Banner 250 x 200

Kebangkitan Sejati

|



Keterpurukan dan kebangkitan kehidupan manusia datang silih berganti. Sejak awal penciptaan manusia, yaitu ketika Nabi Adam 'alaihissalam bangkit kembali dari keterpurukan kecil akibat melanggar larangan Alloh Subhanahuwata'ala. Keterpurukan besar-besaran senantiasa terjadi akibat tipudaya musuh manusia yang nyata yaitu iblis dan para syaitan.

Keterpurukan pertama terjadi pada Adam 'alaihissalam dan istrinya, ketika mereka melanggar larangan Alloh Subhanahuwata'ala dengan memakan buah dari pohon yang sudah dilarang untuk di dekati. Namun keterpurukan itu disambut dengan kebangkitan berupa taubatnya Nabi Adam 'alaihissalam kepada Alloh Subhanahuwata'ala.

Setelah diturunkan ke bumi, Adam ‘Alaihissalam menda’wahkan Tauhid kepada keluarga dan keturunannya. Sepuluh generasi keturunannya berada di atas Tauhid, hingga datang generasi yang menyimpang dari sirotolmustaqim, lalu terpuruklah ke lubang-lubang kesyirikan. Kemudian Alloh Subhanahuwata'ala mengutus Nuh 'alaihissalam untuk membangkitkan kembali kaumnya yang saat itu berada dalam keterpurukan terbesar, berupa penyembahan kepada patung-patung orang sholeh. Selama 950 tahun Nabi Nuh 'alaihissalam mendakwahkan tauhid kepada ummatnya namun hanya segelintir orang yang mau bangkit dan mengikuti Nabi Nuh 'alaihissalam. Sehingga Alloh Subhanahuwata'ala memusnahkan kaum yang tidak mau mengikuti Nabi Nuh 'alaihissalam. Kembali manusia bangkit dari keterpurukan.

Hingga suatu zaman, mereka kembali terpuruk dengan menyembah patung-patung, mengikuti syariat iblis dan berhukum bukan dengan hukum Alloh Subhanahuwata'ala. Alloh-pun mengutus Nabi Ibrahim 'alaihissalam untuk merintis sebuah gerakan kebangkitan dan mendakwahkan tauhid (kemurnian Islam). Begitu seterusnya, gelombang kebangkitan dan keterpurukan senantiasa silih berganti. Setiap terjadi keterpurukan Alloh Subhanahuwata'ala mengutus para Nabi dan Rosulnya untuk merintis sebuah gerakan kebangkitan.

Hingga datanglah suatu zaman ketika manusia kembali berada dalam keterpurukan total, Alloh Subhanahuwata'ala pun mengutus Nabi dan Rosul terakhir-Nya yaitu Muhammad Solallohu'alaihi Wassalam. Untuk sekali lagi memulai sebuah gerakan kebangkitan di tengah-tengah keterpurukan total yang menyelimuti seantero dunia. Rosululloh dan para sahabatnya ketika itu harus mengorbankan segala kesenangan dunia ini untuk membangkitkan manusia dari keterpurukan, Usaha total hingga gerakan kebangkitan yang dipimpin oleh Rosululloh Solallohu'alaihi Wassalam semakin lama semakin meluas dan meliputi sepertiga dunia.

Namun sunnatulloh pun kembali terjadi, kemurnian Islam mulai pudar, dan kesyirikan pun kembali merajalela di tubuh ummat. Hingga kaum kufar seakan mendapatkan kesempatan untuk merusak ummat dari dalam.

Daulah Utsmaniyyah pada mulanya berada dalam manhaj ahlusunnah wal jama’ah, mulai tenggelam ketika pemahaman sufi mulai merasuki tubuh ummat, kemurnian-pun tergantikan dengan kepalsuan-kepalsuan yang dilabeli agama. Keruntuhan daulah Utsmaniyyah tak bisa terelakkan gejolak dari dalam dan luar harus di hadapi oleh para pemegang kemurnian. Hingga pada akhirnya bangunan nan kokoh itupun harus runtuh ditelah kegelapan zaman.

Pasca runtuhnya sistem kekhilafahan, banyak di antara ummat ini yang menyerah dan pasrah. Namun ada pula sebagian kecil dari mereka yang mencoba untuk berbuat sesuatu untuk mengembalikan kekhilafahan yang telah runtuh. Namun usaha yang mereka lakukan bukanlah usaha yang bermuatan kebangkitan, pandangan yang salah tentang realita yang ada menyebabkan mereka mengambil langkah cepat dan dangkal. Mereka tidak memahami asasi keterpurukan yang terjadi dalam tubuh ummat. Bahwa kebangkitan hanya dapat terjadi dengan membangkitkan ruhani ummat yang terpuruk, mengembalikan kembali ummat kepada jalan yang lurus (Sirotul Mustaqim).

Di Indonesia sendiri sejak awal abad ke 20, gerakan-gerakan Islam terus bermunculan. Hanya saja amat disayangkan gerakan-gerakan tersebut banyak berorientasi pada problematika duniawi saja. Mereka kurang memperhatikan aspek keterpurukan ruhani. Padahal keterpurukan ruhani adalah ibu dari segala keterpurukan. Selain itu gerakan-gerakan yang banyak bermunculan jarang sekali yang mengusung manhaj Ahlusunnah sebagai suatu manhaj yang harus di anut oleh umat secara keseluruhan.

Realita keterpurukan ruhani di negeri kita sudah sangat mengerikan dan sudah berpotensi untuk mengundang adzab dari Alloh Subhanahuwata’ala. Bahkan adzab-adzab itu memang sudah berdatangan bertubi-tubi bagaikan gelombang lautan yang terus-menerus bergantian menghempas pantai.

