
Ikhwah Fillah yang merindukan bangkitnya Islam di bumi Alloh, penting bagi kita merenungkan setiap kejadian yang berlaku, baik di masa yang lampau atau di saat sekarang ini.. perjuangan tidak bisa di pisahkan dengan realita kehidupan yang berlaku.
Pemahaman atas realita, menjadikan diri kita paham dengan apa yang sedang terjadi? Apa penyebab semua itu terjadi? dan ketika kita memahami realita dan dapat mendiagnosa penyebab keterpurukan ummat ini, kita dapat mencari solusi yang tepat dan jitu untuk menanganinya.
sebaliknya kebutaan terhadap realita justru menjadikan nilai perjuangan ini tidak akan pernah bernilai dan berkualitas, langkah-langkah yang diambil untuk menanganinya hanyalah langkah-langkah yang terkesan tergesa-gesa, Ia tidak akan memahami hakikat dan makna perjuangan yang sebenarnya. sebagaimana seorang dokter yang minim akan pengetahuan dan tidak mau belajar dari pengalaman, dalam prakteknya ia akan sering salah mendiagnosa pasien sehingga sang pasien-pun justru bisa bertambah parah penyakitnya, tindakan itu adalah tindakan yang ceroboh.
Semoga dengan merenungi KISAH BESAR ini dapat sedikit memahamkan kita akan realita ummat yang senantiasa mengalami pasang dan surut sebagai suatu Sunnatulloh, yang pasti terjadi, dan menjadikan kita pejuang-pejuang yang tangguh dan dapat berdaya guna demi kebangkitan Dienulloh, Manhajulloh...
Kisah besar ini bermula sejak Allah SWT menciptakan manusia dengan tujuan termulia, yaitu mendirikan peribadatan yang murni hanya untuk Allah SWT. Tunduk, patuh dan menyerah diri kepada-Nya. Melawan dan mengalahkan semua rintangan, baik dari dalam jiwa maupun dari luarnya, demi utnuk mewujudkan peribadatan yang murni itu. Allah SWT pun telah menjanjikan manusia untuk memasukkan mereka ke syurga, jika mereka melaksanakan yang demikian. Di saat-saat pertama setelah penciptaan itu, telah terjadi kedurhakaan yang sangat besar, bahkan terbesar yaitu, pembangkangan iblis terhadap perintah Allah, sampai jadilah iblis mahluk yang terkufur di dunia ini dan terusirlah dia dari sisi Allah untuk menjadi suatu mahluk terkutuk yang akan abadi di Jahannam.
Murkalah iblis terhadap Adam, karena menganggap Adamlah sebab keterkutukannya. Murkalah iblis terhadap Adam dan keturunannya, karena rasa hasad yang dalam dan pekat dalam dirinya.
Maka bersumpahlah dia untuk selalu berusaha mencelakakan Adam dan keturunannya di kehidupan dunia dan akhirat. Korban pertama dari usaha iblis adalah bapak dan ibu awal dari seluruh manusia yang berhasil dikeluarkannya dari syurga.
Mulailah kehidupan manusia di bumi ini sebagai keturunan seorang Nabi Adam AS. Yang membawa ajaran tauhid. Jadi bukanlah seperti yang dipropagandakan kaum Yahudi, bahwa syiriklah agama pertama di muka bumi ini.
Tauhid! Tauhidlah yang mengiringi awal kehidupan manusia di dunia ini. Sedangkan syirik adalah hasil dari usaha iblis dalam menyesatkan manusia. Syirik pertama di bumi ini terjadi setelah sepuluh keturunan, pada zaman Nuh AS. Nuh pun di utus untuk mengembalikan manusia ke jalan Tauhid, jalan Allah SWT. Setelah kaum Nuh yang tidak beriman dibinasakan, maka kembalilah manusia ke jalan tauhid.
Kemudian sejarah pun terulang pada keturunan mereka yang berlayar di perahu Nuh AS. Kesyirikan pun kembali muncul. Allah pun kembali mengirim Rasul-Nya untuk mengembalikan manusia ke jalan tauhid, ke jalan kemurnian agama, satu-satunya jalan yang diridhai Allah SWT, jalan menuju al-Jannah.
Setiap seorang rasul datang, muncul pula syaithon-syaithon yang menandinginya. Demikianlah seterusnya pertempuran abadi itu berlangsung tanpa henti. Sepihak bertujuan menyeru manusia ke jalan Allah SWT dan menegakkan kedaulatan Allah, syariah dan pihak lain (iblis dan pengikutnya) bertujuan menggiring manusia ke Jahannam.
