata Engkau sesosok wanita, wanita yang di muliakan di saat jutaan wanita dihinakan didalam kubangan hawa nafsu setan. Ketika para wanita berbangga mengumbar syahwatnya,engkau tampil mempesona dengan syariat jilbabNya. Engkaulah anugerah Ilahi bagi seluruh wanita di bumi ini. Dirimu adalah karunia yang tak terkira yang menjadi contoh di alam nyata dan realita.

Putri Islamiku…

Engkaulah permata yang menyibakkan cahaya menghiasi indahnya fatamorgana dunia. Perangaimu adalah akhlaq wanita-wanita teladan yang menjaga kehormatan. Pribadimu adalah pancaran dari beningnya sabda junjungan. Dan jiwa-jiwamu adalah jiwa pendidik da'i teladan dan mujahid militan.

Engkaulah yang tetap mekar bagai indahnya mawar disaat kehormatan wanita mulai tercemar. Dirimulah yang senantisasa mewangi disaat harga diri wanita dibusukkan nafsu birahi.Ya..Engkaulah yang tetap kokoh perkasa disaat para wanita tersungkur hancur dikubang zina.

Engkaulah yang tak berkutik disaat godaan setan mode mulai berbisik. Tetap teguh bertahan dengan jilbab pilihan diantara ratusan mode pakaian yang melucuti kehormatan. Semua ocehan tak kau pedulikan demi menggapai ridha Ar-Rahman. Semoga Allah menjadikan Engkau penghuni surga yang indah nan bertaman.

Putri Islamiku…

Pintu–pintu zina itu kini terbuka dengan lebar. Terbuka di belakang,depandan samping kanan kirimu. Jebakan–jebakannya dipasang disepanjang perjalanan. Dan perangkapnya dipoles penuh menggoda bagi jiwa untuk selalu mengikutinya. Para wanita penzina telah diangkat jadi idola. Dimuliakan bagai permaisuri para raja. Kehadirannya disambut meriah bagai tamu kehormatan yang dipuja dan ditunggu kedatangannya. Dan ulah bejatnya tontonan laris menjadi koleksi dikalangan kawula muda.

Tempat-tempat zina pun kini telah dilegalkan terang-terangan. Hubungan gelap dikamerakan jadi tontonan. Sedangkan para pelacur menjadi penghibur jiwa yang futur.

Tak ada lagi keharuman harga diri dimata para biduanita yang menggadaikan kehormatannya.Tak ada lagi kesucian diri ditangan para penzina yang menjual diri di ranjang nista. Telah hilanglah masa depan generasi harapan di tangan para penzina yang menyesatkan pemuda islam. Merekalah yang hidup demi setetes mani dengan menggadaikan balasan di kubur dan akhirat nanti. Merekalah yang bergelut dengan syahwat dan tak peduli dengan akhlaq yang bejat merusak umat.

Putri Islamiku…

Masih adakah kebanggan dengan wanita-wanita barat yang kafir dengan syariat? Masih adakah kecintaan dengan kaum yang menjadikan zina jalan hidupnya? Oh naif sekali,sungguh keji sekali para pemburu syahwat itu dengan bangga video serta gambar-gambar porno mereka tersebar di dunia maya. Tak merasa malu ditonton mata jalang berjuta-juta. Bukan sekedar orang dewasa, anak –anak SMApun kecanduan tak peduli pria atau wanita.

Putri Islamiku…

Kehidupan remaja islam telah rusak hampir dimana-mana. Tidak di kota ataupun di desa zina merebak dikalangan mahasiswa bahkan anak SMA. Bagaimana zina tidak menyebar sedangkan kos-kosan mereka satu rumah bercampur baur layaknya seorang istri dan suami. Setiap malam minggu diapelin rutin oleh sang pacar yang bebas tanpa izin masuk keluar kamar. Budaya peluk cium bukan lagi tabu di muka umum. Bahkan sebagian mereka paginya menjadi mahasiswa dan malam harinya merangkap sebagai biduanita. Oh begitukah pergaulan bebas para mahasiswa dan anak SMA di nusantara?

Sungguh mengenaskan wahai putriku, setiap hari hampir terdengar berita gadis-gadis diperkosa bahkan setelah itu dibunuh nista. Lokalisasi sengaja dibiarkan karena sebagai tempat yang seolah resmi untuk berzina. Ya, yang dihukum adalah mereka yang berzina dengan paksa sedangkan suka sama suka boleh–boleh saja. Dan itu bukanlah zina kata mereka. Toh itu hak asasi manusia menurut mereka. Oh itulah indahnya demokrasi di otak mereka. Seolah-olah kebusukan-kebusukan itu mendapat perlindungan resmi dari berhala yang bernama Hak Asasi Manusia(HAM), sehingga orang bisa berbuat seenak dengkulnya.

Sebenarnya bukan sekedar itu wahai putriku. Ya, bukan sebatas itu. Dosa kaum Luth yang diadzab itu kini semakin menjadi-jadi. Komunitas lesbi dan banci yang semakin hari bertambah ngeri dinegri pertiwi. Situs-situsnya bermunculan di internet dengan bebas di akses tanpa bas-basi. Kontes demi kontes sengaja di gelar untuk mengeksploitasi mereka di media masa. Bahkan mereka akan menuntuthak asasi manusia untuk dinikahkan antara sesama jenisnya.

Oh…bagaimana nusantara kita tidak terus mendapat bencana jikalau memang penghuninya selalu menebar maksiat dimana-mana. Bukan sekedar rakyat biasa, para pejabat justru menjadi pelopornya. Bagaimana nusantara tidak dilanda sengsara jika syirik menjadi kepercayaan dan zina serta liwath menjadi kebudayaan rakyatnya. Oh mau dibawa kemana bangsa ini bersama pengabdi demokrasi dan pengumbar hawa?

Bukankahtelah menjadi rahasia umum penjualan alat kontrasepsi di malam tahun baru dan valentine meningkat pesat? Lebih mengerikan lagi para pembelinya adalah kalangan anak muda. Tidak lain mereka ingin melakukan puncak kebejatan yang mereka sebut dengan “pesta seks”. Sebuah penyimpangan fitrah yang binatang sebejat apapun tak pernah melakukannya. Na'udzubillahi min dzalik.