Mulai dari Kesyirikan yang nyata dilakukan oleh masyarakat mulai dari penyembahan-penyembahan kepada kuburan-kuburan hingga praktek-praktek sihir yang dilegalitas dan masuk ke setiap pintu-pintu rumah kaum muslimin melalui media elektronik maupun cetak, hingga ritual-ritual kebudayaan bangsa yang diadopsi dari kepercayaan-kepercayaan lain. Semuanya adalah bentuk kesyirikan meskipun diberi label islami. Bahkan praktek-praktek kesyirikan tersebut dilindungi oleh pemerintah.

Kemudian kita dapati banyak sekali praktek-praktek bid’ah dalam kehidupan agama yang sama sekali tidak pernah di ajarkan ataupun di anjurkan apalagi diperbuat oleh Rosululloh Solallohu'alaihi Wassalam dan para Sahabatnya. Semua dianggap sebagi sunnah sedangkan sunnah dianggap bid’ah dan sesat.

Kemaksiatan-kemaksiatan yang banyak dilakukan oleh masyarakat, baik secara individu maupun kemaksiatan secara kolektif seperti pacaran, zina, meminum khomr, judi dll. Semua di diamkan dan dibiarkan, dianggap sebagai sesuatu hal yang biasa dan wajar dilakuan. Na’udzubillah…

Semua itu adalah keterpurukan ruhani yang akan mengakibatkan keterpurukan duniawi dan keterpurukan ukhrawi kelak, yaitu ancaman siksa pedih dan abadi di akhirat nanti serta menjadi sebab tidak mampunya kita mengemban khilafah tauhid di bumi ini.
Diantara keterpurukan duniawi yang akan dan bahkan telah terjadi adalah bencana-bencana alam yang terjadi di bumi ini. Bencana-bencana yang silih berganti bahkan susul menyusul senantiasa bertambah cepat jarak waktu dari satu bencana ke bencana lainnya. Bencana seperti Tsunami, Tanah Longor, Banjir, Semburan Lumpur, Tumbukan Meteor dan lain sebagainya adalah akibat dari keterpurukan ruhani yang ditambah buruk lagi oleh keterpurukan peran.
Alloh Subhanahuwata'ala berfirman:

“telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

“ dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. 'alaihissalam-Syuro: 30)

Seperti yang telah disebutkan bahwa gerakan-gerakan Islam yang berorientasi kepada pembangkitan umat saling berbeda pandangan atau persepsi tentang realita umat saat ini dan tentang pangkal penyebab realita itu. Perbedaan ini telah melahirkan perbedaan strategi dalam mencapai tujuan setiap harokah.

Pandangan dan strategi pertama adalah mereka yang menganggap bahwa keterpurukan yang terjadi adalah keterpurukan duniawi semata, yaitu kepincangan dalam memanajemen umat dan solusinya adalah memperbaiki manahemen tersebut.

Kemudian pandangan dan strategi kedua adalah mereka yang mengakui adanya keterpurukan ruhani, peran, dan duniawi. Para peyakin pandangan ini berbeda pendapat dalam menilai bobot masing-masing keterpurukan dan hubungan di antaranya. Para peyakin pandangan ini tidak atau kurang mendasarkan strategi mereka pada keyakinan bahwa keterpurukan ruhani adalah sebab segala-galanya dan kebangkitan ruhani akan menjadi ibu dari semua kebangkitan.

Tsaqofah mereka terkonsentrasi pada “wajibnya mendirikan Negara Islam” yang setelah berdiri akan melahirkan “kejayaan umat”. Jadi solusi keterpurukan adalah berdirinya Negara Islam. Sehingga strategi ini dinamakan strategi tampuk kekuasaan.

Kemudian pandangan dan strategi ketiga, mereka yang merangkum dan menganalisa keterpurukan yang terjadi di tubuh umat, yang di rangkum dalam butir-butir berikut:

1.Umat Islam secara global dewasa ini berada dalam keterpurukan ruhani, peran, dan duniawi.
2.Keterpurukan Ruhani adalah ibu dari semua keterpurukan.
3.Keterpurukan ruhani pun mengancam berjuta umat di akhirat nanti dengan keterpurukan ukhrawi yang sangat dahsyat.
4.Kebangkitan ruhani adalah kembalinya umat secara jama’I meniti Sirotulmustaqim. Ini berarti dominasi manhaj Ahlusunnah Wal Jama’ah secara utuh atas kehidupan umat bermasyarakat.
5.Tak ada jalan untuk keselamatan ukhrawi dan terwujudnya kebangkitan peran dan duniawi tanpa kebangkitan ruhani.
6.Jalan kebangkitan total harus dirintis dengan dakwah yang bertarget kebangkitan ruhani secara kaffah.

Mereka yang meyakini pandangan ini memilih jalan dakwah sebagai “Strategi menuju perubahan”. Strategi ini kita namakan “Strategi Dakwah”.

Strategi ke empat inilah yang di usung oleh HASMI (Harokah Sunniyah Untuk Masyarakat Islami). HASMI adalah sebuah organisasi yang murni kelahiran Indonesia, berpusat di Indonesia dan bukan sekali-kali organisasi lintas Negara.

Dasar keseluruhan HASMI adalah manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, manhaj kebenaran sesuai dengan kemurnian Islam. Manhaj wahyu Ilahi, Al-Qur’an dan Sunnah serta mengikuti pemahaman dan penerapan Salafussoleh. Hal ini tidak berarti sama sekali bahwa HASMI mengklaim tidak pernah atau tidak akan mempunyai kesalahan. Hal ini hanya sebatas kebulatan tekad penitian Sirotulmustaqim. HASMI mengusung dan mendakwahkan manhaj Ahlusunnah Wal Jama’ah.

Tujuan HASMI adalah terwujudnya kebangkitan total melalui usaha perwujudan ruhani yang bermahkotakan “Berdirinya masyarakat Islami di Indonesia” sebagi perwujudan dari kebangkitan peran yaitu masyarakat yang kolektif atau perorangan dinaungi dan dituntun oleh norma-norma Islam yang suci.