Iblis, syaithon yang menjadi pemimpin para syaithon, baik dari jenis jin maupun dari jenis manusia adalah mahluk terkutuk yang mempunyai akses kuat dan nyata dalam alam manusia. Mempunyai keturunan dan balatentara. Mempunyai pasukan-pasukan berkuda dan pasukan-pasukan pejalan kaki. Mengepung manusia dari segala penjuru kehidupan. Membentuk agama-agama syirik dan aliran-aliran sesat sebagai tandingan Islam dan sebagai pintu-pintu menuju Jahannam. Agama-agama dan aliran-aliran yang beraneka ragam, dirancang selaras dengan jalan-jalan hawa nafsu manusia. Selain itu, ada pula agama-agama yang langsung menyembah syaithon tanpa perantara patung-patung atau manusia yang diagungkan ataupun sekulerisme, yaitu penolakan atas seluruh agama termasuk Islam atau berupa ketundukan terhadap syariah thogut yaitu seluruh syariah selain syariah Allah. Jalur utama manhaj aliran penyembah syaithon ini adalah sihir, yang telah merasuk ke dalam sumsum hampir kesemua kesyirikan, dari syirik hukum sampai kepada manhaj agama-agama sesat dan sampai ke sel-sel terkecil dari kesesatan termasuk lagu-lagu.
Bahkan menurut banyak sumber seperti termasuk buku-buku yang ditulis oleh para penulis barat, bahwa pada abad ke-18 miladi, para penyembah syaithon telah berhasil membentuk tanzim internasional menguasai negara-negara di dunia melalui sistem perbankan dan moneter internasional.
Sihir yang merupakan energi-energi jahat yang dipakai oleh syaithon dan para pengikutnya sebagai kekuatan yang sanggup mempengaruhi realita dan sekaligus menjadi ritual penyembahan syaithon, sudah merata penyebarannya dan mempunyai lembaga-lembaga dakwah ta’lim resmi baik dalam lingkup nasional maupun internasional. Yang lebih jahat lagi dalam hal ini adalah, diajarkannya sihir di bawah naungan lembaga-lembaga dakwah ta’lim Islam di banyak tempat, dengan memakai nama yang berbeda-beda.
Pertempuran abadi antara kekuatan haq dan bathil, kekuatan iman dan kekuatan kufur, berlangsung terus sejak terciptanya manusia sampai hari kiamat. Baik pertempuran dalam diri seorang manusia antara iman yang didukuung oleh hembusan malaikat melawan hawa nafsu yang didukung oleh bisikan-bisikan syaithon, maupun antara kaum mukminin yang ditolong Allah dengan balatentara malaikat-Nya dan kaum kafirin yang didukung syaithon.
Sepanjang hidupnya, Rasulullah saw dan para shahabatnya tidak berhenti berjuang melawan kekuatan kuffar, demi membebaskan ummat dari cengkeraman syaithon, menegakkan kedaulatan Allah syar’iyyah di bumi ini. Adapun kedaulatan Allah kauniyyah, tetap tegak sejak azal, tanpa mula tanpa akhir. Tiada sesuatu kekuatan pun yang sanggup menentangnya, apalagi merebutnya. Dalam pertempuran Rasulullah saw beserta shahabatnya dan kaum kafirin, syaithon pun telah muncul secara nyata lebih dari satu kali, seperti halnya malaikat pun ikut bertempur bersama kaum mukminin. Tetapi tetap saja pemain utama dari kedua belah pihak adalah manusia. Manusia yang terbagi menjadi dua golongan, hizbullah dan hizbusyaithon, ansharullah dan ansharusyaithon, prajurit Allah dan prajurit syaithon.
Setelah kebangkitan Rasulullah saw, kerajaan Islam pun kiat menguat dan meluas, kerajaan iman kian berkuasa dan perkasa, sedangkan kerajaan syaithon yang diwakili oleh dua kerajaan utamanya yaitu kerajaan Persia majusi dan kerajaan Rum salibis kian terdesak, terpuruk dan tak berdaya. Kerajaan Persia majusi punah! Api-api syaithon yang tadinya disembah dan dipuja pun padam! Ummat manusia pun memasuki agama Allah berbondong-bondong.
Kerajaan Rum salibis terdesak dan terus menerus dipaksa hengkang dari daerah-daerah kekuasaannya, hingga terpaksa pulang ke kandang semula eropa.
Ratusan juta manusia dibebaskan oleh ekspansi Islam dari cengkeraman kesyirikan, iblispun menjerit dan terpental dari banyak kekuasaannya. Tetapi pertempuran masih terus berlangsung! Kemenangan demi kemenangan diraih kaum muslimin!
Tetapi pada babak terakhir terjadi pergeseran tragis dan sangat tragis! Kemurnian Islam mulai suram…sunnah pun ,pasal demi pasal digantikan oleh bid’ah. Kaum kuffar mulai mendapat angin untuk merusak dari dalam tubuh ummat ini.