Itulah yang mereka sebut hari kasih sayang. Ya,hari kasih sayang para penyembah nafsu setan untuk melampiaskan puncak syahwatnya. Sungguh benar apa yang dikatakan Allah dalam Al qur’an .

”Mereka itu seperti binatang bahkan lebih sesat dari binatang”.

Putri Islamiku…

Kumohon kepadamu. Ya..aku mohon dengan segenap hati kepada dirimu yang dikaruniai hiasan iman di dalam hati dariAr-Rahman.

Pilihlah sahabat yang solih dan beriman. Dan berusahalah untuk selalu bersama muhrim jika engkau hendak bersafar sehingga orang–orang bodoh tidak bermacam-macam padamu. Dan jagalah jilbab islami karena itu perintah ilahi. Jilbab islami yang dengannya engkau mudah dikenali. Ya, dikenali bahwa engkau adalah pemilik izzah penjaga harga diri. Tak mudah dirayu para lelaki penyembah birahi. Dan dengan jilbab itu engkau tidak diganggu oleh mata-mata jalang yang tak pernah melihat keindahan kecuali pada badan seksi dan aurat yang dipamerkan.

Saudariku Putri Islami..

Hanya dirimu bukan yang lain. Ya,Engkaulah wahai putriku. Engkaulah mujahidah para pengawal syariat jilbab di bumi ini. Engkaulah benteng penegak bangunan kokoh yang kini ingin dihancurkan itu.

Jagalah benteng itu wahai mujahidahku. Jangan sekali-kali engkau lengah sehingga musuh-musuh itu merobek dan menodai. Beribathlah dengannya karena itu lambang kemuliaanmu dalam dien ini.

Putri Islamiku…

Jika benteng itu roboh maka apa jadinya generasi muslimah umat ini. Jangan sampai serigala-serigala zina itu menjadikan saudari-saudari kita santapan lezat bagi hawa nafsunya. Demi Allah aku tak rela walau hanya satu wanita dicengkram oleh mereka. Tak ada kata lain kecuali engkau harus berdiri tegar mengawal panji jilbab tetap berkibar. Tancapkan panji itu wahai putriku.Jangan gentar walau jasad mati terkapar. Hingga Robbmu bersaksi bahwa engkau adalah mujahidah sejati. Ya, Engkau wahai saudariku. Engkau bukan yang lain. Engkaulah mujahidah pengawal panji itu. Aku sangat yakin pada Allah kemudian kepadamu. Percayalah Allah senantiasa bersamamu selalu wahai mujahidahku.

Read More......

WANITA SHALIHAH IDAMAN MUJAHID

|


"Indahnya kalammu wanita solehah yang berjuang disisi mujahid soleh....

Seindah-indah perhiasan dunia adalah wanita yang solehah...”

Ku awali tulisan ini dengan bait indah yang ditinggalkan Rasulullah saw kepada seisi alam. Wanita solehah! Idaman semua muslimin di alam maya ini. Alhamdulillah, itulah anjuran Islam yang kita cintai, pilihlah wanita yang mampu menyejukkan pandanganmu dan juga baitul muslim yang bakal dibina tika sampai saat itu, insyaAllah.

”Dinikahi seorang wanita itu kerana empat perkara hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah hal keagamaannya, maka beruntunglah kedua-dua tanganmu..”

Wanita solehah idaman mujahid soleh yang malunya menjadi perisai dirinya, yang zikirnya menjadi penawar dirinya; tak gentar di uji dg kemewahan duniawi kerana dia rindukan wangian syurgawi, dia berpegang pada janji yang terpatri di lubuk hati. Telah dinukilkan panduan sepanjang zaman, itulah lirikan utama buatmu memilih calon isteri. Tiap baris itu telah menjadi hafalanku sejak aku mengenali dunia dakwah ini.

Jika harta yang kau idamkan, ketahuilah diriku tidak punya apa-apa harta di dunia ini melainkan ilmu agama yang telah dititipkan buatku oleh bapak dan ibu. Tiada harta untuk kupersembahkan, hanya ketenangan yang mampu aku sediakan buatmu kerana aku pernah terbaca kata-kata ...

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikannya di antaramu rasa kasih dan sayang.¨ (Rum: 21)

Jika keturunan yang mulia itu yang kau dambakan, ketahuilah jua aku di bawah pengawasan Allah sebagai penjaga mutlak diriku. Aku adalah keturunan mulia, ayahanda Nabi Adam dan Hawa , sama seperti mu.

”... maka bertawakkallah kepada Allah, sesungguhnya Allah mengasihi orang yang bertawakal kepadaNya. Jika Allah menolong kamu maka, tiada seseorangpun yang boleh menghalang kamu, dan jika ia mengecewakan kamu, maka siapakah yang dapat menolong kamu sesudah Allah (menetapkan demikian) ? dan ingatlah kepada Allah jualah hendaknya orang yang beriman itu berserah diri...” (Ali Imran : 159-160)

Kecantikan, itulah pandangan pertama setiap insan. Malah aku meyakini bahawa kau juga tidak terlepas seperti insan yang lain. Ketahuilah, jika kecantikan itu yang kau inginkan daripada diriku, kau telah tersalah langkah. Tiada kecantikan yang tidak terbanding untuk kupertontonkan padamu. Telah aku hijabkan kecantikan diriku ini dengan amalan ketaatan

kepada tuntutan agama yang kucintai. Kau hanya membuang masa jika kau menginginkan kecantikan lahiriah semata-mata. Aku memerlukan engkau untuk bersama-samaku menegakkan dakwah islamiyyah ini, dan aku merelakan diri ini menjadi penolongmu untuk membangunkan sebuah markas dakwah dan tarbiyyah ke arah jihad hambaNya kepada Penciptanya yang agung. Pendirianku...pernikahanku akan ku jadikan medan pencarian ilmu agama sebagai risalah demi meneruskan perjuangan Islam. Aku masih kekurangan ilmu agama, tetapi berbekalkan ilmu agama yang telah dibekalkan ini. Aku ingin menjadi isteri yang sentiasa mendapat keredhaan Allah dan suamiku untuk memudahkan aku membentuk usrah/keluarga muslim antara aku, suamiku dan anak-anak untuk dgadaikan dengan ketaatan kepada Allah Yang Maha Esa. Aku bercita-cita bergelar mjd pendamping solehah, seperti mana yang dijanjikan Rasulullah,