HASMI memilih strategi dakwah dalam meniti jalan perjuangan menuju tujuannya, karena Dakwah adalah strategi para nabi dalam misi penyelamatan mereka terhadap manusia. Sedangkan jihad besenjata adalah salah satu jalan dari jalan-jalan dakwah yang dilakukan hanya pada kondisi-kondisi tertentu. Bahkan jalan untuk merubah keterpurukan ruhani menjadi kebangkitan ruhani adalah dengan medakwahi umat tidak ada jalan lain.

Kita berada di tengah-tengah umat Islam yang sangat membutuhkan penerangan dan di waktu yang sama kesempatan serta pintu-pintu dakwah sangat terbuka lebar di negeri ini.

“ Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik". (QS. Yusuf: 108)

Read More......

Tiga Jalan Menuju Kesesatan

|




Ulama terkemuka dari India (Pakistan), Abul ‘Ala Maududi menjelaskan, dari mana sebenarnya kekufuran dan kesesatan (bid’ah) itu timbul? Al-Qur’anul Karim menegaskan, bahwa kejahatan-kejahatan itu muncul melalui tiga sumber :

Pertama, mengikuti kemauan sendiri.

Al-Qur’an menyatakan, “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapatkan petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (Qur’an : 28 : 50).

Ayat diatas mengartikan bahwa faktor terbesar penyebab kesesatan manusia adalah dorongan-dorongan hawa-nafsunya sendiri. Dan sama sekali tidak mungkin seseorang untuk menjadi hamba Allah, sementara ia masih menuruti dorongan-dorongan hawa nafsunya. Ia akan terus menerus memikirkan pekerjaan apa yang mendatangkan uang baginya, usaha apa yang akan membawa kemasyhuran dan penghormatan orang kepadanya, kemanapun ia harus mengejar kesenangan dan kepuasan, dan apa saja yang bisa memberikan kemudahan dan kenikmatan hidup baginya. Pendeknya, manusia akan dengan segala macam cara untuk mencapai tujuan itu.

Ia tidak akan pernah mengerjakan suatu apapun yang dianggapnya tidak akan membawa tercapainya tujuan-tujuan itu berupa kenikmatan dunia. Meskpun, Allah memerintahkannya lebih memilih jalan menuju kemuliaan di akhirat. Tetapi itu tidak pernah didengarnya lagi. Jadi Tuhan bagi orang seperti itu adalah dirinya (nafs), bukannya Allah Yang Agung. Jadi, bagimana ia akan mendapat manfaat dari petunjuk Allah?

Al-Qur’an menegaskan, “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat jalan (dari binatang ternak itu)”. (Qur’an : al-Furqan : 43-44)

Menurut Al-Maududi, bahwa menjadi budak hawa nafsu lebih jelek dibanding menjadi binatang. Ini adalah tidak diragukan lagi. “Anda tidak akan pernah melihat seekor binatang pun yang mau melanggar batas-batas yang telah ditentukan Allah baginya”, ucap al-Maududi. Binatang hanya melaksanakan fungsi yang telah ditentukan Allah baginya. Tetapi, manusia adalah binatang yang apabila sudah menjadi budak hawa nafsunya sendiri, dan bahkan akan melakukan perbuatan yang membuat syetan sendiri gemetar.

Kedua, mengikuti nenek-moyang tanpa berpikir.

Jalan kedua adalah mengikuti adat kebiasaan, kepercayaan-kepercayaan dan pikiran-pikiran, ritus-ritus dan upacara-upacara yagn biasa dilakukan nenek-moyang, atau seorang ulama mereka. Mereka menganggap lebih penting daripada perintah Allah. Apabila perintah Allah dibacakan, maka orang-orang yang suka mengekor kepada nenek moyang (termasuk ulama mereka), maka mereka akan bersikeras bahwa mereka hanya akan mengikuti apa yang dilakukan nenek moyang mereka yang telah menjadi kebiasaan (habid). Bagaimana mungkin orang yang seperti ini akan menjadi hamba Allah?

Tuhan-Tuhan mereka adalah nenek-moyang mereka. Hak apa yang dimilikinya untuk mendakwakan bahwa dirinya adalah seorang muslim?

Al-Qur’an berfirman, “Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang diturunkan oleh Allah’, mereka menjawab: (Tidak), tetap kami hanya mengikuti apa yagn telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami’. (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatupun, dan tidak mendapat petunjuk?”. (Qur’an : 2: 170)

“Apabila dikatakan kepada mereka : “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul’. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya’. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek-moyang mereka walaupun nenek-moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu , tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu, apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepda Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (Qur’an : 5: 104-105)

Jahatnya kesesatan itu adalah sedemikian rupa, sehingga semua orang bodoh di setiap zaman terkena cengkeramannya. Kesesatan selamanya mencegah mereka mendapatkan bimbingannya dari utusan-utusan Allah. Seperti halnya, Ibrahim alaihi salam, membujuk kaumnya untuk meninggalkan kepercayaan syirik, “Mereka menjawab : “Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya (patung-patung)”. (Qur’an : 21 : 25).

Manusia harus memilih salah satu satu. Tidak mungkin berdampingan antara berhala-hala itu dengan Allah. Antara kesesatan yang menyembah berhala, dan mereka yang berorientasi kepada al-haq Allah Rabbul alamin.

Ketiga, kepatuhan kepada selain Allah.

Jalan yang ketiga, seperti dinyatakan oleh al-Qur’an, adalah apabila manusia mengesampingkan perintah-perintah Allah, lalu mentaati perintah-perintah manusia dengan bermacam-macam alasan, seperti misalnya, “Karena bapak fulan adalah seorang besar, maka kata-katanya mestilah selalu baik dan harus kita ikuti’, atau ‘Karena rezeki saya bergantung pada orang itu, maka saya harus patuh kepadanya’, atau ‘karena orang mampu menghancurkan hidup saya dengan kutukannya, dan mampu menjamin saya masuk surga, maka apa yang dikatakannya pasti benar’ atau ‘bangsa anu bangsa besar adalah bangsa yang maju, kita harus meminta pertolongan dan perlindungan kepadanya, dan meniru cara hidupnya”. Dengan alasan-alasan seperti itu, maka tertutup lah pintu petunjuk Allah.