Sehingga pada akhirnya lembaga politik dan militer ummat pun jatuh terkapar, berantakan menjadi puing-puing yang berserakan.
Pada awal abad ke 20, para kaum salibis yang dipimpin para penyembah syaithon dari bangsa yahudi, berhasil mengakhiri perang salib dengan kemenangan.
Dengan segala tipu daya muslihat dan dengan mengerahkan seluruh kemampuan yang mereka miliki serta bantuan besar-besaran dari kaum munafikin yang berada di tubuh ummat ini, mereka berhasil meruntuhkan khilafah Islamiyyah terakhir.
Negeri-negeri Islam pun terkapar di bawah kaki para durjana prajurit-parjurit kedaulatan syaithon! Terbagi-bagi dan terpecah-pecah dalam potongan-potongan geografis yang sangat terbatas. Setelah perang dunia kedua berakhir sistem penjajahan pun dirubah, dari penjajahan langsung ke sistem tidak langsung. Negara-negara baru, lemah, tertindas dan terkontrol pun didirikan oleh kaum salibis penjajah. Dibentuk menurut selera dan mashlat mereka! Syarat pertama dan utama adalah tidak boleh mendirikan sistem Islam. Sedangkan syarat kedua adalah tunduk mutlak kepada kebijakan-kebijakan salibis dan yahudi internasional yang berkendaraan organisasi “Freemason” di segala bidang ekonomi, budaya, politik, pendidikan dan lain-lain. Undang-undang dasar pun paling sedikit harus “direstui” kalau tidak memang disusun oleh mereka! Keunggulan keuangan, teknologi, militer dan sistem intelijen menjadi jaminan untuk terlaksananya kedua syarat utama itu.
Orang-orang yang diberi peran sebagai pendiri setiap Negara-negara boneka tersebut pun adalah orang-orang pilihan mereka yang sudah terjamin loyalitasnya. Sistem regenerasi kekuasaan pun harus memberikan jaminan akan tidak adanya pergeseran ke arah kekuatan-kekuatan Islami yang mungkin muncul sewaktu-waktu.
Dibawah cengkeraman salibis dan yahudi internasional itu, kaum muslimin pun terpuruk disemua lapangan kehidupan. Hukum Islam adalah hal utama dan pertama yang harus disingkirkan dari kehidupan ummat ini. Pendidikan dijauhkan dari norma-norma Islam yang murni. Sekulerisme dipupuk dan didukung habis-habisan, nasionalisme dijadikan dasar al wala’ dan al baro’. Wanita ditipu besar-besar untuk keluar dari peranannya yang sebenarnya, digiring dan diseret dengan segala bentuk rayuan ke dalam jurang penderitaan lahir dan batin. Anak-anak belia dipersiapkan untuk menjadi musuh-musuh agama mereka sendiri. Da’wah agama-agama buatan iblis, diperkuat tanpa batas. Semua itu dalam rangka memenangkan pergulatan merebut kedaulatan atas kehidupan manusia untuk dipersembahkan kepada iblis.
Adanya sandiwara perang dingin, memang telah memberi peluang untuk tidak terkontrolnya situasi persis seperti yang diinginkan oleh para iblis dan keturunan kera serta penyembah syaithon. Maka ketika Sohwah Islamiyyah mulai memasuki era jihad di Afghanistan maka sandiwara itu pun harus segera berakhir.
Seketika dan dengan sangat tenang serta mudah, “diruntuhkanlah” uni soviet, agar kekuatan mereka bisa dikonsentrasikan memukul usaha-usaha kebangkitan kaum Muslimin. Dengan dalih memerangi terorisme, genderang perang terhadap Islam pun dipukul bertalu-talu siang dan malam. Siapa yang ingin mendapat keridhoan hamba-hamba syaithon itu, mereka harus menari menurut irama genderang itu. Maka secara serentak menarilah mereka dengan tubuh bugil, tanpa tedeng aling-aling.
Tetapi celakalah mereka!! Bagaikan yang mengejar fatamorgana, untuk mendapatkan seteguk air!! Celakalah mereka!! Mereka tidak akan memenangkan pertarungan ini!! Walaupun pada beberapa saat dari umur dunia ini, mereka sanggup menguasai kaum yang beriman, tetapi pada akhirnya kemenangan akan diraih kaum Muslimin, ummat Muhammad.
Allah akan menolong hamba-hambanya yang beriman!! Akan menjayakan agama-Nya!! Tak akan ada kekuasaan yang sanggup mencegahnya !! Abadan…Abadan!!
Demikian lemah tipu daya syaithon ! lari pontang-panting ketika melihat para malaikat mulai turun dari langit ! tak berdaya apa-apa ketika melawan ketakwaan ! bagaimana tidak!? Mendengar kumandang azan saja mereka lari terbirit-birit!!