" Semoga Allah memberi rahmat kurnia kepada lelaki yang bangun di tengah malam lalu dia sholat dan membangunkan isterinya, maka sekiranya enggan juga bangun untuk sholat, dia memercikkan air ke mukanya. Semoga Allah memberi rahmat kurnia kepada wanita yang bangun di tengah malam lalu sholat dan membangunkan suaminya. Maka jika dia enggan, dia memercikkan air kemukanya." (Riwayat Abu Daud dengan Isnad yang sahih)

Allahu a'lam bish shawab.

Read More......

KISAH BESAR...

|


Ikhwah Fillah yang merindukan bangkitnya Islam di bumi Alloh, penting bagi kita merenungkan setiap kejadian yang berlaku, baik di masa yang lampau atau di saat sekarang ini.. perjuangan tidak bisa di pisahkan dengan realita kehidupan yang berlaku.

Pemahaman atas realita, menjadikan diri kita paham dengan apa yang sedang terjadi? Apa penyebab semua itu terjadi? dan ketika kita memahami realita dan dapat mendiagnosa penyebab keterpurukan ummat ini, kita dapat mencari solusi yang tepat dan jitu untuk menanganinya.

sebaliknya kebutaan terhadap realita justru menjadikan nilai perjuangan ini tidak akan pernah bernilai dan berkualitas, langkah-langkah yang diambil untuk menanganinya hanyalah langkah-langkah yang terkesan tergesa-gesa, Ia tidak akan memahami hakikat dan makna perjuangan yang sebenarnya. sebagaimana seorang dokter yang minim akan pengetahuan dan tidak mau belajar dari pengalaman, dalam prakteknya ia akan sering salah mendiagnosa pasien sehingga sang pasien-pun justru bisa bertambah parah penyakitnya, tindakan itu adalah tindakan yang ceroboh.

Semoga dengan merenungi KISAH BESAR ini dapat sedikit memahamkan kita akan realita ummat yang senantiasa mengalami pasang dan surut sebagai suatu Sunnatulloh, yang pasti terjadi, dan menjadikan kita pejuang-pejuang yang tangguh dan dapat berdaya guna demi kebangkitan Dienulloh, Manhajulloh...

Kisah besar ini bermula sejak Allah SWT menciptakan manusia dengan tujuan termulia, yaitu mendirikan peribadatan yang murni hanya untuk Allah SWT. Tunduk, patuh dan menyerah diri kepada-Nya. Melawan dan mengalahkan semua rintangan, baik dari dalam jiwa maupun dari luarnya, demi utnuk mewujudkan peribadatan yang murni itu. Allah SWT pun telah menjanjikan manusia untuk memasukkan mereka ke syurga, jika mereka melaksanakan yang demikian. Di saat-saat pertama setelah penciptaan itu, telah terjadi kedurhakaan yang sangat besar, bahkan terbesar yaitu, pembangkangan iblis terhadap perintah Allah, sampai jadilah iblis mahluk yang terkufur di dunia ini dan terusirlah dia dari sisi Allah untuk menjadi suatu mahluk terkutuk yang akan abadi di Jahannam.

Murkalah iblis terhadap Adam, karena menganggap Adamlah sebab keterkutukannya. Murkalah iblis terhadap Adam dan keturunannya, karena rasa hasad yang dalam dan pekat dalam dirinya.

Maka bersumpahlah dia untuk selalu berusaha mencelakakan Adam dan keturunannya di kehidupan dunia dan akhirat. Korban pertama dari usaha iblis adalah bapak dan ibu awal dari seluruh manusia yang berhasil dikeluarkannya dari syurga.

Mulailah kehidupan manusia di bumi ini sebagai keturunan seorang Nabi Adam AS. Yang membawa ajaran tauhid. Jadi bukanlah seperti yang dipropagandakan kaum Yahudi, bahwa syiriklah agama pertama di muka bumi ini.

Tauhid! Tauhidlah yang mengiringi awal kehidupan manusia di dunia ini. Sedangkan syirik adalah hasil dari usaha iblis dalam menyesatkan manusia. Syirik pertama di bumi ini terjadi setelah sepuluh keturunan, pada zaman Nuh AS. Nuh pun di utus untuk mengembalikan manusia ke jalan Tauhid, jalan Allah SWT. Setelah kaum Nuh yang tidak beriman dibinasakan, maka kembalilah manusia ke jalan tauhid.

Kemudian sejarah pun terulang pada keturunan mereka yang berlayar di perahu Nuh AS. Kesyirikan pun kembali muncul. Allah pun kembali mengirim Rasul-Nya untuk mengembalikan manusia ke jalan tauhid, ke jalan kemurnian agama, satu-satunya jalan yang diridhai Allah SWT, jalan menuju al-Jannah.

Setiap seorang rasul datang, muncul pula syaithon-syaithon yang menandinginya. Demikianlah seterusnya pertempuran abadi itu berlangsung tanpa henti. Sepihak bertujuan menyeru manusia ke jalan Allah SWT dan menegakkan kedaulatan Allah, syariah dan pihak lain (iblis dan pengikutnya) bertujuan menggiring manusia ke Jahannam.