Al-Qur’an berfirman : “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah .. “ (Qur’an : 6 : 116)

Ayat ini mempunyai arti bahwa manusia hanya bisa tetap berada di jalan yang benar, bila ia mempercayakan diri seratus persen, secara totalitas hanya kepada Allah Ta’ala. Bagaimana bisa menemukan jalan kemuliaan kalau manusia mempercayakan diri kepada salain Allah. Hidupnya tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan.

Demikian pendapat dan pandangan Abul ‘Ala Maududi, seorang ulama besar yang lahir di anak benua India, yang sekarang sebagian menjadi Pakistan.

Read More......

Racun Kepalsuan

|


Seorang sahabat Rasul, menahun ia bertugas sebagai gubernur di Mesir. Bertinggal lama di negeri seberang, tentu membuat dia sangat rindu kampung kelahiran, namun, tugas mulia yang ia emban untuk menjaga keutuhan khilafah islamiyah lebih ia utamakan daripada sekedar pulang dan bersua dengan keluarga. Hingga pada suatu hari yang panas, di atas kerinduan yang memuncak, tersampailah obat penawar baginya, seorang sahabat Rasululloh lainnya, Ubaid datang menjenguknya.

Lama tak bersua, tentu membuat keduanya ingin segera menumpahkan kerinduan masing-masing, hingga kesan penampilan yang pertama kali dilihat pun menjadi bahan perbincangan diantara mereka berdua. Ubaid yang menurut riwayat juga adalah seorang pejabat ternyata terlihat tampak kusut rambutnya. “Kenapa rambutmu berantakan seperti itu, padahal engkau pejabat?” tanya sahabat Rasul itu.

Ubaid menjawab, “Sesungguhnya Rasululloh melarang kita untuk mengurusi rambut setiap hari.”
“Kamu juga tidak pakai terompah?” Tanya sahabat itu kembali
“Bukankah Rasul juga menyuruh kita, untuk sekali-kali jangan pakai terompah?” jawab ubaid lagi…

Saudaraku…

Sepenggal rambut dan sepasang sepatu adalah pesan. Tidak saja untuk sebuah selera penampilan. Tapi juga cita rasa ruhani yang mendalam. Rasululloh, dalam hadits tersebut, yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ahmad dan Nasa’i, ingin mengajarkan kepada kita pilar mendasar tentang prinsip keaslian.

Sejatinya seorang muslim haruslah mengerti tentang prinsip keaslian ini. Sebagaimana pada dasarnya kita diciptakan dengan keaslian fitrah yang luhur. Alloh berfirman dalam surat Al-A’raf: 172:
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Alloh mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.”

Dunia kita saat ini, sungguh merindukan kembali originalitas, keaslian. Manusia yang berperilaku original. Dari hari ke hari rasanya kita makin kenyang disuguhi panorama serba kepalsuan. Dunia yang berlumur gincu, kepura-puraan, dan dusta.

Di negeri ini, kita pantas untuk menggugat keotentikan. Kenapa di sebuah Tanah Air dengan mayoritas kaum muslimin dan penduduknya mengaku beragama, masih juga tumbuh mekar berbagai skandal dan penyimpangan?

Saksikan, bagaimana kebohongan dan kebatilan publik menjadi serba telanjang. Betapa hukum dipermainkan dengan logika hukum sendiri. Politik sekadar siasat, serba penuh dusta dan tipu daya. Berniaga hanya mengabdi pada keserakahan. Penjarahan kekayaan negara terkadang menjadi skandal publik yang penuh permainan agar tak terjerat hukum. Kemudian pada akhirnya hanya ditutup oleh dagelan di panggung politik yang para pemainnya saling tuduh-menuduh, tanpa jelas siapa pelakunya. Racun retorika telah mengemas serba kepalsuan menjadi hindangan publik yang harus diterima, dan seakan halal.

Berbagai penyimpangan moral dan perilaku primitif pun telah menjadi kelaziman umum yang jauh dari rasa malu. Budaya dan interaksi diantara sesama manusia melahirkan eksperimen-eksperimen baru dalam soal keindahan, juga pemaknaan yang sering dipaksakan, atau imajinasi-imajinasi yang liar dan penuh tipu daya. Semua itu mengantarkan manusia dengan cepat atau lambat menuju fase hidup yang menyukai kepalsuan.

Maka, meledaklah artis-artis yang bermodel telanjang yang dibilang keagungan seni. Maka, lahirlah industri-industri paranormal, nabi palsu dan sederet papan-papan reklame yang pada hakikatnya adalah racun yang akan mengantarkan manusia menuju jurang kehancuran fitrahnya.

Begitulah keadaan dunia kita saat ini. Namun sayangnya, ledakan-ledakan kepalsuan itu diiringi oleh sebagian pemuda muslim kita yang latah. Sungguh beban berat yang kita emban untuk mengembalikan mereka ke jalan kemurnian Islam.

Saudaraku…

Sejatinya sebagai seorang muslim, kita dapat menapaki hidup ini dengan berpijak pada keaslian fitrah, islam serta aqidah kita yang mulia.

Sandaran kita berpulang kepada riwayat asal mula kita ada, bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada Alloh, menyembah, mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sebab hidup ini begitu penuh tanggung jawab. Menuju akhir yang gelap di hari perhitungan. Sementara, amal kita hanya sedikit dan tak jelas apa akan sampai di kadar keridhaan.
vItulah sandaran yang menginspirasi segala macam kesopanan, kepatuhan, bahkan dalam soal selera penampilan. Yang mengajarkan kepada kita dari mana kita memulai titik pertama arah hidup, selera, gaya, ekspresi dan cita-cita. Bahwa kita harus menyembah-Nya, mengikuti aturan-Nya, dan mengerti juga apa intisari dari tujuan Ia menciptakan.