Prajurit-prajurit iblis dari golongan manusia pun tak pernah bertahan lama dalam menghadapi prajurit-prajurit Allah. Tetapi mengapa mereka sekarang mampu mencengkeram kita?
Jawabnya !!? karena kita bukanlah kita lagi!! Sebelum benteng terakhir ummat ini runtuh pun, mayoritas kita sudah berjalan di luar kemurnian Islam dan cinta dunia sudah merasuk ke dalam hati. Cinta dunia sudah menjauh kita dari cinta juang! Menjadikan kehidupan akhirat di hati hati kita hampir-hampir hanya dongeng sebelum tidur !
Kita harus berjuang ! Berjuang menegakkan kedaulatan Allah syar’iyyah, seperti perjuangan para nabi dan leluhur solihin pendahulu kita ! mengikis cengkeraman iblis atas ummat ini.
Perjuangan harus menjadi kehidupan kita dan kehidupan kita harus menjadi perjuangan ! perjuangan suci abadi. Ktia harus tidak terlena oleh kemanisan dunia, mengikuti semua aneka ragam kelezatan dengan mengorbankan perjuangan ! Perjuangan yang hakikatnya adalah kobaran cahaya Ilahi yang suci.
Mari kita renungkan hal-hal dibawah ini :
Dengan berjuang kita mendapatkan hidayah petunjuk dari Allah dalam meniti jalan kehidupan menuju pintu-pintu syurga.
Dengan berjuang kita mendapat kejayaan dunia dan akhirat, bukan sama sekali seperti yang selalu dibisik-bisikan syaithon untuk menakut-nakuti agar kita tidak berjuang.
Dengan berjuang pula kita akan mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT
Kita membutuhkan perjuangan untuk menyempurnakan Iman kita. Kita butuh untuk membuktikan keimanan kita kepada Allah. Pembuktian ini adalah suatu tuntunan syar’i ! Karena iman bukanlah sekedar kepercayaan bersemayam di hati, tetapi sesuatu yang harus dibuktikan dengan perbuatan. Dengan perjuangan akan banyak sekali terbukti dan terwujud unsur-unsur keimanan pada dunia nyata seperti kesabaran, keyakinan, tawakal dan lain-lain kita sangat membutuhkan pembuktian iman pada alam nyata. Kalau tiada ada pembuktian, tanpa uzur, maka kita bukanlah orang-orang yang beriman.
Kita butuh perjuangan untuk menafikan dan mengikis habis sifat-sifat nifak pada diri dan hati kita.
Rugilah mereka yang Allah tidak memberi peluang untuk berjuang.
Perjuangan syar'i dalam Islam, yaitu perjuangan fi sabilillah adalah semua jenis usaha halal demi untuk meningkatkan kalimatullah. Dengan ungkapan lain semua menegakkan kedaulatan Allah syar’iyyah di alam nyata ini.
Di setiap kondisi, usaha-usaha mu’tabar bisa berbeda-beda bentuk isi, cara dan bobotnya. Setiap perjuang harus pandai menentukan usaha-usaha yang cocok untuk setiap kondisi, dengan panduan manhaj perjuangan para anbiya dan Nabi kita Muhammad SAW pada khususnya :
Tetapi pada dasarnya perjuangan itu berkisar pada tujuan-tujuan :
Menjaga kemurnian agama dan menyebarluaskannya. Hal ini menuntut kita mempelajari Islam dengan manhaj Rasulullah saw dan shahabatnya, yaitu manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mengamalkannya dan mendakwahkannya.
Menegakkan syari’atullah sebagai satu-satunya undang-undang yang didaulat ummat.
Kedua poin inilah yang dimaksud dengan penegakkan kedaulatan Allah syar’iyyah.
Di dalam kondisi seperti dimana kemurnian Islam menjadi kabur atas mayoritas putra-putri Islam, maka tugas utama kita adalah mempelajari, mengamalkan, dan mendakwahkan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Setiap personal yang sudah dimanhajkan harus dimobilisir sedapat mungkin untuk melaksanakan tugas yang sama dalam suatu keterikatan jaringan kerja yang akan menjadi pendukung bahkan pelaksana penegakkan syar’iah dikemudian hari. Kita harus tidak menoleh kepada program politik apalagi jalur parlemen pada marhalah ini. Jalur politik Islami yang menentang hegemony salibis tanpa mempunyai kekuatan pendukung yang cukup, adalah pekerjaan membuang waktu dan tenaga, bahkan bisa menyeret ke arah kehancuran manhaj dan fisik.
Jangan berpikir untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan hal-hal yang mengganggu keamanan! Walaupun sasarannya adalah orang-orang kafir. Hal-hal tersebut tidak akan berbuah kemajuan ke arah tujuan. Di samping ke syar’iyyahan amal seperti itu masih sangat dipertanyakan.