Iblis, syaithon yang menjadi pemimpin para syaithon, baik dari jenis jin maupun dari jenis manusia adalah mahluk terkutuk yang mempunyai akses kuat dan nyata dalam alam manusia. Mempunyai keturunan dan balatentara. Mempunyai pasukan-pasukan berkuda dan pasukan-pasukan pejalan kaki. Mengepung manusia dari segala penjuru kehidupan. Membentuk agama-agama syirik dan aliran-aliran sesat sebagai tandingan Islam dan sebagai pintu-pintu menuju Jahannam. Agama-agama dan aliran-aliran yang beraneka ragam, dirancang selaras dengan jalan-jalan hawa nafsu manusia. Selain itu, ada pula agama-agama yang langsung menyembah syaithon tanpa perantara patung-patung atau manusia yang diagungkan ataupun sekulerisme, yaitu penolakan atas seluruh agama termasuk Islam atau berupa ketundukan terhadap syariah thogut yaitu seluruh syariah selain syariah Allah. Jalur utama manhaj aliran penyembah syaithon ini adalah sihir, yang telah merasuk ke dalam sumsum hampir kesemua kesyirikan, dari syirik hukum sampai kepada manhaj agama-agama sesat dan sampai ke sel-sel terkecil dari kesesatan termasuk lagu-lagu.

Bahkan menurut banyak sumber seperti termasuk buku-buku yang ditulis oleh para penulis barat, bahwa pada abad ke-18 miladi, para penyembah syaithon telah berhasil membentuk tanzim internasional menguasai negara-negara di dunia melalui sistem perbankan dan moneter internasional.

Sihir yang merupakan energi-energi jahat yang dipakai oleh syaithon dan para pengikutnya sebagai kekuatan yang sanggup mempengaruhi realita dan sekaligus menjadi ritual penyembahan syaithon, sudah merata penyebarannya dan mempunyai lembaga-lembaga dakwah ta’lim resmi baik dalam lingkup nasional maupun internasional. Yang lebih jahat lagi dalam hal ini adalah, diajarkannya sihir di bawah naungan lembaga-lembaga dakwah ta’lim Islam di banyak tempat, dengan memakai nama yang berbeda-beda.

Pertempuran abadi antara kekuatan haq dan bathil, kekuatan iman dan kekuatan kufur, berlangsung terus sejak terciptanya manusia sampai hari kiamat. Baik pertempuran dalam diri seorang manusia antara iman yang didukuung oleh hembusan malaikat melawan hawa nafsu yang didukung oleh bisikan-bisikan syaithon, maupun antara kaum mukminin yang ditolong Allah dengan balatentara malaikat-Nya dan kaum kafirin yang didukung syaithon.

Sepanjang hidupnya, Rasulullah saw dan para shahabatnya tidak berhenti berjuang melawan kekuatan kuffar, demi membebaskan ummat dari cengkeraman syaithon, menegakkan kedaulatan Allah syar’iyyah di bumi ini. Adapun kedaulatan Allah kauniyyah, tetap tegak sejak azal, tanpa mula tanpa akhir. Tiada sesuatu kekuatan pun yang sanggup menentangnya, apalagi merebutnya. Dalam pertempuran Rasulullah saw beserta shahabatnya dan kaum kafirin, syaithon pun telah muncul secara nyata lebih dari satu kali, seperti halnya malaikat pun ikut bertempur bersama kaum mukminin. Tetapi tetap saja pemain utama dari kedua belah pihak adalah manusia. Manusia yang terbagi menjadi dua golongan, hizbullah dan hizbusyaithon, ansharullah dan ansharusyaithon, prajurit Allah dan prajurit syaithon.

Setelah kebangkitan Rasulullah saw, kerajaan Islam pun kiat menguat dan meluas, kerajaan iman kian berkuasa dan perkasa, sedangkan kerajaan syaithon yang diwakili oleh dua kerajaan utamanya yaitu kerajaan Persia majusi dan kerajaan Rum salibis kian terdesak, terpuruk dan tak berdaya. Kerajaan Persia majusi punah! Api-api syaithon yang tadinya disembah dan dipuja pun padam! Ummat manusia pun memasuki agama Allah berbondong-bondong.

Kerajaan Rum salibis terdesak dan terus menerus dipaksa hengkang dari daerah-daerah kekuasaannya, hingga terpaksa pulang ke kandang semula eropa.

Ratusan juta manusia dibebaskan oleh ekspansi Islam dari cengkeraman kesyirikan, iblispun menjerit dan terpental dari banyak kekuasaannya. Tetapi pertempuran masih terus berlangsung! Kemenangan demi kemenangan diraih kaum muslimin!

Tetapi pada babak terakhir terjadi pergeseran tragis dan sangat tragis! Kemurnian Islam mulai suram…sunnah pun ,pasal demi pasal digantikan oleh bid’ah. Kaum kuffar mulai mendapat angin untuk merusak dari dalam tubuh ummat ini.

Sehingga pada akhirnya lembaga politik dan militer ummat pun jatuh terkapar, berantakan menjadi puing-puing yang berserakan.

Pada awal abad ke 20, para kaum salibis yang dipimpin para penyembah syaithon dari bangsa yahudi, berhasil mengakhiri perang salib dengan kemenangan.

Dengan segala tipu daya muslihat dan dengan mengerahkan seluruh kemampuan yang mereka miliki serta bantuan besar-besaran dari kaum munafikin yang berada di tubuh ummat ini, mereka berhasil meruntuhkan khilafah Islamiyyah terakhir.

Negeri-negeri Islam pun terkapar di bawah kaki para durjana prajurit-parjurit kedaulatan syaithon! Terbagi-bagi dan terpecah-pecah dalam potongan-potongan geografis yang sangat terbatas. Setelah perang dunia kedua berakhir sistem penjajahan pun dirubah, dari penjajahan langsung ke sistem tidak langsung. Negara-negara baru, lemah, tertindas dan terkontrol pun didirikan oleh kaum salibis penjajah. Dibentuk menurut selera dan mashlat mereka! Syarat pertama dan utama adalah tidak boleh mendirikan sistem Islam. Sedangkan syarat kedua adalah tunduk mutlak kepada kebijakan-kebijakan salibis dan yahudi internasional yang berkendaraan organisasi “Freemason” di segala bidang ekonomi, budaya, politik, pendidikan dan lain-lain. Undang-undang dasar pun paling sedikit harus “direstui” kalau tidak memang disusun oleh mereka! Keunggulan keuangan, teknologi, militer dan sistem intelijen menjadi jaminan untuk terlaksananya kedua syarat utama itu.