Orang-orang yang benar-benar beriman, lelaki atau perempuannya, mengerti betul fungsi keindahan. Tapi ia tidak menjadikan seluruh umurnya untuk bersolek. Ia tidak menghabiskan seluruh usianya untuk melicinkan rambut, melentikkan bulu mata, atau meronakan air wajah. Ia mengerti, mana batas keindahan dengan kepalsuan. Ia mengerti, mana batas kepatuhan dan ketawadhuan.
Seorang mu’min, laki-laki atau perempuannya, menyadari bahwa ia punya ruang di dalam dirinya untuk selera keindahan. Ia punya kadar aslinya untuk merapikan diri dan berhias. Ia juga mencintai keindahan karena Alloh pun mencintai keindahan. Bahkan ia punya caranya sendiri menempatkan semua cita rasa keindahan, fisik maupun non fisik, sebagai bagian cara yang halal, untuk merawat cintanya kepada pasangan yang halal. Tapi begitu pun ia tak memenuhi seluruh langit jiwanya dengan nafsu berdandan.

Sebagaimana ia sepenuh hati menjiwai, betapa kepalsuan tidak semata soal permak wajah, tapi juga perangai, tindak-tanduk, tutur kata, cara pandang terhadap orang dan juga hobi. itu sebabnya, kepalsuan-kepalsuan perangai, bisa menjerumuskan pelakunya, menjadi penumpuk dusta. Hingga akhirnya semua dusta itu menyeretnya ke dalam neraka. Rasululloh menasehati:
“Sesungguhnya dusta itu bisa menyeret kepada kekejian. Dan kekejian itu akan menyeret pelakunya ke dalam neraka.” (HR. Bukhari)
Barang palsu selalu diburu karena lebih murah dari yang asli. Namun, pada taraf identitas dan harga diri, yang palsu seolah dianggap lebih mahal dan layak dipertahankan. Bahkan repotnya, kepalsuan pada zaman ini justru dijadikan kurikulum kehidupan. Orang diajari untuk berbohong, bila perlu dengan memakai dalil agama.

Kita memang sedang dikepung oleh kepalsuan seperti itu, maka diperlukan cara pandang keimanan yang mampu menembus batas-batas materi. Kita di sini melihat keindahan dunia, tetapi mata hati kita harus melihat jauh ke sana, ke keaslian kampung akhirat sana. Ini memang tidak mudah, karena keaslian terkadang hanya kita pakai di saat kita sulit, tetapi di saat kita senang, kepalsuan kita pertontonkan kembali.
“Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Alloh menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Alloh), agar mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka dan agar mereka (hidup) bersenang-senang (dalam kekafiran). Kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya).” (QS. Al-Ankabut: 66).

Read More......

KAIDAH ISLAM DALAM MENIMBA ILMU DAN BERDALIL

|


Islam adalah agama yang sempurna dan menyeluruh, kesempurnaan Islam bertolak dari kesempurnaan Dzat Yang Maha Sempurna. Untuk memahami Dien yang mulia ini dan merasakan kesempurnaan Islam haruslah di sertai dengan Metode (Manhaj) Pemahaman yang benar(Pemahaman Para Sahabat).

Menyimpang dari manhaj (metode beragama) para sahabat akan berujung kepada kesesatan. Bagaimana tidak? Sementara Allah ‘azza wa jalla sendiri telah merekomendasikan mereka di hadapan segenap umat manusia di dalam Kitab-Nya Yang Mulia dalam firman-Nya (yang artinya),

“Orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Allah ridha kepada mereka dan mereka pun pasti akan ridha kepada-Nya. Allah telah persiapkan untuk mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang sangat besar.” (QS. at-Taubah: 100)

Oleh karena itu untuk mengikuti kebenaran tidak cukup dengan membawakan dalil tanpa disertai dengan cara pemahaman terhadap dalil yang benar! Dan betapa banyak orang yang tersesat melalui pintu ini -istidlal yang salah-, maka ambillah pelajaran wahai saudaraku!

Berikut kaidah dalam Menimba Ilmu dan Berdalil agar tidak terjadi kesalahan dalam memahami Dalil...

Pertama
Sumber akidah/keyakinan adalah Kitabullah, Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sahih serta ijma’/konsensus Salafush shalih.

Kedua
Setiap dalil yang shahih di antara Sunnah/hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ia wajib diterima dan diamalkan; meskipun statusnya adalah hadits ahad (bukan mutawatir, hanya sedikit jalan periwayatannya), dalam hal akidah maupun bidang-bidang lainnya.

Ketiga
Rujukan untuk memahami kandungan Al Kitab dan As Sunnah adalah nash/dalil-dalil yang menjelaskannya, pemahaman Salafush shalih dan pemahaman para imam yang menempuh manhaj mereka. Segala penafsiran yang sudah terbukti keabsahannya maka itu tidak boleh ditolak dengan berdasarkan kemungkinan makna bahasa semata.

Keempat
Semua pokok ajaran agama sudah diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga tidak ada lagi celah bagi siapapun untuk menciptakan suatu ajaran baru dengan dakwaan hal itu termasuk bagian dari agama.

Kelima
Harus bersikap pasrah kepada Allah, kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam secara lahir dan batin. Oleh karena itu maka dalil dari Al Kitab atau Sunnah yang shahih tidak boleh dipertentangkan dengan analogi/qiyas, perasaan, penyingkapan, ucapan seorang Syaikh/guru, pendapat seorang Imam dan semacamnya.