Berjuanglah saudaraku…berjuanglah !!
Segala sesuatu yang engkau kerjakan demi perjuangan ini, adalah sebuah perjuangan yang tersendiri.
Kau hanya hidup di dunia satu kali dan akan kau lalui jatah waktu yang Allah berikan padamu. Laluilah dengan perjuangan!! Jadilah orang besar!! Jangan kecewa kalau kau seorang yang lemah fisik! Jangan kecewa kalau kau tak pandai bicara..jangan kecewa kalau kau tak berharta..kebesaran tidak dihitung dari semua itu! Kebesaranmu diukur dari kesediaanmu berkorban di jalan perjuangan ini dengan ikhlas demi Allah SWT.
Kau…kalau kau panjang umur, niscaya kau akan menjadi tua renta.
Jadilah renta yang akan direntakan oleh beratnya perjuangan!! Bukan direntakan oleh kekosongan mengejar kelezatan dunia yang fana ini.
Menjadi Julaibib zaman ini, jauh lebih mulia dari mereka yang kaya raya, tampan wajah, gempal tubuh, indah istana dan ceria muka, tetapi kosong dari perjuangan Allah!
Kekayaanmu yang sejati adalah timbunan perjuanganmu setiap hari, tercatat di sisi Allah dan Dia tak akan melupakannya.
Bersabarlah beramal Jama’i dalam perjuangan ini! Tantangan ummat ini terlalu berat, tak mungkin bisa dibatasi tanpa amal jama’i…Bersabarlah menanggung tekanan masyarakat sekelilingmu, orang-orang rumahmu, istrimu bahkan tekanan dirimu sendiri.
Teguhkanlah tekadmu jangan sampai terkecoh ! Tetapkanlah langkahmu jangan sampai tergelencir!
Titi jalan yang benar ini, sampai malakul maut menjemputmu…
Sampai bertemu di tepi Al-Kautsar…!
KISAH BESAR...
Label: Aqidah, Ibroh, Kebangkitan | author: Tim Embun TarbiyahBerawal dari Sebuah Keimanan
Label: akhlak, Ibroh, Nikah | author: Tim Embun TarbiyahDi tengah keheningan malam Madinah, sang pemimpin umat Umar bin Khattab berjalan menyusuri lorong-lorong kota. Kegiatan ini adalah sebuah kebiasaan bagi beliau, dengan tujuan agar lebih dekat dengan kaum muslimin. Saat itu, hampir menjelang dini hari, tiba-tiba saja beliau mendengar dari bilik rumah seseorang, sebuah percakapan antara Ibu dan anak.
“Nak, campurkanlah susu yang engkau perah tadi dengan air,” kata sang ibu.
“Jangan ibu. Amirul mukminin sudah membuat peraturan untuk tidak menjual susu yang dicampur air,” jawab sang anak.
“Tapi banyak orang melakukannya Nak, campurlah sedikit saja. Lagipula insyaallah Amirul Mukminin tidak mengetahuinya,” kata sang ibu mencoba meyakinkan anaknya. “Ibu, Amirul Mukminin mungkin tidak mengetahuinya. Tapi, Rab dari Amirul Mukminin pasti melihatnya,” tegas si anak menolak.
Mendengar percakapan ini, berurailah air mata Umar bin Khattab. Karena subuh menjelang, bersegeralah beliau ke masjid untuk memimpin shalat Subuh. Sesampai di rumah, dipanggilah anaknya untuk menghadap dan berkata, “Wahai Ashim putra Umar bin Khattab. Sesungguhnya tadi malam saya mendengar percakapan istimewa. Pergilah kamu ke rumah si anu dan selidikilah keluarganya.”
Ashim bin Umar bin Khattab melaksanakan perintah ayahnya ini Sekembalinya dari penyelidikan, dia menghadap ayahnya dan mendengar ayahnya berkata, “Pergi dan temuilah mereka. Lamarlah anak gadisnya itu untuk menjadi isterimu. Aku lihat ia akan memberi berkah kepadamu dan anak keturunanmu, insya Allah. Mudah-mudahan pula ia dapat memberi keturunan yang akan menjadi pemimpin bangsa.”
Begitulah. Ashim bin Umar pun tidak banyak komentar mengenai permintaan ayahnya ini. Tak lama, menikahlah Ashim dengan anak gadis tersebut. Dari pernikahan ini, Umar bin Khattab dikaruniai cucu perempuan bernama Laila, yang dikemudian hari dikenal dengan nama Ummi Ashim.