Orang-orang yang diberi peran sebagai pendiri setiap Negara-negara boneka tersebut pun adalah orang-orang pilihan mereka yang sudah terjamin loyalitasnya. Sistem regenerasi kekuasaan pun harus memberikan jaminan akan tidak adanya pergeseran ke arah kekuatan-kekuatan Islami yang mungkin muncul sewaktu-waktu.

Dibawah cengkeraman salibis dan yahudi internasional itu, kaum muslimin pun terpuruk disemua lapangan kehidupan. Hukum Islam adalah hal utama dan pertama yang harus disingkirkan dari kehidupan ummat ini. Pendidikan dijauhkan dari norma-norma Islam yang murni. Sekulerisme dipupuk dan didukung habis-habisan, nasionalisme dijadikan dasar al wala’ dan al baro’. Wanita ditipu besar-besar untuk keluar dari peranannya yang sebenarnya, digiring dan diseret dengan segala bentuk rayuan ke dalam jurang penderitaan lahir dan batin. Anak-anak belia dipersiapkan untuk menjadi musuh-musuh agama mereka sendiri. Da’wah agama-agama buatan iblis, diperkuat tanpa batas. Semua itu dalam rangka memenangkan pergulatan merebut kedaulatan atas kehidupan manusia untuk dipersembahkan kepada iblis.

Adanya sandiwara perang dingin, memang telah memberi peluang untuk tidak terkontrolnya situasi persis seperti yang diinginkan oleh para iblis dan keturunan kera serta penyembah syaithon. Maka ketika Sohwah Islamiyyah mulai memasuki era jihad di Afghanistan maka sandiwara itu pun harus segera berakhir.

Seketika dan dengan sangat tenang serta mudah, “diruntuhkanlah” uni soviet, agar kekuatan mereka bisa dikonsentrasikan memukul usaha-usaha kebangkitan kaum Muslimin. Dengan dalih memerangi terorisme, genderang perang terhadap Islam pun dipukul bertalu-talu siang dan malam. Siapa yang ingin mendapat keridhoan hamba-hamba syaithon itu, mereka harus menari menurut irama genderang itu. Maka secara serentak menarilah mereka dengan tubuh bugil, tanpa tedeng aling-aling.

Tetapi celakalah mereka!! Bagaikan yang mengejar fatamorgana, untuk mendapatkan seteguk air!! Celakalah mereka!! Mereka tidak akan memenangkan pertarungan ini!! Walaupun pada beberapa saat dari umur dunia ini, mereka sanggup menguasai kaum yang beriman, tetapi pada akhirnya kemenangan akan diraih kaum Muslimin, ummat Muhammad.

Allah akan menolong hamba-hambanya yang beriman!! Akan menjayakan agama-Nya!! Tak akan ada kekuasaan yang sanggup mencegahnya !! Abadan…Abadan!!

Demikian lemah tipu daya syaithon ! lari pontang-panting ketika melihat para malaikat mulai turun dari langit ! tak berdaya apa-apa ketika melawan ketakwaan ! bagaimana tidak!? Mendengar kumandang azan saja mereka lari terbirit-birit!!

Prajurit-prajurit iblis dari golongan manusia pun tak pernah bertahan lama dalam menghadapi prajurit-prajurit Allah. Tetapi mengapa mereka sekarang mampu mencengkeram kita?

Jawabnya !!? karena kita bukanlah kita lagi!! Sebelum benteng terakhir ummat ini runtuh pun, mayoritas kita sudah berjalan di luar kemurnian Islam dan cinta dunia sudah merasuk ke dalam hati. Cinta dunia sudah menjauh kita dari cinta juang! Menjadikan kehidupan akhirat di hati hati kita hampir-hampir hanya dongeng sebelum tidur !

Kita harus berjuang ! Berjuang menegakkan kedaulatan Allah syar’iyyah, seperti perjuangan para nabi dan leluhur solihin pendahulu kita ! mengikis cengkeraman iblis atas ummat ini.

Perjuangan harus menjadi kehidupan kita dan kehidupan kita harus menjadi perjuangan ! perjuangan suci abadi. Ktia harus tidak terlena oleh kemanisan dunia, mengikuti semua aneka ragam kelezatan dengan mengorbankan perjuangan ! Perjuangan yang hakikatnya adalah kobaran cahaya Ilahi yang suci.

Mari kita renungkan hal-hal dibawah ini :

Dengan berjuang kita mendapatkan hidayah petunjuk dari Allah dalam meniti jalan kehidupan menuju pintu-pintu syurga.

Dengan berjuang kita mendapat kejayaan dunia dan akhirat, bukan sama sekali seperti yang selalu dibisik-bisikan syaithon untuk menakut-nakuti agar kita tidak berjuang.

Dengan berjuang pula kita akan mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT

Kita membutuhkan perjuangan untuk menyempurnakan Iman kita. Kita butuh untuk membuktikan keimanan kita kepada Allah. Pembuktian ini adalah suatu tuntunan syar’i ! Karena iman bukanlah sekedar kepercayaan bersemayam di hati, tetapi sesuatu yang harus dibuktikan dengan perbuatan. Dengan perjuangan akan banyak sekali terbukti dan terwujud unsur-unsur keimanan pada dunia nyata seperti kesabaran, keyakinan, tawakal dan lain-lain kita sangat membutuhkan pembuktian iman pada alam nyata. Kalau tiada ada pembuktian, tanpa uzur, maka kita bukanlah orang-orang yang beriman.

Kita butuh perjuangan untuk menafikan dan mengikis habis sifat-sifat nifak pada diri dan hati kita.

Rugilah mereka yang Allah tidak memberi peluang untuk berjuang.

Perjuangan syar'i dalam Islam, yaitu perjuangan fi sabilillah adalah semua jenis usaha halal demi untuk meningkatkan kalimatullah. Dengan ungkapan lain semua menegakkan kedaulatan Allah syar’iyyah di alam nyata ini.