Keenam
Dalil akal yang tegas dan akurat pasti sesuai dengan dalil naqli yang shahih. Tidak akan terjadi pertentangan dua hal qath’i/yang pasti dari keduanya selama-lamanya. Apabila muncul persangkaan seolah-olah ada pertentangan maka dalil naqli itulah yang lebih dikedepankan.

Ketujuh
Wajib konsisten memakai lafadz-lafadz syar’i dalam hal akidah dan harus menjauhi lafadz-lafadz bid’ah yang direka-reka oleh orang. Apabila terdapat lafadz yang masih bersifat global dan mengandung kemungkinan makna benar atau salah maka hendaknya diminta tafsirannya. Apabila tafsirannya adalah benar maka maksud itu cukup ditetapkan dengan lafadznya yang syar’i. Dan apabila ternyata tafsirannya adalah batil maka ia harus ditolak.

Kedelapan
Keterpeliharaan dari salah (’ishmah) hanya dimiliki oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan umat Islam ini secara keseluruhan (bukan perindividu) juga terjaga dari bersepakat dalam kesesatan. Adapun individu-individunya maka tidak seorangpun di antara mereka yang ma’shum. Hal-hal yang telah diperselisihkan oleh para imam dan selain mereka maka rujukan pemecahannya adalah Al Kitab dan As Sunnah. Semua pendapat yang tegak di atas landasan dalil maka diterima dengan tetap memberikan toleransi bagi para mujtahid umat ini yang tersalah.

Kesembilan
Di antara umat ini ada orang-orang yang mendapatkan ilham/muhaddats, seperti halnya Umar bin Al Khaththab. Mimpi yang benar adalah nyata, dan ia termasuk bagian dari ciri Nubuwwah/kenabian. Firasat yang benar adalah nyata adanya. Begitu pula terdapat berbagai karamah (keistimewaan yang diberikan Allah kepada Wali-Nya) dan mubasysyaraat/tanda-tanda menggembirakan, dengan syarat itu semua harus selaras dengan aturan syari’at, dan hal itu juga bukan menjadi sumber akidah dan tidak dijadikan sebagai pedoman untuk menetapkan aturan/syari’at.

Kesepuluh
Debat kusir dalam hal agama adalah sesuatu yang tercela. Sedangkan perdebatan dengan cara yang baik adalah disyari’atkan. Perkara-perkara yang terdapat dalil shahih untuk tidak memperdebatkannya maka aturan itu harus dilaksanakan. Seorang muslim wajib menahan diri untuk tidak membicarakan hal-hal yang dia sendiri tidak menguasai ilmunya.

Kesebelas
Wajib berpegang teguh dengan manhaj/metode wahyu dalam hal perbantahan, sebagaimana halnya itu juga wajib diterapkan dalam masalah akidah dan pemancangan suatu ketetapan. Bid’ah tidak boleh dibalas dengan bid’ah. Sikap tafrith/melecehkan tidak boleh dibalas dengan sikap ghuluw/ekstrim, begitu pula sebaliknya.

Keduabelas
Semua urusan yang diada-adakan di dalam ajaran agama adalah bid’ah. Setiap bid’ah pasti sesat, dan setiap kesesatan nerakalah tempatnya.

(disadur dari Mujmal Ushul Ahlis Sunnah wal Jama’ah fil ‘Aqidah karya Syaikh Dr. Nashir bin Abdul Karim Al ‘Aql, Penerbit Darul Wathan cet 1, 1413 H hal. 7-9)

Read More......

Mengenal Alloh (Agar mendatangkan Kecintaan Hakiki)

|



Tak kenal maka tak sayang, demikian bunyi pepatah. Banyak orang mengaku mengenal Allah, tapi mereka tidak cinta kepada Allah. Buktinya, mereka banyak melanggar perintah dan larangan Allah. Sebabnya, ternyata mereka tidak mengenal Allah dengan sebenarnya.

Sekilas, membahas persoalan bagaimana mengenal Allah bukan sesuatu yang asing. Bahkan mungkin ada yang mengatakan untuk apa hal yang demikian itu dibahas? Bukankah kita semua telah mengetahui dan mengenal pencipta kita? Bukankah kita telah mengakui itu semua?

Kalau mengenal Allah sebatas di masjid, di majelis dzikir, atau di majelis ilmu atau mengenal-Nya ketika tersandung batu, ketika mendengar kematian, atau ketika mendapatkan musibah dan mendapatkan kesenangan, barangkali akan terlontar pertanyaan demikian.

Yang dimaksud dalam pembahasan ini yaitu mengenal Allah yang akan membuahkan rasa takut kepada-Nya, tawakal, berharap, menggantungkan diri, dan ketundukan hanya kepada-Nya. Sehingga kita bisa mewujudkan segala bentuk ketaatan dan menjauhi segala apa yang dilarang oleh-Nya. Yang akan menenteramkan hati ketika orang-orang mengalami gundah-gulana dalam hidup, mendapatkan rasa aman ketika orang-orang dirundung rasa takut dan akan berani menghadapi segala macam problema hidup.

Faktanya, banyak yang mengaku mengenal Allah tetapi mereka selalu bermaksiat kepada-Nya siang dan malam. Lalu apa manfaat kita mengenal Allah kalau keadaannya demikian? Dan apa artinya kita mengenal Allah sementara kita melanggar perintah dan larangan-Nya?

Maka dari itu mari kita menyimak pembahasan tentang masalah ini, agar kita mengerti hakikat mengenal Allah dan bisa memetik buahnya dalam wujud amal.

Mengenal Allah ada empat cara yaitu mengenal wujud Allah, mengenal Rububiyah Allah, mengenal Uluhiyah Allah, dan mengenal Nama-nama dan Sifat-sifat Allah.

Keempat cara ini telah disebutkan Allah di dalam Al Qur’an dan di dalam As Sunnah baik global maupun terperinci.