Suatu malam setelah itu, Umar bermimpi. Dalam mimpinya dia melihat seorang pemuda dari keturunannya, dengan kening yang cacat karena luka. Pemuda ini memimpin umat Islam. Mimpi ini diceritakan hanya kepada keluarganya saja. Saat Umar meninggal, cerita ini tetap terpendam di antara keluarganya.
Pada saat kakeknya Amirul Mukminin Umar bin Khattab terbunuh pada tahun 644 Masehi, Ummi Ashim turut menghadiri pemakamannya. Kemudian Ummi Ashim menjalani 12 tahun kekhalifahan Ustman bin Affan sampai terbunuh pada tahun 656 Maserhi. Setelah itu, Ummi Ashim juga ikut menyaksikan 5 tahun kekhalifahan Ali bin Abi Thalib r.a. Hingga akhirnya Muawiyah berkuasa dan mendirikan Dinasti Umayyah.
Pergantian kekuasaan dari Sahabat Ali kepada Sahabat Muawiyah, ternyata membawa perubahan juga dalam tubuh kaum muslimin. Penguasa mulai memerintah dalam kemewahan. Setelah penguasa yang mewah, penyakit-penyakit yang lain mulai tumbuh dan bersemi. Ambisi kekuasaan dan kekuatan, penumpukan kekayaan, dan korupsi mewarnai sejarah Islam dalam Dinasti Umayyah. Meski negara bertambah luas, penduduk bertambah banyak, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, tapi orang-orang semakin hampa dari ukhuwah persaudaraan, keadilan dan kesahajaan Sahabat Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.
Status kaya-miskin mulai terlihat jelas, posisi pejabat-rakyat mulai terasa. Kafir dhimni pun mengeluhkan resahnya, “Sesungguhnya kami merindukan Umar, dia datang ke sini menanyakan kabar dan bisnis kami. Dia tanyakan juga apakah ada hukum-hukumnya yang merugikan kami. Kami ikhlas membayar pajak berapapun yang dia minta. Sekarang, kami membayar pajak karena takut.”
Kemudian Muawiyah membaiat anaknya Yazid bin Muawiyah menjadi penggantinya. Akan tetapi, putra Yazid, Muawiyah bin Yazid, tidak seperti ayahnya. Dia memilih pergi sehingga singgasana dinasti Umayah kosong. Terjadilah rebutan kekuasaan dikalangan bani Umayah. Abdullah bin Zubeir, seorang sahabat utama Rasulullah dicalonkan untuk menjadi amirul mukminin. Namun karena ada konspirasi, maka Marwan bin Hakam yang berasal dari bani Umayah dari keluarga Hakam, mengisi posisi kosong itu dan meneruskan sistem dinasti. Marwan bin Hakam memimpin selama sepuluh tahun lebih.
Saat itu, Ummi Ashim menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan. Abdul Aziz bin Marwan sendiri adalah Gubernur Mesir di era khalifah Abdul Malik bin Marwan (685 – 705 M) yang merupakan kakaknya. Abdul Malik bin Marwan adalah seorang shaleh, ahli fiqh dan tafsir, serta raja yang baik, dan terlepas dari permasalahan ummat yang diwarisi oleh ayahnya (Marwan bin Hakam) saat itu.
Dari perkawinan itu, lahirlah Umar bin Abdul Aziz. Beliau dilahirkan di Halawan, kampung yang terletak di Mesir, pada tahun 61 Hijrah. Umar kecil hidup dalam lingkungan istana dan mewah. Saat masih kecil Umar mendapat kecelakaan. Tanpa sengaja seekor kuda jantan menendangnya sehingga keningnya robek hingga tulang keningnya terlihat. Semua orang panik dan menangis, kecuali Abdul Aziz seketika tersentak dan tersenyum. Seraya mengobati luka Umar kecil, dia berujar, “Bergembiralah engkau wahai Ummi Ashim. Mimpi Umar bin Khattab insyaallah terwujud, dialah anak dari keturunan Umayyah yang akan memperbaiki bangsa ini.“
Saudaraku, semua ini merupakan pelajaran berharga bahwa sebuah keimanan yang ikhlas kepada Allah, akan mengantarkan pada kebahagian yang sejati. Lihatlah, kepercayaan Umar bin Khattab untuk menikahkan anaknya pada seorang gadis yang berkata, “Tapi, Rab dari Amirul Mukminin pasti melihatnya,”telah menghadiahkan dirinya seseorang dari keturunannya sendiri yang shalih dan menjadi pemimpin umat, dialah Umar bin Abdul Aziz. Subhanallah…
Keagungan Isteri Seorang Mujahid
Label: Dunia Akhwat, Ibroh, Muhasabah | author: Tim Embun TarbiyahLelaki berumur enam puluh tahun itu memasuki rumahnya di Madinah. Nyaris tak mengenali lagi rumah yang pernah ditinggalinya itu. Ia menemukan rumah itu, saat menyusuri jalan-jalan di kota Madinah, yang sudah ramai.