Di setiap kondisi, usaha-usaha mu’tabar bisa berbeda-beda bentuk isi, cara dan bobotnya. Setiap perjuang harus pandai menentukan usaha-usaha yang cocok untuk setiap kondisi, dengan panduan manhaj perjuangan para anbiya dan Nabi kita Muhammad SAW pada khususnya :

Tetapi pada dasarnya perjuangan itu berkisar pada tujuan-tujuan :

Menjaga kemurnian agama dan menyebarluaskannya. Hal ini menuntut kita mempelajari Islam dengan manhaj Rasulullah saw dan shahabatnya, yaitu manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mengamalkannya dan mendakwahkannya.

Menegakkan syari’atullah sebagai satu-satunya undang-undang yang didaulat ummat.

Kedua poin inilah yang dimaksud dengan penegakkan kedaulatan Allah syar’iyyah.

Di dalam kondisi seperti dimana kemurnian Islam menjadi kabur atas mayoritas putra-putri Islam, maka tugas utama kita adalah mempelajari, mengamalkan, dan mendakwahkan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Setiap personal yang sudah dimanhajkan harus dimobilisir sedapat mungkin untuk melaksanakan tugas yang sama dalam suatu keterikatan jaringan kerja yang akan menjadi pendukung bahkan pelaksana penegakkan syar’iah dikemudian hari. Kita harus tidak menoleh kepada program politik apalagi jalur parlemen pada marhalah ini. Jalur politik Islami yang menentang hegemony salibis tanpa mempunyai kekuatan pendukung yang cukup, adalah pekerjaan membuang waktu dan tenaga, bahkan bisa menyeret ke arah kehancuran manhaj dan fisik.

Jangan berpikir untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan hal-hal yang mengganggu keamanan! Walaupun sasarannya adalah orang-orang kafir. Hal-hal tersebut tidak akan berbuah kemajuan ke arah tujuan. Di samping ke syar’iyyahan amal seperti itu masih sangat dipertanyakan.

Berjuanglah saudaraku…berjuanglah !!

Segala sesuatu yang engkau kerjakan demi perjuangan ini, adalah sebuah perjuangan yang tersendiri.

Kau hanya hidup di dunia satu kali dan akan kau lalui jatah waktu yang Allah berikan padamu. Laluilah dengan perjuangan!! Jadilah orang besar!! Jangan kecewa kalau kau seorang yang lemah fisik! Jangan kecewa kalau kau tak pandai bicara..jangan kecewa kalau kau tak berharta..kebesaran tidak dihitung dari semua itu! Kebesaranmu diukur dari kesediaanmu berkorban di jalan perjuangan ini dengan ikhlas demi Allah SWT.

Kau…kalau kau panjang umur, niscaya kau akan menjadi tua renta.

Jadilah renta yang akan direntakan oleh beratnya perjuangan!! Bukan direntakan oleh kekosongan mengejar kelezatan dunia yang fana ini.

Menjadi Julaibib zaman ini, jauh lebih mulia dari mereka yang kaya raya, tampan wajah, gempal tubuh, indah istana dan ceria muka, tetapi kosong dari perjuangan Allah!

Kekayaanmu yang sejati adalah timbunan perjuanganmu setiap hari, tercatat di sisi Allah dan Dia tak akan melupakannya.

Bersabarlah beramal Jama’i dalam perjuangan ini! Tantangan ummat ini terlalu berat, tak mungkin bisa dibatasi tanpa amal jama’i…Bersabarlah menanggung tekanan masyarakat sekelilingmu, orang-orang rumahmu, istrimu bahkan tekanan dirimu sendiri.

Teguhkanlah tekadmu jangan sampai terkecoh ! Tetapkanlah langkahmu jangan sampai tergelencir!

Titi jalan yang benar ini, sampai malakul maut menjemputmu…

Sampai bertemu di tepi Al-Kautsar…!

Read More......

Bagaimanakah hukum cadar (menutup wajah), wajib atau tidak?

|



Jawaban:
Banyak pertanyaan yang ditujukan kepada kami, baik secara langsung maupun lewat surat, tentang masalah hukum cadar (menutup wajah) bagi wanita. Karena banyak kaum muslimin belum memahami masalah ini, dan banyak wanita muslimah yang mendapatkan problem karenanya, maka kami akan menjawab masalah ini dengan sedikit panjang. Dalam masalah ini, para ulama berbeda pendapat. Sebagian mengatakan wajib, yang lain menyatakan tidak wajib, namun merupakan keutamaan. Maka di sini -insya Alloh- akan kami sampaikan hujjah masing-masing pendapat itu, sehingga masing-masing pihak dapat mengetahui hujjah (argumen) pihak yang lain, agar saling memahami pendapat yang lain.

Dalil yang Mewajibkan

Berikut ini akan kami paparkan secara ringkas dalil-dalil para ulama yang mewajibkan cadar bagi wanita.

Pertama, firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُن

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka.” (QS. An Nur: 31)

Allah ta’ala memerintahkan wanita mukmin untuk memelihara kemaluan mereka, hal itu juga mencakup perintah melakukan sarana-sarana untuk memelihara kemaluan. Karena menutup wajah termasuk sarana untuk memelihara kemaluan, maka juga diperintahkan, karena sarana memiliki hukum tujuan. (Lihat Risalah Al-Hijab, hal 7, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, penerbit Darul Qasim).

Kedua, firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.” (QS. An Nur: 31)

Ibnu Mas’ud berkata tentang perhiasan yang (biasa) nampak dari wanita: “(yaitu) pakaian” (Riwayat Ibnu Jarir, dishahihkan oleh Syaikh Mushthafa Al Adawi, Jami’ Ahkamin Nisa’ IV/486). Dengan demikian yang boleh nampak dari wanita hanyalah pakaian, karena memang tidak mungkin disembunyikan.

Ketiga, firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka.” (QS. An Nur: 31)

Berdasarkan ayat ini wanita wajib menutupi dada dan lehernya, maka menutup wajah lebih wajib! Karena wajah adalah tempat kecantikan dan godaan. Bagaimana mungkin agama yang bijaksana ini memerintahkan wanita menutupi dada dan lehernya, tetapi membolehkan membuka wajah? (Lihat Risalah Al-Hijab, hal 7-8, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, penerbit Darul Qasim).