Ibnul Qoyyim dalam kitab Al Fawaid hal 29, mengatakan: “Allah mengajak hamba-Nya untuk mengenal diri-Nya di dalam Al Qur’an dengan dua cara yaitu pertama, melihat segala perbuatan Allah dan yang kedua, melihat dan merenungi serta menggali tanda-tanda kebesaran Allah seperti dalam firman-Nya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam terdapat (tanda-tanda kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memiliki akal.” (QS. Ali Imran: 190)

Juga dalam firman-Nya yang lain: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang, serta bahtera yang berjalan di lautan yang bermanfaat bagi manusia.” (QS. Al Baqarah: 164)

Mengenal Wujud Allah.

Yaitu beriman bahwa Allah itu ada. Dan adanya Allah telah diakui oleh fitrah, akal, panca indera manusia, dan ditetapkan pula oleh syari’at.

Ketika seseorang melihat makhluk ciptaan Allah yang berbeda-beda bentuk, warna, jenis dan sebagainya, akal akan menyimpulkan adanya semuanya itu tentu ada yang mengadakannya dan tidak mungkin ada dengan sendirinya. Dan panca indera kita mengakui adanya Allah di mana kita melihat ada orang yang berdoa, menyeru Allah dan meminta sesuatu, lalu Allah mengabulkannya. Adapun tentang pengakuan fitrah telah disebutkan oleh Allah di dalam Al Qur’an: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu menurunkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman ): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu’ Mereka menjawab: ‘(Betul Engkau Tuhan kami) kami mempersaksikannya (Kami lakukan yang demikian itu) agar kalian pada hari kiamat tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami bani Adam adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan-Mu) atau agar kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu sedangkan kami ini adalah anak-anak keturunan yang datang setelah mereka.’.” (QS. Al A’raf: 172-173)

Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa fitrah seseorang mengakui adanya Allah dan juga menunjukkan, bahwa manusia dengan fitrahnya mengenal Rabbnya. Adapun bukti syari’at, kita menyakini bahwa syari’at Allah yang dibawa para Rasul yang mengandung maslahat bagi seluruh makhluk, menunjukkan bahwa syari’at itu datang dari sisi Dzat yang Maha Bijaksana. (Lihat Syarah Aqidah Al Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin hal 41-45)

Mengenal Rububiyah Allah
Rububiyah Allah adalah mengesakan Allah dalam tiga perkara yaitu penciptaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan pengaturan-Nya. (Lihat Syarah Aqidah Al Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin hal 14)

Maknanya, menyakini bahwa Allah adalah Dzat yang menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rizki, mendatangkan segala mamfaat dan menolak segala mudharat. Dzat yang mengawasi, mengatur, penguasa, pemilik hukum dan selainnya dari segala sesuatu yang menunjukkan kekuasaan tunggal bagi Allah.

Dari sini, seorang mukmin harus meyakini bahwa tidak ada seorangpun yang menandingi Allah dalam hal ini. Allah mengatakan: “’Katakanlah!’ Dialah Allah yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya sgala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya.” (QS. Al Ikhlash: 1-4)

Maka ketika seseorang meyakini bahwa selain Allah ada yang memiliki kemampuan untuk melakukan seperti di atas, berarti orang tersebut telah mendzalimi Allah dan menyekutukan-Nya dengan selain-Nya.

Dalam masalah rububiyah Allah sebagian orang kafir jahiliyah tidak mengingkarinya sedikitpun dan mereka meyakini bahwa yang mampu melakukan demikian hanyalah Allah semata. Mereka tidak menyakini bahwa apa yang selama ini mereka sembah dan agungkan mampu melakukan hal yang demikian itu. Lalu apa tujuan mereka menyembah Tuhan yang banyak itu? Apakah mereka tidak mengetahui jikalau ‘tuhan-tuhan’ mereka itu tidak bisa berbuat apa-apa? Dan apa yang mereka inginkan dari sesembahan itu?

Allah telah menceritakan di dalam Al Qur’an bahwa mereka memiliki dua tujuan. Pertama, mendekatkan diri mereka kepada Allah dengan sedekat-dekatnya sebagaimana firman Allah:

“Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai penolong (mereka mengatakan): ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami di sisi Allah dengan sedekat-dekatnya’.” (Az Zumar: 3 )

Kedua, agar mereka memberikan syafa’at (pembelaan ) di sisi Allah. Allah berfirman:

“Dan mereka menyembah selain Allah dari apa-apa yang tidak bisa memberikan mudharat dan manfaat bagi mereka dan mereka berkata: ‘Mereka (sesembahan itu) adalah yang memberi syafa’at kami di sisi Allah’.” (QS. Yunus: 18, Lihat kitab Kasyfusy Syubuhat karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab)

Keyakinan sebagian orang kafir terhadap tauhid rububiyah Allah telah dijelaskan Allah dalam beberapa firman-Nya:
“Kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan mereka? Mereka akan menjawab Allah.” (QS. Az Zukhruf: 87)
“Dan kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan yang menundukkan matahari dan bulan? Mereka akan mengatakan Allah.” (QS. Al Ankabut: 61)
“Dan kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan bumi setelah matinya? Mereka akan menjawab Allah.” (QS. Al Ankabut: 63)

Demikianlah Allah menjelaskan tentang keyakinan mereka terhadap tauhid Rububiyah Allah. Keyakinan mereka yang demikian itu tidak menyebabkan mereka masuk ke dalam Islam dan menyebabkan halalnya darah dan harta mereka sehingga Rasulullah mengumumkan peperangan melawan mereka.

Makanya, jika kita melihat kenyataan yang terjadi di tengah-tengah kaum muslimin, kita sadari betapa besar kerusakan akidah yang melanda saudara-saudara kita. Banyak yang masih menyakini bahwa selain Allah, ada yang mampu menolak mudharat dan mendatangkan mamfa’at, meluluskan dalam ujian, memberikan keberhasilan dalam usaha, dan menyembuhkan penyakit. Sehingga, mereka harus berbondong-bondong meminta-minta di kuburan orang-orang shalih, atau kuburan para wali, atau di tempat-tempat keramat.