Rumahnya yang sangat sederhana itu, pintunya agak terbuka, dan nampak lengang. Lelaki itu meninggalkan rumahnya, tiga puluh tahun lalu, dan waktu itu isterinya masih belia, dan menjelang melahirkan anak pertamanya.
Lelaki tua itu meninggalkan Medinah pergi berjihad ke negeri yang sangat jauh. Ia berangkat bersama pasukan muslimin. Membuka Bukhara dan Samarkand, dan sekitarnya, yang terletak di Asia Tengah. Begitu jauh perjalanan jihad bersama pasukan muslimin, mengarungi samudera padang pasir, menembus perjalanan beribu-ribu mil dari kota Madinah. Sungguh sangat luar biasa para mujahidin itu. Kepergiannya dengan tekad dan tawakal kepada Allah Azza wa Jalla.
Menjelang Isya’ dengan kuda yang dituganginya itu, prajurit tua itu, memasuki kota Madinah, yang masih ramai, dan melihat kehidupan yang tidak berubah, sesudah ditinggalkannya selama tiga puluh tahun. Namun, ingatannya yang tajam, akhirnya lelaki tua itu, menemukan rumahnya kembali, yang masih tampak sederhana, dan didapati pintunya sedikit terbuka. Kegembiraan menggelayut, dan merasa yakin bertemu dengan kembali dengan isterinya yang lama ditinggalkan itu.
Si penghuni rumah melihat ada orang yang masuk rumahnya, maka lelaki yang ada di atas, langsung melompat, dan turun sambil membentak lelaki tua yang datang itu, “Engkau berani memasuki rumah dan menodai kehormatanku malam-malam, wahai musuh Allah?”. Si penghuni rumah mencengkeram leher lelaki tua, seraya mengatakan, “Wahai musuh Allah, demi Allah aku takkan melepaskanmu kecuali di muka hakim”, sergahnya.
Lelaki tua yang baru datang itu berkata, “Aku bukan musuh Allah dan bukan pernjahat. Ini rumah milikku, kudapati pintunya terbuka lalu aku masuk”. Lelaki tua itu melanjutkan, “Wahai saudara-saudara, dengarkanlah. Rumah ini milikku, kubeli dengan uangku. Wahai kaum, aku adalah Farrukh. Tiadakah seorang tetangga yang masih mengenali Farrukh yang tiga puluh tahun lalu pergi berjihad fi sabilillah?”
Bersamaan itu, ibu si empunya rumah yang sedang tidur itu bangun oleh keributan, lalu menengok dari jendela atas dan melihat suaminya sedang bergulat dengan darah dagingnya sendiri. Lidahnya nyaris tak berucap. Dengan nada yang kuat berseru, “Lepaskan .. lepaskan dia, Rabiah … lepaskan dia, putraku, dia adalah ayahmu .. dia ayahmu … Saudara-saudara sekalian tinggalkan mereka, semoga Allah memberkahi kalian. Tenanglah, Abu Abdirrahman, dia putramu .. dua putramu .. jantung hatimu …
Lalu, Ar-Rabi’ah mencium tangan ayahnya. Orang-orang meninggalkan keduanya. Setelah itu, isterinya Ummu Rabi’ah menyambut suaminya dan memberi salam. Ummu Rabi’ah tak mengira bahwa ia akan bertemu kembali dengan suaminya yang pergi berjihad selama tiga puluh tahun itu.
Saat-saat bahagia antara Farrukh dengan Ummu Rabi’ah, terkadang duduk berdua, sambil bercerita keduanya selama berpisah tiga puluh tahun. Mereka mendapatkan kebahagiaan kembali, keduanya dapat bertemu, meskipun sekarang suaminya telah berumur enam puluh tahun. Namun, saat itu muncul kekawatiran dari Ummu Rabi’ah tentang uang yang pernah dititipkan oleh suaminya dahulu, dan ia harus menjaganya. Karena uang yang dititipkan suaminya itu, habis untuk membiayai pedidikan putranya senilai 30.000 dinar. “Percayakah Farrukh bahwa pendidikan putranya itu menghabiskan 30.000 dinar”, gumam Ummu Rabi’ah.
Selagi pikirannya mengelayut itu, tiba-tiba Farrukh, yang duduk disampingnya itu berkata, “Aku membawa uang 4.000 dinar. Ambillah uang yang akut titipkan kepadamu dahulu. Kita kumpulkan lalu kita belikan kebun atau rumah, dan akan kita ambil sewanya”, ucap Farrukh kepada Ummu Rabi’ah.