Keempat, firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَلاَ يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَايُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ

“Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS. An Nur: 31)

Allah melarang wanita menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasannya yang dia sembunyikan, seperti gelang kaki dan sebagainya. Hal ini karena dikhawatirkan laki-laki akan tergoda gara-gara mendengar suara gelang kakinya atau semacamnya. Maka godaan yang ditimbulkan karena memandang wajah wanita cantik, apalagi yang dirias, lebih besar dari pada sekedar mendengar suara gelang kaki wanita. Sehingga wajah wanita lebih pantas untuk ditutup untuk menghindarkan kemaksiatan. (Lihat Risalah Al-Hijab, hal 9, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, penerbit Darul Qasim).

Kelima, firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَآءِ الاَّتِي لاَيَرْجُونَ نِكَاحًافَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَن يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَن يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَّهُنَّ وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nur: 60)

Wanita-wanita tua dan tidak ingin kawin lagi ini diperbolehkan menanggalkan pakaian mereka. Ini bukan berarti mereka kemudian telanjang. Tetapi yang dimaksud dengan pakaian di sini adalah pakaian yang menutupi seluruh badan, pakaian yang dipakai di atas baju (seperti mukena), yang baju wanita umumnya tidak menutupi wajah dan telapak tangan. Ini berarti wanita-wanita muda dan berkeinginan untuk kawin harus menutupi wajah mereka. (Lihat Risalah Al-Hijab, hal 10, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, penerbit Darul Qasim).

Abdullah bin Mas’ud dan Ibnu Abbas berkata tentang firman Allah “Tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka.” (QS An Nur:60): “(Yaitu) jilbab”. (Kedua riwayat ini dishahihkan oleh Syaikh Mushthafa Al-Adawi di dalam Jami’ Ahkamin Nisa IV/523)

Dari ‘Ashim Al-Ahwal, dia berkata: “Kami menemui Hafshah binti Sirin, dan dia telah mengenakan jilbab seperti ini, yaitu dia menutupi wajah dengannya. Maka kami mengatakan kepadanya: “Semoga Allah merahmati Anda, Allah telah berfirman,

وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَآءِ الاَّتِي لاَيَرْجُونَ نِكَاحًافَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَن يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ

“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan.” (QS. An-Nur: 60)

Yang dimaksud adalah jilbab. Dia berkata kepada kami: “Apa firman Allah setelah itu?” Kami menjawab:

وَأَن يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَّهُنَّ وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Dan jika mereka berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 60)

Dia mengatakan, “Ini menetapkan jilbab.” (Riwayat Al-Baihaqi. Lihat Jami’ Ahkamin Nisa IV/524)

Keenam, firman Allah subhanahu wa ta’ala:

غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ

“Dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan.” (QS. An-Nur: 60)

Ini berarti wanita muda wajib menutup wajahnya, karena kebanyakan wanita muda yang membuka wajahnya, berkehendak menampakkan perhiasan dan kecantikan, agar dilihat dan dipuji oleh laki-laki. Wanita yang tidak berkehendak seperti itu jarang, sedang perkara yang jarang tidak dapat dijadikan sandaran hukum. (Lihat Risalah Al-Hijab, hal 11, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al- ‘Utsaimin, penerbit: Darul Qasim).

Ketujuh, firman Allah subhanahu wa ta’ala:

يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِالْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)

Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata, “Allah memerintahkan kepada istri-istri kaum mukminin, jika mereka keluar rumah karena suatu keperluan, hendaklah mereka menutupi wajah mereka dengan jilbab (pakaian semacam mukena) dari kepala mereka. Mereka dapat menampakkan satu mata saja.” (Syaikh Mushthafa Al-Adawi menyatakan bahwa perawi riwayat ini dari Ibnu Abbas adalah Ali bin Abi Thalhah yang tidak mendengar dari ibnu Abbas. Lihat Jami’ Ahkamin Nisa IV/513)

Qatadah berkata tentang firman Allah ini (QS. Al Ahzab: 59), “Allah memerintahkan para wanita, jika mereka keluar (rumah) agar menutupi alis mereka, sehingga mereka mudah dikenali dan tidak diganggu.” (Riwayat Ibnu Jarir, dihasankan oleh Syaikh Mushthafa Al-Adawi di dalam Jami’ Ahkamin Nisa IV/514)

Diriwayatkan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata, “Wanita itu mengulurkan jilbabnya ke wajahnya, tetapi tidak menutupinya.” (Riwayat Abu Dawud, Syaikh Mushthafa Al-Adawi menyatakan: Hasan Shahih. Lihat Jami’ Ahkamin Nisa IV/514)

Abu ‘Ubaidah As-Salmani dan lainnya mempraktekkan cara mengulurkan jilbab itu dengan selendangnya, yaitu menjadikannya sebagai kerudung, lalu dia menutupi hidung dan matanya sebelah kiri, dan menampakkan matanya sebelah kanan. Lalu dia mengulurkan selendangnya dari atas (kepala) sehingga dekat ke alisnya, atau di atas alis. (Riwayat Ibnu Jarir, dishahihkan oleh Syaikh Mushthafa Al-Adawi di dalamJami’ Ahkamin Nisa IV/513)

As-Suyuthi berkata, “Ayat hijab ini berlaku bagi seluruh wanita, di dalam ayat ini terdapat dalil kewajiban menutup kepala dan wajah bagi wanita.” (Lihat Hirasah Al-Fadhilah, hal 51, karya Syaikh Bakar bin Abu Zaid, penerbit Darul ‘Ashimah).

Perintah mengulurkan jilbab ini meliputi menutup wajah berdasarkan beberapa dalil:

1. Makna jilbab dalam bahasa Arab adalah: Pakaian yang luas yang menutupi seluruh badan. Sehingga seorang wanita wajib memakai jilbab itu pada pakaian luarnya dari ujung kepalanya turun sampai menutupi wajahnya, segala perhiasannya dan seluruh badannya sampai menutupi kedua ujung kakinya.