Mereka harus pula mendatangi para dukun, tukang ramal, dan tukang tenung atau dengan istilah sekarang paranormal. Semua perbuatan dan keyakinan ini, merupakan keyakinan yang rusak dan bentuk kesyirikan kepada Allah.

Ringkasnya, tidak ada yang bisa memberi rizki, menyembuhkan segala macam penyakit, menolak segala macam marabahaya, memberikan segala macam manfaat, membahagiakan, menyengsarakan, menjadikan seseorang miskin dan kaya, yang menghidupkan, yang mematikan, yang meluluskan seseorang dari segala macam ujian, yang menaikkan dan menurunkan pangkat dan jabatan seseorang, kecuali Allah. Semuanya ini menuntut kita agar hanya meminta kepada Allah semata dan tidak kepada selain-Nya.

Mengenal Uluhiyah Allah
Uluhiyah Allah adalah mengesakan segala bentuk peribadatan bagi Allah, seperti berdo’a, meminta, tawakal, takut, berharap, menyembelih, bernadzar, cinta, dan selainnya dari jenis-jenis ibadah yang telah diajarkan Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Memperuntukkan satu jenis ibadah kepada selain Allah termasuk perbuatan dzalim yang besar di sisi-Nya yang sering diistilahkan dengan syirik kepada Allah.
Allah berfirman di dalam Al Qur’an:
“Hanya kepada-Mu ya Allah kami menyembah dan hanya kepada-Mu ya Allah kami meminta.” (QS. Al Fatihah: 5)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah membimbing Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu dengan sabda beliau:
“Dan apabila kamu minta maka mintalah kepada Allah dan apabila kamu minta tolong maka minta tolonglah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)

Allah berfirman:
“Dan sembahlah Allah dan jangan kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun” (QS. An Nisa: 36)

Allah berfirman:
“Hai sekalian manusia sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al Baqarah: 21)

Dengan ayat-ayat dan hadits di atas, Allah dan Rasul-Nya telah jelas mengingatkan tentang tidak bolehnya seseorang untuk memberikan peribadatan sedikitpun kepada selain Allah karena semuanya itu hanyalah milik Allah semata.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Allah berfirman kepada ahli neraka yang paling ringan adzabnya. ‘Kalau seandainya kamu memiliki dunia dan apa yang ada di dalamnya dan sepertinya lagi, apakah kamu akan menebus dirimu? Dia menjawab ya. Allah berfirman: ‘Sungguh Aku telah menginginkan darimu lebih rendah dari ini dan ketika kamu berada di tulang rusuknya Adam tetapi kamu enggan kecuali terus menyekutukan-Ku.” ( HR. Muslim dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu )

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Allah berfirman dalam hadits qudsi: “Saya tidak butuh kepada sekutu-sekutu, maka barang siapa yang melakukan satu amalan dan dia menyekutukan Aku dengan selain-Ku maka Aku akan membiarkannya dan sekutunya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu )

Contoh konkrit penyimpangan uluhiyah Allah di antaranya ketika seseorang mengalami musibah di mana ia berharap bisa terlepas dari musibah tersebut. Lalu orang tersebut datang ke makam seorang wali, atau kepada seorang dukun, atau ke tempat keramat atau ke tempat lainnya. Ia meminta di tempat itu agar penghuni tempat tersebut atau sang dukun, bisa melepaskannya dari musibah yang menimpanya. Ia begitu berharap dan takut jika tidak terpenuhi keinginannya. Ia pun mempersembahkan sesembelihan bahkan bernadzar, berjanji akan beri’tikaf di tempat tersebut jika terlepas dari musibah seperti keluar dari lilitan hutang.

Ibnul Qoyyim mengatakan: “Kesyirikan adalah penghancur tauhid rububiyah dan pelecehan terhadap tauhid uluhiyyah, dan berburuk sangka terhadap Allah.”

Mengenal Nama-nama dan Sifat-sifat Allah

Maksudnya, kita beriman bahwa Allah memiliki nama-nama yang Dia telah menamakan diri-Nya dan yang telah dinamakan oleh Rasul-Nya. Dan beriman bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang tinggi yang telah Dia sifati diri-Nya dan yang telah disifati oleh Rasul-Nya. Allah memiliki nama-nama yang mulia dan sifat yang tinggi berdasarkan firman Allah:

“Dan Allah memiliki nama-nama yang baik.” (Qs. Al A’raf: 186)

“Dan Allah memiliki permisalan yang tinggi.” (QS. An Nahl: 60)

Dalam hal ini, kita harus beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah sesuai dengan apa yang dimaukan Allah dan Rasul-Nya dan tidak menyelewengkannya sedikitpun. Imam Syafi’i meletakkan kaidah dasar ketika berbicara tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah sebagai berikut: “Aku beriman kepada Allah dan apa-apa yang datang dari Allah dan sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Allah. Aku beriman kepada Rasulullah dan apa-apa yang datang dari Rasulullah sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Rasulullah” (Lihat Kitab Syarah Lum’atul I’tiqad Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin hal 36)

Ketika berbicara tentang sifat-sifat dan nama-nama Allah yang menyimpang dari yang dimaukan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka kita telah berbicara tentang Allah tampa dasar ilmu. Tentu yang demikian itu diharamkan dan dibenci dalam agama. Allah berfirman:
“Katakanlah: ‘Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tampa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah (keterangan) untuk itu dan (mengharamkan) kalian berbicara tentang Allah tampa dasar ilmu.” (QS. Al A’raf: 33)

“Dan janganlah kamu mengatakan apa yang kamu tidak memiliki ilmu padanya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya akan diminta pertanggungan jawaban.” (QS. Al Isra: 36)

Wallahu ‘alam


Read More......
Banner 250 x 200
 

©2009 AL-IKHWAH MEDIA | Template Blue by TNB