Pembicaraan terputus saat adzan datang. Farrukh bergegas menuju masjid, seraya menanyakan, “Mana Ar-Rabi’ah?’ Isterinya menjawab, “Dia sudah lebih dahulu berangkat ke masjid. Saya kira engkau akan tertinggal shalat berjama’ah”. Dia segera shalat, dan sesudah itu pergi ke Rhaudah mutharah, berdo’a di dekat makam Rasulullah, karena betapa rindunya dia dengan Rasulullah.
Saat mau meninggalkan masjid, begitu ramai orang yang sedang mengelilingi seorang ulama, yang belum pernah melihat sebelumnya. Mereka duduk melingkari Sheik itu. Sampai tak ada tempat yang kosong untuk dapat berjalan. Farrukh mengamati, ternyata orang-orang yang hadir, ada yang sudah lanjut usia, anak-anak muda, mereka semua duduk sambil menghamparkan lututnya. Semuanya menghadapkan pandangan kepada Sheikh.
Farrukh itu berusaha melihat wajah Sheikh yang luar biasa itu, tetapi tak dapat, karena begitu banyaknya orang yang mengelilinginya. Sampai saat majelis itu usai. Orang-orang meninggalkan masjid. Kemudian di tengah-tengah suasana yang sudah mulai sepi itu Farrukh bertanya kepada salah seorang yang masih tinggal di masjid itu.
Farrukh: “Siapakah Sheikh yang baru saja berceramah itu?”
Fulan: “Apakah anda bukan penduduk Madinah?”
Farrukh: “Saya penduduk Madinah”.
Fulan: “Masih adakah di Madinah ini orang yang tak mengenal Sheikh yang memberikan ceramah itu?”
Farrukh: “Maaf, saya benar-benar tidak tahu, karena saya sudah meninggalkan kota ini sejak 30 tahun yang lalu, dan baru kemarin tiba”
Fulan: “Tidak apa. Duduklah sejenak, saya akan menjelaskannya. Sheikh yang anda dengarkan ceramahnya itu adalah seorang tokoh tabi’in. Termasuk diantara ulama yang paling terpandang, dialah ahli hadist di Madinah, fuqaha dan imam kami, meksipun masih sangat muda”. Majelisnya dihadiri oleh Malik bin Anas, Abu Hanifah, An-Nu’man, Yahya bin Sa’id Al-Anshari, Sufyan Tsauri, Abdurrahman bin Amru Al-Auza’I, Laits bin Sa’id dan lainnya”.
Farrukh: “Tetapi anda belum menyebutkan namanya?”
Fulan: “Namanya adalah Ar-Rabi’ah Ar-Ra’yi”.
Farrukh: “Namanya Ar-Rabi’ah Ar-Ra’yi?”
Fulan: “Nama aslinya Ar-Rabi’ah, tetapi para ulama dan pemuka Madinah biasa memanggilnya Ar-Rabi’ah Ar-Ra’yi. Karena setiap menjumpai kesulitan tentang nash dari Kitabullah yang tidak jelas, mereka selalu bertanya kepadanya”.
Farrukh: “Anda belum menyebutkan nasabnya?”
Fulan: “Dia adalah Ar-Rabi’ah putra Farrukh yang memiliki kunyah (julukan) Abu Abdurrahman. Tak lama dilahirkan setelah ayahnya meninggalkan Madinah sebagai mujahid fi sabilillah, lalu ibunya memelihara dan mendidiknya. Tetapi sebelum shalat tadi orang-orang ramai mengatakan ayahnya telah datang kemarin malam.”
Tiba-tiba meleleh air mata Farrukh, tanpa lawan bicaranya mengerti mengapa Farrukh melelehkan air matanya.
Sesampai di rumah isterinya Ummu Rabi’ah melihat suaminya meneteskan air matanya, dan bertanya kepada suaminya, Farrukh : “Ada apa wahai Abu Abdirrahman?” Suaminya menjawab : “Tidak ada apa-apa. Aku melihat putraku berada dalam kedudukan ilu dan kehormatan yang tinggi, yang tidak kulihat pada orang lain”, tukasnya.
Di ujung kehidupan itu, Ummu Rabi’ah bertanya kepada suaminya, “Menurutmu manakah yang lebih engkau sukai, uang 30.000 dinar, atau ilmu dan kehormatan yang telah dicapai putramu?”. Farrukh menjawab : “Demi Allah, bahkan ini lebih aku sukai dari pada dunia dan seisinya”, ucapnya.
Begitulah kisah generasi Tabi’in yang penuh kemuliaan, dan peranan seorang ibu yang ditinggal oleh suaminya berjihad ke negeri yang sangat jauh, selama tiga puluh, dan dapat mendidik putranya menjadi seorang ulama besar dan memiliki ilmu dan kehormatan yaitu Ar-Rabi’ah. Wallahu’alam.