2. Yang biasa nampak pada sebagian wanita jahiliah adalah wajah mereka, lalu Allah perintahkan istri-istri dan anak-anak perempuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta istri-istri orang mukmin untuk mengulurkan jilbabnya ke tubuh mereka. Kata idna’ (pada ayat tersebut يُدْنِينَ -ed) yang ditambahkan huruf (عَلَي) mengandung makna mengulurkan dari atas. Maka jilbab itu diulurkan dari atas kepala menutupi wajah dan badan.

3. Menutupi wajah, baju, dan perhiasan dengan jilbab itulah yang dipahami oleh wanita-wanita sahabat.

4. Dalam firman Allah: “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu”, merupakan dalil kewajiban hijab dan menutup wajah bagi istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada perselisihan dalam hal ini di antara kaum muslimin. Sedangkan dalam ayat ini istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan bersama-sama dengan anak-anak perempuan beliau serta istri-istri orang mukmin. Ini berarti hukumnya mengenai seluruh wanita mukmin.

5. Dalam firman Allah: “Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” Menutup wajah wanita merupakan tanda wanita baik-baik, dengan demikian tidak akan diganggu. Demikian juga jika wanita menutupi wajahnya, maka laki-laki yang rakus tidak akan berkeinginan untuk membuka anggota tubuhnya yang lain. Maka membuka wajah bagi wanita merupakan sasaran gangguan dari laki-laki nakal/jahat. Maka dengan menutupi wajahnya, seorang wanita tidak akan memikat dan menggoda laki-laki sehingga dia tidak akan diganggu.

(Lihat Hirasah Al-Fadhilah, hal 52-56, karya Syaikh Bakar bin Abu Zaid, penerbit Darul ‘Ashimah).

Kedelapan, firman Allah subhanahu wa ta’ala:

لاَّ جُنَاحَ عَلَيْهِنَّ فِي ءَابَآئِهِنَّ وَلآ أَبْنَآئِهِنَّ وَلآإِخْوَانِهِنَّ وَلآ أَبْنَآءِ إِخْوَانِهِنَّ وَلآ أَبْنَآءِ أَخَوَاتِهِنَّ وَلاَ نِسَآئِهِنَّ وَلاَ مَامَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ وَاتَّقِينَ اللهَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدًا

“Tidak ada dosa atas istri-istri Nabi (untuk berjumpa tanpa tabir) dengan bapak-bapak mereka, anak-anak laki-laki mereka, saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara mereka yang perempuan, perempuan-perempuan yang beriman dan hamba sahaya yang mereka miliki, dan bertakwalah kamu (hai istri-istri Nabi) kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al Ahzab: 55)

Ibnu Katsir berkata, “Ketika Allah memerintahkan wanita-wanita berhijab dari laki-laki asing (bukan mahram), Dia menjelaskan bahwa (para wanita) tidak wajib berhijab dari karib kerabat ini.” Kewajiban wanita berhijab dari laki-laki asing adalah termasuk menutupi wajahnya.

Kesembilan, firman Allah:

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَسْئَلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS. Al Ahzab: 53)

Ayat ini jelas menunjukkan wanita wajib menutupi diri dari laki-laki, termasuk menutup wajah, yang hikmahnya adalah lebih menjaga kesucian hati wanita dan hati laki-laki. Sedangkan menjaga kesucian hati merupakan kebutuhan setiap manusia, yaitu tidak khusus bagi istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat saja, maka ayat ini umum, berlaku bagi para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan semua wanita mukmin. Setelah turunnya ayat ini maka Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam menutupi istri-istri beliau, demikian para sahabat menutupi istri-istri mereka, dengan menutupi wajah, badan, dan perhiasan. (Lihat Hirasah Al-Fadhilah, hal: 46-49, karya Syaikh Bakar bin Abu Zaid, penerbit Darul ‘Ashimah).

Kesepuluh, firman Allah:

يَانِسَآءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ النِّسَآءِ إِنِاتَّقَيْتُنَّ فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَّعْرُوفًا {32} وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلاَتَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ اْلأُوْلَى وَأَقِمْنَ الصَّلاَةَ وَءَاتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik. dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya.Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al Ahzab: 32-33)

Ayat ini ditujukan kepada para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi hukumnya mencakup wanita mukmin, karena sebab hikmah ini, yaitu untuk menghilangkan dosa dan membersihkan jiwa sebersih-bersihnya, juga mengenai wanita mukmin. Dari kedua ayat ini didapatkan kewajiban hijab (termasuk menutup wajah) bagi wanita dari beberapa sisi:

1. Firman Allah: “Janganlah kamu tunduk dalam berbicara” adalah larangan Allah terhadap wanita untuk berbicara secara lembut dan merdu kepada laki-laki. Karena hal itu akan membangkitkan syahwat zina laki-laki yang diajak bicara. Tetapi seorang wanita haruslah berbicara sesuai kebutuhan dengan tanpa memerdukan suaranya. Larangan ini merupakan sebab-sebab untuk menjaga kemaluan, dan hal itu tidak akan sempurna kecuali dengan hijab.

2. Firman Allah: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu” merupakan perintah bagi wanita untuk selalu berada di dalam rumah, menetap dan merasa tenang di dalamnya. Maka hal ini sebagai perintah untuk menutupi badan wanita di dalam rumah dari laki-laki asing.

3. Firman Allah: “Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu” adalah larangan terhadap wanita dari banyak keluar dengan berhias, memakai minyak wangi dan menampakkan perhiasan dan keindahan, termasuk menampakkan wajah.

(Lihat Hirasah Al-Fadhilah, hal 39-44, karya Syaikh Bakar bin Abu Zaid, penerbit, Darul ‘Ashimah).

Demikian penjelasan yang dapat kami berikan, semoga Alloh menuntun dan menunjukkan kita kepada jalan-Nya yang lurus..

Wallohua'lam

Read More......
 

©2009 AL-IKHWAH MEDIA | Template Blue by TNB